Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Tempat Semuanya Bermula
Malam di Kota Pasar Naga Tidur dingin dan berangin. Xu Hao, dengan tudungnya menutupi sebagian besar wajahnya, berjalan melalui jalan jalan sempit yang jauh dari keramaian dermaga. Suara debur ombak dan teriakan para pekerja kapal yang memuat barang untuk keberangkatan terakhir sayup sayup terdengar. Tapi dia tidak menuju ke sana.
Dia berbelok ke sebuah gang sempit di antara dua gudang tua yang berbau ikan asin dan rumput laut busuk. Di ujung gang itu, ada sebuah tembok batu tinggi yang tampak biasa. Tapi Minlie, dalam salah satu percakapan santai mereka saat latihan, pernah secara tidak sengaja menyebutkan tempat ini. "Tempat paling sepi untuk merenung atau menghilang," katanya sambil tertawa. "Dinding mati di belakang gudang tua keluarga Chen. Bahkan tikus malas lewat sana."
Xu Hao berhenti di depan dinding itu. Dia menghela napas panjang, menatap sekelilingnya dengan mata yang waspada. Tidak ada orang. Hanya suara angin malam yang melolong di celah celah atap.
"Terima kasih, Minlie," bisiknya pada angin. "Kau sudah mengenalkanku pada 'rasa' energi spiritual dataran tengah, dan kau memberiku tempat seperti ini. Jika ada kesempatan, mungkin kita akan bertemu lagi bertarung."
Dia tidak akan melarikan diri dengan cara yang disarankan Gor atau siapa pun. Menggunakan kapal atau formasi teleportasi, bahkan yang tidak resmi, meninggalkan jejak. Dan dengan kecurigaan Klan Xu yang sudah mengintai, jejak adalah hal terakhir yang dia butuhkan.
"Xu Hao menggunakan caranya sendiri," gumamnya, suaranya penuh keyakinan.
Dia menatap lurus ke depan, ke permukaan dinding batu yang kasar. Lalu, dengan perlahan, dia melepaskan semua kendali pada penyamaran kultivasinya. Lapisan Qi Soul Transformation yang padat mencair seperti kabut pagi yang diterpa matahari. Di bawahnya, terungkaplah kekuatan sebenarnya yang selama ini dia sembunyikan rapat rapat.
Lautan Qi yang jauh lebih luas, lebih dalam, dan lebih berbahaya bergolak di dalam tubuhnya. Inti Dao Awakening tahap menengah bersinar terang di pusat dantiannya, memancarkan aura wibawa dan kekuatan yang berbeda sama sekali. Hukum Asal, Dao Ruang, dan Dao Pembunuhan yang terikat erat di jiwa dan tubuhnya bergema pelan, merespon kebebasan yang akhirnya diberikan.
Udara di sekelilingnya bergetar. Debu dan kerikil kecil di tanah mulai bergetar dan melayang pelan. Tekanan tak kasat mata memenuhi gang sempit itu.
Xu Hao mengangkat kaki kanannya, lalu menjejakkannya ke tanah dengan lembut.
Tidak ada suara ledakan. Tidak ada cahaya yang menyilaukan. Hanya sebuah riak halus di ruang, seperti batu kecil yang dilemparkan ke permukaan danau yang tenang, tapi efeknya jauh lebih dahsyat.
Tepat di depan kakinya, ruang itu sendiri seakan melipat.
Dan kemudian, dia menghilang.
Tidak ada sisa riak energi. Tidak ada jejak perpindahan. Hanya angin malam yang tiba tiba bertiup melalui gang kosong, membawa debu yang berputar di tempat Xu Hao berdiri sebelumnya.
Di tempat yang sangat, sangat jauh, di kedalaman sebuah istana megah yang terbuat dari batu putih bersinar, mengambang di antara puncak gunung gunung yang tertutup awan dan cahaya matahari keemasan.
