tolong follow akun ini 🙏🙏
sebagian bab di hapus untuk kepentingan pribadi ❤
namaku Risa usiaku 21 tahun, suatu hari ketika aku sedang melaksanakan tugasku untuk bertemu dengan seseorang tiba-tiba seorang anak kecil menghampiriku dan memanggilku
'ibu'
"Ibu! ibu! apa kamu datang untuk menjemputku sekolah?"
bagaimana nasib Risa yang harus berpura-pura menjadi Ibunya dari anak itu?
bagaimana kehidupannya yang masih muda harus menjadi seorang ibu?
selain itu Risa juga harus menghadapi sifat ayahnya yang sangat posesif terhadapnya..
ikuti cerita ini terus ya ~~~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - 17 years later
17 tahun kemudian........
Hari berganti menjadi bulan,
Bulan berganti menjadi tahun,
Dan tahun berlalu begitu cepat hingga 17 tahun telah terlewati.
Baru rasanya kemarin Risa bertemu di taman dengan seorang anak kecil yang manggil 'ibu', pertemuan yang tidak pernah diduga oleh Risa sebelumnya mengantarkannya kepada sebuat pertemuan dengan seorang pria posesif yang membuat keduanya saling jatuh cinta, yang kini telah menjadi suaminya lebih dari tujuh belas tahun...
Baru kemarin Risa merasakan bagaimana rasanya melihat Kevin yang baru saja masuk ke sekolah dasar, dimana Kevin bisa lebih berinteraksi dengan banyak teman, dan lebih banyak berkegiatan di sekolah sehingga mau tidak mau membuat Risa harus merasakan bagaimana repotnya menjaga kevin dan juga Lisa.
Ya Risa, lupa jika dia baru kemarin merasakan bagaimana perjuangan melahirkan Lisa, baru kemarin rasa Risa mendengar tangisan seorang bayi, yang membuat setiap malamnya harus terjaga karena tangisan Lisa, terkadang Risa dan Lian akan bergantian untuk menjaga Lisa, merasakan bagaimana cemasnya melihat putri kecilnya harus sakit, Lisa sempat dirawat dirumah sakit karena Lisa alergi dengan susu ASI Risa,
tapi semua itu sudah berlalu dan hanya menjadi kenangan yang akan terus dikenang hingga 10 tahun kemudian atau bahkan lebih dari 10 tahun. Risa dan Lian memutuskan untuk tidak menambah anak mereka karena kondisi Risa yang sulit untuk melahirkan, wajar karena diusia yang masih 21 tahun dia harus melahirkan Karena normalnya wanita usia matang adalah usia 23 tahun.
Sekarang kedua anaknya sudah menginjak usia dewasa dimana rumah akan terasa sepi karena keduanya akan saat jarang berada dirumah, apalagi sekarang Kevin di usianya yang masih muda berani mengambil alih perusahaan ayahnya, Risa masih ingat betapa lucunya Kevin waktu dia masih kecil, sekarang sudah berubah menjadi seorang pria dewasa yang akan mungkin sebentar lagi akan menikah atau mungkin akan memiliki seorang kekasih, putra kecilnya yang dulu sangat manja padanya sudah menjadi pria dewasa yang sangat mandiri dan tentunya tampan yang menurut Risa bisa melebihi ketampanan Lian, usia Kevin adalah 26 tahun.
Untuk Lisa, dia menjadi seorang gadis yang sangat ceria dan juga ceroboh seperti Ibunya, Lisa yang dulunya sangat manja pada ayahnya, Lisa yang dulu selalu menanyakan kapan ayahnya kembali, Lisa yang selalu mengganggu kakaknya yang sedang belajar, kini berubah menjadi seorang gadis cantik yang sangat mandiri, Lisa adalah tipikal orang yang sangat cerewet ketika kita sudah lama mengenal tapi ketika baru pertama kali bertemu dia akan cenderung pendiam. Usia lisa adalah 19 tahun yang masih duduk dibangku kuliah.
