NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 20: Ketimpangan kutukan [1]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Saka menelan ludah, jantungnya berdetak tak karuan. Tangannya gemetar saat ponsel dipegang erat. Napasnya cepat, seolah setiap tarikan udara menembus langsung ke dadanya yang sesak. Ia menatap sumur tua, menatap tulang belulang Ian, atau Mahaniyan, yang kini terlihat jelas di dasar, terjebak di antara batu dan sisa air yang meluap.

Dengan suara bergetar, ia menekan tombol panggil. Layar ponsel menampilkan nama yang membuat nalurinya menegang: Tuan Besar Liorlikoza.

“Selamat malam, Kek…” suaranya hampir serak, menahan kepanikan.

Di seberang, suara kakek Saka terdengar tenang, berat, dan menembus kesunyian malam. “Rakes…?” Tidak ada nada basa-basi, hanya ketenangan yang menakutkan.

Saka menggeleng meski kakeknya tidak bisa melihatnya. “Bukan Rakes… Kek, ini Saka… kami menemukannya. Ian… Mahaniyan… jasadnya ada di sumur tua.”

Hening di seberang ponsel. Satu detik terasa seperti selamanya. Lalu, suara Tuan Besar Liorlikoza muncul, lebih rendah, hampir berbisik tapi penuh kewaspadaan:

“…kau yakin?”

Saka menelan ludah, menatap kembali sumur. “Saya… saya tidak salah, Kek. Saka melihatnya. Tulang belulangnya… tersangkut di batu. Saka… Saka tidak tahu apa yang harus dilakukan.”

Di seberang, Tuan Besar Liorlikoza menarik napas panjang. “Rakes… ini berat. Saya sudah merasa sesuatu akan terjadi, tapi…” suara kakeknya terhenti sebentar, seperti menimbang kata-kata, “…kau melakukan hal yang tepat dengan memberitahuku.”

Saka merasakan dada seperti ditekan. “Apa… apa yang harus Saka lakukan sekarang, Kek?”

Ada jeda. Jeda yang berat. Suara kakeknya perlahan kembali, lebih tegas:

“Kau akan tetap di sisi sumur. Jangan sentuh atau pindahkan apa pun. Saya akan datang. Dan Rakes… ia juga harus segera ke sini. Ini bukan sekadar tragedi, Rakes. Ini urusan yang menyentuh seluruh garis keturunan.”

Saka menatap sumur sekali lagi. Air yang surut, tulang belulang yang menumpuk di dasar… semuanya terasa sunyi, hening, dan seolah menuntut penghormatan. Ia menelan, memaksa napasnya tenang, meski setiap sel tubuhnya bergetar.

“…baik, Kek,” jawabnya akhirnya. “Saya akan menunggu.”

Dan di sisi lain ponsel, kakeknya diam, tetapi Saka tahu satu hal jelas: ini lebih dari sekadar menemukan jasad Ian. Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar, yang akan menguji seluruh naluri, kekuatan, dan keberanian mereka, Rakes, Saka, dan bahkan dunia nyata yang menunggu di luar sumur tua itu.

Rakes menatap sumur tua, pandangannya berat. Tubuhnya terasa seperti dihantam gelombang mental yang tak terlihat. Kartaswiraga… Mahaniyan… Ian. Keturunan yang seharusnya ia lindungi, kini hanyalah tulang belulang yang terjebak di antara batu dan sisa air yang menggenang. Nalurinya, yang biasanya tegas dan protektif, kini terasa hancur berkeping-keping.

Di sampingnya, Saka menatap dengan mata terbuka lebar, tidak bisa berkata apa-apa. Dan Zack… Zack berdiri tak jauh, santai seperti biasa, tidak menyadari tragedi yang baru saja terjadi. Ia tersenyum kecil, mencoba menenangkan Saka dengan candaan ringan, sementara Rakes merasakan sesuatu yang jauh lebih gelap di dalam dirinya.

Rakes menelan ludah, napasnya berat. Hanya dirinya yang tahu. Hanya dirinya yang bisa merasakan hal itu: darah Kartaswiraga mengalir di tubuh Zack, mengikatnya pada kutukan dan kematian yang sama yang menelan Ian. Zack tidak tahu, dan Rakes tidak bisa memberitahunya. Menyampaikan fakta itu bisa menghancurkan Zack, membuatnya panik, atau bahkan membuatnya salah langkah.

