NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 8: Perlawanan Sia-sia

Tiga hari telah berlalu sejak Aluna menandatangani addendum kontrak yang mencekik itu. Tiga hari yang terasa seperti hidup di dalam penjara mewah diawasi setiap saat, diikuti kemana-mana oleh bodyguard, dan tidak punya privasi sama sekali.

Arsen semakin possessive. Semakin menuntut. Semakin... gila.

Setiap pagi, ia membangunkan Aluna dengan sentuhan lembut di pipi memaksa Aluna sarapan bersamanya meski Aluna tidak punya selera makan. Setiap siang, ia menelepon setidaknya lima kali untuk memastikan Aluna ada di rumah, aman, dan "tidak memikirkan hal-hal bodoh". Setiap malam, ia pulang dengan membawa hadiah perhiasan, pakaian mewah, buku-buku arsitektur yang Aluna suka seolah benda-benda mahal itu bisa menggantikan kebebasan yang ia rampas.

Dan setiap malam, tanpa gagal, Arsen duduk di kamar Aluna hanya duduk di sofa di sudut ruangan, menatap Aluna hingga Aluna tertidur. Seperti penjaga. Seperti predator yang memastikan mangsanya tidak akan lari.

Malam ini, hujan turun dengan sangat deras di luar. Suara gemuruh petir sesekali terdengar, membuat mansion besar itu terasa lebih seram dan dingin.

Aluna berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi satu hal: melarikan diri.

Ia harus keluar dari sini. Harus melepaskan diri dari cengkeraman Arsen sebelum terlambat sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya sendiri.

Aluna melirik ke sudut ruangan. Arsen tidak ada di sana malam ini pria itu masih belum pulang karena ada urusan bisnis mendadak. Bu Sinta mengatakan Arsen baru akan pulang sekitar pukul 23.00 WIB.

Sekarang pukul 21.45 WIB.

Masih ada waktu.

Dengan jantung berdebar kencang, Aluna bangkit dari tempat tidurnya perlahan. Ia sudah merencanakan ini sejak kemarin mengamati pola jaga bodyguard, mencatat waktu pergantian shift, dan mencari celah.

Celah itu ada: setiap pukul 22.00 WIB, ada lima belas menit ketika bodyguard berganti shift. Waktu yang singkat, tetapi cukup.

Aluna mengenakan hoodie hitam tebal dan celana jeans. Ia tidak membawa apa pun kecuali ponsel yang sudah ia matikan GPS-nya (berharap Arsen tidak langsung menyadari), sedikit uang tunai yang ia simpan, dan kartu identitasnya.

Ia berjalan perlahan menuju pintu kamar, membukanya sedikit, dan mengintip keluar.

Koridor kosong.

Bodyguard biasanya berjaga di ujung koridor, dekat tangga. Tetapi sekarang, tidak ada siapa-siapa.

Shift sedang berganti, pikir Aluna.

Dengan napas tertahan, ia melangkah keluar dan berjalan cepat menuju tangga belakang tangga yang biasa digunakan pelayan, bukan tangga utama yang lebih mudah terlihat.

Setiap langkahnya terasa seperti berjalan di atas paku. Jantungnya berdetak sangat kencang hingga ia bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Tangannya gemetar.

Ia turun tangga dengan hati-hati, berusaha tidak membuat suara. Hujan di luar semakin deras, suaranya menutupi suara langkah kakinya.

Sampai di lantai satu, Aluna berhenti sejenak, bersembunyi di balik pilar besar. Ia mengintip ada satu bodyguard di dekat pintu depan, tetapi pintu samping yang menuju taman belakang tidak dijaga.

Itu kesempatannya.

Aluna berlari secepat yang ia bisa menuju pintu samping, membukanya dengan perlahan agar tidak berbunyi, dan meluncur keluar.

Hujan langsung membasahi tubuhnya dingin, keras, tetapi terasa seperti kebebasan.

Aluna berlari melintasi taman belakang yang luas, kakinya menginjak rumput basah dan tanah becek. Ia harus mencapai pagar belakang pagar yang lebih rendah dari pagar depan dan mungkin bisa ia panjat.

Napasnya tersengal. Kakinya mulai lelah. Tetapi ia terus berlari.

Hampir sampai. Hampir--

"NONA ALUNA!"

Suara teriakan dari belakang membuat jantung Aluna nyaris berhenti.

Ia menoleh salah satu bodyguard berlari mengejarnya dari arah mansion.

"BERHENTI!"

Tidak. Tidak. Tidak!

Aluna berlari lebih cepat, adrenalin memenuhi nadinya. Ia sampai di pagar belakang dan langsung mencoba memanjatnya tangannya meraih terali besi, kakinya mencoba mencari pijakan.

Tetapi tangannya licin karena hujan. Ia tergelincir, jatuh ke tanah dengan keras.

"Aduh!" Aluna meringis, lututnya terasa sakit.

Bodyguard semakin mendekat.

