Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab spesial 3 : Surat untuk masa depan
Hujan badai mengguyur pesisir malam itu, menciptakan simfoni yang gaduh di atas atap seng rumah kami. Bunyinya seperti ribuan kerikil yang dilemparkan serentak, menenggelamkan suara deburan ombak yang biasanya mendominasi. Petir sesekali menyambar di kejauhan, membelah langit hitam dan menerangi ruang tengah kami selama sepersekian detik dengan cahaya putih kebiruan yang tajam, sebelum semuanya kembali tertelan kegelapan yang hangat.
Di tengah remang cahaya lampu minyak, Biru sedang duduk bersila di lantai. Di depannya terbuka sebuah peti tua berbahan besi dengan gembok yang sudah berkarat—satu-satunya benda yang ia bawa dengan susah payah dari apartemen mewahnya di Jakarta dulu.
Aku melangkah mendekat, membawakan dua cangkir teh jahe yang uapnya mengepul, lalu duduk bersimpuh di sampingnya. Aroma jahe yang pedas beradu dengan bau logam tua dari peti itu. Di dalamnya, tersimpan puing-puing dari kehidupan kami yang terdahulu; benda-benda yang dulu mendefinisikan siapa kami di mata dunia. Ada kartu identitas editor senior milikku yang talinya sudah usam, kartu nama Biru dengan cetakan emas sebagai direktur kreatif, jam tangan mewah pemberian ayahnya yang jarinya berhenti di angka dua, dan tumpukan dokumen aset yang kini tak lebih dari sekadar kertas sampah yang terbakar sejarah.
"Kita tidak akan pernah kembali ke sana, kan?" tanya Biru pelan. Jarinya yang kasar mengusap permukaan kaca jam tangan yang retak seribu itu—sebuah simbol dari waktu yang telah pecah.
"Tidak sebagai orang yang sama, Biru," jawabku sambil menggenggam jemarinya. "Kita meninggalkan ego itu di dermaga lama. Orang-orang yang ada di dalam kartu nama itu sudah mati, digantikan oleh kita yang sekarang."
Biru mengangguk kecil, lalu mengeluarkan sebuah botol kaca bekas yang sudah ia bersihkan hingga bening. "Aku ingin kita menulis sesuatu. Bukan untuk diterbitkan, bukan untuk pameran, dan bukan untuk memuaskan kritikus. Tapi untuk siapa pun yang nanti akan mewarisi tanah ini. Mungkin anak kita suatu saat nanti, atau mungkin orang asing yang akan menemukan rumah ini seratus tahun lagi saat kita sudah menjadi debu."
Kami mulai menulis. Kami menggunakan lembaran kertas sisa dari draf naskah 'Underground Dawn'—proyek yang dulu hampir menghancurkan kami, namun kini hanya menjadi alas untuk harapan baru. Biru menulis bagian pertamanya dengan tarikan garis yang tegas:
"Kepada siapa pun yang memegang kertas ini. Ketahuilah bahwa rumah ini tidak dibangun dari semen dan kayu semata. Ia dibangun dari keberanian untuk berkata 'tidak' pada dunia yang menuntutmu menjadi orang lain. Kami pernah memiliki nama yang besar di kota yang berisik, namun kami memilih untuk menjadi kecil di sini, agar kami bisa melihat dunia dengan lebih jelas."
Lalu, ia memberikan pena itu kepadaku. Tanganku sedikit bergetar saat menyambung narasinya:
"Jangan pernah takut pada malam yang panjang. Kami telah melehwatikannya. Kami telah berlari di bawah hujan peluru kata-kata dan fitnah yang kejam. Namun lihatlah, kami tetap berdiri di sini, bernapas dengan merdeka. Jika suatu saat kamu merasa tersesat oleh ambisi, kembalilah ke laut. Laut tidak pernah berbohong tentang luasnya, dan cinta tidak pernah berbohong tentang arah pulangnya."
Kami memasukkan kertas itu ke dalam botol, menyumbatnya dengan gabus, dan melapisinya dengan tetesan lilin panas agar kedap air. Di tengah guyuran hujan yang mulai mereda menjadi gerimis tipis, kami melangkah ke halaman depan yang becek.
Di bawah pohon beringin kecil yang kami tanam pada hari pertama kami pindah, Biru menggali lubang yang cukup dalam. Kami meletakkan botol itu di sana, menguburnya bersama kenangan-kenangan pahit yang kini telah kami relakan menjadi pupuk bagi kebahagiaan kami saat ini. Tanah basah itu menutup segalanya—rahasia, luka, dan harapan.
"Selesai," bisik Biru, membersihkan sisa tanah di tangannya ke celana pendeknya.
Kami kembali ke dalam rumah dengan pakaian yang sedikit lembap. Biru menyalakan perapian kecil untuk mengusir dingin, lalu mulai menyiapkan makan malam sederhana—nasi goreng dengan potongan cabai rawit yang banyak, persis seperti cara kami merayakan hal-hal kecil selama ini.
Sambil makan, tidak ada lagi pembicaraan tentang strategi pemasaran atau persaingan korporat. Kami membicarakan tentang atap dapur yang perlu diperbaiki bulan depan, tentang anak-anak nelayan yang mulai pintar menangkap komposisi lewat kamera tua pemberian Biru, dan tentang bab pertama dari buku baruku yang akan mulai kutulis besok pagi saat matahari terbit.
Kehidupan kami mungkin terlihat biasa, bahkan mungkin menyedihkan bagi mereka yang memuja kemewahan di Jakarta. Tidak ada lagi gala dinner, tidak ada lagi sorot lampu kamera yang menyilaukan. Namun di meja makan kayu ini, di bawah cahaya lampu kuning yang hangat dan jujur, aku melihat seorang pria yang akhirnya utuh dan seorang wanita yang benar-benar merdeka.
Kami tidak lagi mengejar dunia. Dunia kamilah yang akhirnya menemukan kami di sini.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...