Di sini, udara terasa kuno dan penuh kekuasaan. Energi spiritual begitu pekat hingga hampir bisa disentuh, membentuk kabut berkilauan di antara paviliun paviliun dan taman taman yang dirawat sempurna. Ini adalah markas besar salah satu penguasa bayangan Dataran Tengah. Ini adalah wilayah Klan Xu.
Di sebuah ruang paling dalam, dijaga oleh segel lapis demi lapis, yang bisa menghancurkan seorang Raja Abadi jika dipicu, dan dikelilingi oleh puluhan pengawal tak bersuara dengan aura Soul Transformation dan Void Fusion, terdapat sebuah artefak kuno.
Cermin Silsilah Darah.
Benda itu setinggi tiga orang dewasa, bingkainya terbuat dari kayu hitam tua yang dipenuhi ukiran naga dan phoenix yang tampak hidup dan hampir bergerak. Permukaannya bukan kaca, tapi seperti cairan perak yang selalu bergolak, bergulung gulung tanpa henti, memantulkan bayangan yang tidak jelas.
Saat Xu Hao melangkah ke dalam lipatan ruang dan menghilang dari Wilayah Seribu Pulau, sebuah perubahan terjadi pada permukaan cairan perak itu.
Pertama, gelombang gulungannya mendadak berhenti. Permukaannya menjadi tenang sempurna, seperti danau beku di tengah musim dingin.
Kemudian, dari pusatnya, sebuah denyut cahaya merah tua memancar.
Bum…
Seperti detak jantung raksasa yang bergema di ruang sunyi itu.
Bum…
Denyut kedua, lebih kuat, membuat cairan perak itu beriak.
Bum…
Denyut ketiga, paling kuat, menyebarkan gelombang cahaya merah yang menerangi seluruh ruangan dengan cahaya darah yang menyeramkan.
Seorang penjaga tua yang duduk bersila di depan cermin itu membuka matanya dengan malas. Matanya keruh, penuh dengan usia dan kebosanan yang tak terhingga. Dia sudah menjaga artefak ini selama tiga ratus tahun. Denyut denyut darah murni dari keturunan liar sudah biasa. Kebanyakan tidak berarti.
Dia menguap, menggosok matanya. "Bukan kah Xu Li dan Xu Jian sudah dikirim ke wilayah seribu pulau untuk mengurus denyut terakhir?" gumamnya pada dirinya sendiri, suaranya parau dan berat. "Apa mungkin mereka sudah berhasil menangkap si keturunan liar itu? Tapi biasanya jika sudah ditangkap, cermin akan tenang."
Dia mengamati cermin itu. Cahaya merah sudah mereda, permukaan cairan perak kembali bergolak pelan. Tapi ada sisa sisa getaran yang halus.
Penjaga tua itu menghela napas panjang, menunjukkan sikap meremehkan. "Ah, siapapun itu, pasti sudah ditangkap atau akan segera ditangkap oleh Xu Li. Orang itu mungkin cerewet dan mencurigakan, tapi kemampuannya tidak diragukan. Seorang keturunan liar Dao Awakening menengah bukanlah ancaman serius." Dia menggeleng. "Aku tidak perlu repot repot melaporkan ini sebagai keadaan darurat."
Dengan gerakan malas yang sudah sangat dia hafal, dia mengambil sebuah lempeng giok hijau dan sebuah pena khusus yang ujungnya bercahaya. Dengan telaten, dia menorehkan catatan.
"Hari ke-7.250 kalender Langit. Denyut darah murni terdeteksi, tingkat Dao Awakening perkiraan menengah hingga akhir. Intensitas: sedang. Lokasi: Wilayah Seribu Pulau, sektor 88. Tidak ada tanda darurat atau pelanggaran segel darah. Prioritas: rendah. Ditangani oleh: Penatua Xu Li dan Xu Jian."
Dia meletakkan lempeng giok itu ke dalam sebuah rak berisi ratusan lempeng serupa, lalu kembali duduk bersila. Dia menutup matanya, tenggelam kembali ke dalam meditasinya yang dangkal, mengabaikan artefak yang masih bergetar halus seolah olah tidak puas.