Rakes menatap tulang belulang Ian lagi, mencoba menenangkan nalurinya sendiri. Semua radar keturunan Polarios yang selama ini ia andalkan, intuisi, kekuatan insting protektifnya, tidak mampu mendeteksi Ian sampai terlambat. Dan sekarang, ia menyadari, nalurinya juga memperingatkan sesuatu yang lebih besar: bahwa darah itu, kutukan itu, tidak hanya membawa kematian, tetapi menuntut kewaspadaan konstan.

Ia menarik napas panjang, menunduk. “Gue harus melindungi mereka… semua yang masih hidup,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Rakes menatap Zack sekali lagi. Sahabatnya itu tetap tersenyum, berbicara dengan ringan kepada Saka, tidak tahu apa pun tentang dunia gelap yang sekarang menempel pada dirinya.

Rakes menggenggam tangannya, merasa berat sekali menanggung rahasia itu sendiri. Ini bukan hanya tentang kehilangan Ian. Ini tentang memastikan Zack tetap aman, sementara ia menanggung seluruh pengetahuan tentang kutukan Kartaswiraga sendirian.

Saka merasakan ketegangan di tubuh Rakes, dan tanpa kata, ia tahu: malam ini berbeda. Ini bukan sekadar menemukan jasad, ini adalah peringatan, bahwa dunia mereka, darah mereka, dan rahasia keturunan Polarios bisa menjadi sangat gelap. Dan Rakes, seperti tembok yang selalu berdiri di antara bahaya dan orang yang dianggap “miliknya,” kini menanggung beban itu seorang diri.

Baik, kita buat narasinya mengalir seperti cerita, menekankan beban mental Rakes, strategi protektifnya, dan tekanan dunia nyata yang mengelilingi Saka dan Zack.

Rakes menatap sumur tua itu sekali lagi, malam masih pekat, hanya diterangi lampu senter yang bergetar di tangannya. Tubuhnya tegang, nalurinya mengeram dari dalam, tetapi pikirannya melayang jauh, menimbang setiap kemungkinan.

Raden Mahaniyan Kartaswiraga— sudah pergi.

Tulang belulangnya menunggu di dasar sumur. Dan sekarang, beban itu tidak berhenti di situ. Zack, sahabat mereka yang seharusnya kuat, tetap berjalan di dunia nyata, tak menyadari bahwa darah Kartaswiraga yang mengalir di tubuhnya menempelkan kutukan kematian di mana pun ia berada.

Rakes menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. Ia harus berpikir. Harus menjaga Zack. Harus menjaga Saka. Dan semua ini harus ia lakukan sendirian. Tidak ada yang boleh tahu, terutama keluarga Saka. Jika mereka mengetahui, dunia mereka akan runtuh dalam ketakutan, dalam rasa bersalah, dan, yang terburuk, dalam ketidakmampuan untuk bertindak. Rahasia ini terlalu berat, terlalu mematikan, untuk dibagi.

Ia memandang Saka yang berdiri di sampingnya, masih muda, masih rapuh, tapi penuh naluri hidup yang harus ia lindungi.

Angin malam menyapu rambut Saka, dan Rakes merasakan gelombang naluri protektifnya melonjak. Ia tahu bahwa organisasi gelap yang selama ini menebar teror kepada Saka, dan semua yang berhubungan dengan garis keturunan Polarios, tidak akan berhenti hanya karena tragedi sumur ini. Mereka akan datang lagi. Mereka akan memanfaatkan kekosongan dan ketakutan yang kini mengikat Saka.

Rakes menarik napas panjang dan menutup mata sejenak. Ia harus memetakan strategi. Tidak ada ruang untuk kesalahan.

Semua langkah harus diperhitungkan, semua gerakan harus terprediksi. Dia harus membuat sistem perlindungan tak terlihat, semacam perangkap mental dan fisik yang menutupi Saka dari ancaman langsung, sambil tetap menjaga Zack, yang tak tahu apa pun, agar tetap aman.

Ia membayangkan jalur yang akan mereka lalui, titik pengawasan yang bisa ia kendalikan, titik aman jika ada serangan. Setiap pohon, setiap sudut, setiap bayangan malam menjadi bagian dari peta yang hanya Rakes yang tahu. Ia menandai dalam pikirannya tempat-tempat yang bisa digunakan untuk berlindung, untuk menghilang sementara, bahkan untuk menghadapi ancaman yang muncul tiba-tiba dari udara, darat, atau bahkan dari jalur tak terlihat seperti sihir gelap organisasi itu.

