Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 Untung Saja Dia Datang
Aluna terus berlari dengan kencang.
Tin-tin.
Aluna kaget mendengar suara klakson mobil membuatnya menoleh ke belakang dengan mata melotot dengan cahaya mobil tersebut menerpa wajahnya.
"Aluna!" teriak Firman.
"Aaaaaaaa!" Aluna menyilangkan tangannya di wajahnya ketika mobil tersebut detik-detik mendekati dirinya.
Chittt.
Ternyata mobil melaju kencang itu tidak sempat menabraknya tetapi membuat tubuh Aluna melemah dan langsung terduduk di aspal.
"Aluna!" Firman langsung berlari menghampiri Aluna.
"Aluna kamu tidak apa-apa?" tanya Firman terlihat begitu khawatir memegang kedua bahu Aluna.
Aluna masih schok membuka mata perlahan dan ternyata dirinya tidak kenapa-napa sama sekali. Aluna dengan cepat menepis kedua tangan tersebut.
"Jangan menyentuhku!" tegas Aluna.
"Aluna aku bener takut terjadi sesuatu kepada kamu. Kamu baik-baik saja bukan?" tanya Firman.
"Tidak perlu bersandiwara di hadapanku!" tegas Aluna.
"Aluna, aku tahu saat ini kamu membenciku karena aku telah menikah denganmu Jiya. Tetapi Jiya mengalah dalam pernikahan kami dan mengizinkan aku untuk menikah lagi denganmu!"
"Hentikan ngomong kosongmu dan malu lah sedikit. Aku tidak peduli kalian peduli menikah atau tidak. Tetapi aku membencimu karena kau pengecut telah membohongiku!" tegas Aluna.
"Aku membohongi kamu bagaimana? Aku selama ini?"
"Sudah hentikan!" tegas Aluna benar-benar sangat muak.
Firman memegang tangan Aluna yang ingin membantu Aluna berdiri.
"Jangan menyentuhku!" Aluna memberontak tetapi Firman terus saja memaksanya. Sampai akhirnya sebuah tangan kekar menahan tangan tersebut dan membuat keduanya melihat orang tersebut dan tak lain adalah Ravindra.
"Pak Ravindra....." lirih Aluna.
"Jika tidak wanita tidak ingin disentuh, maka jangan melakukannya, jangan memaksa wanita harus melakukan apa yang tidak dia suka!" tegas Ravindra menjatuhkan tangan itu dengan kasar.
Kemudian Ravindra membantu Aluna untuk berdiri.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ravindra.
Aluna menggelengkan kepala.
"Siapa kamu?" tanya Firman.
"Saya tidak punya kewajiban apapun untuk menjelaskan kepada kamu siapa saya," jawab Ravindra.
"Saya perlu mempertanyakan hal itu. Aluna adalah adik ipar saya dan sudah menjadi tanggung jawab saya ketika ada orang lain yang dekat dengannya," ucap Firman.
Mendengar pernyataan itu membuat Ravindra tersenyum miring.
"Jadi kamu merupakan kakak iparnya. Apa pantas seorang kakak ipar berperilaku seperti ini kepada adik iparnya?" tanya Ravindra.
"Aku sama kamu tidak ada urusan apa-apa dan sekarang pergilah dari hadapanku. Jangan membuat masalah semakin banyak dan aku bisa mengatakan semua kepada Abi!" tegas Aluna memberi ancaman kepada Firman.
"Tetapi Aluna....."
"Aku bilang pergi!" Aluna benar-benar sangat muak dengan Firman.
"Baiklah," Firman akhirnya tidak punya pilihan lain. Firman mengalah dan akhirnya meninggalkan Aluna bersama dengan Ravindra.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ravindra sekali lagi membuat Aluna menggelengkan kepala.
"Bukan hanya berjalan dengan tidak hati-hati, tetapi kamu juga lari-larian tidak jelas di jalan lintas seperti ini dan bagaimana jika sampai tadi saya menabrak kamu, kamu sudah tidak bernyawa atau bahkan setengah bernyawa dan bukankah itu akan merepotkan saya," ucap Ravindra memarahi karyawannya itu.
"Kamu sudah dewasa dan seharusnya bersikap jauh lebih baik, jangan lari-lari di jalan lintas agar tidak membahayakan nyawa kamu!" tegas Ravindra sudah seperti orang tua saja memarahi putrinya.
"Maafkan saya. Saya hanya terbawa emosi saja," jawab Aluna.
"Di mana rumah kamu. Saya akan mengantar kamu?" tanya Ravindra.
"Tidak usah. Pak!" Aluna langsung menolak dengan cepat.
"Rumah saya di dekat sini dan saya akan pulang. Saya sekali lagi meminta maaf dan terima kasih sudah membantu saya," ucap Aluna menundukkan kepala dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Ravindra.