Dengan putus asa, Aluna bangkit dan mencoba memanjat lagi kali ini berhasil mencapai setengah tinggi pagar. Sedikit lagi. Sedikit lagi dan ia bisa

Tangan besar mencengkeram pergelangan kakinya, menariknya turun dengan paksa.

"Lepaskan!" Aluna menjerit, menendang dengan kaki yang bebas.

"Maaf, Nona. Ini perintah Tuan Arsen. Nona tidak boleh keluar!" ucap bodyguard itu sambil menarik Aluna turun sepenuhnya.

Aluna memberontak, memukul, menendang, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan pria berbadan besar itu.

"LEPASKAN SAYA! SAYA BUKAN TAHANAN!" teriak Aluna dengan air mata bercampur air hujan.

Tiba-tiba, suara mobil terdengar dari arah depan mansion suara mesin yang sangat familiar.

Bentley hitam Arsen.

Jantung Aluna membeku.

Mobil itu berhenti dengan kasar di halaman depan. Pintu terbuka, dan Arsen keluar rambutnya basah oleh hujan, jasnya kusut, dan wajahnya... wajahnya penuh amarah yang mengerikan.

Mata kelamnya langsung menemukan Aluna yang masih ditahan bodyguard di dekat pagar belakang.

Arsen berjalan cepat tidak, berlari menuju Aluna dengan ekspresi yang membuat Aluna ingin menghilang saja dari muka bumi.

"Bawa dia masuk. Sekarang," perintahnya pada bodyguard dengan suara yang bergetar karena amarah.

"Baik, Tuan."

Bodyguard menyeret Aluna kembali ke mansion. Aluna meronta, menangis, tetapi tidak ada gunanya.

Mereka masuk melalui pintu samping. Arsen berjalan di belakang mereka dengan langkah berat, rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya mencoba menahan diri untuk tidak meledak di depan semua orang.

Sesampainya di dalam, Arsen memberi isyarat pada bodyguard untuk melepaskan Aluna.

"Tinggalkan kami," ucapnya dingin pada semua pelayan dan bodyguard yang ada. "Sekarang."

Semua orang langsung pergi, meninggalkan Aluna dan Arsen sendirian di ruang tamu yang luas dan gelap hanya diterangi cahaya lampu kristal redup.

Aluna berdiri di tengah ruangan, tubuhnya basah kuyup, gemetar karena dingin dan takut. Air mata masih mengalir di pipinya, bercampur dengan air hujan.

Arsen berdiri beberapa meter darinya, menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Aluna baca amarah, kekecewaan, rasa sakit, semuanya bercampur jadi satu.

Keheningan yang mengerikan membentang di antara mereka.

Lalu, Arsen tertawa.

Tetapi itu bukan tawa yang hangat. Itu tawa yang pahit, yang gelap, yang menakutkan.

"Kamu mencoba kabur," ucapnya pelan, terlalu pelan. "Kamu benar-benar mencoba kabur dariku."

Aluna mundur selangkah, tetapi Arsen melangkah maju langkah yang lambat, mengancam.

"Setelah semua yang kuberikan padamu," lanjutnya dengan suara yang semakin keras, "setelah aku memberikanmu tempat tinggal mewah, pakaian mahal, makanan terbaik kamu masih ingin pergi? Kamu masih ingin meninggalkanku?"

"Karena semua itu bukan yang saya mau!" teriak Aluna, suaranya pecah. "Saya tidak butuh kemewahan! Saya butuh kebebasan! Saya butuh hidup saya kembali!"

Arsen berhenti tepat di depan Aluna, mata kelamnya menatap dalam ke mata Aluna yang berkaca-kaca.

"Hidup?" ulangnya dengan senyum pahit. "Kamu pikir ada hidup untukmu di luar sana tanpa aku? Kamu pikir kamu bisa bahagia tanpa aku?"

"Ya!" jawab Aluna dengan berani, meski tubuhnya gemetar. "Saya lebih bahagia sendirian daripada hidup seperti ini seperti tahanan!"

Sesuatu berubah di mata Arsen. Amarahnya meledak.

Dalam sekejap, tangannya mencengkeram lengan Aluna dan menyeretnya keluar dari mansion kembali ke hujan yang deras.

"Arsen! Apa yang--"

"Kamu mau kabur?" bentak Arsen sambil terus menyeret Aluna menuju mobilnya. "Baiklah. Ayo kita lihat seberapa jauh kamu bisa lari!"

Ia membuka pintu belakang Bentley dengan kasar dan mendorong Aluna masuk. Aluna terjatuh di jok belakang, dan sebelum ia bisa bangkit, Arsen sudah masuk dan menutup pintu.

"Arsen, tolong--"

"DIAM!" bentaknya sambil meraih Aluna dan menariknya hingga Aluna duduk di pangkuannya posisi yang intim, yang memaksa Aluna berhadapan langsung dengannya di ruang sempit itu.

Tangan Arsen melingkari pinggang Aluna dengan erat, mengunci Aluna di sana. Mata kelamnya menatap Aluna dengan intensitas yang menakutkan.

