Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7.Cabai dan kecurigaan
“ Barang berharga Apa yang bisa kau temukan di dalam hutan? Kami para penduduk desa biasanya hanya mencari jamur liar dan juga sayuran liar,” oceh Chen Rui. Tatapan matanya menunjukkan keterkejutan dan juga kekaguman.
Beberapa hari yang lalu saat rumah milik Su Ran direnovasi, halaman rumah ini begitu tandus dan kosong. Tetapi Su Ran meminta tolong tukang yang diundang dari kota untuk sedikit ‘memodifikasi’ menjadi taman yang indah.
Ada pergola anggur liar yang kata Su Ran juga di’pungut’ dari hutan dalam. Lalu disampingnya dibuat air terjun mini yang menggunakan daya dorong air dari sumur belakang.
Bicara tentang sumur, rumah milik juragan Zhang memang dilengkapi dengan sumur tua. Sudah bertahun – tahun kering dan tidak mengeluarkan air. Tetapi saat Su Ran mengambil alih, ia melongok melihat kebawah Sumur dan bilang jika ada kemungkinan tersumbat.
Su Ran menyuruh orang untuk membersihkan sumur dan dengan ajaib menyuruh untuk mencungkil salah satu dinding batunya dan voilaahh.. air menyembur begitu deras!
Kini yang paling tidak kekurangan pada rumah Su Ran adalah Air! Air tersebut akhirnya dialirkan ke ladang di sekeliling rumah Ru Ran.
Yang subur semakin terjaga kesuburannya, yang tandus berubah menjadi subur!
Chen Rui menggelengkan kepalanya, siapa yang masih berani mengatakan jika Su Ran begitu kasihan? Memang, hanya keluarganya, keluarga paman Ma, kepala desa dan keluarga paman Wu serta tukang dari kota yang tahu perihal mengalir sumur ini.
Penduduk hanya tahu jika Su Ran membangun tandon Air untuk menampung air dan ikut mengangkut air dari sungai yang juga dekat dengan lokasi lahan miliknya.
“ Kau pasti hanya datang dipinggir hutan kan? Lihatlah, apa yang aku dapatkan,” dengan senyum misterius, Su Ran membuka keranjang bambunya. Ini adalah keranjang bambu yang diambil dari ruang ajaibnya.
Chen Rui penasaran dan segera melongokkan kepalanya. Ia langsung terperangah melihat ‘ benda’ panjang pendek berwarna merah menyala dan hijau keorenan.
Ini .. ini apa? Tatapan penuh tanda tanya langsung tergambar di wajah imut Chen Rui. Su Ran sangat puas dengan ekspresi wajah chen Rui. Ia menarik Chen Rui untuk duduk dan mengambil beberapa tangkai Cabai merah dan hijau. Lalu mengambil buah ‘mangga’ liar yang masih muda.
Su Ran, dengan tatapan penuh tanya dari Chen Rui mengambil cobek batu dan ulekan. Lalu mencampurkan cabai, Garam dan gula putih.
Chen Rui sedikit ngilu melihat bahan – bahan mahal yang diambil oleh Su Ran. Bagi dirinya, Gula putih dan garam adalah barang mahal yang bahkan keluarga kepala desa takut menggunakan banyak.
Su Ran selesai mengulek bumbu rujak, mengupas mangga muda dan memotongnya kecil – kecil.
“ Nah, cobalah,” ucap Su Ran sambil mendemonstrasikan cara makannya.
Chen Rui sudah merasakan air liurnya menetes ketika membayangkan mangga muda. Dirinya tidak asing dengan mangga liar tetapi sangat asing dengan bumbu yang dibuat oleh Su Ran.
Dengan percaya dirinya, Chen Rui menyendok banyak – banyak sambalnya dan langsung menyuapkan kedalam mulutnya.
“ Jangan banyak bany....”
“ Huaaaaaaaaassshhhhh... panass.. pedaasss.. apha ini...? seperti tanaman lada?” sebelum selesai peringatan Su Ran, Chen Rui sudah menjulurkan lidah tetapi tidak tega meludahkan sambal. Ini adalah campuran bahan mahal, oke? Entah ditahun baru atau hari besar lainnya belum tentu ia bisa memakan salah satu dari garam ataupun Gula.
