Pertemanan dua keluarga tidak menjadikan Allegri dan Allegra akrab. Sejak kecil keduanya selalu berdebat dan membuat Allegra sebagai gadis mungil yang memiliki tubuh berisi menangis karena bullying yang di lakukan Allegri.
Allegra selalu memeluk Monica, mengadu pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kedua baginya setelah Giana.
Beberapa tahun berlalu keduanya telah dewasa. Kini Allegri menjadi pimpinan rumah yang di dirikan orang tuanya. Laki-laki tampan itu menjadi pemimpin yang terkenal dingin dan berdedikasi tinggi terhadap aturan yang telah ia tetapkan.
Allegra tidak bisa menolak ketika kedua orangtuanya Valentino dan Giana , meminta ia melanjutkan bekerja untuk mengabdikan diri dirumah sakit yang kini di pimpin Allegri.
Bagaimana saat keduanya menjadi rekan kerja? Apakah keduanya masih saling membenci?
Ikuti sekuel TERJEBAK CINTA MAFIA ini ya. Anak Monica-Luigi & Valentino-Giana. Semoga kalian suka.
Jangan lupa interaksi kalian di setiap bab, agar novel ini bisa berk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENIKMATI SUASANA MALAM KOTA MESSINA
Allegri memberikan jaket kulitnya yang ada di bagian belakang kursi mobilnya pada Allegra. "Kamu seperti lupa semalam menggigil kedinginan. Pakai jaket itu", ujar Allegri ketika keduanya telah di dalam mobil.
Tidak ada bantahan dari Alle, karena laki-laki itu benar sekali, cuaca malam sangat dingin hingga menusuk tulang. Alle langsung memakainya. Tampak kebesaran, tapi membuat tubuhnya seketika menjadi hangat. Aroma maskulin cedarwood begitu kental di jaket kulit Allegri yang merupakan parfum laki-laki itu.
Allegri melajukan mobil berjenis SUV Maresati Levante miliknya dengan kecepatan sedang. Hari sudah semakin malam. Beberapa bagian jalan masih ada yang rawan kejahatan, meskipun beberapa tahun belakangan tingkat kejahatan sudah jauh menurun di kota Castemola.
Suasana di dalam mobil pun hening. Allegra merapatkan jaket dan memilih memejamkan matanya.
"Apa saja yang kau kerjakan di New York selain kuliah, Alle?". Allegri memulai percakapan.
"Kenapa kamu tidak pernah pulang, apa di sana sangat nyaman buatmu, hem?". Sekilas Allegri menolehkan wajahnya menatap Allegra yang masih memejamkan matanya. Allegri tahu gadis itu tidak tidur.
"Tidak ada. Waktu ku hanya belajar, agar cepat tamat kuliah kedokteran", jawab Alle singkat.
"Membosankan sekali. Kenapa harus kuliah jauh-jauh meninggalkan Italia jika membosankan begitu kehidupan mu di sana. Sebenarnya apa yang kau cari di negara itu? Kamu pulang juga tidak membawa kekasih mu. Gabby pernah menyebut namanya tapi aku lupa. J-anik, J-emi...atau siapa namanya, aku lupa", ujar Allegri menolehkan wajahnya menatap Allegra yang kini sudah duduk dengan mata terbuka.
"Aku tidak mau menjawabnya, karena persoalan pribadi tidak ada di kontrak kerja Monica Hospital", jawab Allegra diplomatis.
Terdengar tawa Allegri dengan jawaban Alle. "Kamu belum menjawab pertanyaan kedua ku, kenapa kau tidak pernah pulang ke Messina, apa New York sangat nyaman bagi mu, hem?".
Terdengar helaan nafas panjang Allegra yang mengalihkan perhatian keluar mobil. "Aku sangat betah tinggal di sana. Orang-orangnya juga menerima ku dengan baik. Aku bisa beradaptasi dengan cepat di negara kedua ku itu", jawab Allegra tanpa melihat kearah Allegri.
