NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Perpisahan

​Jam tiga sore. Bel pulang sekolah berbunyi, menandakan berakhirnya siksaan akademis hari itu.

​Alea berdiri di depan rak buku perpustakaan, memegang buku paket Fisika yang tadi dia pinjam hanya untuk menyembunyikan wajahnya dari dunia. Dia membuka halaman terakhir, tempat dia menemukan secarik kertas sobekan buku tulis dengan tulisan tangan Julian yang rapi dan tegas.

​f_{kita} \neq 0. Resonansi belum selesai. Cek loker lo jam 3.

​Alea menatap tulisan itu. Hatinya berdebat hebat.

​Otak: Jangan pergi. Dia udah nyakitin lo. Dia bilang dia nyesel kenal lo. Ini pasti jebakan atau cuma cara dia mau pamit baik-baik biar nggak merasa bersalah.

Hati: Tulisan tangannya gemetar. Tinta pulpennya agak tebal di beberapa titik, tanda dia nulisnya buru-buru dan panik. Dia butuh lo.

​Alea mendengus, menutup buku itu kasar.

​"Bego emang gue," rutuk Alea. Kakinya bergerak sendiri menuju area loker di koridor sayap kiri, mengabaikan logika otaknya yang berteriak JANGAN.

​Area loker sepi. Kebanyakan siswa sudah berhamburan ke gerbang depan atau parkiran.

​Alea berjalan pelan, langkah sepatu boots-nya beradu dengan lantai keramik. Dia sampai di depan lokernya, nomor 103.

​Tidak ada siapa-siapa.

​"Cih. Kena prank gue," gumam Alea kecewa. Dia baru saja hendak berbalik pergi ketika sebuah tangan menariknya cepat ke celah antara deretan lemari besi.

​"Sssst!"

​Alea hampir berteriak dan melayangkan tinju, tapi dia mengenali aroma itu. Aroma mint dan deterjen bersih.

​Julian.

​Cowok itu bersandar di dinding loker, napasnya terengah-engah. Penampilannya... berantakan. Dasinya miring, rambutnya acak-acakan, dan kacamata minusnya agak berembun. Dia terlihat seperti habis lari maraton.

​"Lo..." Alea menatapnya kaget, lalu teringat rasa sakit hatinya. Dia menepis tangan Julian kasar. "Ngapain lo di sini? Bukannya lo harusnya udah dijemput mobil mewah lo? Atau lagi ngerenungin nasib lo yang sial gara-gara kenal gue?"

​Kata-kata itu tajam, tapi Julian tidak mundur. Dia justru menatap Alea dengan sorot mata putus asa.

​"Gue punya waktu tiga menit sebelum Pak Wahyu sadar gue nggak ada di toilet pos satpam," kata Julian cepat, napasnya memburu. "Dengerin gue dulu, Alea. Please."

​"Dengerin apa lagi? Dengerin lo bilang lo nyesel?"

​"Gue nggak nyesel kenal lo!" potong Julian, suaranya sedikit meninggi tapi tertahan. "Gue nggak pernah nyesel, Alea. Gue nyesel sama diri gue sendiri! Gue nyesel karena gue pengecut! Waktu itu gue panik, gue takut, dan gue ngomong ngawur."

​Julian maju selangkah, menatap mata Alea dalam-dalam.

​"Lo hal terbaik yang terjadi di hidup gue yang ngebosenin ini, Le. Lo ngasih gue warna. Lo ngasih gue musik lagi."

​Pertahanan Alea goyah. Matanya mulai panas. "Terus kenapa lo nyerah? Kenapa lo biarin Rian menang?"

​"Karena gue udah mati langkah," jawab Julian pahit. "Di mata sekolah, gue pembohong. Di mata bokap, gue aib. Gue nggak punya kredibilitas lagi buat ngelawan Rian. Kalau gue ngomong sekarang, nggak bakal ada yang percaya."

​Julian membuka tasnya, mengeluarkan map cokelat keramat itu. Map yang berisi bukti korupsi Rian.

​Dia meraih tangan Alea, meletakkan map itu di telapak tangan gadis itu.

​"Ini apa?" tanya Alea bingung.

​"Ini 'bom nuklir' kita," bisik Julian. "Bukti invoice asli dari Bang Jago. Bukti mark-up anggaran Rian. Bukti transfer rekening."

