NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

“Kau pikir kain sutra ini bisa menutupi identitasmu, Alisha? Di tempat ini, bau keringat dan debu jauh lebih jujur daripada parfum Sagara yang kau pakai.”

Suara serak itu berasal dari seorang wanita paruh baya dengan jari-jari yang kasar akibat ribuan kali tertusuk jarum. Namanya Mbok Nah. Ia adalah pemilik kios tekstil kecil di sudut terdalam Pasar.

Alisha berdiri di hadapannya sambil mengenakan kerudung lebar dari kain katun kusam. Ia melepaskan kacamata hitamnya. Ia menatap teman lama yang pernah mengajarinya dasar-dasar memotong pola sebelum badai enam tahun lalu itu menghancurkan segalanya.

“Aku tidak butuh kejujuran, Mbok. Aku hanya butuh waktu sepuluh menit untuk menghilang,” bisik Alisha.

“Pengawal berjas di depan gang itu mencarimu, kan? Mereka tidak cocok dengan lantai pasar yang becek.”

“Mereka tidak akan berhenti sebelum menyeretku kembali ke sangkar emas itu.”

Mbok Nah melemparkan segulung kain blacu kasar ke arah Alisha. “Pakai itu sebagai selendang. Masuklah ke lorong belakang kiosku. Jalannya tembus ke tukang jagal ayam.”

Alisha segera melilitkan kain itu ke tubuhnya. Ia menundukkan kepala. Ia membiarkan bau kain apek dan aroma darah ayam menyamarkan jejaknya.

Di luar kios, langkah kaki sepatu pantofel yang berat terdengar berderap di atas ubin pasar yang retak. Alisha bisa melihat bayangan dua pria berbadan tegap melewati celah kain yang digantung. Itu adalah pengawal Damian. Mereka bergerak sistematis. Namun kerumunan ibu-ibu yang berebut diskon kain kiloan menghambat pergerakan mereka.

“Cari wanita dengan gaun hitam di bawah jubahnya! Jangan sampai lolos!” teriak salah satu pengawal.

Alisha bergerak lebih cepat. Ia menyelinap di antara tumpukan gulungan kain kusam. Kakinya yang biasa mengenakan tumit tinggi kini terasa lebih lincah dengan sandal jepit pinjaman Mbok Nah. Namun, saat ia sampai di tikungan gang kancing, ia melihat sosok lain. Dua pria dengan jaket kulit hitam dan tindik di telinga berdiri bersandar pada pilar. Mereka bukan orang Damian. Mereka adalah orang-orang suruhan Clarissa Aditama.

“Gadis itu punya kartu memori yang penting. Clarissa ingin benda itu kembali, hidup atau mati,” ujar salah satu dari mereka sambil memutar pisau lipat.

Alisha menahan nafas di balik tumpukan karung benang. Ia terjepit di antara dua faksi yang sama-sama berbahaya. Damian ingin mengurungnya kembali. Clarissa ingin menghilangkannya dari muka bumi. Ia meraba kartu memori di balik sarung tangan rendanya. Benda kecil itu terasa seperti bara api yang membakar telapak tangannya.

“Aku harus sampai ke kios jam tua di pojok utara,” gumam Alisha pada dirinya sendiri.

Ia mengambil segenggam kancing plastik dari wadah terbuka. Ia melemparnya ke arah berlawanan. Suara kancing yang berhamburan di lantai ubin menarik perhatian anak buah Clarissa.

Saat mereka menoleh, Alisha berlari melintasi gang sempit yang gelap. Ia menabrak beberapa keranjang sayur. Ia tidak berhenti.

Langkah kakinya membawanya ke sebuah kios kecil yang dipenuhi jam dinding kuno. Jam-jam itu berdetak tidak beraturan.

Di sana, seorang pria tua dengan mata katarak sedang memperbaiki roda gigi kecil. Namanya Pak Jono. Enam tahun lalu, ia adalah sopir pribadi mendiang ayah Damian.

“Aku tidak punya waktu untuk bernostalgia, Pak. Ambil ini dan berikan apa yang pria itu janjikan.”

Alisha menyodorkan sebuah sobekan kain perca berwarna biru tua ke hadapan pria tua itu. Itu adalah potongan seragam pengemudi Sagara Group yang ia temukan di gudang lama. Pak Jono tidak mengenali wajah Alisha di balik kerudung kusamnya. Namun, ia mengenali tekstur kain itu. Ia menyentuhnya dengan ujung jari yang gemetar.

“Hanya tiga orang yang punya potongan kain dari batch seragam terakhir tuan besar Sagara,” bisik Pak Jono.

“Dua di antaranya sudah mati, dan yang satu lagi berdiri di depanmu sekarang,” sahut Alisha dingin.

“Kau utusan dari anak muda bertudung itu?”

“Cepatlah. Waktuku kurang dari lima menit sebelum pasar ini berubah jadi medan tempur.”

Pak Jono merogoh laci meja kerjanya yang penuh dengan oli hitam. Ia mengeluarkan sebuah kunci besi tua yang sudah berkarat di bagian ujungnya. Kunci itu memiliki label kertas kecil dengan tulisan angka yang nyaris pudar oleh debu pasar.

“Ini kunci loker bank tua di kawasan Kota Tua,” ujar Pak Jono sambil meletakkannya di telapak tangan Alisha.

“Apa yang ada di dalam sana?” tanya Alisha.

