When Gods Grow Bored berlatar di sebuah benua kuno "Nirenva" yang dilanda perang tanpa akhir, tempat kerajaan-kerajaan saling membantai atas nama para dewa yang pernah turun dan meminjamkan kekuatan mereka kepada umat manusia. Di dunia di mana nilai hidup diukur dari restu ilahi, Kai Jhoven: seorang anak tanpa berkah dan tanpa asal-usul tumbuh sebagai sosok terbuang, dipaksa bertahan di tengah kekacauan yang tidak pernah ia pilih. Ketika sebuah kekuatan asing akhirnya menjamah dirinya, Kai Jhoven terseret ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar dari perang antar manusia: intrik ilahi, kekuasaan yang dipinjam, dan kebenaran kelam di balik mukjizat yang disembah dunia. Dalam perjalanan dari medan perang hingga jantung kekuasaan, takdir, kepercayaan, dan kemanusiaan diuji; sementara langit yang selama ini dipuja perlahan mulai retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jhoven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garo vs Vitalii
Sosok yang muncul dihadapan Kai adalah Komandan Besar Kerajaan Vladmir, Aizen Vitalii. Sosok yang telah membunuh salah satu komandan besar Khanox, dan telah membantai penduduk Desa Mooire.
Aku berdiri dihadapan musuh bangsaku..
Aku berdiri dihadapan dalang dari pembantaian warga desa ini..
Aku berdiri dihadapan orang yang membunuh keluarga pak Garo..
TAPI KENAPAA! KENAPA AKU TIDAK BISA MENGGERAKKAN BADANKU!! AYO BERGERAKLAH TUBUH SIALAN! AMBIL PEDANG DISAMPINGMU!!
Saat itu tangan Kai bergetar dengan sangat hebat hingga Vitalii menyadarinya.
*tap
Vitalii mengambil pedang milik mayat pasukannya itu dan meletakkannya ditangan Kai.
Kai memegang pedang untuk pertama kalinya. Tubuhnya bergetar. Dihadapan musuh utamanya, ia tidak mampu menggenggam pedang dengan benar.
AYOLAHH! BAHKAN MUSUHMU SAMPAI MEMBERIKAN PEDANG PADAKU.. BETAPA HINANYA AKU INI! AYO KAI.. BUKANKAH KAU SUDAH SERING BERLATIH PEDANG DALAM DIAM SELAMA INI !??
Sembari Kai berperang dengan pikirannya, Vitalii menatap tajam mata Kai. Membuat Kai semakin cemas.
"Ada apa anak muda?"
"Kau nampak sangat frustasi."
"Kau marah besar bukan? Kau membenciku. Aku lah yang telah membunuh semua orang didesa ini. Maka sekarang ku beri kau kesempatan untuk mengakhiri hidupku."
"Namun kenapa kau tidak bergerak..?"
Setiap kata-kata yang keluar dari mulut Vitalii terasa seperti pisau yang menembus langsung ke jantung Kai. Benar-benar sosok bengis yang tahu cara mengintimidasi lawan.
*Brukk!
Kai menjatuhkan pedangnya. Ia sudah tidak sanggup lagi menerima serangan psikologis dari Vitalii.
"Aku mendengar rumor tentang anak buangan langit disini. Sepertinya anak itu adalah kau ya? Aku tidak merasakan kehadiran dewa dari tubuhmu. Kosong dan hampa. Aku akan mengakhiri penderitaanmu sekarang juga.. Berbanggalah karena kau mati ditangan dari seorang komandan besar Vladmir."
Vitalii mengeluarkan pedang panjangnya itu, bau darah dan kematian yang pekat mengelilinginya.
Ini benar-benar akhir.. Aku akan mati ditangan musuh besar bangsa ini.. Tanpa berbuat apapun..
Vitalli mengarahkan pedangnya ke langit. Lalu ia berucap:
All breath is borrowed. (Setiap nafas hanyalah pinjaman.)
All warmth must fade. (Setiap kehangatan pasti memudar.)
I call the end that waits for all— (Aku memanggil akhir yang menanti segalanya—)
Morvael, close what life could not keep. (Morvael, tutuplah apa yang tak mampu dipertahankan oleh hidup.)
dead men tell no tales
*SLASSSSHHHHH!-
*BOOMMM!!!
Ledakan yang sangat besar terjadi dan menghancurkan banyak bangunan hingga tanah tempat Vitalii melayangkan tebasannya menjadi lembah dalam sejauh 100 meter.
