NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1 - Kelahiran Seseorang Yang Mengubah Arah

Tangis seorang bayi menggema di kamar luas itu, berpadu dengan cahaya dari lampu kristal di langit-langit. Suara langkah tergesa naik dari arah tangga, terburu-buru seakan seluruh rumah turut menegangkan diri. Pintu kamar terbuka dengan hentakan.

gema yang bergetar memantul di dinding seperti retakan panjang di udara. Di ambang pintu berdiri seorang pria dengan napas terputus-putus. Matanya, yang sejak tadi dipenuhi ketakutan, langsung menyapu ruangan hingga akhirnya menemukan sosok yang dicarinya.

Di atas ranjang besar putih, istrinya terbaring lemah. Namun di wajah itu tercetak senyum tipis. Dalam pelukannya, seorang bayi mungil baru saja menyambut dunia.

Hendry, kepala pengurus rumah, bergerak mendekat dan menunduk hormat. Suaranya lembut.

“Persalinan berjalan lancar, tuan Moren...”

Pria itu memejamkan mata. Beban yang menekan dadanya sejak pagi perlahan surut, berganti helaan napas lega.

“Isabel istriku… bagaimana keadaannya? Dan anakku?”

“Keduanya dalam keadaan yang sehat walafiat. Hanya saja... Saat ini perlu beristirahat terlebih dahulu...” jawab Hendry.

Seolah mendengar namanya disebut, sang istri membuka mata perlahan. Senyum yang lebih hangat muncul di sudut bibirnya.

“Aku baik-baik saja, Sayang...” bisiknya. “Dan bayinya juga baik keadaannya. Sekarang… sudahkah kau memikirkan nama untuk bayi kecil ini?”

Pria itu menatap putranya. Ada sesuatu yang bergetar di mata itu sebuah harapan, ketakutan, impian yang belum selesai.

Dari semua nama yang mungkin ia pilih, satu nama tiba-tiba muncul begitu jelas, seperti sudah menunggu sejak lama.

“Bagaiman jika Arthur? nama ini akan kuberikan kepadanya” ujarnya pelan namun tegas.

“Aku ingin ia tumbuh kuat seperti Raja Arthur. Sosok legenda yang membawa keberanian dan harapan bagi dunia.”

Hendry mengangguk kecil, tersenyum bangga.

“Hmmm... Seperti yang diharapkan... Itu nama yang sangat gagah, Tuan. Saya yakin tuan muda kelak akan menepati arti namanya dengan sesuai.”

Sang istri memutar mata sambil menahan tawa.

“Baiklah-baiklah... Asal jangan sampai ia tumbuh terlalu terpengaruh dengan cerita-cerita yang sering kau baca itu hahahaha.”

Tawa kecil pun memenuhi kamar, itu sebuah tawa pertama yang menyambut Arthur ke dunia yang seperti... Kalian akan tahu.

-~-Hari Ini Sudah Empat Tahun Berlalu.

Istana kecil itu kini tak pernah sunyi dari langkah kecil Arthur. Anak itu seolah memiliki tenaga yang tak ada habisnya, rasa ingin tahu yang tak pernah padam.

Hari itu, Hendry sudah hampir satu jam mencari-cari tuan muda karena guru privat sudah menunggu sejak tadi, namun bocah itu menghilang entah ke mana.

Sampai akhirnya ia menemukannya di perpustakaan keluarga, duduk bersila dengan buku tebal di pangkuannya.

Arthur tenggelam dalam halaman-halaman itu dengan keseriusan yang jarang terlihat pada anak seusianya.

Judul besar di sampul buku itu terbaca jelas: Sepuluh Kebaikan Besar Otra Heos, Sang Pembebas Negara Aisen Odni. Hendry menghela napas lega dan tersenyum.

“Haaa... Ternyata anda... Tuan muda, rupanya anda berada di sini dari tadi...”

Arthur mengangkat wajah penuh semangat.

“Hey Hendry kenapa kamu seperti itu? Btw apakah kamu tahu siapa itu Otra Heos?”

Pelayan tua itu pun duduk di sampingnya. Nada suaranya berubah, seolah ia membuka kotak kenangan yang lama. Ia mulai bercerita perlahan, penuh detail hingga Arthur seakan ikut masuk ke dunia seribu tahun lalu.

Otra Heos, cucu Kaisar Kekaisaran Ngawrecing, dikirim ke Negara Aisen Odni yang baru merdeka untuk membuktikan kelayakannya sebagai penerus. Namun keberuntungan tidak berpihak padanya, ia ditangkap sekelompok bandit, dijual di rumah lelang Dawn Power Rhym atau orang lokal sering menyingkatnya sebagai DPR, Otra Hoes nyaris kehilangan masa depannya.

Ketika harapan hampir padam dari dalam dirinya, tiba-tiba seorang pria berjenggot panjang yang dianggap kumuh oleh banyak orang membelinya. Tak ada yang tahu ia adalah pandai besi paling hebat di Negara Republik Aisen Odni, bahkan sang Kepala Negara memberikan dia sebuah gelar khusus: Dia adalah sang legenda... Lewyn Yoir.