Sementara itu, tekanan mentalnya semakin terasa. Mengetahui kutukan yang menempel pada Zack membuat setiap langkah terasa seperti berjalan di atas kaca tajam. Satu kesalahan, satu kelalaian, dan nyawa Zack bisa terancam. Rakes menggenggam tangannya sendiri, merasakan getaran halus dari kekuatan Polarios yang mengalir di tubuhnya, naluri protektif yang seharusnya memberinya kontrol, tapi kini lebih terasa sebagai beban berat.

Ia memandang Saka lagi. “Lo harus tetap di belakang gue,” gumamnya pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri dan Saka sekaligus.

“Gue ngga akan ngebiarin lo menanggung semua resiko ini. Sak, Jangan bergerak sembarangan. Jangan ceritakan siapa pun tentang ini. Tidak ada yang boleh tahu, terutama keluarga Sak. "

Saka mengangguk pelan, meskipun matanya penuh pertanyaan. Ia merasakan ketegangan di tubuh Rakes, merasakan seolah semua beban dunia ini berada di pundak lelaki itu. Dan meskipun Saka belum sepenuhnya mengerti, nalurinya tahu satu hal: mereka tidak bisa berjalan sendirian, tapi Rakes… Rakes akan menanggung semuanya untuk mereka.

Rakes membuka mata, menatap langit malam. Awan gelap bergerak pelan, angin membawa aroma tanah basah dan rerumputan liar. Di luar, dunia mereka tampak tenang, tetapi Rakes tahu: ancaman tidak pernah tidur. Organisasi gelap akan selalu mengintai, kutukan Kartaswiraga selalu menempel, dan Saka serta Zack tidak boleh terjerat dalam bahaya yang tidak bisa mereka pahami.

Dan di sanalah ia berdiri, tulang belulang Ian di satu sisi, Saka dan Zack di sisi lain, dunia gelap yang mengintai dari segala arah, Rakes menelan ludah, menegakkan tubuhnya, dan merasakan satu hal dengan jelas: ia adalah tembok terakhir. Satu-satunya yang tahu kebenaran, satu-satunya yang bisa menjaga mereka tetap hidup.

Rakes tetap berdiri di sana beberapa detik lagi, seolah ingin memastikan malam ini benar-benar nyata. Lampu senter di tangannya bergoyang tipis, membelah kabut rendah yang mulai merayap di sekitar sumur. Udara terasa lebih dingin dari sebelumnya, bukan dingin biasa, melainkan dingin yang menempel di kulit, seperti peringatan.

Langkah kaki terdengar dari belakang.

“Eh… kalian ngerasa nggak,” suara Zack santai tapi sedikit ragu, “udara di sini aneh?”

Rakes langsung berbalik. Refleksnya terlalu cepat untuk ukuran manusia biasa. “Jangan mendekat,” katanya tegas, nada suaranya membuat Zack berhenti otomatis. “Tetap di situ.”

Zack mengangkat tangan, setengah bercanda. “Whoa, oke, bos. Cuma nanya.”

Saka menoleh cepat ke Rakes. Ia melihat sesuatu di mata lelaki itu, bukan marah, bukan takut, tapi kewaspadaan yang tajam dan dingin. Seperti seseorang yang sedang berdiri di tepi jurang, menjaga agar orang lain tidak ikut jatuh.

Rakes kembali menghadap sumur. Di dasar yang gelap itu, air yang tersisa tiba-tiba beriak.

Bukan karena angin.

Riakan kecil itu menyebar, pelan… lalu berhenti. Jantung Rakes langsung menegang. Nalurinya berteriak. Ada sesuatu yang belum selesai.

Ia berlutut, menjaga jarak aman, dan mengarahkan senter ke satu titik di antara tulang belulang. Bayangan hitam bergerak, bukan makhluk, bukan bentuk jelas, melainkan seperti noda kegelapan yang menempel pada batu.

Kutukan.

Bukan roh Ian. Bukan Mahaniyan. Ini sisa. Jejak. Sesuatu yang tertinggal karena kematian yang tidak pernah diberi penutup yang layak.

