Perjalanan mendaki gunung sebuah rombongan, mengantarkan mereka untuk mengalami hal mistis. Niat ingin bersenang-senang, harus merasakan perasaan mencekam sepanjang perjalanan.
Namun, di akhir kisah mendaki. Salah satu dari rombongan, ternyata merupakan takdirnya salah satu anggota Zandra.
Penasaran?? yuk kita simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden
"CAHAYA" teriak Kenan dan Zayd
Zayd segera membantu Cahaya, ada beberapa luka lecet di tubuh Cahaya. Begitu juga dengan kedua perempuan, yang Cahaya selamatkan. Bahkan wanita yang bertabrakan dengan Anggun, mengalami benturan pada kepalanya. Sedangkan wanita yang memanggil mommy, ia hanya mengalami luka ringan.
"MOMMY... WAKE UP" teriak perempuan itu, ia panik melihat ada darah di kepala belakang sang mommy. Entah kenapa, ada rasa perih di hati Anggun. Melihat perempuan itu, memeluk wanita yang bertabrakan dengannya.
'Ada apa denganku? Kenapa rasanya sangat sakit?' Anggun memegang dadanya
Korban bukan hanya ketiga orang itu, ada tukang parkir dan beberapa orang lewat. Pegawai toko segera menghubungi ambulance, tak lupa dengan polisi. Untuk memeriksa, ledakan ini hanya kesalahan pada mobil atau unsur kesengajaan.
Hati Anggun terasa sakit lagi, saat Kenan ikut mengkhawatirkan Cahaya.
Siapa?
Kenan yang sadar, dengan siapa tadi dia datang. Segera ia kembali menghampiri Anggun, yang berdiri tak jauh darinya.
"Sayang, maaf. Apa tidak apa-apa, kalo kita sekarang ke rumah sakit dulu? Kuenya, biar abang pesan dan langsung antar ke rumah. Hmm?" tanya Kenan, Anggun menggelengkan kepalanya
Tiba-tiba kedua matanya terasa panas, ia menatap Kenan.
"Abang aja yang ke rumah sakit, Anggun ga papa ko sendiri. Banyak kendaraan umum di sini, Ang..
"Sayang, Cahaya keponakan abang. Anak dari kakak sepupu abang, abang ga ada hubungan apapun selain paman dan keponakan." jelas Kenan, yang seolah tau dengan kegelisahan kekasihnya itu
TES
Anggun langsung mengusap pipinya, sedikit lega. Tapi masih ada rasa sakit yang lain, apa?
"Hmm? Kita ke rumah sakit dulu ya? Ga papa kan?" Anggun mengangguk pelan, Kenan tersenyum. Ia mengusap pipi Anggun, yang terlihat masih basah dengan ibu jarinya. Ia pun menggenggam tangan Anggun, menariknya pelan untuk mendekati Zayd.
"Zay, lu bawa mobil?" tanya Kenan
"Bawa bang, itu.." Kenan menengadahkan tangannya, Zayd yang paham langsung memberikan kunci mobilnya. Kenan segera berjalan, ke arah mobil Zayd. Dengan tangannya, yang tak melepas genggamannya pada Anggun. Kenan bisa melihat ada kegelisahan, di mata kekasihnya. Kenan juga meminta pegawai mama Ajeng, untuk membawa mobil lain. Agar bisa segera membawa dua wanita, yang baru saja di tolong Kenan.
Bila tebakan Kenan benar, wanita yang bertabrakan dengan kekasihnya itu. Memiliki hubungan dengan Anggun, kenapa? Karena wajah mereka yang mirip, apa mungkin?
Sedangkan korban lain, menunggu ambulance datang.
.
.
"Sayang, kamu ga papa kan?" tanya Zayd, saat Cahaya siuman
"Bang" panggil Cahaya pelan, Zayd membantu Cahaya yang ingin duduk.
"Dua wanita tadi kemana? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Cahaya
"Mereka aman, meski salah satunya sempat kritis. Karena luka benturan di belakang kepalanya, tapi semua sudah baik-baik saja. Keluarganya juga sudah datang, apa yang kamu lihat?" bukan Zayd yang menjelaskan, tetapi Kenan
Cahaya terdiam, lalu ia mulai bercerita.
"Ada 3 pria, yang dengan sengaja ingin menghabisi nyawa wanita yang membeli kue. Ketiga orang itu, memasang bom di bagian bawah mobil. Mereka bilang... bila wanita itu harus mati, karena mereka membutuhkan jasadnya untuk melakukan formasi pemecah jiwa. Entahlah, bila tebakan Cahaya benar. Itu adalah salah satu ilmu hitam, yang memutuskan rantai keturunan. Entah mereka paham atau tidak, dengan ilmu sesat itu." Cahaya akhirnya menatap perempuan, yang ada di belakang Kenan.
