Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis yang menangis di depan cermin
Tangisan keras mengagetkan semua pengunjung di sore yang tenang itu.
Nura yang sedang memperbaiki claw machine, mesin capit boneka, mematung sebentar. Awalnya, ia mengira itu hanya rengekan biasa. Anak yang kelelahan, kecewa atau belum puas bermain.
Tapi, tangisan itu semakin tajam untuk diabaikan. Nura melangkah menyusuri lorong kecil di antara mesin-mesin permainan, kemudian berhenti.
Seorang gadis cilik berdiri kaku di depan dinding kaca. Tubuhnya gemetar, kedua tangannya menutupi telinga, sementara matanya membelalak menatap pantulan dirinya sendiri. Mulutnya terbuka, tapi yang terdengar hanya teriakan tercekat. Kepalanya menggeleng-geleng, seolah ingin mengusir pantulan itu.
Nura mendekat perlahan.
“Dek, kamu kenapa?”
Gadis itu tidak menoleh. Tangisannya justru semakin keras seolah ia takut bayangannya ikut bergerak.
Nura mengalihkan pandangan ke cermin, lalu pada gadis kecil yang masih menangis, beralih kembali ke cermin. Ia menyadari sesuatu... gadis itu takut pada cermin.
Nura refleks berdiri di antara gadis itu dan cermin. Posisinya membelakangi cermin. Tangisan itu tiba-tiba berhenti. Napas gadis itu tersenggal, tubuhnya lunglai.
Gadis kecil itu menatap Nura. Matanya membulat, besar dan hitam. Nura melihat mata itu terlalu dewasa untuk anak seusianya.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Nura lagi, melihat anak itu sudah sedikit tenang.
Gadis itu membisu, hanya menatap. Ia lalu menjatuhkan diri ke lantai.
“Eh….” Nura mencoba menangkap tapi terlambat.
Gadis itu merangkak cepat ke sudut ruangan. Ia lalu duduk dengan memeluk lututnya di antara mesin permainan. Tangisnya mereda, menyisakan dada yang naik turun.
Nura berjongkok di depannya, tidak terlalu dekat. “Namaku Nura,” ucapnya. “Nama kamu siapa?”
Tidak ada jawaban.
Nura mengeluarkan tisu dari saku celana, dan menyodorkannya pada gadis kecil itu. Dia menerimanya dengan hati-hati. Jari kecilnya seperti menghindari sentuhan dengan Nura. Dia mengusap air mata dan hidungnya.
“Kamu takut kaca?” tanya Nura lagi dengan hati-hati.
Gadis itu mengangguk pelan, sekilas.
Nura menelan ludah. “Tenang saja, kamu aman.”
Gadis itu menunduk, meremas ujung bajunya. Bibirnya bergerak kecil, hampir tidak terlihat, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.
Namun Nura melihatnya. Gerakan itu jelas. Gadis itu bisa bicara. Hanya saja dia tidak mau.
“Orang tuamu di mana?” Nura menatap lembut.
Langkah sepatu terdengar mendekati mereka. Seorang pria berhenti di sisi mereka.
“Ternyata kamu di sini!” ucapnya tegas, rendah, dalam. Tanpa emosi.
Anak itu berdiri, kemudian bersembunyi ke belakang tubuh Nura.
Nura menoleh.
Pria itu tinggi, rapi, pakaiannya terlihat mahal. Sorot matanya dingin, ekspresinya datar, rahangnya keras. Nura menilai pria itu terbiasa memegang kendali.
Namun, saat pandangannya beralih pada gadis kecil di belakang Nura, sorotnya melembut sesaat, seperti ada kekhawatiran. Tapi lalu menutup kembali.
“Kanara,” panggilnya. “Ayo, kita pulang!”
Gadis itu tidak bergerak. Jemarinya terangkat memegang baju Nura.
“Maaf,” kata pria itu menatap Nura. “Anak saya mudah panik.”
Nada suaranya sopan, tapi nadanya formal.
Nura berdiri.
Gadis itu kembali bergeser mengikuti tubuh Nura.
“Dia menangis karena takut sama kaca," ujar Nura.
Pria itu terdiam.
“Ada trauma,” lanjutnya. “Saya tidak tahu apa, tapi–”
“Cukup.”
Pria itu memotong sebelum Nura menyelesaikan kalimatnya. Ia memandang lurus pada Nura, tajam.
“Anda jangan menafsirkan hal-hal yang tidak anda kuasai.
Nura ingin membalas. Tapi gerakan kecil di bajunya, membuat Nura menahan diri.
“Tolong jangan dekati anak saya lagi!” pinta pria itu dingin.
Nura menunduk, menatap gadis itu untuk beberapa detik. Kemudian berlutut menurunkan tubuhnya sejajar gadis itu.
“Kamu mau pulang sama Ayah?”
Gadis itu menggeleng.
Pria itu menarik napas panjang, seolah menahan emosi. Ia mendekati gadis itu, memutar bahunya, menatap matanya. “Kanara. Ayah sudah di sini," ucapnya sedikit tegas.
Gadis itu akhirnya melepaskan baju Nura, bergerak ke sisi ayahnya.
"Ayo!" suaranya dingin, tidak bisa dibantah.
Ia kemudian berbalik meninggalkan Nura. Gadis kecil itu mengikuti dengan langkah pelan.
Baru saja Lima langkah, gadis itu menoleh ke belakang. Ada sesuatu di matanya, yang membuat dada Nura sesak.
Ia menghela napas kemudian beranjak hendak kembali pada pekerjaannya yang tertunda, tapi langkahnya terhenti.