Rakes menggertakkan giginya. Kartaswiraga memang selalu meninggalkan ekor.

“Rakes?” Saka berbisik. “Itu… apa?”

Rakes tidak langsung menjawab. Ia berdiri perlahan, lalu melangkah mundur satu langkah, memposisikan tubuhnya sedikit di depan Saka, posisi protektif yang nyaris naluriah.

“Jangan lihat terlalu lama,” katanya akhirnya, suara rendah tapi terkendali. “Dan jangan dengarkan apa pun, kalau lo merasa… seperti ada yang memanggil.”

Saka membeku. “Memanggil?”

“Ya,” jawab Rakes singkat.

Seolah menanggapi kata itu, angin berhembus lebih kencang. Daun-daun berdesir, dan dari dalam sumur terdengar suara samar, bukan suara jelas, lebih seperti gema jauh yang tidak membentuk kata, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.

Zack mengernyit. “Oke, sekarang gue nggak nyaman. Ini bukan bagian dari wisata malam, kan?”

Rakes menoleh cepat. “Zack. Dengerin gue baik-baik.”

Nada suaranya berubah, bukan memerintah, tapi memohon dengan kendali. “Apa pun yang lo dengar malam ini, abaikan. Jangan jawab. Jangan bercanda. Jangan menantang. Anggap saja ini tempat kosong.”

Zack tertawa kecil, tapi ada gugup di sana. “Santai, gue bukan di film horor, ”

“Zack,” potong Rakes tajam.

Satu kata itu cukup. Zack terdiam.

Saka menelan ludah. Ia bisa merasakan tekanan di udara, seperti dunia menahan napas. “Kakek akan datang,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri. “Dia bilang… ini menyentuh seluruh garis keturunan.”

Rakes mengangguk tanpa menoleh. “Dan itu artinya, apa pun yang ada di sini… sadar bahwa ia telah ditemukan.”

Riakan di dasar sumur muncul lagi. Kali ini lebih kuat. Air memantulkan cahaya senter, dan sesaat, hanya sesaat, Rakes melihat simbol samar di batu: ukiran lama, hampir terhapus, tapi masih dikenalnya.

Tanda pemanggilan Kartaswiraga.

Rakes menarik napas dalam-dalam. Mereka terlambat menutupnya. Dan sekarang, kutukan itu lapar.

Ia melangkah mundur satu langkah lagi, menjauh dari sumur, sambil menjaga mata tetap waspada ke sekeliling. “Kita tidak pergi,” katanya tegas. “Tapi kita juga tidak mendekat. Kita tunggu Tuan Besar Liorlikoza.”

“Dan kalau… sesuatu muncul?” tanya Saka, suaranya hampir tidak terdengar.

Rakes mengepalkan tangannya. Getaran halus kekuatan Polarios merambat di bawah kulitnya, siap dilepaskan kapan pun.

“Kalau sesuatu muncul,” katanya pelan, penuh keyakinan dingin, “itu harus ngelewatin mayat gue dulu.”

Di belakangnya, Zack berdiri diam, masih tidak tahu apa pun tentang darahnya sendiri, tentang jam pasir tak terlihat yang mulai menetes sejak malam ini.

Dan di depan mereka, sumur tua itu tidak lagi sekadar tempat kematian.

Ia telah menjadi pintu.

Angin tiba-tiba berhenti.

Bukan mereda, berhenti sepenuhnya, seolah malam menahan napas. Daun-daun yang tadi berdesir kini membeku di tempatnya. Bahkan suara serangga lenyap, menyisakan keheningan yang terlalu rapi untuk disebut alami.

Rakes langsung sadar.

Ini bukan jeda. Ini respon.

Sumur itu… menjawab.

Cahaya senter di tangannya berkedip sekali. Lalu dua kali. Rakes menggeram pelan, menyesuaikan genggaman. “Saka,” katanya tanpa menoleh, “tetap di belakangku. Kalau gue bilang lari, lo lari. Tidak menoleh. Tidak cari Zack.”

Saka menegang. “Tapi—”

“Tidak ada tapi.”

Zack menatap mereka berdua, senyum santainya sudah menghilang sepenuhnya. “Oke,” katanya pelan, “sekarang gue resmi ngerasa jadi orang paling nggak tahu apa-apa di sini.”

Rakes meliriknya sekilas. Ada rasa bersalah yang menusuk, cepat, tajam, lalu ditekan paksa ke dasar pikirannya. Nanti. Sekarang bukan waktunya.