“Kebenaran yang membuat ayah Damian kehilangan nyawanya. Nyonya Raina bukan hanya memanipulasi saham. Dia mematikan mesin penyokong hidup suaminya sendiri demi kekuasaan mutlak.”

Alisha merasakan dingin yang luar biasa menjalar dari ujung jarinya hingga ke jantung. Ini bukan sekadar skandal bisnis atau perselingkuhan yang direncanakan. Ini adalah pembunuhan berencana di dalam keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ia segera menggenggam kunci itu erat-erat. Ia memasukkannya ke dalam saku jubah samarannya.

“Pergi lewat pintu belakang, Nona. Jangan pernah kembali kesini,” pesan Pak Jono sebelum kembali menunduk.

Alisha bergerak lincah menyusuri gang sempit di antara gulungan kain kusam. Bau apek tekstil menyerang indra penciumannya. Ia bisa mendengar teriakan para pengawal Damian yang mulai menggeledah kios-kios di depan.

“Cari wanita dengan selendang blacu! Dia tidak mungkin jauh!” teriak suara yang Alisha kenali sebagai salah satu anak buah Jimmy.

Disisi lain, ia melihat dua pria berjaket kulit hitam dengan tato di leher sedang menendang tumpukan kancing.

Alisha terjepit di tengah aksi kucing-kucingan yang menegangkan. Ia merunduk di bawah jemuran kain batik. Ia membiarkan kain-kali panjang itu menutupi pergerakannya. Ia terus merayap menuju pintu keluar parkir motor yang kumuh.

“Sedikit lagi,” gumamnya saat melihat gerbang parkir.

Ia berhasil mencapai mobil sewaan berwarna perak yang ia parkirkan di bawah pohon beringin tua. Alisha masuk ke kursi pengemudi. Ia mengunci pintu. Ia menginjak gas dengan kalap. Jantungnya berdegup kencang seirama dengan detak mesin mobil yang tua. Ia harus keluar dari area pasar ini sebelum mereka menyadari bahwa target mereka sudah berada di jalan raya.

Namun, saat ia sudah berkendara sejauh dua kilometer, ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Mobilnya terasa lebih berat di bagian belakang. Tiba-tiba, suara benturan pelan terdengar dari arah bagasi. Suara engsel yang terbuka mengikuti kemudian.

“Lain kali, Ibu harus menyewa mobil dengan suspensi yang lebih empuk. Punggungku hampir patah.”

Alisha tersentak hebat hingga nyaris membanting setir ke arah pembatas jalan. Ia menginjak rem secara mendadak. Mobil itu berhenti dengan suara decitan ban yang memekakkan telinga. Ia menoleh ke kursi belakang dengan wajah pucat pasi.

Arka merangkak keluar dari balik jok belakang yang terhubung ke bagasi. Bocah itu mengibaskan debu dari baju tuksedo mininya. Ia memasang ekspresi yang sangat datar. Ia seolah-olah baru saja turun dari mobil mewah. Padahal ia baru saja keluar dari ruang sempit yang pengap.

“Arka! Bagaimana kau bisa ada di sini?” teriak Alisha antara marah dan lega.

“Aku menyelinap masuk ke bagasi saat Ibu sedang berdebat dengan Mbok Nah tadi,” jawab Arka santai.

“Ini sangat berbahaya! Kenapa kau tidak tetap di apartemen bersama Damian?”

“Karena apartemen itu sudah tidak aman. Dan karena Ibu tidak akan bisa membuka enkripsi di bank Kota Tua tanpa bantuanku.”

Arka merayap ke kursi depan. Ia duduk di samping Alisha. Ia segera membuka laptop kecilnya. Ia menatap ibunya dengan tatapan dewasa yang menuntut kepercayaan.

“Ibu sudah mendapatkan kuncinya, kan?” tanya Arka.

Alisha menunjukkan kunci besi tua itu. Binar mata Arka berubah tajam. Ia tidak membuang waktu. Ia segera mengetik rangkaian kode untuk memindai koordinat bank yang dimaksud.

“Kita ke Kota Tua sekarang, Ibu. Pengawal Ayah sedang menuju ke arah Tangerang karena aku sudah memalsukan sinyal GPS mobil ini di ponsel mereka.”

Alisha menatap putranya dengan rasa tidak percaya. Bocah lima tahun ini baru saja melakukan sabotase tingkat tinggi. Ia telah menipu sistem keamanan ayahnya sendiri. Ia menghela nafas panjang. Ia memutar kemudi menuju arah utara Jakarta.

“Kau benar-benar anak Damian Sagara, Arka,” bisik Alisha.

“Bukan, Ibu. Aku adalah anak dari wanita yang bertahan hidup selama enam tahun di pesisir. Sagara hanyalah nama belakang yang akan kuhancurkan malam ini.”

Mobil perak itu melaju membelah kemacetan Jakarta. Di saku Alisha, kunci besi itu terasa semakin berat. Ia tahu satu hal pasti. Saat pintu loker itu terbuka nanti, tidak akan ada jalan kembali bagi siapa pun. Damian, Raina, dan seluruh dinasti Sagara akan menghadapi kiamat mereka sendiri.

Alisha melirik kaca spion tengah. Ia melihat Arka tidak lagi menatap laptop. Bocah itu sedang menatap sebuah foto kusam yang ia temukan di sela-sela jok mobil. Foto itu menunjukkan Damian muda yang sedang menangis di depan sebuah makam tanpa nama.

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
erma _roviko: Gak kok kak, bab 33 udah aman
total 1 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!