Risa hanya bisa tersenyum manis ketika mengingat semua itu, benar-benar membuatnya merindukan masa-masa itu, Risa wanita berusia 39 tahun masih terlihat sangat cantik walaupun usianya sudah mau memasuki 40 tahun, dan Lian pria itu masih saja tampan walaupun usia sudah memasuki usia 43 tahun yang masih terlihat usia 30 tahun yang kadang membuat Risa terkadang kesal ketika mereka berdua sedang jalan untuk sekedar berjalan-jalan dengan Lian, mereka selalu mengira jika Risa lebih menyukai pria dengan usianya yang lebih muda darinya,
Membuat sarapan adalah hal rutinitas yang dia lakukan ketika kedua anaknya dan suaminya masih memejam mata, maka dia sudah sibuk dengan urusannya di dapur, selain membuat sarapan dia juga akan membuatkan bekal untuk anaknya.
“morning Ibu, kenapa Ibu melamun? Apa yang sedang Ibu pikirkan?” tanya Lisa yang ternyata sudah berada disamping Risa, Lisa terlihat sangat rapi dengan pakaian kuliahnya.
“tidak, hanya saja Ibu sedang mengenang masa lalu saja saat kalian lebih sering bertengkar merebutkan makan daripada mainan, apa kamu ada kuliah Pagi Lisa?” jawab Risa yang melanjutkan acara masaknya yang sempat tertunda.
“Ya, minggu ini aku akan lebih sering kuliah pagi, apa yang Ibu buat? Apakah aku boleh membantu?”
“tidak perlu, Ibu hampir selesai, bagaimana jika membantu menata piring dimeja makan untuk kita”
“baiklah” ucap Lisa yang langsung mencari piring.
“morning honey,” ucap Lian yang mulai berjalan mendekati Risa dan berikan satu kecupan di bibir tipis Risa, dia sempat terkejut dengan tindakan Lian yang tiba-tiba menciumnya, apa dia tidak melihat ada Lisa disini?
Meninggal Risa begitu saja dengan keterkejutannya, Lian melangkah kemeja makan untuk melihat Lisa yang sedang mengelap piring yang akan mereka gunakan.
“morning little princess Ayah, kamu ada kuliah pagi sayang?” untuk Lisa, Lian memberikan satu kecupan kecil di kening Putri kecilnya yang dahulu sangat manja padanya, yang terkadang membuat Lian sulit untuk pergi bekerja jika Lisa sudah bangun.
“morning Ayah, Ya aku ada kelas kuliah pagi”
“putri Ayah sekarang sudah dewasa, bagaimana jika Ayah jodohkan dengan anak teman ayah”
“Ayah! Kamu selalu saja membahas itu, Lisa masih mau menggapai cita-cita Lisa menjadi seorang dokter Ayah! Kenapa ayah tidak menjodohkan saja Kakak kenapa haru aku”
“aku setuju dengan ayah!” seru Kevin yang baru saja sampai di ruang makan, dengan seragam kantornya dan tak lupa dengan tas kantornya, dia terlihat sangat dewasa dan berwibawa.
“Ibu!” ucap Lisa yang mulai memajukan bibirnya menjadi cemberut
“kenapa kalian sangat suka menggoda Lisa, putriku ini ingin menjadi dokter bukan mau menikah!” ucap Risa yang sedang meletakan hasil masakannya kepiting Lian dan Kevin
“aku takkan berbicara seperti jika anak temanku tidak mengatakam jika putranya tertarik dengan Lisa” ucap Lian yang mulai menyantap sarapannya.
“aku tahu! Pasti Sean putra dari Tuan park, teman kerja Ayah” seru Kevin yang masih saja ikut membantu ayahnya yang menggoda Lisa.
“Lian! Kevin! Sudahlah cukup! Jangan menggoda putriku, lebih baik kalian sarapan sebelum kalian terlambat”
Sarapan pagi ini berjalan dengan baik seperti biasanya, yang selalu diawali dengan candaan yang terkadang Lian atau Kevin mulai terlebih dahulu, sasaran mereka adalah Lisa yang gampang sekali terpancing sama seperti Ibunya. Dan satu persatu dari mereka mulai pergi yang diawali dari Kevin lalu Lisa, hingga menyisakan Risa dan Lian yang masih di dapur.