Arthur mendengarkan dengan mata berbinar. Dunia di antara halaman buku itu hidup, berdenyut.

Dengan suara lembut, Hendry melanjutkan. Bahwa Lewyn bukan hanya membebaskan Otra, tapi juga memberinya syarat: bekerja lah di bengkelnya selama dua puluh tahun.

Dua puluh tahun kerja keras tanpa jeda, tapi juga dua puluh tahun yang mengubah bocah rapuh menjadi sosok yang tak tertandingi.

“Dan ketika masa itu berakhir...” tutur Hendry pelan,

“Keduanya menangis saat berpisah, sebuah perpisahan yang sangat dramatis... Dua puluh tahun itu cukup untuk membuat dua orang menjadi seperti ayah dan anak.”

Arthur terdiam. Wajahnya memudar lembut, matanya mulai sayu. Beberapa detik kemudian ia rubuh di pangkuan buku itu tertidur.

“Horee...” gumamnya dalam tidur, seolah tetap mengikuti cerita.

Hendry tertawa kecil, mengangkat tubuh kecil itu dengan penuh kehati-hatian. Di luar perpustakaan, ia bertemu Mr. Hobart, guru privat Arthur.

“Sepertinya tuan muda tidak bisa belajar hari ini, maafkan kami Mr Hobart” kata Hendry.

Mr. Hobart tersenyum maklum.

“Tidak apa. Anak seusia tuan Arthur itu memang harus punya mimpi yang indah...”

Pagi berikutnya, Arthur terbangun dari tidur hangatnya. Jam menunjukkan pukul delapan. Masih setengah sadar, ia menatap langit-langit sambil memegangi selimut.

Tiba-tiba suara ketukan pelan terdengar. Hendry masuk sambil tersenyum.

“Tuan muda Arthur... paman anda tuan Norvist ingin bertemu. Ayo ke bawah sekarang!.”

Dengan antusias Arthur turun berlari menuruni tangga. Dari celah pintu ruang tamu, ia mendapati ayah, ibu, dan pamannya sedang berbincang. Arthur langsung berlari dan memeluk sang paman.

Norvist tertawa, mengacak rambut keponakannya.

“hahahaha lihat ini... Anak yang bahkan dulu tak bisa berjalan sekarang sudah bisa berlari seperti angin yang cepat...” katanya hangat.

Arthur pun menceritakan berbagai hal yang membuatnya gembira akhir-akhir ini. Namun, tak lama kemudian, ayahnya mengatakan dengan pelan.

“Arthur... Bisakah kamu pergi dulu bersama Hendry. Aku dan Paman mu harus berbicara empat mata sekarang.”

Hendry menuntun Arthur keluar. Tepat sebelum pintu tertutup, Arthur sempat melihat wajah orangtua dan pamannya serius, tegang, seolah membahas sesuatu yang sangat penting.

Saat pintu menutup, suara ayahnya terdengar terpotong:

“Sialann!? Bagaimana bisa mereka...”

Sisanya hilang, tenggelam dalam gema ruangan. Arthur berhenti melangkah. Ada kegelisahan kecil yang membungkus dadanya. Melihat itu, Hendry berjongkok dan menyentuh bahunya pelan.

“Tidak apa-apa... Tuan Muda. Semua akan baik-baik saja. Sama seperti kisah dari Raja Arthur yang sering anda dengar.”

Nama itu membuat Arthur mengangkat wajahnya.

“Raja Arthur? Btw Hendry… kapan kau akan menceritakannya kepada ku?”

Hendry hanya tersenyum misterius, senyum yang sudah sering ia berikan pada anak itu.

“Jika saatnya tiba, aku pasti menceritakannya. Untuk sekarang, percayalah… setiap pahlawan punya waktunya sendiri.”

Arthur tidak mengerti sepenuhnya, tapi ia mengangguk kecil. Ia percaya Hendry. Dan dalam keheningan lorong itu, seolah ada sesuatu yang baru sedang mulai bergerak dalam Arthur Kecil meski ia sendiri belum tahu apa itu...

1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
sukses selalu untuk semua karyanya kak
DavidTri: terimakasih kak🌞
total 1 replies
Vanillastrawberry
kritis banget tuan muda Arthur
Zan Apexion
Nice story 👍
DavidTri: Terima kasih 👋🏻
total 1 replies
Zan Apexion
Sedikit saran Thor, lupa tanda baca 'titik' setelah kata hentakan. letaknya di paragraf awal.
DavidTri: benar, lupa naruh titik di akhirannya, btw terima kasih
total 1 replies
DavidTri
21 nama yang sangat ...🗿
DavidTri
Episode 6 - 13 udah ada di draft😄 tinggal nunggu Minggu depan biar jadi jadwal up 1-2/Minggu🥳 Btw boleh baca Novel terbaru ku, Judulnya: Welcome To SERIAL KILLER
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥
DavidTri: btw kenapa cover nya masih ngadep belakang dah🗿 padahal udah diganti si Arthur hadap ke depan ngelihat orang ganteng/cantik😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!