Semua telah terjadi, Zhang Gu Yue tersadar akan segala kebodohan nya, namun semua telah sia-sia. Kini dengan tubuh yang telah hancur dan bayi nya yang bahkan belum sempat melihat dan merasakan bagaimana hangat nya sinar mentari, mereka sama-sama terkapar di atas tanah yang begitu dingin bak tak memiliki perasaan. Tubuh itu mati dengan segala rasa penyesalan dan rasa sakit yang tak terbayang lagi.
Namun kini ia, Zhang Gu Yue kembali diberi kesempatan terlahir kembali. Ia berjanji akan menebus segala kesalahan dan kebodohan nya di masa lalu.
📌 Note :
1. Jangan plagiat
2. Kalau gak suka ya udah gapapa gak usah di baca
3. Selamat baca bagi yang mau
4. Jangan lupa like, komen, dan follow
5. CERITA FIKSI (KHAYALAN PENULIS)
THANK YOUUU🤍
《 va_jiyoon 》
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon va_jiyoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《 22 》 Perampok
...~ happy reading ~...
...♧♧♧...
Terik matahari telah bersinar di luar sana, setelah di bantu oleh Ruyin untuk bebersih dan mengenakan pakaian nya. Kini pikiran Zhang Gu Yue menjadi lebih segar dan tiba-tiba ia teringat akan satu hal, dirinya terlalu miskin di kehidupan ini.
"Ruyin, berapa sisa uang yang kita punya?" tanya Zhang Gu Yue tersenyum seakan menertawakan dirinya sendiri.
"Setau hamba hanya tersisa 50 tael perak, Nona" jawab Ruyin menelan susah air liur nya, ia takut menyakiti hati Nona nya.
"Hahh... baiklah, aku akan bekerja lebih keras lagi" ucap Zhang Gu Yue pasrah.
"Tidak perlu!"
Zhang Gu Yue terkejut, saat menoleh ia mendapati sosok ibu nya tengah berjalan mendekat. Setelah nya, Gu Qing mengisyaratkan agar Ruyin dan pelayan yang mengikuti nya agar memberi ruang bagi dirinya dan sang putri untuk berbicara empat mata.
"Anak ku, kau tidak perlu bekerja keras. Ibu masih memiliki beberapa uang dan jika kau membutuhkan lebih, masih ada mas kawin ibu. Ibu bisa memberikan nya pada mu, tidak perlu bekerja terlalu keras" ucap Gu Qing menatap putri nya iba.
Zhang Gu Yue tersenyum, "Ibu, itu semua adalah milik Ibu, Yue'er tidak berhak"
"Kamu putri ibu, bagaimana itu tidak berhak? Yue'er, sekarang kamu bisa menyenderkan kepala mu di bahu ibu. Jangan berjuang sendiri, kamu harus ingat, kamu memiliki ibu hemm?" ucap Gu Qing mengelus surai kasar milik Zhang Gu Yue. Seberapa keras kehidupan putri nya disana, sampai-sampai tubuh yang awal nya begitu lembut kini berubah kasar seperti ini?
"Yue'er tau dan Yue'er senang ibu bisa kembali bangkit. Tapi bukan Yue'er tidak menghargai tawaran ibu, Yue'er ingin berusaha sendiri. Kehadiran ibu sudah lebih dari cukup untuk Yue'er. Asal ibu tau, saat ini salah satu sumber kebahagiaan dan kekuatan terbesar Yue'er itu berasal dari ibu"
Gu Qing tersenyum hangat, "Baiklah kalau begitu, hal yang harus ibu lakukan sekarang adalah menjaga diri dengan baik bukan? itu yang kamu ingin kan?"
Zhang Gu Yue tersenyum dan mengangguk kan kepala nya, "Em! Yue'er juga akan berusaha untuk terus membuat senyum indah ini selalu ada dan... pelukan hangat ini, adalah hal yang paling Yue'er butuhkan"
Pelukan itu benar-benar terasa hangat dan menjadi zona aman bagi Zhang Gu Yue. Seluruh dunia bisa membenci nya, tapi Zhang Gu Yue berharap tidak dengan wanita penuh kasih sayang dan kelembutan ini.
"Yue'er, ibu ingin kamu berjanji satu hal pada ibu. Apapun yang terjadi nanti, kamu juga harus memperhatikan kebahagiaan mu ya? ingatlah ada ibu di sini dan Keluarga Gu yang selalu berdiri di belakang mu" ucap Gu Qing.
"Baik Ibu, Yue'er akan mengingat dengan baik nasihat ibu" jawab Zhang Gu Yue, "Tapi tentang kebahagiaan itu? aku sendiri terlalu takut untuk mengatakan aku bisa, maaf ibu" batin Zhang Gu Yue.
>>>>>
"Nona, kita akan kemana, apa tidak seharusnya kita menggunkaan kereta kuda?" tanya Ruyin.
"Tidak perlu, banyak kesempatan akan terbuang sia-sia jika menggunakan kereta kuda" jawab Zhang Gu Yue.
Dua gadis bercadar itu berjalan bersama, membaur dengan orang-orang yang tengah sibuk dengan urusan nya masing-masing. Sebenarnya banyak yang ingin Ruyin tanyakan, namun ia urungkan saat melihat raut wajah serius nona nya. Kini tugas nya hanya mengikuti dan memastikan jika gadis itu aman bukan justru membuat Nona nya itu merasa tidak nyaman.
