Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Lho, Daf, mau ke mana pagi-pagi udah rapi? Ini hari Minggu, masih mau kerja?" tanya Sri ngeliat Dafsa keluar dari kamar pake setelan formal, yakni kemeja polos abu-abu dipadukan celana bahan hitam.
"Ada urusan sama klien, Bu, ketemunya di perusahaan, jadi aku harus rapi," jawab Dafsa berdiri tegak di depan rumah. Ada kaca besar yang mantulin bayangannya.
Dua hari lalu, Dafsa dapet klien yang punya kerjaan sebagai HRD di salah satu perusahaan ternama. Belum ada obrolan khusus, karena si klien ini pengen ngundang Dafsa ke tempat kerjanya. Katanya, di sana lebih privasi, alias nggak bakalan ada orang yang denger obrolan mereka. Dafsa sih setuju-setuju aja, toh dia dikasih ongkos bensin sama uang makan, plus DP padahal mereka belum ada deal-dealan.
"Aku berangkat dulu ya, Bu," pamit Dafsa, tapi malah ditahan Sri.
"Tunggu dulu, Daf." Sri masuk lagi ke rumah. Lima menit kemudian, dia bawa rantang tiga susun terus ngasih rantang itu ke Dafsa.
"Kenapa ngasih ini ke aku, Bu? Aku 'kan udah sarapan."
"Aduh, ini bukan buat kamu, tapi buat Arcila."
Saat itu juga, Dafsa langsung nelen ludah. Udah lama dia nggak denger nama perempuan itu, mungkin sekitar dua minggu. Hati Dafsa rasanya jadi nggak keruan. Terakhir ketemu Arcila ... ya dikawasan Blok M, waktu perempuan itu asyik ngobrol sama si duda anak lima yang punya nama keren.
"Isinya sayur bening, nasi kuning, sama ayam kecap. Kamu kasih buat Arcila, soalnya tadi malem Ibu denger suaranya agak sengau. Kayaknya dia demam," papar Sri, sama sekali nggak ngarang.
Tiap malem, mereka emang sering telfonan. Kadang Sri yang telfon duluan, sekedar nanyain Arcila udah pulang ke rumah atau belum. Hubungan mereka makin erat. Dafsa tahu semuanya, termasuk soal Arcila yang nggak pernah dateng lagi ke rumah. Katanya sibuk sama urusan di hotel.
Tapi kayaknya ... Arcila udah bosen sama Dafsa, deh. Bisa jadi dia berubah haluan pengen nikah sama di duda anak lima itu, kan? Nggak ada yang tau gimana isi kepala Arcila, dan Dafsa juga nggak mungkin nebak-nebak sendiri.
"Kayaknya ini berlebihan, Bu," ucap Dafsa pelan, ragu-ragu ngomong begitu. Takutnya Sri ngamuk.
Dan ... bener aja. Lengannya langsung ditampar, agak keras sampai rasanya lumayan perih. Dafsa meringis, dia mau protes tapi takut duluan. Soalnya Sri udah melotot.
"Jangan ngomong begitu, Daf, kita harus baik sama Arcila. Bukan karena dia kaya, tapi dia yang akan jadi istri kamu, calon mantunya Ibu. Udah, kamu kasih ini ke Arcila sebelum ketemu klien, nanti Ibu telfon langsung."
"Calon istri apanya? Orang hubungan kami nggak jelas arahnya mau dibawa ke mana." Dafsa malah ngedumel dalam hati.
"Kamu itu jangan terlalu cuek, Daf, sekali-kali ajaklah Arcila main ke luar. Ke mana kek, Jakarta ini 'kan luas."
Dafsa cuma diem, heran sama Sri yang jadi sering ngomel sama dia, padahal kemarin-kemarin nggak begini. Kalau kata anak muda jaman sekarang, Sri ini contoh ibu yang soft spoken. Ngomongnya halus. Jangankan teriak, melotot aja hampir nggak pernah. Tapi buat hari ini, kayaknya hasus jadi pengecualian.
"Aku berangkat ya, Bu," pamit Dafsa nggak mau ngiket janji. Dia naik ke motor setelah cium tangan Sri, sekaligus mastiin rantang tiga susun nggak bakalan goyah selama perjalanan.
"Gimana caranya nganterin rantang ini?" tanya Dafsa mikir keras, sambil tetep hati-hati sama jalanan sekitar.
Kalau dia langsung dateng ke rumah Arcila, terus perempuan itu jadi gila lagi dan kegeeran gimana? Dafsa nggak mau bikin hidupnya yang udah tenang ini jadi kacau berantakan. Tapi kalau nggak dianterin, nanti Sri ngomel-ngomel lagi.
"Apa aku gojekin aja, ya? Kirim dari perusahaan ke rumah Arcila?"
Kayaknya ... itu satu-satunya cara paling aman. Dia nggak perlu ketemu Arcila, tapi makanan dari Sri tetep sampai di rumah perempuan itu. Dafsa langsung senyum, bersyukur banget otaknya masih bisa diandelin.
Dafsa ngambil keputusan yang dirasa baik buat ketenangan batinnya. Sampai di perusahaan klien, dia nggak bisa langsung masuk. Dafsa harus nunggu konfirmasi dulu dari kliennya yang ternyata masih dalam perjalanan, katanya kejebak macet. Dia gunain waktu itu buat pesen gojek, dan rantang pun udah beralih tangan. Dafsa ngasih tip yang lumayan gede buat sopir ojolnya, sambil wanti-wanti sesuatu.