Bagi penjaga tua itu, ini hanya hari biasa di dalam ruang penjagaan yang membosankan. Dia tidak tahu bahwa denyut tadi bukan dari keturunan liar yang tertangkap. Itu adalah sinyal dari seseorang yang dengan sengaja melepaskan semua penyamaran dan menggunakan kekuatan sebenarnya untuk melompat melintasi ruang. Seseorang yang darahnya bukan hanya murni, tapi juga membawa warisan khusus yang seharusnya sudah punah. Seseorang yang akan mengguncang fondasi klan mereka.
Tapi itu adalah masalah untuk esok hari, atau mungkin untuk orang lain. Sang penjaga tua sudah kembali mendengkur pelan.
Fajar menyingsing di atas pegunungan yang memayungi wilayah bekas Sekte Gunung Jati. Udara pagi yang segar dan dingin membawa aroma pepohonan pinus dan tanah basah. Bekas bekas kehancuran dari pertempuran beberapa waktu lalu masih terlihat di beberapa tempat. Tembok tembok yang runtuh, tanah yang hangus, pepohonan yang patah. Tapi ada juga tanda tanda pembaruan. Reruntuhan sudah disingkirkan, tanah sudah diratakan, dan pondasi baru sedang dibangun. Suara palu dan orang orang bekerja terdengar sayup sayup.
Di atas puncak bukit tempat bangunan utama sekte dulu berdiri, sekarang hanya tersisa sebuah platform batu yang retak retak, udara tiba tiba beriak.
Tanpa suara, tanpa cahaya, seorang pria muda muncul di atas platform itu. Dia berdiri tegak, mengenakan jubah sederhana berwarna abu abu. Wajahnya adalah wajah Xu Hao yang asli, tanpa penyamaran Hei Feng. Garis garis tegas, mata yang dalam seperti sumur tua, dan aura tenang namun berwibawa memancar darinya.
Xu Hao menarik napas dalam, menghirup udara pegunungan yang familiar ini. Dia kemudian memfokuskan perhatiannya pada tubuhnya, merasakan sesuatu yang hilang. Pelindung darah garis keturunan yang dipasangkan bibinya, Xiou Jianxin, untuk menyamarkan darah Klan Xu-nya, telah hancur sepenuhnya. Mungkin karena tekanan dari perjalanan ruang tadi, atau mungkin karena dia secara aktif melepaskan semua penyamaran.
Dia menghela napas. "Sekarang aku lebih mudah terdeteksi," gumamnya. Tapi ekspresinya tidak khawatir. "Tapi biarlah. Menyembunyikan diri selamanya bukan caraku. Aku sudah cukup bersembunyi."
Dia mengedarkan kesadarannya, menyapu seluruh area bekas sekte. Dia merasakan puluhan aura, kebanyakan lemah, di tingkat Foundation Establishment dan Core Formation. Beberapa aura Nascent Soul dan satu aura Soul Formation. Dan di sebuah ruangan di dalam sebuah bangunan sederhana yang baru dibangun di lereng bukit, dia merasakan aura yang familiar. Void Fusion tahap awal. Rapuh, tapi stabil. Sedang dalam pemulihan.
Tetua Hong.
Xu Hao tersenyum tipis. Lalu, tubuhnya berkedip dan menghilang dari platform.
Di dalam ruang meditasi pribadi Tetua Hong, suasana hening. Ruangan itu kecil, hanya berisi sebuah bantalan meditasi, sebuah meja kecil dengan teko teh, dan sebuah lukisan gunung tua yang digantung di dinding. Tetua Hong duduk bersila di atas bantalan, matanya tertutup. Wajahnya yang keriput tampak tegang, konsentrasi penuh pada mengedarkan Qi melalui meridiannya yang masih rentan. Bekas luka spiritual dari pengusiran dan persembunyian masih belum sepenuhnya pulih.
Tiba tiba, tanpa peringatan apapun, sebuah bayangan muncul di depan lukisan gunung.