​Mata Alea membelalak. "Lo... lo masih nyimpen ini?"

​"Gue nggak bisa make ini, Le. Gue udah diskors. Gue diawasi 24 jam. Tapi lo..." Julian menunjuk dada Alea. "Lo The Rebels. Lo pemberontak. Lo nggak punya jabatan yang perlu dijaga. Lo nggak punya reputasi 'anak baik' yang harus dipertahanin."

​"Maksud lo?"

​"Gue serahin perang ini ke lo," kata Julian serius. "Hancurin Rian. Selamatkan Pensi. Bikin band kita main lagi."

​Alea menatap map di tangannya, lalu menatap Julian. Beban yang diberikan Julian sangat berat, tapi juga memberikan kekuatan baru. Julian mempercayainya.

​"Tapi lo gimana?" tanya Alea cemas. "Kalau ini kebongkar, lo bakal kena juga nggak? Kan lo mantan ketuanya."

​Julian tersenyum tipis. Senyum pasrah.

​"Gue bakal dikirim ke asrama di Magelang minggu depan. Surat pindahnya udah diurus Papa."

​"APA?!" Alea nyaris menjatuhkan map itu. "Magelang?! Lo pindah sekolah?"

​"Itu hukuman gue. Papa mau ngejauhin gue dari Jakarta. Dari musik. Dari lo."

​Air mata Alea jatuh. "Jul... jangan..."

​"Nggak apa-apa," Julian menghapus air mata di pipi Alea dengan jempolnya. Sentuhannya lembut, tapi juga terasa seperti perpisahan. "Asal lo bisa manggung, asal Pensi sukses, gue rela pergi. Gue mau ngeliat lo bersinar di panggung itu, Le. Walaupun gue cuma bisa liat dari jauh."

​HP Julian di saku celananya bergetar panjang.

​Julian melihat layarnya. Pak Wahyu Calling.

​"Waktu gue abis," kata Julian. Dia mundur selangkah. "Lakuin apa yang harus lo lakuin, Alea. Jadilah bad girl yang pinter. Pake strategi. Jangan cuma modal nekat."

​"Jul..." Alea ingin menahannya.

​Julian menatapnya satu kali lagi. Tatapan yang merekam wajah Alea dalam memori jangka panjangnya.

​"Sampai ketemu di frekuensi lain, Alea."

​Julian berbalik dan berlari kencang menuju gerbang depan, meninggalkan Alea yang terpaku di lorong sepi dengan map cokelat di tangannya.

​Alea berdiri di sana selama beberapa menit. Menangis dalam diam.

​Namun perlahan, tangisannya berhenti. Dia menunduk, menatap map di tangannya. Dia membukanya, melihat angka-angka korupsi Rian yang mencolok.

​Rasa sedih itu perlahan berubah menjadi bahan bakar. Menjadi api.

​Julian mengorbankan dirinya supaya Alea bisa berjuang. Julian rela dibuang ke asrama demi menyelamatkan mimpi Alea.

​Alea mengusap pipinya kasar. Tatapan matanya berubah. Matanya yang tadi mati seperti ikan di pasar, kini menyala kembali. Lebih terang. Lebih ganas.

​"Oke, Robot," gumam Alea. "Lo mau gue jadi bad girl pinter? Gue kasih lo bad girl jenius."

​Alea mengeluarkan HP-nya. Dia mengetik di grup The Rebels yang baru saja dia tinggalkan kemarin (untung Raka langsung mengundangnya lagi tadi pagi meski belum di-acc).

​Alea joined the group.

​Alea:

KUMPUL DI MARKAS SEKARANG. JANGAN ADA YANG TELAT.

Kita punya misi bunuh diri.

Kita bakal kudeta OSIS.

​Alea menutup map itu, memeluknya di dada, dan berjalan keluar sekolah dengan langkah lebar.

​Julian mungkin sudah menyerah pada nasibnya sendiri, tapi Alea tidak akan menyerah pada nasib Julian. Dia akan membongkar kebusukan Rian, mengembalikan Pensi, dan yang paling penting: dia akan mencegah Julian pergi ke Magelang.

​Perpisahan ini belum final. Ini baru jeda sebelum encore.

...****************...

BERSAMBUNG.....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!