Di ujung lorong, gadis itu kembali melewati pantulan kaca yang memperlihatkan bayangannya. Ia gemetar, memalingkan wajahnya.
Nura semakin sadar kalau gadis kecil cantik itu takut pada dirinya sendiri.
**********
“Makasih ya, Pak,” Nura memberikan helm pada driver ojek online yang ditumpanginya.
“Jangan lupa bintang lima-nya ya, Neng,” pria paruh baya itu memperlihatkan deretan giginya.
Nura mengacungkan jempolnya. “Siap, Pak!” ucapnya ikut tersenyum lebar.
Sore itu, matahari masih bersinar cukup terik. Jalanan dipadati kendaraan orang-orang yang keluar menikmati indahnya malam minggu
Tadi, ketika shift-nya kerjanya di pusat bermain anak selesai, ia mendapat pesan dari Mba Tita, admin klinik tumbuh kembang anak, tempatnya menjadi freelancer terapis.
“Sore ini kamu available gak, Kak Nura? Ada terapis yang berhalangan hadir. Bisa gantiin, Kak?”
Nura membuka pintu kaca berlogo warna-warni bertuliskan Pusat Tumbuh Kembang Pelita. Ia disambut aroma antiseptik yang bercampur dengan wangi mainan yang baru dibersihkan.
“Kak Nura…,” seorang wanita muda berhijab mendekatinya. “Makasih ya, Kak, udah mau datang. Kliennya udah nunggu.”
Nura buru-buru menyimpan tas kemudian mencuci tangan. “Siapa?”
“Damar, Kak,” Mba Tita menyerahkan catatan perkembangan pasien yang akan diterapi. “Kakak pernah main sama dia.”
Nura membaca sekilas catatan itu. “O, iya aku ingat.”
“Habis ini ada klien baru juga. Masih bisa 'kan?”
Nura mengangguk, jarinya membuat bentuk lingkaran.
Ceklek.
Di dalam ruangan terapi, Nura melihat Damar sedang bermain dengan salah satu staf klinik. Ketika melihat Nura masuk, mata besar bocah umur lima tahun itu langsung menatap lantai. Tangannya menggenggam ujung kaos, gerakan kecil dan berulang.
“Halo, Damar. Kak Nura boleh ikut main?” Nura duduk di atas matras abu-abu, menjaga jarak yang aman agar Damar tidak merasa tertekan.
Staf klinik lalu keluar ruangan.
Nura menunggu, membiarkan Damar yang membuat keputusan.
Perlahan, Nura menggeser kotak berisi balon ke tengah Matras. Ia menyusunnya satu per satu sambil terus memastikan Damar masih bersamanya.
Damar tidak bergerak, namun jari-jarinya berhenti meremas kaus. Nura tersenyum tipis.
Nura terus menyusun balok ke atas. “Kalau jatuh, nggak apa-apa,” katanya pada balok, seolah tidak bicara pada Damar.
Perlahan, Damar menggeser tubuhnya lebih dekat. Tangannya terangkat ragu, kemudian ikut menumpuk balok di atas tumpukan yang sudah dibuat Nura.
Balok itu miring dan jatuh.
Nura tertawa kecil, “Wah, jatuh ya.” Tidak ada nada kecewa, tidak ada koreksi.
Damar kemudian mendorong satu balok ke arah Nura. Gerakan sederhana tapi jelas itu merupakan sebuah ajakan.
Hati Nura bergetar pelan. Damar mempercayainya. “Kita main sama-sama, ya. Mau coba lagi?”
Jari kecilnya mulai menyusun kembali. Kali ini lebih pelan dan hati-hati. Tangannya masih gemetar tapi dia tidak mundur.
Saat balok itu akhirnya berhasil berdiri, Nura mengangguk kecil, matanya berbinar. “Iya… bisa,” ucapnya tersenyum hangat.
Selama empat puluh lima menit berikutnya, Nura bermain dengan Damar.
“Hari ini Damar hebat sekali, berhasil fokus membuat menara dengan balok,” ujar Nura pada ibunya Damar setelah sesi terapi keluar.
Wanita muda itu mengangguk senang. “Terima kasih, Kak,” ucapnya berkaca-kaca.
Bagi orang lain mungkin pencapaian Damar hanyalah hal biasa. Tapi, bagi seorang ibu dari anak berkebutuhan khusus, itu adalah sebuah giant step yang didapat dengan penuh perjuangan.
“Oke, Damar,” Nura berjongkok, membuat tubuhnya sejajar dengan Damar. “Minggu depan, kita main lagi. Give me high five.”
Damar tersenyum kemudian menepukkan tangannya ke tangan Nura yang sudah terangkat lebih dulu.
Nura kemudian mendekati meja Admin. “Klien barunya jadi?” tanyanya pada Mba Tita.
“Jadi, Kak. Mereka udah di ruang tunggu,” ujarnya lantas berjalan ke arah depan klinik.
“Sore bapak, perkenalkan ini terapis yang akan membantu Kanara.”
Nura melangkah maju. Matanya membulat seketika.
Di depannya, berdiri gadis kecil yang tadi siang menangis di tempatnya bekerja.
Kanara.
“Kamu?” suara rendah, dalam dan tegas, menyapanya.
Itu adalah Suara ayah Kanara.
kasian kl tiba2 histeris
Aku seneng bacanya, aku seneng membaca cerita yg seolah nyata tdk terlalu terasa Fiktif. Semoga Karya Author terus bisa kami nikmatii ... 😍😍