“kapan kau akan berangkat?” tanya Risa yang sedang membersihkan piring di wastafel.
“apa kamu mengusirku?” tanya Lian yang masih duduk di meja makan, dia sedang menikmati kopi buatan Risa sambil membaca koran.
“Ya! Kau menjadi manja semenjak Kevin mengambil alih perusahaan!”
“jika itu bisa membuat kita lebih sering berdua denganmu, maka akan sering aku lakukan”
Tanpa Risa sadari pria menyebal itu sudah berdiri di belakangnya, yang membuatnya terkurung sangat mendapatnya. Lian meletakan tangannya di sisi-sisi Risa.
“menjauhlah, bagaimana jika Kevin dan Lisa melihatnya” Risa mencoba mendorong jung Lian untuk berhenti mengurung dirinya dengan tubuh kekarnya.
“mereka sudah pergi, disini hanya ada kita berdua Risa” setiap ucapan yang keluar dari mulut Lian terasa begitu ada penekanan.
“baiklah, kau mau apa?”
“dirimu! Ayo membuat rumah ini menjadi ramai kembali” dengan sengaja Lian mengangkat sudut bibirnya di depan Lisa dan menarik dagu wanita dihadapannya.
“tidak mau! Tidaklah kau malu dengan Kevin dan Lisa! Mereka sudah dewasa! Sudah lebih baik kamu segera berangkat, bukankah kamu ada meeting pagi ini?” sebisa mungkin Risa mengalihkan perhatian dengan mencoba merapikan pakaian Lian dan dasinya, lalu mendorongnya menuju pintu keluar.
“kenapa sekarang kamu tidak romantis seperti dulu Risa” dengan sedih Lian berbicara seperti itu.
“bye, Hati-hati dijalan, mengemudilah dengan baik dijalan, dan jangan lupa untuk mengabariku jika kamu pulang malam”
Risa langsung mendorong Lian untuk masuk kedalam mobil, lalu memberikan lambaian tangan pada Lian yang mulai melangkah pergi kekantor.
“semua sudah pergi aku bisa menonton drama kesukaanku” ucap Risa yang melangkah masuk kedalam rumahnya.
Setelah selesai dengan sarapan mereka, Kevin mengajak Lisa untuk berangkat bersama, walaupun Lisa tahu jika mereka berbeda arah, tapi sepertinya ada hal yang ingin kevin katakan padanya, sekarang kini kedua hanya terdiam di dalam mobil menuju Universitas Seoul, dimana tempat Lisa berkuliah.
“Lisa, bagaimana dengan kuliahmu? Kenapa kamu tidak memberitahu kita kamu masuk jurusan kedokteran?” tanya Kevin, matanya masih fokus mengemudi.
“kuliah? Kuliahku baik-baik saja”
Tak ada jawaban dari Kevin setelah mendengar jawaban Lisa, dan keheningan datang kembali menyelimuti keduanya, keadaan di dalam mobil kembali menjadi sepi. Kevin hanya bisa menghela nafas panjang, topik apa yang harus dia bicara dengan Lisa, keduanya sekarang sangat jarang bertemu, mereka jarang bermain ataupun mengobrol bersama membicarakan hal yang tidak pasti.
“Lisa? Apa aku berubah?” tanya Kevin, entah pertanyaan apa yang diajukan pada Lisa, sampai membuat Anaknya langsung menatap ke arahnya.
“maksudku, kita sekarang jadi jarang berbicara, suasana keheningan yang terus menghantui kita, seperti ada dinding yang menghalangi kita, aku merindukan tawa adik kecil manis”
“kamu yang membuat kita menjadi renggang kakak, semenjak kamu bekerja diperusahaan Ayah, eh--Bukan semenjak kamu masuk SMA, kamu berubah kakak, aku kehilangan kakak yang selalu ada untukku”
“Lisa, maafkan aku, usiaku sudah tidak memungkinkan untukku, selalu meluangkan waktu untukmu, banyak yang harus aku pelajari, karena ayah ingin aku menjadi CEO, tahun ini aku akan dipromosikan”
“tidak apa-apa kakak, aku tahu itu, sekarang aku mempunyai banyak teman di kampus, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku” Lisa menjawab sambil tersenyum manis saat Kevin menatap ke arahnya.