Tetua Hong membuka matanya dengan cepat, refleks mengeluarkan Qi-nya untuk bertahan. Tapi saat dia melihat siapa yang berdiri di sana, napasnya tersangkut.
"Kau..." gumannya, matanya membelalak.
Xu Hao berdiri tenang, membiarkan aura Dao Awakening tahap menengahnya memancar dengan wajar, tidak menekan, tapi juga tidak menyembunyikannya.
"Tetua Hong," sapanya dengan suara hormat.
Tetua Hong perlahan lah berdiri, tubuhnya sedikit gemetar, entah karena terkejut atau karena emosi lain. "Nak... kau... kau ternyata seorang Dao Awakening?" suaranya bergetar. "Pantas saja... pantas saja kau bisa tiba tiba menghilang begitu saja dari persembunyian kita. Setelah kau menghilang, dan keesokan harinya saat kami berani keluar untuk mengecek, kami menemukan... Xu Zhan dan semua anak buahnya mati berserakan." Dia menatap Xu Hao dengan mata penuh pertanyaan yang dalam. "Xu Hao... itu... kau yang melakukannya?"
Xu Hao mengangguk perlahan, mantap. "Iya, Tetua."
Tetua Hong memandangnya untuk waktu yang lama, seolah olah mencoba mengenali pemuda di depannya. Lalu ekspresinya berubah menjadi muram, penuh keprihatinan.
"Lalu... apa yang terjadi setelah itu? Apakah Klan Xu langsung datang ke sini? Apakah mereka mendatangi mu setelah kematian Xu Zhan?"
Xu Hao menggeleng. "Saya tidak tahu. Saya langsung pergi setelah itu."
Tetua Hong menghela napas berat, lalu mengungkapkan kebenarannya.
"Mereka datang. Tapi mereka tidak menanyakan apapun tentang pembunuhan itu. Mereka hanya mengumpulkan mayat mayat dengan ekspresi dingin, memeriksa bekas luka, lalu pergi tanpa sepatah kata pun kepada kami."
Tetua Hong berjalan pelan ke meja, menuangkan dua cangkir teh dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Aku rasa... mereka sudah tahu dari Cermin Silsilah Darah, bahwa si pembunuh adalah seseorang yang sama dengan darah mereka. Dan mereka pasti tahu itu bukan dari sekte kami yang paling kuat hanya Void Fusion awal."
Xu Hao menerima cangkir teh yang ditawarkan, lalu duduk di sebuah bangku kayu sederhana di dekat dinding. "Jadi mereka tidak mengganggu sekte lagi?"
"Tidak. Sejak hari itu, tidak ada lagi orang dari Klan Xu yang mendekati gunung ini. Seolah olah mereka menganggap insiden itu selesai, atau... mereka sedang menunggu sesuatu." Tetua Hong duduk di bantalan meditasinya lagi, menatap Xu Hao di seberangnya. "Jadi kau benar benar yang membunuh Xu Zhan, nak."
"Benar, Tetua."
Tetua Hong menghela napas lagi, kali ini terdengar seperti campuran antara kekecewaan, kekhawatiran, dan mungkin sedikit kekaguman yang terpaksa. "Kau ini, nak... jika bukan karena kau adalah keponakan sahabat karibku, Xu Tianmu, aku mungkin sudah tidak ingin berurusan denganmu lagi."
Xu Hao menundukkan kepalanya. "Saya minta maaf telah membawa masalah, Tetua."
"Minta maaf?" Tetua Hong menggeleng, suaranya naik sedikit. "Pertama, kau tiba tiba menghilang dari persembunyian tanpa sepatah kata, membuatku hampir mati karena khawatir! Aku pikir kau tertangkap atau lebih buruk! Lalu, saat kami keluar dari persembunyian dengan hati hati, kami melihat anggota Klan Xu utama mengumpulkan mayat mayat Xu Zhan dan anak buahnya. Jantungku hampir berhenti! Untung saja, meskipun mereka tahu ada konflik antara sekte kami dengan cabang mereka, mereka tidak bertindak agresif. Karena mereka tahu bukan kami yang melakukannya."