Ravindra melihat kepergian Aluna dengan menghela nafas.
"Dasar wanita ceroboh, hampir saja aku menabrak," gumam Ravindra dengan geleng-geleng kepala.
Ravindra melihat tempat tersebut dengan kepala berkeliling.
"Tidak asing jalanan ini, sepertinya aku pernah berada di tempat ini," ucapnya dengan menghela nafas.
Ravindra menghela nafas dan kemudian langsung memasuki mobilnya.
*****
"What!" Melly terpekik kaget saat mendengar pengakuan Aluna.
"Kakak kamu meminta kamu untuk menjadi istri kedua suaminya?" tanyanya memastikan membuat Aluna kembali menganggukkan kepala saat mendatangi temannya itu dan curhat kepada temannya.
"Astagfirullah Aluna? Apa Kakak kamu waras?" tanya Melly.
Aluna mengangkat kedua bahunya dan juga Tidak bisa menggambarkan bagaimana kepribadian sang Kakak yang sebenarnya.
"Dia sendiri yang menikah dengan orang yang kamu cintai dan sekarang malah menyuruh kamu untuk menikah kembali dengan laki-laki itu dan sementara mereka berdua menikah. Di mana atau sehatnya yang bisa-bisa minta adiknya untuk menjadi madunya," ucap Melly merasa tidak masuk akal.
"Aku juga tidak paham dan alasannya karena tidak bisa memberikan keturunan kepada suaminya. Apapun itu aku tidak akan pernah menikah dengan Firman," jawab Aluna
"Lalu bagaimana dengan kedua orang tua kamu? Jangan bilang mereka setuju?" tebak Melly.
"Lalu jika tidak menyetujui hal itu apalagi," jawab Aluna.
"Whattt!" Melly kembali terpekik kaget.
"Kamu serius?" tanyanya lagi.
"Itu memang yang terjadi, aku tidak tahu apa yang dipikirkan kedua orang tua ku. Mereka mendukung keinginan Kak Jiya, karena mereka meyakini bahwa adiknya tidak akan pernah menyakiti Kakaknya, jadi poligami itu disetujui orang tuaku karena aku yang menjadi madunya dan mereka akan beranggapan bahwa Firman akan adil untuk kami berdua," jawab Aluna.
"Astagfirullah Aluna, kenapa aku merasa Kakak kamu itu wanita yang naif. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran dia tetapi yang aku simpulkan bahwa dia bukan wanita yang sehat, akal sehatnya entah ke mana dan seperti memiliki tujuan. Aku berbicara seperti ini bukan asal tuduh, tetapi ini benar-benar tidak masuk akal. Kenapa aku merasa bahwa dia selalu saja mencampuri urusan kamu dan seolah-olah tidak menginginkan kamu bersama dengan orang yang benar-benar kamu inginkan," ucap Melly mengeluarkan pendapatnya dengan menarik kesimpulan.
"Sebenarnya aku juga merasa adalah hal yang aneh, aku merasa sikap Kak Jiya benar-benar berbeda. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya selama ini," batin Aluna.
"Aluna, aku meminta kepada kamu untuk tidak menerima pernikahan itu. Aku bukan mempengaruhi kamu, tetapi Kamu jangan bodoh dan pikirkan baik-baik. Bagaimana mungkin kamu membiarkan orang-orang yang telah menyakiti kamu dan sekarang kembali mempermainkan kamu. Pernikahan dan urusan rumah tangga mereka bukanlah urusan kamu!" tegas Melly.
"Aku berpikiran jika Kakak kamu hanya mencari simpatik dari orang tua kamu, Mereka terlihat sedih melihat bagaimana Kakak kamu yang merelakan suaminya untuk menikah lagi hanya karena kekurangannya sebagai wanita, tetapi justru aku melihat di balik semua itu seperti ada maksud. Maaf Aluna bukannya aku ingat membuat kamu harus curiga kepada dia," ucap Melly berterus terang menyampaikan semua apa yang ada di pikirannya.
"Kamu wanita cerdik dan aku yakin kamu bisa keluar dari masalah ini. Jangan biarkan diri kamu berada diantara pernikahan mereka," ucap Melly memberi ingat kepada temannya itu.
"Kamu tenang saja Melly. Aku akan berusaha semampuku dan jika Abi memaksa untuk tetap melanjutkan hubungan seperti ini. Aku juga akan mengambil tindakan," ucap Aluna.
"Aku percaya kamu bisa menghadapi semua ini. Kamu harus menunjukkan kepada orang tua kamu bahwa kamu wanita yang hebat dan tidak bisa sembarangan diperlakukan seperti ini," tegas Melly membuat Aluna menganggukkan kepala.
Bersambung....