"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Setelah selesai menyuapi Arkan, Gladis menyadari wajah suaminya kembali pucat pasi.
Napas Arkan mulai pendek-pendek, dan tak lama kemudian matanya terpejam erat.
Arkan pingsan karena menahan rasa sakit yang luar biasa dan demam tinggi yang mulai menyerang akibat infeksi pada lukanya.
"Arkan! Bangun, Sayang!" Gladis menepuk pipi suaminya, namun tidak ada respon.
Gladis melihat kain gaun emas yang melilit kaki Arkan mulai merembes darah segar lagi.
Ia tahu ia harus bertindak cepat. Ingatannya kembali ke masa kecil saat ibunya mengajarkan tentang tanaman obat di hutan.
Tanpa memedulikan rasa lelah, Gladis kembali masuk ke dalam hutan yang lebih lebat.
Kali ini ia tidak mencari makanan, tapi mencari daun Binahong liar dan Sambiloto yang dikenal sebagai antibiotik alami.
Hutan itu tidak ramah dimana banyak ranting-ranting berduri menyabet lengannya dan bebatuan tajam menggores telapak kakinya yang tanpa alas.
Tangan dan kakinya mulai mengeluarkan darah, namun Gladis seolah tidak merasakan perihnya.
Pikirannya hanya terfokus pada satu hal yaitu Arkan harus selamat.
"Ketemu!" seru Gladis saat melihat tanaman merambat dengan daun tebal di balik semak berduri.
Setelah mendapatkan segenggam daun obat, Gladis segera berlari kembali ke pantai.
Ia mengambil dua buah batu yang permukaannya halus, mencuci daun itu dengan air kelapa yang tersisa, lalu menumbuknya hingga lumat dan mengeluarkan sari berwarna hijau pekat.
Gladis mengangkat kepala Arkan dengan lembut dan meletakkannya di pangkuannya.
Ia meminum sedikit sari daun yang sangat pahit itu ke dalam mulutnya sendiri, lalu dengan penuh kasih sayang, ia menyalurkannya melalui bibirnya ke mulut Arkan yang masih terkatup rapat, memastikan suaminya menelan obat tersebut.
"Kumohon, Arkan telanlah. Kamu harus kuat untukku," bisik Gladis dengan suara gemetar.
Setelah itu, ia menempelkan sisa tumbukan daun tadi ke luka terbuka di kaki Arkan.
Arkan sempat merintih dalam pingsannya saat zat aktif obat itu menyentuh luka, namun Gladis terus menahannya dan membalutnya kembali dengan sisa kain gaunnya yang paling bersih.
Gladis duduk bersandar di pohon, memeluk kepala Arkan di pangkuannya sambil menahan perih di tangan dan kakinya sendiri yang juga penuh luka.
Di bawah terik matahari, ia terus berjaga, menolak untuk menyerah pada keadaan.
Detik demi detik berganti sampai langit berubah menjadi gelap.
Malam kembali turun menyelimuti pulau kecil itu dan suara deburan ombak yang biasanya menenangkan, kini terdengar seperti ancaman yang sunyi.
Gladis duduk memeluk lututnya di samping api unggun yang mulai meredup, sementara kepala Arkan masih terbaring di pangkuannya.
Dalam kesunyian itu, Gladis mulai bersenandung dengan suara yang bergetar.
Ia menyanyikan lagu nina bobo lama yang sering dinyanyikan Arkan saat Gladis masih kecil dan selalu berhasil menenangkannya saat ia merasa takut akan dunia luar.
"Tidurlah sayang, dalam pelukan malam, takkan ada yang melukaimu..."
Suaranya pecah di tengah lirik itu. Air mata mengalir deras melewati pipinya yang kotor oleh abu dan pasir, jatuh tepat di kening Arkan.
"Bangun, Arkan. Jangan tinggalkan aku sekarang. Kamu sudah berjanji akan memberikan dunia untukku, tapi aku tidak butuh dunia. Aku hanya butuh kamu," bisik Gladis di sela tangis sesenggukannya.
Ia menatap luka di tangan dan kakinya sendiri yang mulai terasa sangat perih, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan ketakutan kehilangan pria yang kini menjadi suaminya tersebut.
Ia terus mengusap rambut Arkan, mencoba memberikan kehangatan melalui sentuhannya.
"Kalau kamu tidak bangun, siapa yang akan memarahiku karena makan sembarangan? Siapa yang akan membopongku ke kamar mandi? Tolong, buka matamu, Arkan. Jangan biarkan aku sendirian di sini."
Tangis Gladis semakin pecah hingga bahunya berguncang hebat.
Di tengah keputusasaannya, ia tidak menyadari bahwa jari tangan Arkan mulai bergerak sedikit, merespons suara tangisan istrinya yang memilukan.
Tiba-tiba, dari kejauhan di langit yang gelap, terdengar suara sayup-sayup yang membelah keheningan.
Bukan suara ombak dan bukan pula suara angin, melainkan suara baling-baling yang semakin lama semakin jelas.