Tentu saja Allegra tidak berkata yang sebenarnya. Sebenarnya kenapa ia memilih kuliah di tempat yang jauh karena ingin menghindari Allegri. Laki-laki itu membuatnya dendam, karena acap kali berselisih paham dengannya sehingga Alle ingin pergi yang jauh agar mereka tidak bertemu lagi. Ia juga harus memendam kerinduan pada keluarganya untuk tidak sering pulang menghindari pertemuan laki-laki itu.
Ya sampai seperti itulah kebencian Alle pada Allegri.
Allegri menghentikan mobilnya.
Alle menegakkan duduknya, melihat sekitar. Mereka sudah di kota Messina. Tapi Allegri malah berhenti di taman kota yang ramai di kunjungi orang-orang kala malam seperti ini. Apalagi banyak yang menjual street food. "Kenapa berhenti?"
"Aku lapar, kamu juga seharian belum makan Alle. Tidak baik seperti itu kau bisa terkena asam lambung. Kita dokter harus menjaga kesehatan kita terlebih dahulu, baru bisa mengobati orang lain", ujar Allegri terdengar begitu perhatian.
Jujur ucapan Allegri membuat perasaan Allegra menghangat.
"Kamu mau makan apa? Kita makan di mobil saja", ujar Allegri membuka kaca mobil sebelah Alle dan memanggil penjual makanan.
"Aku mau spaghetti bayam, kesukaan ku".
"Semalam kau sudah makan itu, apa kau tidak bosan makan spaghetti bayam lagi?".
"Huhhh... semalam kamu yang menghabisi makanan ku. Apa kau lupa?", seru Allegra mengingatkan.
Allegri tertawa mendengar komplain Alle. Ternyata Allegra masih mengingat kejadian semalam. "Kau ini tidak berubah, pendendam sekali".
Allegri memesan spaghetti bayam untuk Alle dan focaccia sayur untuknya.
"Apa akan terlihat norak kalau aku membuka kaca mobil mu? Aku ingin melihat pemandangan taman, sudah lama sekali tidak ke sini", ujar Alle menolehkan wajahnya pada Allegri.
"Lakukan saja tapi kacanya harus di naikkan kalau hujan. Sepertinya akan turun hujan karena tidak ada satupun bintang di langit", ujar Allegri menatap langit yang gelap gulita.
"Iya.. Sampai pesanan kita datang saja", jawab Allegra tersenyum bahagia menempelkan dagunya diatas lengan yang saling tumpang tindih di jendela mobil. Tersenyum melihat kebahagiaan anak-anak kecil yang berlari-lari di taman itu. Dari dulu, Alle memang sangat menyukai anak kecil. Sebagai anak tunggal, salah satu penyebabnya. Ia sering merasa kesepian.
Beberapa menit berlalu, makanan keduanya datang juga.
"Sepertinya roti itu enak", ujar Alle melihat focaccia sayur yang di pesan Allegri.
"Kau mau mencicipinya? Makan saja. Kita bisa pesan lagi", ujar Allegri mengangkat roti sayur kemulut Alle.
Allegra tidak menolak, gadis itu menggigit focaccia panas. "Hm...ternyata enak sekali", seru Allegra.
"Kau mau menghabisinya? Aku bisa memesan yang lainnya", ujar Allegri.
"Tidak Al. Cukup, itu makanan mu. Aku akan menghabisi spaghetti bayam kesukaan ku. Kalau kau pesan lagi, kita akan semakin lama berada di sini. Lihat saja antriannya semakin panjang", ujar Allegra melihat banyaknya orang yang membeli makanan.
"Makannya harus bersamaan saus tomat. Akan terasa lebih enak. Coba lah sekali lagi", ujar Allegri kembali menyuapkan rotinya kemulut Alle".
Allegra tidak bisa menolaknya, kembali membuka mulutnya. Benar saja, memang rasanya lebih enak.
"Bagaimana, lebih enak kan?", tanya Allegri menatap intens wajah Allegra dari jarak dekat ternyata sangat cantik, terlebih jika gadis itu tertawa lepas nampak lesung pipinya.
