♥️♥️♥️
Perjodohan diusia muda? Yakin berjalan lancar? Usia yang masih labil, tanggung jawab besar, bisakah? Mampukah?.
Akan jadi apa pernikahan tanpa adanya ilmu pengetahuan yang cukup? Mental yang bahkan masih perlu bimbingan orang tua, apa keputusan orang tua mereka sudah benar untuk masa depan anak-anak nanti? Entahlah, semoga aja semuanya baik-baik saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SP_Daffotta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XX
...Selamat membaca...
.......
.......
.......
Cahaya matahari sore begitu panas dan menyilaukan mata, Zarine sedang asik di dapur membuat brownis, tadi Rafka tiba-tiba bilang ingin makan brownis, Zarine yang sudah lama tak membuat kue, memutuskan untuk membuat saja dari pada membeli.
“Kamu bisa bikin kue kayak gini dari usia berapa Za?” Rafka yang ikut duduk di meja makan dekat dapur basa-basi bertanya, matanya sedari tadi memperhatikan Zarine yang sangat lincah mencampur bahan-bahan untuk adonan brownis.
“Aku mulai belajar bikin kue dari usia 15 tahun, karya pertamaku brownis Raf, jadi aku agak lihai kalau buat brownis,” Zarine menjawab sambil menatap sang suami, Rafka menganggukkan kepala sebagai respon, pemuda itu ikut merasa bangga dengan pencapaian Zarine.
Memangnya bisa disebut pencapaian? Iya lah! Proses apa pun itu butuh yang namanya apresiasi, itu sebuah bentuk menghargai proses.
Sedang asik duduk memperhatikan sang istri, Rafka dikejutkan dengan bunyi bel pintu yang ditekan berulang kali tak sabaran.
“Siapa sih bertamu ngga sopan banget! Awas aja kalau anak-anak!” Rafka mengerutkan alisnya terganggu.
“Udah jangan marah-marah, sana, tolong bukain pintunya,” Zarine menenangkan suaminya.
Rafka berjalan ke arah pintu, membuka pintunya dan tada~~ ada Kak Rafa dan Kak Giyo di depan pintu.
“Lama banget sih buka pintunya? Ngapain dulu?!” Kak Rafa mendelik, kemudian nyelonong masuk, tuan rumah sampai melongo dengan sikap Kak Rafa.
“Yang sabar,” Kak Giyo terkekeh, ikut nyelonong masuk sambil menepuk pundak adiknya pelan.
“Untung kakak ipar, ya Tuhan, luluhkan hatinya padaku,” Rafka bergumam pelan sambil matanya menghadap langit.
Kemudian Rafka menutup pintu kondonya, dan ikut menyusuk dua tamu tak tau sopan santun tersebut.
“Ngapain kamu bikinin dia brownis? Dia ngga kuat beli kah? Apa perlu aku beliin?” baru sampai di meja makan, Rafka sudah mendapat tatapan tajam dari Kak Rafa.
“Udah Kak Rafa, aku juga udah lama ngga aktivitas di dapur kayak gini, ini murni aku yang mau bikinin Rafka, bukan di suruh sama Rafka, dia aja tadi udah mau berangkat ke toko Ibu buat beli brownis,” Zarine menjelaskan dengan sibuk meletakkan adonan ke kukusan yang sudah disiapkan oleh Za sebelumnya.
“Kalau udah jadi, Kak Giyo mau Za, boleh kan?” Giyo tak peduli dengan pertengkaran tak berarti antara Rafa dan adiknya itu.
“Boleh dong Kak, tunggu ya, 45 menit lagi udah masak kok,” Zarine menjawab dengan senyum manisnya.
“Za? Kak Rafa denger dari Ayah, kamu katanya mau liburan ke xxx, kakak mau ikut ya?” Rafa tersenyum begitu manis pada adiknya ini.
Mata Zarine melihat Rafka sebelum menjawab permintaan kakaknya, Za tidak mau lancang tiba-tiba meng-iya-kan saja tanpa persetujuan dari suaminya.
Rafka menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Boleh, makin ramai makin bagus,” Zarine berucap sambil tersenyum lebar pada kakaknya.
“Kak Giyo ikut juga boleh Za? Akhir tahun males banget kalau ngerayain di perusahaan, monoton acaranya,” Giyo menatap adik iparnya sambil nyengir lucu.
“Semua boleh ikut, kalau para orang tua mau ikut juga boleh,” Rafka berbicara mewakili sang istri.
“Za? Kami berdua mau makan malam di sini, sekalian nginep, boleh juga, ‘kan?” Kak Rafa berbicara sambil membuka kulkas ambil air minum, dia haus.
“Boleh,” bukan Za yang menjawab, tapi suara Rafka yang terdengar.
Mereka ber 3 asik berbincang sekedar basa-basi dan bercanda sambil menunggu brownisnya matang, lalu setelan menunggu bermenit-menit, brownis sudah matang, Zarine menyajikan brownisnya, gadis itu mengambil bagian agak banyak untuk diberikan kepada Rafka sang suami, Kak Rafa awalnya protes, karena lelah mendengar temannya berbicara, Kak Giyo menyumpalkan brownis pada mulut Kak Rafa, bukannya diam, pertengkaran malah terjadi antara mereka.
.......
.......
.......
Bersambung ...
Lope you pull guys♥️
...Terima kasih🌹...
Ayo baca ulang karyaku, ada perubahan yang agak besar loh, in syaa Allah alurnya aku ubah biar tambah cantik😚
Love you all😚