Cahaya lampu sorot dari helikopter membelah kegelapan pantai, menciptakan pusaran pasir saat burung besi itu mendarat tidak jauh dari posisi mereka.
Gerald adalah orang pertama yang melompat keluar bahkan sebelum baling-baling berhenti berputar sempurna.
"Kapten! Nyonya!" teriak Gerald saat melihat sosok di samping api unggun yang mulai padam.
Langkah Gerald terhenti sejenak, hatinya perih melihat pemandangan di depannya.
Gladis duduk mendekap Arkan dengan kondisi gaun yang sudah compang-camping, tangan dan kakinya penuh luka goresan, namun matanya menatap tajam ke arah tim penyelamat dengan sisa-sisa kesadaran.
"Cepat bawa tandu! Kapten terluka parah!" perintah Gerald dengan suara menggelegar kepada tim medis yang menyusul di belakangnya.
Saat petugas medis hendak mendekati Gladis, wanita itu menggeleng lemah dan menunjuk Arkan yang masih tak sadarkan diri di pangkuannya.
"Selamatkan suamiku dulu. Obati dia..." bisiknya dengan suara yang hampir habis.
Gerald mengangguk cepat, memberikan isyarat pada tim medis untuk memprioritaskan Arkan.
"Kami akan menyelamatkannya, Nyonya. Saya berjanji."
Arkan segera diangkat ke atas tandu dengan sangat hati-hati.
Seorang petugas lain dengan sigap menyampirkan selimut wol yang tebal ke tubuh Gladis yang sudah menggigil hebat.
Begitu merasakan kehangatan selimut dan melihat Arkan sudah berada di tangan yang aman, pertahanan terakhir Gladis runtuh.
Beban berat yang ia pikul sejak terjun ke laut seolah terangkat seketika.
Gladis memejamkan matanya perlahan, tubuhnya terkulai lemas ke pelukan petugas yang menjaganya.
"Nyonya! Nyonya Gladis!" seru petugas tersebut.
Wajah Gladis yang pucat pasi segera dipasangi masker oksigen.
Tim medis dengan cepat membaringkannya di tandu kedua, menyadari bahwa gadis ini telah memaksakan dirinya jauh melampaui batas kemampuan manusia demi menyelamatkan nyawa suaminya.
Helikopter itu kembali lepas landas, membawa dua jiwa yang telah melewati maut menuju kapal Ocean Empress yang sudah menunggu dengan fasilitas medis lengkap.
Di dalam helikopter, Gerald menatap kedua tangan Gladis yang hancur karena memanjat pohon dan menumbuk obat.
Pintu unit medis kapal terbuka lebar dengan terburu-buru.
Gerald memimpin tim yang mendorong dua ranjang secara bersamaan.
Suasana kapal yang tadinya penuh ketegangan berubah menjadi haru, namun ketegangan baru muncul ketika sebuah helikopter pribadi milik keluarga besar Arkan mendarat di dek atas.
Turunlah sepasang pria dan wanita paruh baya dengan aura yang sangat berwibawa orang tua Arkan.
Di belakang mereka, seorang wanita cantik dengan pakaian desainer ternama berlari dengan wajah cemas yang dibuat-buat.
Beberapa jam kemudian, di dalam ruang perawatan yang tenang, Gladis perlahan membuka matanya.
Rasa pening menghantam kepalanya, dan tubuhnya terasa sangat kaku.Hal pertama yang ia ingat adalah Arkan.
Tanpa mempedulikan rasa sakit di kaki dan tangannya yang sudah dibalut perban bersih, Gladis bangkit dari ranjangnya.
Ia mencengkeram tiang infus dan menyeretnya keluar dari bilik perawatannya, berjalan tertatih-tatih menuju ruangan tempat Arkan berada. Namun, langkah Gladis terhenti tepat di depan pintu kaca yang sedikit terbuka.
Di dalam sana, Arkan tampak baru saja sadar. Di samping ranjangnya, seorang wanita cantik yang tidak Gladis kenali sedang mendekap tubuh Arkan dengan erat.
Tangis wanita itu pecah, suaranya terdengar memenuhi ruangan.
"Arkan! Syukurlah kamu selamat! Aku sangat takut kehilanganmu," ucap wanita itu sambil membenamkan wajahnya di dada Arkan.
Orang tua Arkan yang berdiri di sisi lain ranjang hanya diam, seolah membiarkan kedekatan mereka.
Gladis berdiri mematung di ambang pintu dengan tangannya yang memegang tiang infus gemetar hebat.
Hatinya yang baru saja hangat karena pengorbanan di pulau, kini terasa seperti tersiram air es.
Wanita itu bukan kru kapal, bukan juga kerabat yang pernah ia temui.
Cara wanita itu memeluk Arkan terasa begitu akrab dan memiliki.
Gladis menunduk melihat dirinya sendiri; masih mengenakan pakaian rumah sakit, tubuh penuh luka, dan rambut yang belum rapi.
Ia merasa seperti orang asing di tengah kemewahan keluarga Arkan yang tiba-tiba hadir.
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget