"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toko Bunga
Bau harum bunga sudah tercium, seperti memikat siapa saja yang datang ke sana, padahal Naina dan Sofia saat ini berada di parkiran toko Bunga Kita--Toko Bunga yang dimaksudkan Sofia.
Di awal pintu masuk sudah terjejer beberapa jenis bunga-bunga segar warna-warni memikat mata yang melihatnya. Para Karyawan di sana terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Beberapa buket bunga terpajang di dalam etalase. Seragam mereka yang unik menambah kesan tersendiri. Sangat menarik.
"Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang karyawati di sana yang datang menghampiri Sofia dan Naina.
"Saya mau bertemu dengan ibu Laras. Saya sudah ada janji." Jawab Sofia.
"Oh iya, Mbak. Ini Mbak Sofia?"
Sofia mengangguk.
"Ayo, Mbak lewat sini. Ibu sudah menunggu." Ucap Karyawati yang bernama Lily itu menuntun Sofia dan Naina masuk ke ruangan bu Laras--pemilik Toko Bunga Kita.
Sesampai di depan ruangan, Lily membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan Sofia dan Naina masuk.
"Permisi, Bu. Selamat siang." Ucap Lily. Bu Laras yang mengetahui Sofia sudah datang lantas bergegas menghampiri, wajahnya sangat sumringah. Wanita yang lumayan berumur itu tetap terlihat cantik dengan tampilan modisnya.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga." Ucap bu Laras memeluk Sofia.
"Apa kabar, Tante?" Tanya Sofia.
"Sehat, Sayang. Kamu gimana?" Balas bu Laras. "
"Sehat juga Tante."
"Ini jagoan sudah besar." bu Laras mengusap pipi Mahrez. "Bentar lagi punya adek ya, Nak."
Lily datang menghampiri, "Adek ikut Tante Lily mau? Ayo kita main di sana." Ucap Lily berjongkok di depan Mahrez. Mahrez yang memang anak pemberani menerima ajakan Lily. Tapi sebelum itu, ia melihat ke arah Sofia seolah meminta izin. Sofia pun memperbolehkan. Dengan senang hati, Lily segera menggendongnya anak kecil itu meninggalkan ruangan bu Laras.
Sofia menggandeng tangan Naina, "Ini sepupu aku yang aku bilang itu, Tan." Ucap Sofia. Naina lantas menyalami bu Laras.
"Oh, iya." Balas bu Laras sangat ramah. Ia mengusap pundak Naina dan memperhatikan gadis itu dengan seksama.
"Cantik, ya..." Sambung bu Laras, di balas Naina dengan senyuman segan.
***
"Toko bunga ini masih baru. Jadi masih dalam tahap perkembangan. Tapi sejauh ini sudah mulai banyak pelanggan. Tante sangat membutuhkan Karyawan-karyawan yang cekatan dan mau bekerja dengan tekun dan ulet." Ucap bu Laras. Saat ini mereka duduk di sofa dengan sajian jus dan beberapa kue kering di atas meja.
"Jangan ragukan Naina, Tan. Aku sangat kenal dia." Balas Sofia menyakinkan.
"Tante percaya. Karena di lihat dari luar saja Naina ini gadis pekerja keras."
Naina yang mendengar ucapan bu Laras membalas dengan senyuman dan sedikit tersipu dengan pujian itu.
"Kamu tinggal pilih mau kerja di bagian mana, Nai." Bu Laras menyodorkan sebuah kertas pada Naina. Di sana tertera bagian-bagian tugas Karyawan di sana, dari penjualan dan pelayanan, perawatan dan pengelolaan, desain dan pembuatan buket, sampai administrasi.
Naina membaca dengan seksama dan memahami satu persatu tugas-tugas itu.
"Kamu pilih yang cocok di diri kamu, Nai. Agar kamu bisa menikmati pekerjaannya tanpa tekanan." Ucap Sofia.
"Iya, Mbak."
Setelah selesai membaca semua, Naina meletakkan kembali kertas yang diberikan bu Laras di atas meja.
"Gimana, Nai?" Tanya bu Laras.
"Aku mau di tempatkan di bagian pembuatan buket saja, Bu." Jawab Naina yakin.
"Kenapa kamu memilih itu?" Bu Laras penasaran.
"Aku suka berkreasi dan berkarya, Bu. Bagian ini sangat menarik perhatian ku.'
"Baiklah. Kapan kamu bisa mulai kerja?"
"Besok juga tidak apa-apa, Bu."
"Wah! Kamu bersemangat sekali. Saya sangat suka." Bu Laras terkesima.
"Lebih cepat lebih baik, Bu."
"Sudah oke berarti, ya?" Sofia menambahi.
Naina mengangguk.
"Yasudah. Besok kamu datang kesini ya, Nai. Team akan membimbing kamu selama beberapa hari sampai kamu benar-benar paham."
"Baik, Bu."
"Toko buka jam sepuluh, jadi kamu datang jam sembilan, ya. Dan tutup jam tiga sore. Untuk seragam, besok akan Ibu berikan. Adalagi yang kamu mau tanyakan?"
"Tidak ada, Bu."
"Baiklah. Selamat bergabung di Toko Bunga Kita ya, Nai. Semoga kamu betah kerja di sini."
"Terimakasih banyak, Bu sudah menerima saya untuk bekerja di sini. Saya akan memberikan yang terbaik."
****
Langit sore ini masih terlihat cerah, tapi tidak panas. Semilir angin berhembus lembut membelai rambut panjang seorang wanita yang sedang duduk di bangku taman. Ia hanya berdiam diri disana sembari menatap air danau yang ada di depannya. Ia tampak sedang menunggu seseorang yang ia sendiri pun tidak tau, apakah akan datang atau tidak.
"Akan aku buktikan hari ini, apakah kamu masih mencintaiku seperti yang orang-orang bilang." Ucapnya.