NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Tanggal merah memang selalu menjadi sahabat sejati bagi Araluna. Baginya, hari libur berarti waktu tambahan untuk berguling-guling di kasur empuknya, menonton drama Korea sampai matanya sembab, atau sekadar memikirkan strategi baru untuk menggoda Arsen. Malam itu, Luna sudah memakai piyama sutra tipis berwarna merah marun, lampu kamarnya sudah redup, dan ia baru saja akan menarik selimut sampai ke dagu.

Namun, ketenangan itu hancur saat suara gedoran keras menghantam pintu kayunya.

BRAK! BRAK! BRAK!

"Araluna! Bangun!" Suara berat Arsen terdengar tidak sabaran dari balik pintu.

Luna menggeram, ia bangkit dengan rambut acak-adakan dan wajah cemberut maksimal. Ia melangkah malas lalu menyentak pintu hingga terbuka lebar.

"APA SIH KAK! GUE MAU TIDURRRR!" teriak Luna tepat di depan wajah Arsen. "Lo nggak liat ini jam berapa? Tanggal merah itu waktunya hibernasi, bukan waktunya lo gedor-gedor kamar orang kayak penagih utang!"

Arsen berdiri di sana, sama sekali tidak terlihat mengantuk. Ia mengenakan jaket kulit hitam andalannya, celana hitam, dan memutar-mutar kunci motor di jarinya. Sifat kakunya tampak berganti dengan aura yang lebih santai namun dominan.

"Ganti baju lo. Ikut gue ke basecamp sekarang," perintah Arsen pendek.

Luna melongo, matanya yang tadi menyipit karena kantuk kini melebar. "MAU NGAPAIN KE SANA??? Ini tengah malem, Arsen Sergio! Lo mau ajak gue tawuran atau gimana?"

"Nggak usah banyak tanya. Anak-anak himpunan sama geng gue lagi ngumpul. Mereka mau ngerayain ulang tahun Rian, dan mereka maksa gue bawa lo," kata Arsen sambil bersandar di kosen pintu, matanya diam-diam menyapu penampilan Luna yang hanya memakai piyama tipis. Ia berdehem pelan, lalu membuang muka. "Dan jangan pake baju yang kurang bahan. Pake jaket gue yang tadi pagi."

Meski awalnya menggerutu, jiwa "cegil" Luna tidak mungkin melewatkan kesempatan pergi berdua dengan Arsen menembus angin malam. Lima belas menit kemudian, Luna sudah nangkring di jok belakang motor besar Arsen. Ia memakai hoodie kebesaran dan celana panjang, tangannya melingkar erat di pinggang Arsen—posisi favoritnya yang tidak akan ia lepaskan meski motor itu tidak sedang melaju kencang.

"Kak, jangan kenceng-kenceng! Gue belum mau mati muda, gue belum nikah sama lo!" teriak Luna di balik helm, suaranya teredam angin.

Arsen tidak menjawab, tapi Luna bisa merasakan otot perut Arsen mengencang saat ia semakin merapatkan tubuhnya. Arsen justru sengaja menarik gas lebih dalam, membuat Luna memekik dan memeluknya semakin erat. Di bawah lampu jalanan yang remang, Arsen tersenyum tipis di balik visor helmnya. Sifat kakunya perlahan luruh saat merasakan kehadiran Luna yang begitu nyata di punggungnya.

Basecamp anak-anak teknik dan seni itu berupa sebuah bangunan tua yang disulap menjadi tempat nongkrong estetik dengan lampu-lampu gantung dan musik yang berdentum pelan. Begitu mereka masuk, suasana langsung pecah.

"Waduuuhhh! Sang Maestro akhirnya datang membawa permaisurinya!" teriak Rian yang sudah memegang gelas berisi soda.

"Gila, Sen! Gue kira lo bakal dikurung di rumah sama bokap lo karena kejadian Clarissa kemarin," timpal Galaksi sambil tertawa, ia bangkit dan memberikan tos pada Arsen.

Luna langsung mengambil tempat di samping Arsen, ia duduk dengan gaya angkuh namun tetap manis, seolah mengumumkan pada seluruh penghuni ruangan bahwa Arsen adalah miliknya.