Zhang Gu Yue menatap orang-orang yang sibuk beraktivitas, agak nya di kehidupan saat ini sudah jauh berbeda dengan yang dulu. Dimana jika itu dulu, banyak orang akan mulai membenci nya karena menanggap wabah itu adalah akibat dari nasib sial nya yang menyebar. Dari situ Zhang Gu Yue yang tengah jatuh terpuruk pun di bantu oleh selir yang menawarkan kasih sayang palsu. Yang menjerumuskan nya pada kehancuran.
Zhang Gu Yue berhenti menatap bangunan dua lantai dengan papan nama "Minyong Pu" di depan sana. Tempat tersebut terlihat begitu sepi dibandingkan toko-toko lain di sekitar nya.
"Nona, anda ingin membeli sesuatu?" tanya Ruyin mengikuti arah pandangan Zhang Gu Yue.
"Tidak, ayo masuk. Aku merasa ada yang janggal" jawab Zhang Gu Yue melangkahkan kaki nya masuk ke dalam Minyong Pu.
Berbeda dengan keadaan di luar yang terlihat begitu sepi dan tenang. Di dalam toko tersebut justru tengah terjadi pertengkaran atau lebih tepat nya pengeroyokan yang dilakukan oleh para preman pada pemilik toko. Saat mereka menyadari kedatangan orang asing, mereka pun mengalihkan perhatian mereka pada sosok berjubah putih dengan hiasan biru sederhana yang berdiri kokoh dengan tubuh nya yang kurus.
Di depan sana dapat Zhang Gu Yue lihat seorang lelaki tua menggeleng pada nya, seakan memberi isyarat untuk tidak melakukan apa-apa dan segera pergi. Namun bukan Zhang Gu Yue nama nya jika ia pergi begitu saja setelah melihat apa yang terjadi di depan mata nya.
"Wahh... apa akan ada adegan pahlawan yang menyelamatkan tikus kecil kali ini?" ucap salah satu preman yang sendari tadi duduk dan memperhatikan anak buah nya bekerja.
"Nona Nona, sebaik nya kita pergi saja" ucap Ruyin gemetar ketakutan.
Bagaimana pun juga ia hanyalah gadis kecil biasa yang sejak kecil hanya diajarkan bagaimana cara menjadi pelayan yang baik untuj majikan nya kelak. Kini baru bekerja dengan majikan baru nya, justru ia di hadapkan oleh situasi seperti ini, tentu dia merasa takut.
"Tenang lah" bisik Zhang Gu Yue.
Matanya kini menatap tajam ke depan, sejauh yang bisa ia lihat ada tujuh orang tengah menyiksa beberapa karyawan Minyong Pu. Ia yakin di lantai atas masih ada beberapa orang, terbukti dengan adanya suara gaduh yang ia dengar dari lantai atas.
"Lepaskan mereka!" ucap Zhang Gu Yue tegas.
"Ohoo... gadis kecil ini begitu berani. Tuan, jika dilihat-lihat gadis kecil ini lumayan juga. Bagaimana kalau kita bawa ke markas?"
Sang ketua pun memandangi Zhang Gu Yue dari atas hingga ke bawah. Benar yang diucapkan bawahan nya tadi, walaupun bertubuh kurus, namun kulit nya lumayan putih, dan jika dilihat dari pakaian nya jelas dia bukan lah orang sembarangan. Sungguh beruntung menemukan keuntungan lain selain Minyong Pu ini.
"Ahahaha... benar, tangkap dia!" titah nya.
Orang yang mengusulkan tindakan tersebut pun maju hendak meraih tubuh Zhang Gu Yue. Namun belum sempat dia menyentuh seinci dari tubuh nya, Zhang Gu Yue sudah terlebih dahulu menghindar serta menghadiahkan satu tendangan keras pada titik vital lelaki tersebut. Sontak lelaki tersebut jatuh sambil meratapi rasa sakit yang luar biasa itu.
"Kau-!" ucap sang ketua marah sambil mengacungkan jari telunjuk nya mengarah kepada Zhang Gu Yue.
"Sekali lagi, pergi dan lepaskan mereka!" titah Zhang Gu Yue.
"Bawa gadis itu!" tegas nya.
Secara bersamaan orang-orang yang tadinya tengah menyiksa para pelayan Minyong Pu kini beralih menyerang Zhang Gu Yue secara bersamaan.
Walaupun kekuatan nya belum sepenuh nya pulih, Zhang Gu Yue bisa dengan mudah melawan para perampok itu dengan sebuah belati yang ia beli beberapa hari yang lalu. Jika itu adalah Zhang Gu Yue yang dulu, maka para perampok itu sama sekali bukan lah tandingan nya. Zhang Gu Yue yang sudah merasakan keras nya medan perang tentu bukan lagi lawan bagi para perampok itu.
Melihat para bawahan nya yang satu persatu mulai tumbang di tangan gadis kecil yang ia remehkan tadi. Membuat nyali nya seketika menciut, buru-buru ia memberi kode dan berusaha kabur sembari membawa beberapa tael emas yang tadi ia temukan.
Sreett
Darah mengalir dari telapak tangan Zhang Gu Yue yang berusaha menahan pedang lawan yang mengarah pada Ruyin. Segera ia menyerang balik namun hanya sampai melumpuhkan lawan.
"Paman, segera ikat mereka dengan erat!" titah Zhang Gu Yue pada sosok lelaki dengan luka lebam yang memenuhi wajah nya, Zhang Gu Yue tebak jika lelaki itu adalah salah satu pelayan toko. Setelah nya, ia pun segera berlari keluar memburu ketua perampok yang kabur.
...♧♧♧...
Tinggal nunggu part menikah dgn kekasih hati
😁😁😁😁
seru dan tegang