NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan

Pagi hari di Schwarzwald Villa disambut oleh kabut tebal yang menyelimuti hutan pinus, menciptakan suasana yang mencekam seolah alam pun tahu bahwa pertumpahan darah akan segera terjadi. Di dalam ruang kerja, Maximilian berdiri di depan jendela besar, menatap ke arah kegelapan hutan dengan tangan yang tertaut di belakang punggung. Meskipun bahunya masih terasa kaku, sorot matanya telah kembali tajam dan mematikan.

Lucas masuk dengan langkah cepat, membawa tablet taktis yang menampilkan titik-titik merah yang bergerak mendekati perimeter terluar mereka.

"Mereka sudah di sini, Tuan Muda," lapor Lucas dengan suara rendah yang sangat serius. "Unit Richard terdeteksi di radar dua kilometer dari gerbang utama. Mereka tidak menggunakan jalan protokol, mereka datang melalui jalur tikus di sisi timur hutan."

Max berbalik, mendekati meja kerja yang kini dipenuhi oleh monitor pemantau. "Berapa banyak?"

"Tiga unit tim pembersih. Total sekitar dua belas orang, semuanya bersenjata lengkap. Mereka bergerak dalam formasi pengepungan," Lucas menggeser peta di tabletnya, menunjukkan posisi strategis tim keamanan mereka sendiri.

"Instruksi terakhir saya pada tim di lapangan adalah mereka di garis Dead Zone. Jika mereka melewati pohon pinus bertanda merah, kita buka api."

Max mengangguk perlahan. "Richard tidak akan datang sendiri di gelombang pertama. Dia akan mengirim anjing-anjingnya untuk menguji pertahanan kita. Lucas, pastikan protokol pengalihan aktif. Aku ingin mereka berpikir kita akan lari lewat jalur belakang, padahal kita akan menjepit mereka di lembah."

Lucas menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Max dengan tatapan yang sangat dalam. "Tuan, ini adalah titik di mana tidak ada jalan kembali. Begitu kita melepaskan tembakan pertama pada unit Hoffmann, Anda secara resmi adalah musuh publik nomor satu bagi ayah Anda sendiri."

Max menarik napas panjang, bayangan Sophie yang tertidur dengan tenang setelah momen mereka semalam terlintas di benaknya. Ia juga teringat akan wajah Hans yang mulai pulih. Segalanya telah berubah.

"Aku sudah mati bagi Richard sejak semalam, Lucas," jawab Max dingin. "Aktifkan sistem keamanan penuh. Jangan biarkan satu peluru pun lolos ke arah sayap medis. Aku sendiri yang akan memegang kendali atas gerbang timur."

"Dimengerti, Tuan," Lucas menegakkan punggungnya, bersiap untuk pertempuran hidup dan mati ini. "Keamanan Nona Adler adalah prioritas utama saya. Saya akan memastikan dia tetap di bunker sampai area dinyatakan bersih."

Tepat saat itu, alarm rendah berbunyi dari konsol meja—sebuah tanda bahwa musuh telah menyentuh sensor perimeter pertama. Max mengambil senjata laras pendeknya, memasukkannya ke balik mantel, dan menatap Lucas dengan tegas.

"Biarkan mereka masuk, Lucas. Mari kita tunjukkan pada Richard bahwa dia salah besar jika mengira aku adalah putra yang mudah dikalahkan."

...****************...

Langkah kaki Maximilian yang berat namun mantap bergema di koridor utama saat ia menuju pintu keluar. Ia mengenakan jaket taktis hitam dengan peralatan komunikasi yang sudah terpasang di telinga. Di tangannya, ia menggenggam sarung senjata yang siap ia pasang.

Langkahnya terhenti seketika saat pintu kamar medis terbuka. Sophie keluar dari sana, masih dengan wajah yang tampak lelah namun matanya langsung membelalak melihat penampilan Max yang sangat berbeda pagi ini. Ia melihat senapan, rompi pelindung, dan raut wajah Max yang begitu gelap.

"Max?" panggil Sophie, suaranya yang tenang sedikit bergetar. "Kau mau ke mana dengan semua peralatan itu? Apa yang terjadi?"

Max berhenti tepat di depan Sophie. Ia mencoba mengatur napasnya agar tidak terdengar tegang, namun kilat waspada di matanya tidak bisa disembunyikan.

"Mereka sudah sampai di perimeter luar," ujar Max rendah. "Anjing-anjing ayahku sudah berada di hutan. Aku harus turun tangan bersama Lucas untuk memastikan mereka tidak pernah sampai ke pintu depan vila ini."