Jika Su Ran mengetahui apa yang dipikirkan oleh Chen Rui, ia pasti akan menganga dan menggelengkan kepala. Tunggu saja, jika memungkinkan, Su Ran juga akan ‘menemukan’ tanaman tebu dan akan menghasilkan gula sendiri!
“ Ini namanya Cabai, sedikit mirip dengan tanaman lada tetapi lebih memiliki rasa khasnya sendiri,”
“ Tanaman ini masuk kedalam jenis sayur. Bisa digunakan untuk bumbu masakan atau dibuat sebagai sambal, sama seperti yang kita makan dengan buah mangga tadi. Ini disebut rujak,” terang Su Ran panjang lebar.
Chen Rui menatap rumit pada Su Ran. Kemana gadis pemalu yang dulu selalu menunduk dan bahkan tidak berani menatap mata lawan jenis saat berbicara.
Kenapa, akhir – akhir ini. tidak lebih tepatnya setelah insiden dipukul oleh paman besar cabang keluarga Fen, Su Ran menjadi ... berubah.
“ Apa kau mengerti? Hei, kenapa kau melihatku seperti ini?” Su Ran tanpa sadar mengusap wajahnya, takut – takut ada sesuatu yang kotor menempel di wajahnya sehingga membuat Chen Rui menatapnya dengan intens.
“ Kau.. Kau bukan Fen Ran.. kan?” tiba – tiba suara datar milik Chen Rui bagaikan petir yang menyambar di telinga Su Ran.
Dia.. Dia adalah marketer ulung. Negosiasi, ucap berucap dan berkelit jelas adalah keahliannya. Bagaimana bisa ia ketahuan sedini ini? dirinya baru hidup lagi di dunia ini selama 15 hari, oke?
Su Ran segera menormalkan sikapnya dan menghela nafas kasar. Tenang – tenang, Chen Rui tidak akan mengetahui apapun, kan?
“ Apa maksud pertanyaanmu itu? Tentu saja ini aku. Mau jadi siapa lagi jika itu bukan aku?” dengan senyuman pahit ia merentangkan kedua tangannya, berpose seperti orang pasrah.
Chen Rui kembali menatap lama Su Ran, mencoba untuk menembus hati Su Ran. Membuat Su Ran sedikit gugup dan gelisah takut ketahuan.
“ Haaahh, jika aku katakan kau banyak berubah apa kau akan marah?” ucap Chen Rui sambil kembali menyolek mangga muda dan .. apa tadi? Sambal rujak. Tetapi lebih sedikit porsi sambalnya.
Detak jantung Su Ran kembali tenang dan rasa lega menyeruak dihatinya. Ternyata hanya ini. sepertinya sifat dan sikapnya terlalu mencolok. Ia ingat dengan jelas bagaimana perangai dari pemilik tubuh asli. Lemah dan begitu mudah terintimidasi.
“ Chen Rui, jika kamu juga mengalami apa yang kualami, bukankah kau akan berusaha untuk berubah?” ucap Su Ran sambil memandang jauh kedepan, menciptakan pemandangan yang tampak anggun dan berwibawa. Heh, sebenarnya Su Ran sedang berlagak bijaksana!
Chen Rui berhenti mengunyah sejenak kemudian ia mengangguk. Tentu saja ia tahu apa yang dialami oleh Su Ran.
Ditinggal mati oleh orang tua yang sedari kecil membesarkannya, kemudian dipukuli, diganggu dan diintimidasi oleh orang yang seharusnya dipanggil nenek dan keluarga.
Belum cukup lagi, masih akan dinikahkan kepada pemuda bodoh dan rumahnya diincar! Bukankah ini sudah cukup untuk mendapatkan pencerahan dalam hidup?
“ Kau juga tahu, jika aku tidak berubah dan terus – terusan bersikap lemah, mereka akan semakin mengusikku,”
“ Mereka tahu aku hanya sendiri. Saat ayahku masih hidup, nenek tidak berani semena – mena karena ayah adalah pundi uangnya. Orang yang memberinya penghasilan. Bahkan ibuku juga berhemat dan masih harus membantu mengerjakan pekerjaan di rumah utama,”
“ Kini, mereka mendapat kesempatan untuk memerasku sampai darah penghabisan,”
“ Aku tidak mau dan aku memutuskan untuk memberontak...”