"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar yang sangat mengejutkan
Tiga hari.
Tiga hari telah berlalu sejak Bai Ruoxue diangkat dari sungai dalam keadaan nyaris tak bernyawa. Tiga hari sejak istana kehilangan ketenangannya, sejak bisik-bisik menyebar lebih cepat daripada angin, dan sejak wajah Li Chenghan tak lagi menunjukkan ekspresi apa pun selain dingin yang menekan.
Di Paviliun Pengobatan, aroma ramuan pahit bercampur dengan bau kain basah yang belum sepenuhnya kering. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin malam, memantulkan bayangan tubuh seorang wanita yang terbaring diam di atas ranjang.
Bai Ruoxue tidak bergerak.
Wajahnya pucat seperti giok yang kehilangan kilau. Bibirnya masih tampak kering, dan napasnya—meski ada—terlalu pelan, seakan hanya bertahan karena enggan pergi sepenuhnya.
Li Chenghan berdiri di sisi ranjang.
Sudah tiga hari ia berdiri di tempat yang sama, menatap wajah itu dengan perasaan yang bahkan ia sendiri tak ingin akui. Kekhawatiran. Kecemasan. Dan sesuatu yang lebih gelap, lebih berbahaya—rasa takut kehilangan sesuatu yang belum sempat ia pahami sepenuhnya.
“Mengapa ia belum bangun juga?” tanyanya akhirnya.
Suaranya terdengar tenang, namun siapa pun yang mengenalnya tahu—itu adalah ketenangan sebelum badai.
Tabib istana yang berdiri di seberang ranjang langsung menunduk dalam. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. “Yang Mulia… denyut nadinya stabil. Napasnya ada. Namun kesadarannya… seolah tertahan.”
“Tertahan?” ulang Li Chenghan pelan.
Tabib mengangguk. “Seperti seseorang yang tidak sepenuhnya ingin kembali.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Di sudut ruangan, Shuang Shuang berlutut sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya tak berhenti mengalir sejak hari pertama. Setiap kali tabib datang, ia berharap mendengar kabar baik. Dan setiap kali pula, harapan itu runtuh perlahan.
“Nona… tolong bangun…” bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
Li Chenghan mengepalkan tangannya.
“Periksa lagi,” perintahnya dingin. “Aku ingin kepastian.”
“Baik, Yang Mulia.”
Tabib kembali memeriksa Bai Ruoxue. Ia memeriksa nadi, pupil mata, suhu tubuh. Lalu kembali memeriksa. Dan sekali lagi. Gerakannya semakin lambat, alisnya mengerut dalam.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Setiap tanda menunjukkan tubuh yang sehat—terlalu sehat untuk seseorang yang tenggelam dan tak sadarkan diri selama tiga hari. Bahkan denyut nadinya… terlalu stabil.
“Yang Mulia,” ucap tabib ragu.
Li Chenghan menoleh tajam. “Bicaralah.”
Tabib menarik napas dalam-dalam, lalu menunduk lagi. “Hamba… menemukan sesuatu yang aneh sejak pemeriksaan hari kedua.”
“Aneh bagaimana?”
“Hamba tidak berani menyimpulkan tanpa pemeriksaan ulang. Namun hari ini… hasilnya tetap sama.”
Li Chenghan melangkah mendekat. Jarak di antara mereka menyempit, tekanan terasa nyata. “Jelaskan.”
Tabib menelan ludah. Lalu berkata dengan suara yang sangat hati-hati, seolah satu kesalahan kata bisa merenggut nyawanya sendiri.
“Yang Mulia…
"Selamat.”
Kata itu jatuh.
Dan justru membuat Li Chenghan membeku.
“Selamat?” ulangnya pelan.
Ia menatap tabib seakan baru saja mendengar lelucon yang tidak lucu. “Apa maksudmu?”
Tabib menghela napas, lalu berkata—kali ini tanpa ragu.
“Selir Xue sedang mengandung.”
Hening.
Total.
Seolah seluruh udara di paviliun tersedot habis.
Li Chenghan tidak bergerak. Matanya menatap lurus ke depan, namun fokusnya kosong. Kata-kata itu berputar di kepalanya, berulang-ulang, menghantam lebih keras setiap kali.
Mengandung.
Selir Xue.
Bibirnya sedikit terbuka, namun suaranya tertahan di tenggorokan. “Apa…” napasnya terdengar berat. “Apa kau serius?”
Tabib segera berlutut. “Hamba tidak berani berdusta, Yang Mulia.”
“Periksa lagi,” suara Li Chenghan tiba-tiba meninggi. “Kau tidak salah memeriksa?”
“Hamba sudah memeriksa berkali-kali,” jawab tabib tegas meski tubuhnya gemetar. “Dan hasilnya tidak berubah. Selir Xue memang mengandung.”