Terpujilah Dewa.. Ucap Vitalii menyarungkan kembali pedangnya dan berpikir telah selesai.
"Huh?"
Dari balik kepulan asap, terlihat gelembung biru yang melindungi Kai dari serangan mematikan itu.
"Apa yang-" *JDERRRR!
Peluru berwarna biru dengan cepat melesat kearah wajah Vitalii namun ia bisa menghindarinya.
"Garo..." Ucap Vitalii sambil mengusap darah di wajahnya.
Dengan cepat Garo mengambil tubuh Kai dan pergi untuk melarikan diri.
"Tuan! Maaf, kami sudah berusaha menahannya.. namun ia terlalu kuat!" ucap salah seorang prajurit pada Vitalii.
"Tch. Dasar pewaris berkah Dewi Elythra sialan.. Aku yang akan mengejarnya."
####
"Hei nak.. Kai, kau baik-baik saja?"
"Iya pak.. Hanya kelelahan batin saja.. Aku masih bisa bergerak lagi.."
"Orang itu.. "
"Ah iya pak, dia adalah Vitalii ! Komandan Besar musuh!"
"Sudah kuduga.. kekuatannya benar-benar mengerikan, bahkan aku pun bukan tandingannya Kai."
Nyatanya, saat ini jumlah energi spiritual yang tersisa dalam diri Garo hanyalah 1/4. Sisanya telah habis ia gunakan untuk pertarungan dengan savior elite bawahan Vitalli dan menciptakan gelembung pertahanan bagi Kai.
Dead men tell no tales
"AWAS—!!"
*SLASSSSHHHHH!!!
*BOOOMMM!!!
Belum sempat selesai berdiskusi, Pak Garo dan Kai kembali menerima serangan mematikan dari Vitalii.
*Brrzztt..
Lagi-lagi gelembung milik Pak Garo menyelamatkan mereka berdua dari serangan dahsyat itu.
"Phew.. Ketahanan gelembung itu luarbiasa pak tua.. Harus ku akui, jarang ada yang bisa bertahan dari tebasan kematianku.. Sepertinya Dewi Elythra sangat mencintai garis keturunanmu ya! Haha!." Ucap Vitalii mencemooh.
"Diam kau anak muda. Kau yang hanya memanfaatkan kekuatan dewa untuk berperang, tidak akan pernah mengerti makna sejati dari sinkronasi." balas Garo.
"Dewa/Dewi bukanlah alat yang dapat kau manfaatkan tanpa perasaan, mereka hidup, merekalah yang telah menuntun manusia menuju hidup sejahtera. Mereka bukan alat perang!"
"Cukup basa-basinya pak tua. Kau telah hidup terlalu lama dan hanya akan menjadi hama bagi generasi ini. Tidak ada yang peduli tentang teori sinkronasi dan dewa/i mu. Kebenarannya hanya 1.. Mereka telah mempercayakan kekuatannya pada kita, manusia. Dan kita diberi kebebasan untuk menggunakannya, jadi apa yang aku lakukan dengan kekuatanku itu bukanlah urusanmu." Balas Vitalii.
*blubup blubup!
Gelembung biru kecil muncul dalam jumlah yang besar disekeliling Garo.
"Sepertinya kita memang tidak akan pernah bisa sepaham ya bocah.. Biar pak tua ini kasih paham, seperti apa kekuatan dari veteran perang Dolorosa."
Informasi : Perang Dolorosa adalah perang paling berdarah di abad kini , terjadi 50 tahun sebelum timeline sekarang. Peperangan brutal antara 3 Kerajaan besar, melibatkan banyak Savior hebat dan ternama. Penyebabnya belum tahu. Banyak korban namun membuahkan hasil nihil, alias tidak ada pemenang ataupun pihak yang kalah. Menjadi suatu ironi peperangan berdarah tanpa menghasilkan mahkota.
"Hoo.. Perang Dolorosa.. Aku tidak banyak mengetahui perang besar itu tapi sekarang aku penasaran bagaimana kekuatan dari Savior perang dolorosa.. Sebaiknya jangan membuatku kecewa pak tua!"
"Aku yang harusnya bilang begitu, bocah kemarin sore."
Morvael ! Dead men tell no tales (Vitalii)
Elythra : Bubble of eternity (Garo)
Kedua orang itu bersiap melancarkan serangan hebat mereka masing-masing. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapakah pemenangnya?