Sophie terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut yang luar biasa tiba-tiba menyergapnya. Namun, ia teringat janjinya untuk tetap kuat. Ia tidak ingin menghalangi Max dengan tangisan atau kepanikan yang tidak perlu. Sophie maju selangkah, menatap tepat ke dalam mata gelap Max.

"Jadi ini benar-benar dimulai," bisik Sophie. Ia meraih kerah jaket Max, merapikannya sedikit dengan tangan yang dingin. "Dengar, Aku tidak akan memintamu untuk membatalkan ini, karena aku tahu kau melakukannya untuk kami. Tapi aku memintamu satu hal..."

Sophie menatapnya dengan intensitas yang dalam, sebuah permohonan tulus dari seorang wanita yang baru saja menemukan cintanya di tengah badai. "Tetaplah selamat. Jangan biarkan dirimu terluka lagi. Kembalilah padaku dalam keadaan baik-baik saja. Kau sudah berjanji bahwa duniamu adalah aku, jadi jangan biarkan duniamu hancur hari ini."

Max merasakan sesak di dadanya mendengar permintaan Sophie. Kelembutan dan ketegasan wanita itu adalah bahan bakar utama bagi keberaniannya sekarang. Ia meletakkan tangan besarnya di atas tangan Sophie yang masih memegang jaketnya.

"Aku berjanji, Sophie," jawab Max dengan suara yang dalam dan penuh keyakinan. "Vila ini adalah bentengku, dan kau adalah alasan kenapa aku tidak akan pernah membiarkan diriku kalah. Aku akan kembali."

Tanpa mempedulikan Lucas yang mungkin memantau lewat kamera atau waktu yang terus berdetak, Max menarik Sophie mendekat. Ia menunduk dan mengecup bibir Sophie dengan sangat dalam—sebuah kecupan yang membawa rasa cinta, janji, dan perlindungan. Kecupan itu singkat namun terasa begitu berat, seolah Max sedang meninggalkan sebagian jiwanya untuk dijaga oleh Sophie selama ia berperang.

Max melepaskan tautan mereka, memberikan satu anggukan tegas, lalu berbalik tanpa menoleh lagi.

Sophie berdiri mematung di koridor, menatap punggung tegap Max yang perlahan menghilang di balik pintu baja menuju area luar. Ia mengepalkan tangannya, berdoa dalam hati agar pria itu benar-benar menepati janjinya, sementara di kejauhan, suara dentuman pertama dari senjata api mulai terdengar memecah sunyi hutan Schwarzwald.

...****************...

Kabut pagi yang dingin di hutan Schwarzwald tercabik oleh desingan peluru pertama. Hutan yang tadinya tenang kini berubah menjadi labirin kematian. Maximilian bergerak seperti bayangan di antara pohon-pohon pinus raksasa, jauh dari kesan CEO yang biasa duduk di balik meja kaca. Ini adalah sisi Max yang jarang terlihat—seorang pria yang dilatih untuk menjadi predator sejak usia muda.

"Tuan, dua orang bergerak dari arah jam dua!" suara Lucas bergema di earpiece.

Max tidak menjawab. Ia merundak di balik batang pohon besar, mengatur napasnya yang stabil meski luka di bahunya mulai berdenyut akibat gerakan ekstrem. Ia melihat kilatan lensa dari balik semak-semak—unit pembersih Richard.

Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi, Max keluar dari persembunyiannya.

DOR! DOR!

Dua tembakan terukur dilepaskan. Dua bayangan hitam jatuh sebelum mereka sempat menarik pelatuk. Max segera berguling di atas tanah yang basah oleh embun, menghindari rentetan peluru balasan yang menghujam pohon tempatnya berdiri sebelumnya.

"Sialan, mereka menggunakan amunisi berat!" umpat Max rendah.

Ia melihat salah satu musuh mencoba mengepungnya dari sisi kiri. Bukannya mundur, Max justru berlari menyongsong arah musuh. Ketika jarak mereka hanya tinggal beberapa meter, Max meluncur di tanah, menyapu kaki lawan hingga terjatuh, dan dalam satu gerakan yang mengalir, ia melumpuhkan pria itu dengan pukulan telak ke arah rahang sebelum merebut senjatanya.

Keahlian tempur Max adalah perpaduan antara brutalitas dan perhitungan dingin. Ia tidak membuang-buang peluru. Setiap gerakannya efisien, dirancang untuk melumpuhkan dalam hitungan detik. Ia menggunakan medan hutan—kegelapan dan kabut—sebagai sekutunya.