Satu kalimat itu cukup untuk menghancurkan ketenangan palsu yang tersisa.
Dadanya terasa kosong, lalu penuh sekaligus. Perasaan terkhianati menyusup perlahan, seperti racun yang dingin, menjalar dari jantung ke seluruh tubuhnya. Ia merasa dipermalukan. Dibodohi. Dijadikan lelucon di balik punggungnya sendiri.
Bisik-bisik langsung menyebar di antara para pelayan dan tabib lain yang berada di paviliun.
“Bukankah Selir Xue dan Yang Mulia…?”
“Ya… mereka tidak pernah…”
“Lalu anak itu…”
Suara-suara itu berdesir seperti angin dingin, menusuk tanpa terlihat. Meskipun pelan, meskipun tertahan, Li Chenghan mendengarnya.
Setiap kata.
Setiap nada ragu.
Wajahnya mengeras.
Amarah merambat naik dari dadanya, panas dan menyakitkan. Bukan hanya karena kemungkinan pengkhianatan—melainkan karena rasa dipermalukan. Karena kenyataan ini seolah menamparnya di depan seluruh istana.
Tangannya bergetar.
“Semua diam!”
Suara itu menggema keras, memantul di dinding paviliun. Semua orang langsung berlutut, kepala menunduk dalam. Tak satu pun berani mengeluarkan suara lagi.
Namun keheningan itu tidak menghapus apa pun.
Fakta tetap ada.
Bai Ruoxue mengandung.
Dan Li Chenghan tahu dengan sangat jelas—ia tidak pernah menyentuh wanita itu.
Dadanya terasa sesak.
Kalau begitu… anak siapa?
Siapa yang sudah menyentuhmu?
Siapa pria brengsek itu?!
Pertanyaan itu muncul, kejam dan tak terelakkan.
Ia menatap wajah Bai Ruoxue yang masih terpejam. Wajah yang tampak damai, seolah tak peduli pada kekacauan yang ditimbulkannya. Polos dan tak tahu apa yang tengah terjadi.
“Bangun,” katanya pelan, suaranya penuh tekanan. “Buka matamu dan jelaskan!”
Namun Bai Ruoxue tetap diam.
Shuang Shuang terisak keras di sudut ruangan. “Yang Mulia… Nona tidak mungkin berkhianat. Hamba bersumpah—!”
“Diam.” potong Li Chenghan tajam.
Ia tidak ingin mendengar pembelaan sekarang. Tidak dari siapa pun.
Di luar paviliun, kabar itu menyebar cepat. Terlalu cepat. Para selir mulai berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, wajah mereka dipenuhi keterkejutan yang bercampur dengan sesuatu yang lebih gelap—kepuasan tersembunyi.
Mei Yuxin mendengar kabar itu dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
“Jadi… Selir Xue mengandung,” gumamnya pelan.
Beberapa selir saling bertukar pandang.
“Kalau begitu,” bisik salah satu dari mereka, “bukankah ini berarti…?”
Mei Yuxin menegakkan punggungnya. “Berarti,” katanya lembut, “kebenaran akan terungkap dengan sendirinya.”
Entah kebenaran versi siapa.
Kembali di Paviliun Pengobatan, Li Chenghan berdiri sendirian di sisi ranjang. Amarahnya belum padam. Kekecewaannya terlalu dalam.
Namun jauh di lubuk hatinya, ada satu hal yang terus mengganggu.
Jika Bai Ruoxue berkhianat… mengapa ia hampir mati?
Jika anak itu hasil dosa… mengapa tubuhnya justru bertahan mati-matian?
Li Chenghan mengepalkan tangannya.
“Kau akan bangun,” katanya dingin, seolah perintah. “Dan saat itu… aku ingin mendengar semuanya.”
Lelaki itu menatap dingin tubuh yang tak bergerak itu.
"Jika itu benar, maka tak ada seseorang yang dapat menyelamatkanmu."
Kalimat itu keluar dengan penuh penekanan. Ada nada kecewa dan masih tidak percaya dengan semua ini.
Di ranjang itu, Bai Ruoxue tetap terdiam.
Di hadapan semua orang, ia adalah kaisar—penguasa tertinggi, pria yang ditakuti dan disegani. Namun saat itu, berdiri di samping ranjang seorang selir yang tak sadarkan diri, Li Chenghan merasa kehilangan kendali atas satu hal yang tak pernah ia izinkan lepas: harga dirinya.
Dan itulah yang paling membuatnya marah.
Karena pengkhianatan, ia bisa menghukum.
Kebohongan, ia bisa membongkar.
Namun rasa dikhianati—itu adalah luka yang bahkan seorang kaisar pun tidak bisa sembuhkan dengan perintah.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi