NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 Bentakan di Depan Orang

Pagi itu aku bangun dengan badan yang rasanya belum benar-benar istirahat. Mata kebuka, tapi kepala masih berat. Bukan ngantuk. Lebih ke capek yang numpuk.

Di lokasi diklat, semua serba cepat. Orang mondar-mandir. Suara motor, suara panitia, suara anak-anak bercampur. Aku berdiri di dekat aula kecil sambil ngecek ulang daftar snack tamu. Kertasnya agak kusut, tapi tulisannya masih kebaca. Aku hitung lagi. Satu… dua… tiga… Harusnya cukup. Aku yakin. Tara berdiri di sebelahku. Dia nggak banyak ngomong sejak pagi. Cuma bantu ngangkat kardus, nurut aja aku arahkan ke mana. “Kita taruh sini aja ya,” kataku.

“Iya,” jawabnya singkat. Aku suka kerja sama Tara karena dia nggak ribet. Nggak banyak komentar. Nggak nyela. Tapi pagi itu, bahkan dia kelihatan lelah. Aku lagi nunduk nyusun snack di meja panjang waktu suara Rara kedengeran dari belakang. “Naya.”

Nada suaranya bikin aku langsung berdiri. “Iya?” aku nengok.

Dia jalan ke arah meja, matanya langsung nyapu snack yang sudah ditata. “Ini kurang.”

Aku refleks lihat ke meja lagi. “Kurang gimana?”

“Snack tamu harusnya dua jenis. Ini cuma satu.” Beberapa orang mulai nengok. Ada panitia lain. Ada adik kelas. Ada Bu Santi agak jauh di depan aula.

Aku ngerasa tengkukku panas. “Yang satu lagi nanti nyusul. Masih di motor,” kataku, jujur. Aku inget jelas. Aku yang atur. Rara mendengus kecil. Tapi cukup kedengaran.

“Lah, ini acara resmi. Kok nunggu nanti?” Nada suaranya naik. Bukan teriak, tapi jelas. Terlalu jelas buat suasana pagi yang ramai tapi fokus.

Aku melirik Tara. Dia diam. Tangannya berhenti nyusun kardus. “Sebentar lagi juga sampai,” jawabku, lebih pelan. Rara melangkah lebih dekat. “Kamu tuh gimana sih? Dari kemarin soal snack nggak beres-beres.”

Kalimat itu jatuh keras. Aku kaget. Karena itu pertama kalinya dia ngomong gitu di depan orang. Aku buka mulut, tapi kata-katanya nggak langsung keluar. “Ini bukan acara kecil, Nay,” lanjutnya. “Kalau tamu datang terus snack belum siap, kamu mau jelasin apa?”

Beberapa pasang mata sekarang jelas ke arah kami. Aku bisa ngerasain. Ada yang pura-pura sibuk, tapi kupingnya ke sini. Aku pengen jelasin panjang. Bahwa aku sudah hitung. Bahwa aku sudah atur. Bahwa yang satu lagi memang disusulin karena motor nggak muat. Tapi kalimat pertamaku malah pendek. “Rara, ini bisa dibicarain pelan.” Dia ketawa kecil. Bukan ketawa senang. “Pelan? Sekarang waktunya pelan?”

Aku ngerasa dadaku ketekan. Bukan marah yang pengen meledak. Lebih ke campuran malu dan bingung. Bu Santi mulai jalan mendekat. Aku lihat dari ekor mata. “Ada apa?” tanya beliau.

Rara langsung nengok. Nada suaranya berubah. Lebih datar. Lebih sopan. “Snack tamu belum lengkap, Bu. Saya takut nanti telat.” Aku berdiri di situ. Kayak benda mati. Bu Santi lihat meja, lalu lihat aku. “Yang satu lagi di mana?”

“Masih dibawa anak-anak, Bu. Tadi saya suruh langsung ke sini,” jawabku. Beliau ngangguk.

“Oh. Ya sudah. Ditunggu sebentar.” Sederhana. Nggak ada masalah besar. Tapi rasa panas di dadaku nggak ikut reda. Rara nggak ngomong apa-apa lagi. Dia cuma jalan pergi, ninggalin aku dan Tara di meja. Aku berdiri kaku. Tangan dingin. Kepala berdengung. Tara ngeraih kardus lagi, pura-pura sibuk. “Nay… santai,” katanya pelan. Hampir nggak kedengaran. Aku cuma ngangguk.

Beberapa menit kemudian, motor datang. Snack kedua sampai. Semua lengkap. Nggak ada tamu yang protes. Nggak ada yang telat. Tapi kejadian barusan nempel di kepalaku.

Sepanjang pagi, aku jadi lebih diam. Biasanya aku muter, ngecek sana-sini, sambil nyapa. Hari itu aku cuma kerja seperlunya. Nggak pengen ketemu mata orang. Setiap kali ada yang manggil, aku jawab singkat. Di kepala aku, kalimat Rara muter terus. Kamu tuh gimana sih? Dari kemarin nggak beres-beres.

Aku ngerasa bodoh karena kepikiran. Tapi rasanya susah dilepas. Siang agak ke sore, kami sempat kumpul sebentar buat evaluasi kecil. Aku duduk agak belakang. Tara di sampingku. Rara di depan, aktif ngomong. Semua dengerin dia. Aku denger, tapi rasanya kayak lewat aja. Ada satu momen, Rara bilang,

“Ke depan, koordinasi lebih jelas ya. Jangan ada yang ngerjain sendiri terus malah kelupaan.”

Aku tahu itu bukan nyebut nama. Tapi aku juga tahu arahnya ke mana. Aku ngerasa disindir, tapi nggak punya bukti buat ngerasa tersinggung. Setelah rapat, aku keluar lebih dulu. Duduk di pinggir lapangan. Niatnya cuma tarik napas. Tara nyusul. “Kamu nggak apa-apa?”

Aku ketawa kecil. “Kayaknya aku aman kelihatannya.” Dia diem sebentar. “Rara… agak keras tadi.” Aku ngangguk.

“Iya.”

Aku pengen ngomel. Pengen marah. Pengen bilang capek. Tapi kata-katanya mentok di tenggorokan. “Aku bingung, Ta,” akhirnya aku bilang. “Salahku di mana.”

Tara nggak langsung jawab. “Mungkin… bukan kamu doang yang salah.” Kalimat itu bikin aku makin nggak tenang.

Malamnya, pas semua agak sepi, aku duduk sendiri di depan aula. Lampu terang, tapi suasananya sunyi. Aku pegang HP, buka chat Rara. Jari aku sempat ngetik.

Aku : Tadi soal snack, sebenernya—

Tapi aku hapus. Aku nggak mau ribut. Aku nggak mau dikira defensif. Aku nggak mau jadi drama di tengah acara. Aku simpan HP. Di titik itu, aku mulai sadar satu hal kecil: Aku bukan cuma capek fisik. Aku capek nahan. Dan sejak bentakan itu, ada jarak yang rasanya nggak bisa ditarik lagi dengan ketawa. Aku masih di sini. Masih kerja. Masih bantu. Tapi rasanya… aku sudah mulai sendirian, walau dikelilingi orang.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!