“aku selalu ingin melindungi, tapi aku juga tidak bisa melarangmu ataupun memaksamu, jika kamu membutuhkan bantuan jangan sungkan untuk meminta padaku Lisa, jika suatu hari nanti kamu jatuh cinta pada seseorang, jangan mencoba untuk menyembunyikan dariku, Lisa ingatlah kita ini bersaudara”
“aku mengerti kakak, terima kasih sudah mau mengantarku”
Tepat setelah Kevin selesai berbicara, mereka sudah berada di depan gedung Universitas Seoul. Tanpa menunggu lama Lisa langsung memakai tasnya lalu membuka pintu dan keluar. Sebelum masuk dia menyempatkan diri untuk melambaikan tangannya ke arah mobil Kevin yang mulai melajukan mobilnya meninggalkan Universitas Seoul.
“Lisa” ucap teman Lisa yang dari kejauhan, dia berlari mendekati Lisa yang berhenti di tempatnya.
“Lisa, siapa yang mengantarmu tadi? Bukankah kamu sedang dekat dengan Sean? Lalu siapa lelaki itu” tanya Sona teman Lisa, yang sekali bicara akan selalu memberikan beribu-ribu pertanyaan.
“bisakah kamu tidak memberikan aku pertanyaan yang begitu banyak? Aku bingung untuk menjawabnya Sona!” Kini keduanya berjalan bersama, dimasukin kelas mereka.
“dia adalah kakakku dan bisakah kamu berhenti mengatakan jika aku sedang dekat dengan Sean, kita hanya teman! Aku juga tidak mau menjadi pacarnya”
“apa kakakmu? Sejak kapan kamu memiliki kakak,Lisa! kamu bahkan tidak pernah bercerita padaku”
“aku lupa untuk menceritakannya, dia jarang ada dirumah Karena lebih sering berada di luar negeri”
“baiklah nanti kamu cerita tentang kakakmu”
Tak lama dosen pun datang, membuat Lisa dan Sona untuk sementara waktu memberhentikan pembicaraan mereka yang mungkin akan berlanjut lagi nanti setelah selesai kuliah mereka. Hingga hari sudah menunjukan pukul jam 2 siang, jam dimana Lisa sudah selesai dengan kuliahnya.
“Sona, bisakah kamu menemaniku mencari buku di perpustakaan? Aku butuh beberapa buku untuk membantuku menyelesaikan tugasku” ucap Lisa.
“baiklah, tapi jangan lama-lama karena aku harus menjaga toko kue Ibuku”
“aku pastikan hanya 1 jam, jika lewat dari satu jam kamu boleh meninggalkan aku”
“ayo Jung Lisa, jangan membuang waktu” ucap Sona yang menarik tangan Lisa, karna letak perpustakaan cukup jauh dari tempat mereka yang berlokasi di lantai tiga.
Butuh 15 menit untuk sampai di perpustakaan, mata Lisa langsung berbinar ketika melihat ribuan buku bertebaran disana, tersusun rapi di dalam rak.
Sona hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika dia mulai ditinggal sendirian di tempat duduk untuk membaca, “Lisa ingat janjimu, jika nanti kamu lewat kamu harus mentraktirku”
Lisa berjalan menelusuri rak-rak buku, dia mencoba mencari buku tentang penyakit kanker, dan mungkin beberapa novel, Buku bagi Lisa adalah dunia keduanya yang tidak bisa dilepaskan.
Saat tangan ingin mengambil buku yang dia cari, sebuah tangan besar juga seperti ingin mengambil buku itu, tepat ketika dia menatap ke samping wajahnya langsung bertemu dengan pria yang memegang tangannya.
“Lisa kita bertemu lagi” Ya pria itu adalah pria yang sedari pagi dibicarakan oleh ayah dan kakaknya, Park Sean putra satu-satunya Tuan Park.
“bisakah kamu melepaskan tanganku, jika kamu ingin mengambil buku itu, aku tidak masalah” sebenarnya Lisa sangat tidak ingin bertemu dengannya, pria ini sangat suka mendekati semua wanita di kampus ini.