"Lucas, aku akan memancing mereka ke arah Dead Zone di lembah. Aktifkan jebakan elektromagnetik sekarang!" perintah Max sambil terus berlari melewati ranting-ranting yang menyabet wajahnya.

"Siap, Tuan Muda. Sekarang!"

Ledakan kecil terjadi di bawah permukaan tanah, menciptakan gelombang frekuensi yang melumpuhkan semua alat komunikasi dan optik malam milik pasukan Richard. Di tengah kekacauan itu, Max muncul dari balik kabut layaknya hantu. Ia bergerak dari satu pohon ke pohon lain, menjatuhkan musuh-musuhnya dengan serangan jarak dekat dan tembakan akurat.

Seorang pria bertubuh besar—pemimpin tim lapangan Richard—berhasil memojokkan Max di sebuah lereng curam. Pria itu mengarahkan pisau taktisnya, namun Max hanya menatapnya dengan mata yang dingin, tanpa rasa takut.

"Richard mengirimmu untuk membunuh anaknya sendiri?" tanya Max dengan suara yang rendah dan mematikan. "Sampaikan padanya, dia baru saja kehilangan aset terbesarnya."

Dalam sebuah duel singkat yang intens, Max menangkis serangan pisau itu, memutar lengan lawan, dan menggunakan berat tubuh pria itu untuk membantingnya ke arah batang pohon yang keras hingga tak sadarkan diri.

Max berdiri tegak, napasnya memburu, wajahnya tercoreng tanah dan sedikit darah, namun matanya tetap fokus. Di sekelilingnya, hutan kembali sunyi—hanya menyisakan suara desis alat komunikasi yang rusak dan rintihan musuh yang kalah. Ia telah membuktikan bahwa meskipun ia adalah seorang Hoffmann, ia adalah jenis Hoffmann yang tidak akan pernah bisa dijinakkan oleh siapa pun.

Suasana kemenangan singkat itu seketika buyar saat interkom di telinga Max berderit tajam, diikuti suara Lucas yang terdengar jauh lebih tegang dari sebelumnya.

"Tuan Muda, jangan turunkan kewaspadaan Anda! Itu hanya umpan!" teriak Lucas melalui saluran terenkripsi.

Max yang baru saja menyeka darah di pipinya segera merunduk kembali ke balik gundukan tanah. "Apa maksudmu, Lucas? Gelombang pertama sudah bersih."

"Radar mendeteksi pergerakan masif dari arah jalan utama. Richard tidak lagi bermain-main dengan taktik gerilya. Dia mengirim unit kedua—pasukan paramiliter swasta dengan kendaraan taktis lapis baja," suara Lucas berpacu dengan bunyi bip cepat dari sistem peringatan dini.

"Mereka membawa peluncur granat dan persenjataan berat. Mereka sedang menuju gerbang utama sekarang!"

Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar deru mesin yang berat dan dalam, menggetarkan permukaan tanah hutan yang basah. Max memanjat sebuah dahan besar untuk melihat ke arah jalan setapak menuju vila. Di sana, melalui celah pepohonan, ia melihat lampu sorot kendaraan taktis yang membelah kabut.

"Bajingan tua itu benar-benar ingin meratakan tempat ini," desis Max. Matanya berkilat marah.

"Lucas, evakuasi Sophie dan Adler ke bunker terdalam sekarang juga! Jangan tunggu perintah lagi!"

"Bagaimana dengan Anda, Tuan?"

"Aku akan menahan mereka di gerbang utama. Aktifkan ranjau antitank di jalur masuk dan siapkan menara senapan otomatis. Jika mereka menginginkan perang terbuka, aku akan memberikannya!"

Max melompat turun dan berlari secepat kilat menembus semak belukar, mengabaikan rasa perih luar biasa yang mulai menyerang bahunya yang terluka. Ia tahu, unit berat ini bukan lagi tentang melumpuhkan, tapi tentang pemusnahan total. Richard sudah tidak peduli apakah putranya hidup atau mati—yang ia inginkan hanyalah agar rahasianya terkubur selamanya di bawah reruntuhan vila ini.

Saat Max mencapai garis pertahanan depan vila, ia melihat gerbang besi raksasa itu bergetar hebat. Sebuah kendaraan lapis baja sedang mencoba menerobos masuk.

"Sophie, tetaplah di sana... kumohon," bisik Max pelan di tengah napasnya yang memburu, sebelum ia menarik pelatuk senjatanya ke arah unit berat yang mulai memuntahkan peluru panas ke arah vila.

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!