Dari dalam sumur, terdengar suara retakan. Batu yang bergeser. Bukan longsor besar, tapi pergeseran kecil, seperti sesuatu di bawah sana… bergerak mencari posisi.

Lalu bau itu datang.

Bau tanah basah bercampur besi tua. Bau yang tidak berasal dari air sumur, melainkan dari sesuatu yang sudah terlalu lama terperangkap.

Saka menutup hidung, wajahnya memucat. “Rakes… gue ngerasa pusing.”

“Jangan tutup hidung,” jawab Rakes cepat. “Tarik napas pendek. Pelan. Fokus ke suara.”

Ia tahu tanda-tanda itu. Bukan racun. Tekanan spiritual. Tempat ini mulai mempengaruhi yang paling sensitif.

Dan Zack,

Zack tiba-tiba mengusap tengkuknya. “Aneh,” gumamnya. “Kayak… kepala gue berat. Tapi bukan sakit.”

Jantung Rakes menghantam dadanya sendiri.

Darah itu bereaksi.

Ia melangkah satu langkah ke samping, sengaja memutus garis lurus antara Zack dan sumur. “Duduk,” perintahnya. “Sekarang.”

Zack menurut tanpa protes, berjongkok di tanah. “Gue kenapa sih?”

“Lo aman,” jawab Rakes cepat, terlalu cepat. “Percaya sama gue.”

Untuk sesaat, sesuatu seperti gema terdengar di udara. Bukan suara luar, melainkan getaran halus yang hanya bisa dirasakan Rakes. Seperti… pengakuan.

Ia menoleh kembali ke sumur, dan membeku.

Bayangan di dasar itu tidak lagi diam. Noda gelap tadi kini memanjang, menempel di dinding batu, membentuk garis-garis tipis seperti akar. Bukan tubuh. Bukan roh. Tapi jejak kesadaran yang mencoba naik.

“Dia tidak boleh keluar,” bisik Rakes, lebih pada dirinya sendiri.

Saka menatap wajah Rakes, dan untuk pertama kalinya ia melihat ketakutan yang tidak disembunyikan sepenuhnya. “Itu… Ian?”

Rakes menggeleng pelan. “Tidak.”

“Mahaniyan?”

“Bukan.”

Ia menelan ludah. “Ini yang tersisa setelah mereka.”

Kalimat itu jatuh berat di antara mereka.

Dari kejauhan, samar-samar, terdengar suara kendaraan. Mesin tua. Berat. Mendekat perlahan di jalan tanah.

Saka menoleh cepat. “Itu…?”

Rakes menghembuskan napas panjang, lega, tapi tetap waspada. “Kakekmu.”

Seolah mendengar nama itu, bayangan di sumur bergetar hebat. Akar-akar gelap itu merapat kembali ke dasar, menempel erat pada batu, seperti makhluk yang tiba-tiba sadar sedang diawasi oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Lampu depan mobil menerobos pepohonan, memotong kegelapan. Begitu cahayanya menyentuh sumur, udara langsung terasa berubah, lebih berat, tapi terkendali.

Mobil berhenti.

Pintu terbuka.

Dan suara Tuan Besar Liorlikoza terdengar, tenang, dalam, dan penuh otoritas yang tidak perlu ditinggikan:

“Bagus. Tidak ada yang jatuh ke dalam. Tidak ada yang menjawab panggilan.”

Langkah kakinya mendekat. “Lo melakukannya dengan benar, Rakes.”

Rakes menunduk sedikit. Bukan tunduk biasa, ini pengakuan antar penjaga. “Ini belum selesai,” katanya. “Kutukannya masih aktif. Dan…” ia melirik sekilas ke arah Zack, yang kini menatap kosong ke tanah, “…ia sudah mulai bereaksi.”

Tuan Besar Liorlikoza mengikuti arah pandangnya. Matanya menyipit tipis.

Ah. Jadi itu sebabnya.

“Kalau begitu,” katanya pelan, nyaris berbisik pada malam, “Malam ini bukan hanya tentang mengubur masa lalu.”

Ia menatap sumur tua itu, lalu menatap Rakes.

“Ini tentang mencegah masa depan yang sama.”

Dan jauh di dasar sumur, sesuatu yang tak lagi terlihat… mendengar itu.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!