Bukannya menghindari, Sean malah sengaja mengurung Lisa dengan kedua tangannya, sedikit menundukan kepalanya karena tubuh Lisa yang cukup pendek menurutnya.
“Sean! Menjauhlah! Tidak bisakah kamu berhenti mendekatiku, aku tak akan pernah bisa terpengaruh olehmu”
“siapa juga yang ingin mendekatimu! Aku tampan, banyak yang mengantri untuk bisa menjadi pacarku Lisa, tapi kamu sepertinya berbeda”
“aku tidak peduli! Menjauhlah, temanku sedang menungguku, aku harus pergi”
“baiklah, nona yang pemarah, kita akan bertemu lagi nanti” ucap Sean, dia melepaskan kedua tangannya hang tadi mengurung Lisa dan mulai pergi meninggalkannya.
“Sona, ayo kita pulang”
“kamu sudah menemukan bukunya?”
“tidak”
“Hei! Lisa kenapa kamu jadi seperti itu? Tunggu aku”
Mereka kembali kerumah mereka masing-masing, arah rumah Lisa dan Sona berbeda arah, jadi ketika mereka sampai di pemberhentian bus terakhir mereka akan berpisah, Lisa kembali kerumah dengan perasaan tidak senang.
“selamat datang” ucap Risa yang langsung membukakan pintu untuk Lisa.
“terima kasih Ibu, aku lelah, aku ingin istirahat”
“Lisa apa kamu baik-baik saja?” tanya Risa yang sedikit khawatie melihat putrinya yang terlihat murung.
“aku baik Ibu, aku hanya lelah karena banyak kegiatan hari ini” ucap Lisa yang berusaha tersenyum menyembunyikan kekesalannya, 'ayo Lisa, hanya karena itu kamu sekesal itu?' ucap Lisa didalam hatinya.
“mau Ibu masakan apa hari ini?”
“apa kakak dan ayah akan pulang cepat malam ini?” tanya Lisa yang menghentikan langkahnya menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
“ayahmu akan pulang lebih awal tapi untuk kevin, dia belum memberi kabar pada Ibu”
“masakan yang Ibu buat, aku selalu menyukainya, nanti aku akan membantu ibu”
hari sudah menunjukkan pukul 7 malam, Risa dan Lisa sudah selesai menyiapkan makan malam untuk mereka. tak lama kemudian suara mobil yang sudah sangat Lisa hafal, Ayahnya sudah pulang, dengan cepat dia berjalan mendekati pintu bermaksud untuk membukakan pintu untuk ayahnya.
“selamat datang Ayah--” senyuman di wajah Lisa hilang ketika melihat sosok Sean yang pulang bersama ayahnya?
“Hai Lisa” sapa Sean yang berdiri dibelakang tubuh ayah Lisa dan ayahnya.
“selamat datang Tuan Kim” sapa Lisa dengan penuh hormat pada Ayah Sean.
“jadi ini putrimu, yang dulunya sangat lucu sekarang sudah menjadi gadis yang cantik dan juga sopan”
“ayo semua kita masuk, makan malam sudah siap” ucap Lian yang mempersilahkan Tuan Kim dan Sean untuk masuk kedalam rumahnya.
“sudah lama sekali aku tidak kesini semenjak kepergian mendiang istriku” ucap Tuan Kim, kini mereka semua sedang berkumpul dimeja makan,
“sebenar kami baru saja selesai meeting, Aku menyuruh mereka untuk mampir kesini” ucap Lian.
“Sean kamu semakin tampan saja, dulu saat bertemu denganmu, kamu masih terlihat pemalu, tapi sekarang sudah menjadi pria dewasa”
“Nyonya Risa juga masih terlihat cantik” ucap Sean dengan sopan, tanpa lupa menunjukan senyum manisnya.
“baiklah ayo kita mulai makan malamnya”
makan malam itu berjalan dengan baik, Lisa cukup takut ketika melihat Sean yang datang ke rumahnya dengan ayahnya, namun ketakutan itu hanyalah perasaanku saja, mereka kesini karena ayahnya yang mengundangnya.
Lian ga sadar sudah nyakitin Risa berulang kali