Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 10
Saat itu, Leo Hartman, akuntan internal, terbukti bermain di belakang layar. Masalah itu telah “diselesaikan” oleh Drew dengan caranya sendiri.
“Leo Hartman. Akuntan Internal. Tapi sudah di bereskan.”
Mendengar penjelasan singkat tersebut, Jackman mengangguk pelan. Ia bukan pria yang mudah dikelabui. Dari sorot matanya, jelas ia memahami bahwa yang dimaksud dengan “dibereskan” bukan sekadar pemecatan biasa.
“Hm.” Anggukan singkat Jackman meski kecil cukup untuk menandakan Jackman puas.
Keheningan singkat menyelimuti ruangan.
Jackman menutup berkas itu perlahan. “Kenaikan sepuluh persen ini bukan sekadar pemulihan. Ini agresif.”
Jay menyandarkan tubuhnya. “Setelah orang itu di bereskan. Kami mengganti dengan yang lebih kompeten. Kami memotong jalur distribusi yang bocor, merestrukturisasi dua divisi, dan mengalihkan investasi ke sektor yang lebih likuid. Risiko besar, tapi terukur.”
“Risiko besar selalu meninggalkan jejak,” ujar Jackman tajam.
Jay tersenyum tipis. “Jejak hanya berbahaya jika orang yang salah menemukannya.”
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, yang terdengar hanya detak jam dinding.
Akhirnya Jackman berdiri. “Aku tidak peduli bagaimana caramu membersihkan kekacauan itu, selama perusahaan ini tetap berdiri dan menghasilkan.” Jackman berjalan menuju rak-rak buku dan mengambil satu buku yang begitu tebal.
BRAK! Buku tebal itu Jackman taruh di atas meja menimbulkan gebrakan cukup keras. Seolah sebagai pertanda dan pengingat.
“Tapi ingat, Jay. Jika ada satu kesalahan kecil saja… bukan hanya Leo yang akan menghilang.”
Ancaman itu tidak diucapkan dengan nada tinggi. Justru karena begitu datar, maknanya terasa lebih berat.
“Saya mengerti.”
Namun dalam hatinya, ia tahu satu hal—
Permainan ini belum benar-benar selesai.
Jay meninggalkan mansion utama setelah menyelesaikan laporannya kepada Jackman.
Namun sebelum pergi, pria tua itu mengingatkan lagi satu keputusan penting yaitu Jay akan mendampinginya dalam acara amal besar pekan ini.
Sesuai perintah Jackman, Jay akan diperkenalkan secara resmi kepada para pengusaha papan atas dan para petinggi mafia.
Sebagian kekuasaan itu, perlahan, mulai digeser ke tangannya.
Saat langkahnya tiba di lobi utama, Jay mendadak berhenti.
Di depan sana, Helena sudah berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tajam, seolah telah menunggu momen itu sejak tadi. Wajah wanita itu tenang, tetapi sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang siap mengiris.
Helena memang keluar bersamaan dengan Jay dari ruang kerja Jackman. Namun ternyata, ia tidak benar-benar pergi—ia menunggu.
Menunggu untuk melemparkan bola panasnya.
Helena menatap Jay tanpa senyum.
“Tuan Jay…” Drew yang berdiri di belakangnya hendak maju, nalurinya membaca situasi sebagai potensi ancaman.
Namun Jay mengangkat tangan sedikit, menahannya.
“Tidak perlu,” ucap Jay tanpa menoleh.
Drew mundur setengah langkah, tetapi tetap waspada.
Helena tersenyum tipis. “Wah, sekarang kau bahkan membawa bayangan ke mana-mana.”
“Keamanan adalah kebiasaan yang baik,” jawab Jay tenang.
Helena melangkah mendekat. Hak sepatunya beradu pelan dengan lantai marmer, menciptakan gema kecil di lorong yang luas.
“Acara amal?” tanyanya dingin. “Menemani Ayahmu?”
“Tapi… Selamat,” katanya datar. “Kau akan menemani Jackman ke acara amal itu.” Kata Helena pada akhirnya.
Jay tidak menunjukkan reaksi berlebihan. “Itu perintah beliau.”
Jay tidak langsung menjawab. Ia tahu nada itu bukan sekadar pertanyaan.
“Perintah beliau ya.. Dan kau juga tidak akan menolaknya bukan.” jawabnya tenang. Rahang Helena mengeras.
Jay mengangkat pandangannya, bertemu dengan mata wanita itu tanpa gentar. “Saya tidak pernah menolak perintah Tuan Jackman.”
Jay adalah anak tiri Helena. Sementara Zavier—anak kandungnya sendiri—bahkan tidak pernah sekalipun benar-benar dilirik oleh Jackman dalam urusan besar seperti ini.
