Terbangun tanpa ingatan dan identitas yang tercatat, Ezra mengandalkan sistem aneh untuk beradaptasi dengan kehidupan barunya. Sejak saat itu dia mulai berinteraksi dengan hantu, melakukan penebusan untuk mereka, dan menciptakan berbagai kisah aneh yang abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 - Penyelesaian Andi
Ezra menghempaskan tangan satpam yang menahannya, lalu memperbaiki jaketnya yang berantakan, dia menggerakkan lonceng kuno, bunyi lonceng itu... Dapat menggetarkan jiwa siapapun yang mendengarnya.
"Kamu membesarkan anak yang salah." Ezra menatap Andi, mata di balik kacamata hitam itu sedikit menyipit.
Pupil mata Andi mengecil, "Apa maksudmu anak yang aku besarkan bukan anakku? Tidak mungkin! Istriku tidak pernah selingkuh!"
"... Aku tidak pernah bilang istrimu selingkuh." Sudut mata Ezra berkedut, dia menahan tawanya melihat hantu wanita itu menggigit bahu suaminya.
Andi menghela nafas lega, namun kata-kata Ezra selanjutnya membuat bulu kuduknya berdiri.
"Lihat, kamu membuat istrimu marah sehingga dia menggigit lehermu."
Andi memang merasakan sakit di lehernya tadi, dia kira itu nyeri sendi belaka, mungkinkah istrinya benar-benar menjadi hantu?
Seketika Andi menundukkan kepalanya dengan bersalah, memang salahnya berkata tadi, meskipun dia tak pernah mencurigai istrinya, menyatakan hipotesis itu membuat ia seolah-olah tidak percaya pada istrinya.
"Berhentilah membuat lelucon yang menakut-nakuti!" Seorang satpam tak tahan lagi melihat bos mereka dibodohi oleh pria aneh ini.
"Jika kamu tidak percaya, aku bisa membantumu bertemu istrimu untuk terakhir kalinya nanti malam setelah kamu bermimpi, kamu juga bisa mengecek sendiri apakah anak itu milikmu." Ezra merentangkan tangannya tak berdaya.
"Lalu... Dimana anakku?" Andi sebenarnya mulai mempercayai perkataan Ezra. Entahlah, meskipun dia tidak menyadari bahwa anaknya telah ditukar, dia masih punya intuisi seorang ayah yang menyayangi istri dan anaknya.
"Tidak lama setelah istrimu meninggal... Pembantumu mengganti anakmu dengan cucunya." Ezra memperbaiki posisi kacamata nya, tersenyum tipis saat menceritakan kebenaran absurd ini.
Wajah semua orang disana menjadi aneh dan tak terlukiskan, "Apakah kamu adalah orang gila yang terlalu banyak melihat cerita fiksi?" Satpam yang sebelumnya menegur Ezra mulai mengungkapkan keraguannya lagi.
"Menurutmu bagaimana fiksi itu dibuat? Selama tidak menambahkan hal-hal mistis dan supernatural, semua cerita fiksi mungkin menjadi kenyataan di ruang dan waktu tertentu. Apa kamu pernah mendengar pepatah itu? Drama adalah cermin kehidupan, bahwa drama berasal dari kehidupan yang diadaptasi." Ezra tersenyum misterius, entah mengapa senyum itu terlihat seperti ilusi yang tak nyata, membuat semua orang yang melihatnya tertegun.
Hari itu, Andi pulang kerumah dengan cepat, dia diam-diam membawa anak yang dia besarkan selama beberapa hari terakhir ini untuk mengecek apakah anak ini benar-benar bukan anaknya. Pembantu yang terlihat khawatir dan penuh kasih sayang berlebihan pada anak itu, yang dulu dia menganggapnya wajar karena mungkin pembantu itu menyukai anak-anak, sekarang dia hanya merinding ketika memikirkan kemungkinan bahwa anak yang disayang oleh pembantu itu selalu cucunya sendiri.
Dia mencari alasan, mengatakan bahwa dia akan membawa anak itu berjalan-jalan pada pembantu yang terus menanyainya.
Tes dilakukan dengan cepat, namun hasilnya baru akan keluar beberapa hari lagi. Untuk berjaga-jaga, Andi juga menyewa detektif swasta berpengalaman dan terpercaya untuk menyelidiki kasus ini serta mencari bukti sebanyak mungkin yang bisa digunakan untuk menghukum pembantu itu melalui jalur hukum.
Malam harinya, Andi memimpikan istri yang ia rindukan siang dan malam, dia tahu mengenai ini dan membuka tangannya lebar, dia menunggu pelukan hangat dari istrinya. Namun, yang ia dapatkan pada akhirnya adalah tamparan dan pukulan penuh cinta dari istrinya. Meskipun menderita, dia tetap tersenyum bahagia, berharap istrinya bisa memukulinya seumur hidupnya, sayangnya ini mungkin yang terakhir kalinya, sehingga dia hanya fokus untuk menikmatinya.