"Kau mau lagi?", tanya Allegri terdengar begitu lembut.
"Tidak. Cukup", jawab Alle menolak Allegri. Ia menyantap makanannya sendiri.
"Hm...Ternyata enak juga makanan di sini. Apa kau dan Alice kekasih mu sering membeli makanan disini?", tanya Allegra tanpa melihat Allegri.
"Tentu saja tidak. Alice mana mau street food seperti ini. Kekasih ku sangat pemilih", jawab Allegri.
"Lantas kau tahu dari mana makanan di sini? Sepertinya penjual itu sudah mengenal mu".
"Sesekali aku mampir dan membeli focaccia atau sandwich. Menurut ku rasanya tidak kalah dengan makanan hotel berbintang", jawab Allegri.
Alle menganggukkan kepalanya. "Ya...Bagian itu aku setuju dengan mu, selain harganya lebih murah juga pastinya", balas Alle tertawa.
"Betul sekali, itu intinya", seloroh Allegri pun tertawa setuju dengan pendapat Allegra.
Keduanya tertawa lepas. Seakan tidak pernah terjadi permusuhan diantara mereka.
"Ternyata kau benar, hujan". Allegra merapatkan kaca mobil.
"Dan ternyata air mineral di mobil ku habis, hanya satu ini saja. Hujan sangat deras kita tidak bisa membelinya", ujar Allegri. "Kau saja yang minum", ucap laki-laki itu.
"Kita berbagi saja. Sebentar lagi aku sampai juga di rumah", jawab Allegra tersenyum.
Allegri membukakan tutup botol dan memberikannya pada Allegra. "Minum lah".
Sesaat Alle menatap wajah Allegri. Gadis itu tersenyum, menerimanya dan meminum beberapa tegukan saja. Selebihnya ia berikan pada Allegri.
Allegri meminum air mineral hingga tandas. Allegra tidak bisa mengalihkan tatapannya. Untuk yang pertama kali menatap laki-laki itu dengan intens. Memperhatikan cara minumnya. Memperhatikan detail wajah Allegri dari jarak dekat.
"Ternyata benar yang di katakan karyawan perempuan di lift pagi tadi...Dia sangat tampan. Apa aku saja yang tidak memperhatikannya selama ini?", batin Allegra.
"Selesai. Kita pulang sekarang.."
Suara Allegri membuyarkan lamunan jauh Allegra. Gadis itu menggerjapkan matanya, seperti ketahuan melakukan kesalahan ia tampak kesulitan menelan saliva-nya sendiri.
"Hm...I-ya".
Allegra membetulkan duduknya, hendak melepas jaket kulit Allegri.
"Kenapa di lepas, pakai saja. Di luar masih hujan deras nanti kamu sakit Alle".
"Tapi nanti kamu turun pakai apa, nanti kehujanan", jawab Alle.
Senyum terlihat dari sudut bibir Allegri. "Tidak usah memikirkan aku, fisik laki-laki lebih kuat di banding perempuan. Bila perlu aku bisa tidur di dalam mobil, kalau memang terdesak", jawab Allegri menahan tangan Allegra agar tidak melepaskan jaketnya ketika mobil yang ia kendarai sudah sampai di depan rumah Alle.
"Kamu harus menutupi kepala mu, Alle", ujar Allegri memasang penutup kepala yang ada di jaketnya.
Tindakan tiba-tiba laki-laki itu membuat blank pikiran Alle. Namun ia tidak melakukan protes.
"Sekarang turun lah, sudah malam. Besok kita harus bekerja. Salam buat paman dan bibi", ucap Allegri seperhatian itu, membuat jantung Alle berdegup lebih kencang.
Allegra menganggukkan kepalanya. Sesaat Alle menatap Allegri. "Terimakasih sudah mengantar ku pulang", ucapnya pelan.
Allegri membalas tatapan itu. Menganggukkan kepalanya. "Sampai jumpa besok di rumah sakit".
"Iya..."
...***...
To be continue