Dan kini, untuk acara yang sangat berpengaruh terhadap peta kekuasaan mafia dan dunia bisnis yang saling bertaut rumit, yang dipilih justru Jay.
Bukan Zavier.
“Ayahmu benar-benar percaya padamu,” ujar Helena pelan, namun sarat makna.
Jay menatapnya datar. “Saya hanya menjalankan tugas.”
Helena terkekeh tipis, tanpa kehangatan. “Tugas? Atau ambisi?”
Keheningan menggantung.
Lobi yang luas terasa lebih sempit oleh ketegangan di antara mereka.
“Kau pikir para petinggi mafia itu akan langsung menerimamu?” lanjut Helena. “Dunia itu bukan sekadar laporan keuangan dan angka-angka, Jay.”
Jay mendekat satu langkah. Suaranya tetap rendah, tetapi tegas.
“Karena itu saya dipersiapkan.”
Tatapan mereka bertemu—dua ambisi berbeda dalam satu atap kekuasaan.
Helena tersenyum samar, kali ini lebih berbahaya.
“Berhati-hatilah di acara itu,” bisiknya. “Satu kesalahan kecil saja… dan bukan hanya reputasimu yang hancur.”
Jay tidak gentar.
“Terima kasih atas peringatannya, Ibu. Saya sudah terbiasa hidup di penuhi resiko.”
Jay melangkah melewati Helena tanpa menoleh lagi.
Namun saat pintu lobi tertutup di belakangnya, wajah Helena berubah dingin.
Jika Jackman mulai mengalihkan kekuasaan pada Jay. Maka Zavier harus melakukan sesuatu. Dan harus cepat.
Begitu mereka menjauh, Drew berbisik pelan, “Tuan Jay… beliau jelas tidak senang.”
Jay menatap lurus ke depan, langkahnya mantap menuju pintu keluar mansion.
“Tidak perlu membuat dia senang,” jawabnya tenang. “Yang penting… Tuan Jackman percaya.”
Dan untuk pertama kalinya sejak menerima perintah itu, sudut bibir Jay terangkat tipis. Bukan senyum kemenangan—melainkan tekad.
Acara amal itu bukan sekadar malam formal.
Itu adalah panggung.
Jay meninggalkan mansion utama dengan iring-iringan mobil hitam yang bergerak teratur di belakang dan depannya. Lampu-lampu kota mulai menyala, memantul di kaca jendela mobil yang gelap.
Di dalam mobil utama, suasana hening.
Jay duduk bersandar, tatapannya tertuju pada jalanan yang bergerak mundur cepat di balik kaca. Beberapa menit berlalu tanpa kata.
“Tuan,” suara Drew akhirnya memecah sunyi. “Kita langsung menuju kediaman pribadi, atau—”
“Belok kanan di persimpangan berikutnya,” potong Jay tenang.
Drew mengerutkan kening tipis. “Itu bukan rute ke rumah, Tuan.”
“Aku tahu.”
Iring-iringan mobil di belakang sempat ragu sepersekian detik sebelum akhirnya mengikuti perubahan arah tersebut. Rute yang sama. Jalan yang sama. Waktu yang hampir selalu sama.
Drew menghela napas pelan. Ia sudah hafal pola ini.
“Tempat biasa?” tanyanya hati-hati.
Jay tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras sedikit, namun sorot matanya justru melembut.
“Ya. Tempat biasa. Sudah tengah malam. Dia pasti sudah pulang.” Kata Jay rendah.
Mobil melambat ketika memasuki kawasan yang jauh berbeda dari lingkungan mansion megah keluarga mereka. Lampu jalan tidak sebanyak di pusat kota. Bangunan-bangunan tampak sederhana. Kehidupan di sini berjalan lebih jujur—tanpa kemewahan, tanpa kepura-puraan.
Empat tahun.
Empat tahun Jay mengawasi dari kejauhan.
Bukan untuk mengganggu.
Bukan untuk mendekat.
Hanya memastikan… gadis itu baik-baik saja.
Mobil berhenti di titik yang sudah terlalu familiar bagi Jay. Dari dalam mobil, ia bisa melihat pagar kecil bercat putih yang mulai mengelupas, serta jendela kamar di lantai dua yang biasanya menyala hingga larut malam.
“Seperti biasa, Tuan?” Drew bertanya pelan.
Jay mengangguk. “Pastikan tidak ada yang mencurigakan di sekitar. Dan… jangan sampai dia tahu.”
Drew turun memberi instruksi singkat pada pengawal lain.
Sementara itu, Jay tetap di dalam mobil.
Tatapannya tertuju pada satu titik—jendela itu.
Lampunya menyala.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....