"Kamu mau lari dariku?" bisiknya, suaranya serak dan berbahaya. "Kamu pikir kamu bisa lepas dariku?"

Tangannya bergerak ke belakang kepala Aluna, menarik rambut Aluna dengan lembut namun paksa, memaksa Aluna mendongak menatapnya.

"Aku sudah memberitahumu, Aluna," lanjutnya dengan suara yang bergetar. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Tidak peduli seberapa jauh kamu lari. Tidak peduli seberapa kamu membenci aku. Kamu... milikku."

"Saya bukan milik siapa-siapa!" Aluna memberontak, mencoba mendorong dada Arsen, tetapi genggaman pria itu terlalu kuat.

"Bohong," desis Arsen sambil tangannya yang bebas menyentuh pipi Aluna, mengusap air mata yang bercampur air hujan di sana. "Tubuhmu tahu. Jiwamu tahu. Kamu milikku, Aluna. Dan suatu hari... hatimu akan mengakuinya juga."

Bibirnya mendekat sangat dekat dengan bibir Aluna tetapi tidak menyentuh. Hanya menggantung di sana, napasnya bercampur dengan napas Aluna.

"Aku akan buktikan padamu," bisiknya tepat di bibir Aluna, "bahwa kamu tidak bisa hidup tanpa aku. Sama seperti aku tidak bisa hidup tanpamu."

Lalu, untuk pertama kalinya, Arsen mencium Aluna.

Bukan ciuman lembut. Bukan ciuman romantis.

Ini ciuman yang possessive, yang menuntut, yang... putus asa.

Bibirnya menghancurkan bibir Aluna dengan intensitas yang membuat Aluna tidak bisa bernapas. Tangannya di belakang kepala Aluna menarik lebih dalam, memperdalam ciuman itu, sementara tangan lainnya di pinggang Aluna menekan tubuh Aluna lebih erat pada tubuhnya sendiri.

Aluna mencoba melawan, mencoba mendorong, tetapi Arsen terlalu kuat. Dan yang lebih menakutkan tubuhnya mulai merespons. Bibirnya mulai membalas ciuman itu tanpa sadar, tangannya yang tadinya mendorong sekarang mencengkeram kemeja basah Arsen.

Arsen merasakan perubahan itu dan tersenyum di tengah ciuman senyum kemenangan.

Ia melepaskan ciuman itu perlahan, bibirnya masih menyentuh bibir Aluna dengan lembut.

"Lihat?" bisiknya serak. "Tubuhmu tidak berbohong, Aluna. Kamu merasakannya juga. Koneksi ini. Obsesi ini."

Aluna terisak, air mata mengalir lebih deras.

"Saya benci Anda," bisiknya lemah.

"Aku tahu," jawab Arsen sambil dahinya menyentuh dahi Aluna. "Tetapi aku tidak peduli. Benci aku, cintai aku, atau apa pun yang penting kamu tetap di sisiku. Selamanya."

Ia memeluk Aluna erat, menenggelamkan wajahnya di leher Aluna, menghirup aroma tubuh Aluna yang bercampur dengan aroma hujan.

"Jangan pernah coba kabur lagi," bisiknya dengan suara yang bergetar bukan karena amarah, tetapi karena ketakutan. "Karena kalau kamu hilang... aku akan gila. Aku akan menghancurkan segalanya untuk menemukanmu. Dan saat aku menemukanmu... aku tidak tahu apa yang akan kulakukan."

Pelukan itu berlangsung lama terlalu lama di dalam mobil yang gelap, di tengah hujan yang terus mengguyur, dengan dua hati yang terluka dengan cara yang berbeda.

Arsen terluka oleh ketakutan kehilangan.

Aluna terluka oleh kehilangan kebebasannya.

Dan tidak ada yang menang dalam perang ini.

Hanya ada dua jiwa yang saling melukai dalam nama cinta yang gelap dan obsesif.

Setelah lama, Arsen akhirnya membawa Aluna kembali ke dalam mansion. Ia menggendong Aluna meski Aluna protes naik ke kamar Aluna, dan menyerahkan Aluna pada Bu Sinta untuk dimandikan dan diganti pakaian.

Sementara Aluna di kamar mandi, Arsen duduk di sofa kamar Aluna, wajahnya tertutup kedua tangannya, tubuhnya gemetar.

Ia hampir kehilangan Aluna malam ini.

Hampir.

Dan rasa takut itu rasa takut kehilangan membuat sesuatu di dalam dirinya patah.

Ia tidak bisa membiarkan ini terjadi lagi.

Tidak pernah.

Besok, ia akan menambah security. Besok, ia akan memastikan tidak ada celah yang bisa Aluna gunakan untuk kabur. Besok, ia akan...

Mengurungnya lebih ketat.

Karena itulah satu-satunya cara Arsen tahu untuk melindungi apa yang ia cintai dengan mengurung, dengan mengikat, dengan memiliki sepenuhnya.

Bahkan jika itu berarti menghancurkan jiwa orang yang ia cintai perlahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!