Setelah ia babak belur dan istrinya puas, kedua pasangan itu mulai berpelukan mesra, membicarakan banyak hal sampai fajar tiba.
"Tolong jaga anakku dengan baik setelah ini." Hantu wanita memohon pada suaminya dengan serius.
Andi terdiam, lalu dia tersenyum, "Jangan lupa, anakmu adalah anakku, kita membuatnya bersama. Setelah kejadian ini, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan anak itu menderita."
"Aku hanya bisa berharap kamu memenuhi sumpah ini." Hantu itu juga tersenyum, lalu keduanya jatuh pada ketenangan yang aneh, meskipun tidak ada yang bersuara, keduanya terasa seperti masih berbicara ini dan itu, kedamaian yang tenang ini membuat keduanya berharap waktu bisa berhenti selamanya.
"Aku pergi." Ucap hantu wanita.
Andi tidak mengatakan apapun, dia menggenggam tangan istrinya dengan erat, namun sekuat apapun genggaman itu, dia tahu bahwa dia tidak bisa menahan kekasihnya untuk tinggal.
"Jangan terburu-buru bereinkarnasi, tunggu aku untuk bereinkarnasi bersama. Kehidupan selanjutnya... Ayo menjadi sepasang suami istri lagi." Andi tersenyum menahan air matanya.
Hantu wanita itu tertawa, sebelum dia benar-benar menghilang, dia memberikan ciuman perpisahan di bibir suaminya, ciuman itu tanpa keinginan dan nafsu, hanya cinta yang penuh nostalgia.
Tiga hari kemudian, hasil tes itu keluar, anak itu memang bukan miliknya, detektif yang ia sewa juga sudah mengumpulkan cukup banyak bukti dan memberikan semuanya pada Andi.
Mata Andi menjadi tajam, dia bisa saja terlihat toleran pada orang asing seperti Ezra, dia juga bisa menjadi pria hangat dan sinar matahari pada kekasih dan keluarganya, namun dia juga bisa menjadi ular berbisa pada musuh-musuh yang penuh kebencian itu.
Berani menukar anaknya?
Andi membawa kasus itu ke pengadilan, butuh beberapa hari lagi karena perlu melakukan tes pada anaknya yang dibesarkan oleh pembantu itu sebagai cucunya.
Saat hasil tes itu keluar dan semakin membuktikan bahwa anaknya telah ditukar dengan cucu pembantu itu, Andi tidak menunjukkan belas kasihan meskipun pembantu itu telah bekerja puluhan tahun pada keluarganya.
Andi membawa anak kandungnya pulang, ada sedikit kesusahan dan penyesalan saat melihat anaknya tidak begitu terawat, hatinya benar-benar sakit dan kebencian dihatinya semakin tumbuh, namun dia menghela nafas, hukum sudah menghukum pembantu itu, cukup sampai disini saja.
"Ceritakan padaku bagaimana kamu menyadari anakmu telah ditukar?" Seorang pria berseragam polisi bersandar malas di sofa ruang tamu rumah Andi, jika Ezra ada disini dia akan mengenali bahwa polisi itu adalah kapten Yudha.
Dia tidak sendiri... Karena selain dia juga ada Rhea yang duduk di sofa lainnya.
Andi menggendong anaknya dengan hati-hati, pakaian jas mewahnya dan bayi itu begitu kontras sehingga membuat siapapun langsung tertarik.
"Aku mengetahuinya dari dermawanku, seorang pria bernama Ezra." Andi tidak menyembunyikan apapun, dia mengabaikan dua tamu tak diundang itu, perhatiannya selalu fokus pada anaknya. Kejadian ini benar-benar meninggalkan trauma mendalam padanya, dia takut anak dipelukannya akan bertemu orang jahat lagi dan menderita lagi.
"Ezra?" Baik Yudha ataupun Rhea memiliki ekspresi tak terlukiskan di wajah mereka.
"Apakah itu dia?" Rhea menunjukkan foto Ezra di ponselnya yang diam-diam dia ambil, pemuda dalam foto itu terlihat menghadap langit, sinar matahari menyelimuti dirinya membuat ia bercahaya dan penuh pesona.
"Ya! Itu dia, apakah kamu mengenalnya? Bolehkah aku meminta informasi kontaknya? Aku akan membalas kebaikan ini padanya." Andi akhirnya memiliki hal lain yang bisa dia perhatikan selain anaknya, dia merasa ada takdir antara dia dan Ezra. Karena pria itu sudah membantunya menemukan kenyataan absurd ini, dia akan membalas kebaikan pria itu entah bagaimana caranya.
Yudha disisi lain menatap Rhea dengan serius, "Sebagai atasanmu, aku harus mengingatkan padamu bahwa mengambil foto orang lain tanpa izin adalah sebuah kejahatan."
"Apakah kamu berani?" Ekspresi Rhea sedikit terdistorsi, kedua pria di ruangan itu seketika terdiam, bahkan bayi di pelukan Andi merasakan aura berbahaya dan tidak bisa menahan tangis.
Andi segera menghibur anaknya. Sementara Yudha berkeringat dingin, dia tidak berani.