NovelToon NovelToon
When Gods Grow Bored

When Gods Grow Bored

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: jhoven

When Gods Grow Bored berlatar di sebuah benua kuno "Nirenva" yang dilanda perang tanpa akhir, tempat kerajaan-kerajaan saling membantai atas nama para dewa yang pernah turun dan meminjamkan kekuatan mereka kepada umat manusia. Di dunia di mana nilai hidup diukur dari restu ilahi, Kai Jhoven: seorang anak tanpa berkah dan tanpa asal-usul tumbuh sebagai sosok terbuang, dipaksa bertahan di tengah kekacauan yang tidak pernah ia pilih. Ketika sebuah kekuatan asing akhirnya menjamah dirinya, Kai Jhoven terseret ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar dari perang antar manusia: intrik ilahi, kekuasaan yang dipinjam, dan kebenaran kelam di balik mukjizat yang disembah dunia. Dalam perjalanan dari medan perang hingga jantung kekuasaan, takdir, kepercayaan, dan kemanusiaan diuji; sementara langit yang selama ini dipuja perlahan mulai retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jhoven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garo vs Vitalii

Sosok yang muncul di hadapan Kai adalah Komandan Besar Kerajaan Vladmir, Aizen Vitalii. Seorang Savior yang telah membunuh salah satu komandan besar Khanox, dan membantai seluruh penduduk Desa Mooire.

Aku berdiri di hadapan musuh bangsaku...

Aku berdiri di hadapan dalang dari pembantaian warga desa ini...

Aku berdiri di hadapan orang yang membunuh keluarga Pak Garo...

TAPI KENAPA?! KENAPA AKU TIDAK BISA MENGGERAKKAN BADANKU!! AYO BERGERAKLAH TUBUH SIALAN! AMBIL PEDANG DI SAMPINGMU!!

Tangan Kai bergetar dengan hebat, sampai Vitalii pun menyadarinya.

*tap

Dengan tenang, Vitalii mengambil pedang milik salah satu mayat pasukannya, lalu meletakkannya di tangan Kai.

Kai memegang pedang itu untuk pertama kalinya. Tubuhnya bergetar lebih hebat lagi. Di hadapan musuh utamanya, ia tidak bisa menggenggam pedang dengan benar.

AYOLAH! BAHKAN MUSUHMU MEMBERIKAN PEDANG PADAKU... BETAPA HINANYA AKU INI! AYO KAI... BUKANKAH KAU SUDAH SERING BERLATIH PEDANG DALAM DIAM SELAMA INI!?

Sembari Kai berperang dengan pikirannya, Vitalii terus menatap tajam ke mata Kai. Pandangan itu hanya membuat Kai semakin cemas.

"Ada apa, anak muda?" Vitalii berbicara dengan nada santai, namun mematikan.

"Kau nampak sangat frustasi."

"Kau marah besar, bukan? Kau membenciku. Aku lah yang telah membunuh semua orang di desa ini. Maka sekarang, aku beri kau kesempatan untuk mengakhiri hidupku."

"Namun kenapa kau tidak bergerak..?"

Setiap kata yang keluar dari mulut Vitalii terasa seperti pisau yang menembus langsung ke jantung Kai. Sosok ini benar-benar bengis, tahu benar bagaimana mengintimidasi lawan.

*Brukk!

Kai terjatuh, menjatuhkan pedangnya. Ia sudah tidak sanggup lagi menerima serangan psikologis yang datang dari Vitalii.

"Aku mendengar rumor tentang anak buangan langit di sini. Sepertinya anak itu adalah kau, ya? Aku tidak merasakan kehadiran dewa dalam tubuhmu. Kosong dan hampa. Aku akan mengakhiri penderitaanmu sekarang juga... Berbanggalah karena kau mati di tangan seorang Komandan Besar Vladmir."

Vitalii mengeluarkan pedangnya, pedang panjang yang tampak berlumuran darah. Suasana di sekitar mereka dipenuhi aroma kematian.

Ini benar-benar akhir... Aku akan mati di tangan musuh besar bangsa ini... Tanpa berbuat apa-apa...

Vitalii mengangkat pedangnya tinggi ke langit, kemudian berkata:

All breath is borrowed. (Setiap nafas hanyalah pinjaman.)

All warmth must fade. (Setiap kehangatan pasti memudar.)

I call the end that waits for all— (Aku memanggil akhir yang menanti segalanya—)

Morvael, close what life could not keep. (Morvael, tutuplah apa yang tak mampu dipertahankan oleh hidup.)

dead men tell no tales.

*SLASSSSHHHHH!-

*BOOMMM!!!

Ledakan hebat terjadi. Bangunan-bangunan di sekeliling mereka hancur berkeping-keping. Tanah tempat Vitalii mengayunkan pedangnya pun menjadi lembah dalam sejauh 100 meter.