"Eh, Kak Rian! Selamat ulang tahun ya! Maaf nggak bawa kado, kadonya gue doain aja biar cepet dapet pacar dan nggak gangguin Kak Arsen terus," ucap Luna yang langsung disambut sorakan oleh yang lain.

Suasana makin malam makin seru. Mereka bermain kartu, bernyanyi dengan iringan gitar, dan tentu saja, sesi "curhat" mulai bermunculan. Namun, perhatian Luna teralih saat melihat beberapa mahasiswi dari fakultas lain mulai mendekat ke arah meja mereka, mencoba mencuri perhatian Arsen yang sedang duduk kaku sambil menyesap kopinya.

Salah satu cewek berambut pirang hasil bleaching mencoba duduk di samping Arsen yang kosong karena Luna sedang mengambil camilan.

"Arsen, tugas estetika aku susah banget, boleh minta tolong bantu cek nggak?" tanya cewek itu dengan suara yang sengaja dibuat mendesah.

Luna yang melihat itu dari kejauhan langsung berakting. Ia kembali ke meja dengan langkah yang sengaja dibuat terhuyung-huyung, lalu tanpa permisi, ia langsung menjatuhkan dirinya ke pangkuan Arsen di depan cewek pirang itu.

"AWWW! Kak Arsen... pusing..." rengek Luna sambil menyandarkan kepalanya di dada Arsen, tangannya melingkar manja di leher cowok itu.

Arsen terkejut, tangannya refleks menangkap pinggang Luna agar tidak terjatuh. "Luna? Lo kenapa?"

"Nggak tau... tiba-tiba pandangan aku gelap... kayaknya aku butuh oksigen khusus dari Kak Arsen deh," bisik Luna dengan mata yang dikedip-kedipkan secara dramatis ke arah cewek pirang tadi.

Cewek itu langsung mundur teratur, merasa ngeri melihat tingkah "cegil" Luna yang tidak punya malu. Teman-teman Arsen hanya tertawa terbahak-bahak melihat Arsen yang kini wajahnya merah padam karena malu sekaligus bingung menghadapi Luna di depan publik.

Setelah keramaian mereda, Arsen menarik Luna ke sudut luar basecamp yang lebih sepi, dekat tumpukan ban bekas.

"Lo bener-bener ya, Araluna. Malu-maluin gue di depan anak-anak!" bisik Arsen, suaranya rendah tapi penuh tekanan.

Luna justru tertawa, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding kayu, menatap Arsen dengan tatapan menantang. "Kenapa? Lo lebih suka cewek pirang tadi yang nempel-nempel? Atau lo mau gue pingsan beneran?"

Arsen mengunci posisi Luna dengan kedua tangannya di dinding. Sifat posesifnya yang ia tunjukkan tadi sore kembali muncul. "Gue nggak suka siapa pun nempel ke gue selain lo. Tapi lo nggak perlu segitunya, Bocil."

"Gue harus 'segitunya', Kak. Biar semua orang tau kalau lo itu zona terlarang," balas Luna. Ia menarik kerah jaket Arsen, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Lagian, tanggal merah ini kan milik kita. Lo yang ajak gue ke sini, berarti lo mau pamer kalau gue ini punya lo, kan?"

Arsen terdiam. Ia menatap bibir Luna yang kemerahan terkena cahaya bulan, lalu kembali ke mata gadis itu. Tanpa kata, Arsen menunduk dan mencium kening Luna dengan sangat lama—sebuah tindakan yang jauh lebih intim daripada sekadar ciuman biasa di depan teman-temannya.

"Ayo pulang. Makin malem lo makin ngaco," gumam Arsen sambil menarik tangan Luna menuju motor.

Malam itu, di perjalanan pulang, Luna tidak lagi berteriak. Ia menyandarkan wajahnya di punggung luas Arsen, tersenyum lebar. Ia tahu, meskipun Arsen selalu mengomel dan bersikap kaku, tindakannya malam ini membuktikan bahwa Arsen tidak bisa hidup tanpa "kegilaan" Araluna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!