Dia meneguk tehnya, mencoba menenangkan diri. "Dan sekarang... sekarang kau muncul kembali tiba tiba di depanku, menunjukkan kultivasi yang jauh di atasku. Seorang Dao Awakening! Kau membuat orang tua ini sangat, sangat bingung, Haosu... maksudku, Xu Hao."
Xu Hao menaruh cangkir tehnya, lalu berdiri dan membungkuk dalam-dalam kepada Tetua Hong. "Maaf, Tetua. Saya bertindak seperti itu bukan karena tidak peduli pada kalian. Justru sebaliknya. Saya sangat peduli, dan saya tidak ingin menyeret Tetua dan seluruh Sekte Gunung Jati ke dalam masalah yang lebih dalam dan lebih berbahaya. Tindakan saya terhadap Xu Zhan adalah urusan pribadi saya dengan Klan Xu."
"Bodoh!" potong Tetua Hong, tapi nada suaranya lebih lembut. "Dengan memberikan slip giokku dan mengungkapkan hubunganmu dengan Tianmu, kau sudah menyeretku ke dalam urusanmu! Persahabatanku dengan pamannu adalah ikatan yang tidak bisa diputuskan!"
Tetua Hong menatap Xu Hao dengan mata yang tiba tiba basah. "Aku sudah kehilangan kontak dengan Tianmu selama bertahun tahun. Melihatmu... adalah seperti melihat bagian darinya kembali."
Dia diam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Tapi ya sudah. Lupakan saja. Air yang sudah tumpah tidak bisa dikembalikan. Sekarang, beritahu aku."
Tetua Hong menatapnya langsung. "Apa yang membuatmu kembali ke sini? Jangan bilang hanya untuk mengunjungi orang tua lemah seperti aku."
Xu Hao duduk kembali. "Saya datang untuk meminta bantuan, Tetua. Dan untuk memberikan sesuatu."
"Bantuan? Setelah menunjukkan kekuatanmu yang sekarang, apa yang bisa orang tua Void Fusion tahap awal yang masih terluka ini bantu untuk seorang Dao Awakening?" tanya Tetua Hong, setengah bercanda setengah serius.
"Bantuan informasi," jawab Xu Hao. "Dan bantuan untuk mengakses jaringan informasi yang tidak bisa ku akses sendiri." Dia menatap Tetua Hong dengan serius. "Aku perlu menemukan sebuah tempat. Sebuah tempat yang sangat spesifik yang disebutkan oleh paman dalam pesan terakhirnya."
Tetua Hong mendadak terdiam. Ekspresinya berubah menjadi sangat serius. "Tianmu... meninggalkan pesan untukmu? Tentang apa?"
"Dia mengatakan... 'Di bawah laut ada dunia. Tempat di mana pelangi bisa disentuh secara fisik.'" Xu Hao mengulangi kata kata itu dengan hati hati. "Dan dia mengatakan ada sebuah pedang hitam sederhana. Jika bisa dicabut, akan memberiku kesempatan."
Wajah Tetua Hong berubah pucat. Matanya membelalak. Tangannya yang memegang cangkir teh bergetar sehingga tehnya tumpah sedikit. "Dia... dia memberitahumu tentang itu?"
"Kau tahu tempat itu, Tetua?" tanya Xu Hao, harapannya membumbung.
Tetua Hong menaruh cangkirnya dengan sangat pelan, seolah olah takut akan pecah. Dia menatap lukisan gunung di dinding untuk waktu yang lama, pikirannya melayang jauh ke masa lalu.
"Kalau begitu," katanya akhirnya, suaranya terdengar sangat lelah dan tua. "Ceritakan segalanya dari awal, nak. Dari saat kau pergi dari sini sampai sekarang. Dan kemudian... mungkin, hanya mungkin, aku bisa memberitahumu apa yang aku tahu tentang tempat yang dicari Tianmu itu."
up up up