Terpujilah Dewa... Vitalii menyarungkan pedangnya dengan angkuh, berpikir bahwa semuanya telah selesai.

"Huh?"

Dari balik kepulan asap, muncul gelembung biru yang melindungi Kai dari serangan mematikan itu.

"Apa yang—" *JDERRRR!

Peluru berwarna biru melesat cepat ke arah wajah Vitalii. Meskipun begitu, ia dengan sigap menghindarinya.

"Garo..." ucap Vitalii, sambil mengusap darah yang mengalir di wajahnya.

Dengan cepat, Garo mengambil tubuh Kai dan melarikan diri.

"Tuan! Maaf, kami sudah berusaha menahannya, namun ia terlalu kuat!" ucap salah seorang prajurit kepada Vitalii.

"Tch. Dasar pewaris berkah Dewi Elythra sialan... Aku yang akan mengejarnya."

"Hei nak... Kai, kau baik-baik saja?"

"Iya pak... Hanya kelelahan batin saja... Aku masih bisa bergerak lagi..."

"Orang itu..."

"Ah iya pak, dia adalah Vitalii! Komandan Besar musuh!"

"Sudah kuduga... Kekuatannya benar-benar mengerikan, bahkan aku pun bukan tandingannya, Kai."

Nyatanya, saat ini jumlah energi spiritual yang tersisa dalam diri Garo hanyalah 1/4. Sisanya telah habis ia gunakan untuk pertarungan dengan para Savior Elite bawahan Vitalii, serta menciptakan gelembung pertahanan bagi Kai.

Dead men tell no tales.

"AWAS—!!"

*SLASSSSHHHHH!!!

*BOOOMMM!!!

Belum sempat mereka selesai berdiskusi, Pak Garo dan Kai kembali menerima serangan mematikan dari Vitalii.

*Brrzztt...

Lagi-lagi, gelembung milik Pak Garo menyelamatkan mereka berdua dari serangan dahsyat itu.

"Phew... Ketahanan gelembung itu luar biasa, pak tua... Harus kuakui, jarang ada yang bisa bertahan dari tebasan kematianku... Sepertinya Dewi Elythra sangat mencintai garis keturunanmu, ya! Haha!" kata Vitalii, mencemooh mereka.

"Diam kau, anak muda. Kau yang hanya memanfaatkan kekuatan dewa untuk berperang, tidak akan pernah mengerti makna sejati dari sinkronasi," balas Garo dengan nada tenang.

"Dewa/Dewi bukanlah alat yang dapat kau manfaatkan tanpa perasaan. Mereka hidup, merekalah yang telah menuntun manusia menuju hidup sejahtera. Mereka bukan alat perang!"

"Cukup basa-basinya, pak tua. Kau telah hidup terlalu lama dan hanya akan menjadi hama bagi generasi ini. Tidak ada yang peduli tentang teori sinkronasi dan dewa/imu. Kebenarannya hanya satu... Mereka telah mempercayakan kekuatannya kepada kita, manusia. Dan kita diberi kebebasan untuk menggunakannya. Jadi, apa yang aku lakukan dengan kekuatanku itu, bukan urusanmu," balas Vitalii dengan penuh keyakinan.

*blubup blubup!

Gelembung biru kecil muncul dalam jumlah yang sangat besar di sekeliling Garo.

"Sepertinya kita memang tidak akan pernah bisa sepaham, ya bocah... Biar pak tua ini kasih paham, seperti apa kekuatan dari veteran perang Dolorosa."

Informasi: Perang Dolorosa adalah perang paling berdarah di abad ini, yang terjadi 50 tahun sebelum timeline sekarang. Peperangan brutal antara tiga Kerajaan besar, melibatkan banyak Savior hebat dan ternama. Penyebabnya belum diketahui. Banyak korban jatuh, namun peperangan itu berakhir tanpa pemenang—sebuah ironi: peperangan berdarah yang tidak menghasilkan mahkota.

"Hoo... Perang Dolorosa... Aku tidak banyak mengetahui tentang perang besar itu, tapi sekarang aku penasaran bagaimana kekuatan dari Savior perang Dolorosa... Sebaiknya jangan membuatku kecewa, pak tua!"

"Aku yang harusnya bilang begitu, bocah kemarin sore."

Morvael! Dead men tell no tales. (Vitalii)

Elythra: Bubble of Eternity (Garo)

Kedua orang itu kini bersiap untuk melancarkan serangan hebat mereka masing-masing. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapakah pemenangnya?

1
Salsabilla Kim
keren 💪💜🌸
Salsabilla Kim: semangat 💪💜🌸
total 3 replies
Fajar27
👉🏻👍
ùrizen
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!