"Kamu...
"Dia calon onty mu, Ca." potong Kenan, Cahaya terkejut dan tersenyum
"Ahh... onty, wajah onty mirip dengan wanita tadi. Apa kalian ada hubungan darah?" tanya Cahaya
DEG
Anggun menatap Kenan, Kenan mengangguk.
"M-mungkin hanya mirip, bukankah di dunia ini memang banyak yang mirip kan?" ucap Anggun, mengelak ucapan Cahaya
"Tapi..." Kenan menatap Cahaya, ia menggelengkan kepalanya. Cahaya pun diam, dia memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Wanita itu dalam bahaya om, dia tengah di incar. Untuk saat ini selamat, entah ke depannya." ucap Cahaya
"Apa kita harus ikut campur dengan masalah mereka?" tanya Kenan, seraya melirik pada Anggun yang menundukkan kepalanya. Seolah tak peduli, dengan apa yang sedang mereka bahas.
"Harus, kita harus menolongnya. Cahaya di beri penglihatan tentang wanita itu, itu berarti Cahaya harus membantunya." Kenan dan Zayd mengangguk. Kenan melihat jam, yang terpasang di dinding ruangan.
"Om harus kembali, ada acara tahlilan di rumah onty mu." ucap Kenan
"Ahh iya, bukankah yang lain juga mau ke sana? Cahaya nanti ke sana, sebaiknya ibu harus datang. IBU PASTI DATANG KAN OM?" Kenan yang paham, dengan maksud Cahaya pun mengangguk
Cia bisa melihat masa lalu seseorang, mungkin memang benar ada hubungan antara Anggun dan wanita itu. Kalau ternyata iya, mungkinkah wanita itu ibunya Anggun? Kalau iya ibunya, lalu orang tua yang membesarkan Anggun selama ini siapa? Sepertinya latar belakang Anggun, tak sesederhana itu.
"Ya udah, om pamit ya. Kamu kalo udah lebih baik, susul aja ke rumah onty Anggun. Alamatnya nanti om kirim via chat, mobil lo gue pake ya." Cahaya dan Zayd mengangguk
"Pake aja om" jawab Zayd
"Setelah infusan habis, Cahaya nyusul ke sana." Kenan tersenyum, mereka pun berpamitan dan keluar dari ruangan tersebut.
"Gimana menurut abang?" tanya Cahaya, setelah Kenan dan Anggun pergi
"Tebakan abang, wanita yang kamu selamatkan dan calon onty mu. Mereka adalah ibu dan anak.." Cahaya mengangguk
"Ketiga pria itu, adalah kakak kandung dari wanita itu bang." Zayd membulatkan kedua bola matanya
"Kamu serius ay?" Cahaya mengangguk
"Ya, karena sempat terjadi perdebatan di antara ketiganya. Salah satu di antara ketiga pria itu, mengatakan bila mereka harus menghentikan rencana untuk menghabisi nyawa adik bungsu mereka. Lagi-lagi karena masalah harta warisan, mereka melakukan ini karena tidak terima dengan keputusan sang ibu. Ada kemungkinan, ini bukanlah percobaan pembunuhan yang pertama kali. Dan bila tebakan Cahaya benar, mereka pernah melakukan nya sekali. Namun gagal, tetapi membuat wanita itu kehilangan ingatannya." jawab Cahaya, Zayd menatap tunangannya
"Itu bisa jadi, kita lihat nanti saat ibu Cia sudah turun tangan." Cahaya mengangguk setuju
.
.
'Kenapa gue terus ngerasa gelisah jelas sejak tadi?' Anggun menghela nafas
"Kamu kenapa yang? Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kenan, seraya fokus melihat ke depan
"Hmm? Ga ada kok" jawab Anggun, ia memaksakan senyumannya
"Apa kamu merasa, apa yang di katakan keponakan abang adalah suatu kebenaran?" Anggun terdiam, ia memegang sesuatu di balik bajunya.
"Entahlah bang, semua terlalu tiba-tiba. Tapi... aku memang merasakan perasaan aneh, saat tadi melihat wanita itu. Dia... bukan siapa-siapa Anggun kan bang?" Kenan terdiam, ia sendiri bingung hendak menjawab apa. Tidak mungkin, ia mengatakan kecurigaannya bukan.
"Kita akan tau jawabannya sebentar lagi" Anggun menoleh, ia mengerutkan dahinya
"Maksud abang?" Kenan tersenyum, ia mengusap pelan kepala Anggun. Lalu kembali fokus melihat ke depan, dengan pikiran yang penuh dengan tebakan dan pertanyaan.
...****************...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
cover baru ya thor