"Nanti kalau yang terima rantang ini perempuan, tolong jangan senyum, Mas. Langsung pulang aja."
"Lho, kenapa, Mas?"
"Dia lebih galak dari singa yang lagi laper. Hati-hati ya, Mas."
Perkataan Dafsa itu bikin si sopir ojol jadi agak takut, tapi dia nggak bisa cancel orderan. Terpaksa dia terima, terus buru-buru pergi sambil berdoa dalam hati, sambil berdoa semoga yang nerima rantang ini bukan singa betina yang lagi mode lapar.
Sementara Dafsa udah dibolehin masuk ke dalam, tapi cuma boleh nunggu di lobby.
Dafsa masuk lebih jauh, parkir motor di ruangan terbuka. Dia natap ke langit yang cerah tanpa awan. Menurut prediksinya, hari ini nggak bakalan turun hujan. Bukannya apa, Dafsa nggak mau biarin motor semata wayangnya basah kuyup. Nanti kalau ngadat gimana? Dafsa nggak mau repot, jadi dia harus antisipasi dari sekarang.
"Pagi, Mas, silakan duduk, Pak Robby datang sebentar lagi," sambut resepsionis, padahal Dafsa belum ngomong apa-apa.
Dia balik kanan, duduk di sofa merah marun yang empuk, lebih empuk dari kasurnya. Dafsa jadi mikir, kayaknya dia harus beli beberapa perabotan baru yang bermanfaat, supaya kualitas hidupnya sedikit meningkat.
Di masa menunggu itu, ekor mata Dafsa ngeliat seorang perempuan baru aja masuk ke lobby. Suara sepatunya, cara dia jalan, plus postur tubuhnya kerasa banget familiar. Dafsa langsung noleh, terus diem karena dia ngeliat Arcila jalan lurus di depan matanya sendiri.
Belum ada satu menit natap perempuan itu, pandangan Arcila beralih. Tatapan mereka akhirnya ketemu, setelah dua minggu lebih nggak saling sapa. Di antara mereka ada jeda. Arcila adalah orang pertama yang buang muka, terus dia lanjut jalan lagi. Seolah dia nggak ngeliat ada seonggok Dafsa yang lagi bengong di sofa lobby.
Dafsa? Ada perasaan nggak terima dicuekin gitu aja. Dia juga mikir kalau sebenernya, Arcila ngikutin dia sampai ke perusahaan punya orang. Dafsa nggak buang waktu, dia jegal jalan Arcila yang udah mau masuk ke lift.
"Ibu nggak capek ngikutin saya?" tuduh Dafsa pake raut datar, sengaja biar Arcila nggak nyaman.
"Ngikutin?" Arcila balik nanya. Sebelah alisnya naik, disusul tawa kecil nggak habis pikir.
"Biar saya ngomong sekali aja, stop bikin semuanya jadi rumit. Lebih baik kita menjauh kayak kemarin-kemarin. Jangan—"
"Sorry, Mas Dafsa? Apa Mas Dafsa ngerasa sepenting itu?" sindir Arcila tajam. "Saya orang sibuk, ngapain harus ngikutin Mas Dafsa ke sini?" tambahnya mulai kesal.
Arcila masih sakit hati banget sama perlakuan Dafsa. Dia dibentak, dipelototin, sekaligus ditolak mentah-mentah. Padahal, Rama sama Hani aja nggak pernah memperlakukan Arcila kayak gitu. Jadi, wajar 'kan, kalau sekarang Arcila sedikit dendam sama Dafsa?
Di posisi Dafsa, dia masih yakin banget Arcila lagi ngusahain beberapa cara supaya mereka balik lagi, dalam konteks bisnis yang sejak awal dimulai di Kios Makcomblang Dafsa. Tapi belum juga ngomong lebih tajam, Arcila nunjukin layar ponselnya.
Mas Andra.
Nama itu yang Dafsa tahu adalah si duda anak lima, dibarengi notifikasi WhatsApp yang isinya Andra udah nungguin Arcila di lantai atas, adalah bukti kalau Arcila dateng ke perusahaan itu karena ada tujuan lain, bukan karena mau nguntit Dafsa.
Beneran deh, Dafsa langsung malu. Mukanya udah merah. Dia salah tingkah, bingung harus ngomong apa.
"Saya mau ketemu sama pemilik perusahaan, bukan ketemu sama pemilik kios."
Kalimat itu telak, mengartikan Dafsa ini nggak ada apa-apanya, dan nggak seharusnya dia ngerasa sok penting di depan Arcila.
Aduh, rasa malunya bener-bener datang berkali-kali lipat.
"Dengar ya, Mas Dafsa, saya nggak akan pernah sudi ngobrol begini lagi, sebelum Mas Dafsa minta maaf sama saya!" kata Arcila, berupa peringatan keras. Dia nggak perlu menghentak sepatunya, cukup jalan lurus lewat celah lain, terus ninggalin Dafsa yang sekali lagi, nggak tahu harus ngomong apa.
Untuk pertama kalinya, Dafsa kalah, dan Arcila menang. Omongan Arcila udah bikin Dafsa sadar kalau dirinya nggak sepenting itu. Ada banyak cowok yang kualitasnya lebih bagus, tapi Dafsa selalu ngerasa lebih unggul dari yang lain, cuma karena Arcila selalu ngejar duluan.
Perasaan ini ... namanya apa, ya?
Malu? Iya. Tapi Dafsa yakin, kadarnya lebih besar dari itu. Dia nggak cuma malu, tapi juga ... ngerasa bersalah.