Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapal di Bandara dan Strategi Pelepasan
Aulia berdiri di kegelapan dapur, menatap punggung Rizki yang masih duduk angkuh di ruang tamunya. Ia merenungi betapa ironisnya akhir dari pernikahan mereka. Rizki menandatangani surat cerai tanpa membaca sepatah kata pun, bukan karena ia percaya pada Aulia, melainkan karena ia menganggap segala hal yang datang dari istrinya adalah urusan remeh yang tidak layak menyita waktu berharganya.
Alih-alih menangis karena merasa terhina, Aulia justru merasa sangat tenang. Ia kini memiliki perspektif baru: ia akan menggunakan kelemahan terbesar Rizki—yaitu obsesinya pada Meli—sebagai alat untuk mengusir pria itu dari ruang pribadinya.
Aulia meraih ponselnya, menerima permintaan pertemanan Meli yang sempat ia abaikan, dan langsung mengirimkan satu pesan singkat tanpa basa-basi: "Rizki ada di tempatku sekarang."
Strategi ini bekerja dengan presisi militer. Meli yang posesif dan selalu merasa terancam langsung bereaksi. Hanya butuh waktu kurang dari tiga menit sampai ponsel Rizki di meja tamu bergetar hebat.
Rizki mengangkat telepon itu dengan kening berkerut. Setelah percakapan singkat yang terdengar mendesak, Rizki berdiri dan menyambar jasnya. "Nenek Trisha butuh sesuatu, aku harus ke sana sekarang," dalih Rizki dengan suara terburu-buru.
Aulia hanya mengangguk datar, hampir ingin tertawa. Ia tahu betul Nenek Trisha hanyalah alasan; pemicu sebenarnya adalah rengekan atau drama darurat yang diciptakan Meli di seberang telepon. Jika dulu Aulia akan merasa hancur setiap kali Rizki pergi demi wanita itu, kini ia justru merasa sangat terbantu. Ia membiarkan Meli "menjemput" beban yang tidak lagi ia inginkan.
Aulia menarik napas panjang, sebuah senyum pahit terukir di wajahnya. Ia menyadari bahwa menanti cinta dan pengakuan dari Rizki selama lima tahun terakhir ibarat menunggu kapal di bandara. Sebuah kesia-siaan yang secara logis mustahil, namun tetap ia lakukan karena kebodohan hatinya dulu. Namun malam ini, penantian itu telah berakhir.
Rizki bergegas pergi, bukan hanya karena drama Meli, tetapi juga karena ia harus menyiapkan perayaan ulang tahun ke-70 Nenek Trisha. Acara besar ini akan menjadi puncak dari segala konflik. Di acara inilah, tanpa diketahui Rizki, surat cerai resmi kemungkinan besar akan diterbitkan oleh pengadilan. Di acara itu pula, Aulia berencana menunjukkan jati dirinya yang baru di depan seluruh keluarga besar Laksmana.
Di sisi lain, Meli tetap bersandiwara sebagai wanita pekerja keras dan penuh perhatian. Ia berusaha masuk ke lingkaran inti keluarga dengan menawarkan diri mengurus detail acara Nenek Trisha. Namun, di balik suaranya yang lembut, Meli sedang terbakar kecemburuan yang hebat. Fakta bahwa Rizki mendatangi apartemen Aulia telah memicu alarm bahaya di kepalanya. Hal ini justru membulatkan tekad Meli untuk mempercepat rencana sabotase industrinya terhadap proyek Aulia di UME.
Rizki meluncur pergi dalam kegelapan malam, merasa masih memegang kendali penuh atas hidup Aulia. Ia tidak tahu bahwa dalam tujuh hari, status "Nyonya Laksmana" yang ia anggap sebagai borgol bagi Aulia akan runtuh secara hukum.
Setelah pintu apartemen tertutup rapat dan suara mobil Rizki menjauh, Aulia akhirnya bisa bernapas lega. Ia memiliki waktu tenang yang sangat berharga. Ia berjalan menuju meja kerjanya, menyalakan lampu belajar, dan membuka draf Presentasi Robotika UME.
"Tujuh hari lagi," bisik Aulia pada kesunyian ruangan. "Tujuh hari untuk mengakhiri segalanya dan memulai duniaku sendiri."
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.