Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: AYAH VS AYAH
#
"Jangan tembak," kata Adrian sambil angkat tangan. Bukan ke bodyguardnya. Tapi ke Arjuna, Pixel, dan Sari yang berdiri terkepung. "Jangan tembak mereka. Belum."
Bodyguard bodyguard itu turunkan senjata sedikit tapi tetap siaga.
"Kenapa?" tanya Arjuna. Pistolnya masih teracung ke Adrian. "Kenapa kau gak bunuh kami sekarang? Bukankah itu yang kau mau?"
"Yang aku mau," jawab Adrian sambil jalan lebih dekat tapi tetap jaga jarak aman, "adalah supaya kalian lihat sesuatu. Sesuatu yang akan bikin kalian ngerti kalau semua yang kalian perjuangkan itu sia sia."
Dia ngangguk ke salah satu bodyguard. Bodyguard itu buka pintu ruangan dimana hologram Hendrawan ada.
Tapi begitu pintu terbuka, hologram itu menghilang. Dan yang muncul di belakangnya adalah...
Hendrawan.
Hendrawan yang beneran.
Hendrawan yang duduk di kursi dengan mata tertutup, tubuh penuh kabel kabel yang tersambung ke mesin di belakangnya. Mesin yang berbunyi pelan, kayak napas mekanik.
"AYAH!" Arjuna hampir lari tapi Pixel tahan dia.
"Tunggu," bisik Pixel. "Ini gak bener. Dia mati. Kita lihat dia mati."
"Oh dia memang mati," kata Adrian santai sambil masuk ke ruangan itu. Berdiri di samping kursi Hendrawan. "Mati tiga hari yang lalu di gudang itu. Peluruku menembus jantungnya. Dia mati dalam dua menit."
"Lalu kenapa dia di sini?!" Sari berteriak.
"Karena aku hidupkan lagi," jawab Adrian dengan senyum bangga. "Dengan teknologi yang aku kembangkan selama bertahun tahun. Teknologi yang kombinasi antara AI, robotik, dan... sesuatu yang aku sebut air kehidupan."
Dia nunjuk ke cairan biru yang mengalir lewat selang selang ke tubuh Hendrawan.
"Air kehidupan ini dibuat dari sel stem yang dimodifikasi. Disuntikkan ke tubuh yang baru mati, dia bisa restart organ organ vital. Jantung mulai berdetak lagi. Otak mulai berfungsi. Tapi..."
Dia berhenti. Senyumnya jadi lebih mengerikan.
"Tapi orangnya gak sepenuhnya hidup. Dia jadi sesuatu di antara hidup dan mati. Dia bisa bergerak, bisa bicara, bisa berpikir. Tapi dia gak punya kehendak bebas lagi. Dia jadi... jadi budak. Budak yang dikontrol oleh AI yang aku program."
"Kau... kau bikin ayahku jadi robot?" Arjuna rasakan perutnya mual. "Kau bikin dia jadi boneka?!"
"Aku kasih dia kesempatan kedua," koreksi Adrian. "Kesempatan untuk hidup. Walau bukan kehidupan yang sebenarnya."
Dia tekan tombol di remote yang dia pegang. Mesin di belakang Hendrawan berbunyi lebih keras. Mata Hendrawan terbuka perlahan.
Tapi matanya... matanya bukan mata manusia normal. Ada cahaya biru samar di dalamnya. Cahaya yang gak natural.
"Hendrawan," kata Adrian. "Bangun. Kita punya tamu."
Hendrawan berdiri. Gerakannya kaku di awal, tapi kemudian jadi lebih lancar. Lebih... lebih kayak manusia. Tapi tetep ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang bikin bulu kuduk berdiri.
"Arjuna," kata Hendrawan. Suaranya persis suara ayah Arjuna. Tapi datar. Tanpa emosi. "Anakku."
"Ayah?" bisik Arjuna. Air matanya udah jatuh. "Ayah itu beneran kau?"
"Iya dan tidak," jawab Hendrawan. Atau makhluk yang dulunya Hendrawan. "Aku punya semua memori dia. Semua pengetahuan dia. Tapi aku bukan dia lagi. Aku... aku sesuatu yang berbeda."
"AKU GAK PEDULI KAU SESUATU YANG BERBEDA!" Arjuna berteriak. "KAU TETAP AYAHKU! DAN AKU AKAN BAWA KAU PULANG!"
Dia coba lari masuk ke ruangan tapi bodyguard langsung halang. Lima bodyguard ngeblok jalannya dengan badan mereka sendiri.
"Biarkan dia masuk," kata Adrian. Bodyguard itu mundur.
Arjuna masuk. Lari ke Hendrawan. Peluk dia erat.
Tapi tubuh ayahnya terasa dingin. Terlalu dingin. Dan gak ada detak jantung.
"Ayah," bisik Arjuna sambil nangis di dada ayahnya. "Kenapa? Kenapa dia lakuin ini ke kau?"
"Karena dia mau," jawab Hendrawan datar. "Dia mau gunakan aku untuk sakitin kau. Untuk buktiin kalau dia lebih kuat. Kalau dia bisa kontrol bahkan kematian."
Arjuna lepas pelukan. Natap mata ayahnya yang bercahaya biru itu.
"Tapi kau masih di sana kan?" tanyanya desperate. "Di dalam tubuh ini, di dalam mesin mesin ini, ayahku yang asli masih ada kan?"
Hendrawan diam lama. Lalu dia angkat tangannya yang gemetar. Sentuh pipi Arjuna dengan lembut.
"Aku gak tau," bisiknya. Kali ini ada sesuatu di suaranya. Sesuatu yang terdengar kayak... kayak sedih. "Aku gak tau apa aku masih manusia atau cuma program yang pikir dia manusia."
Adrian bertepuk tangan pelan. "Sangat menyentuh. Tapi sayang nya waktu untuk reuni keluarga sudah habis."
Dia jalan ke Hendrawan. Pegang bahunya.
"Hendrawan," katanya. "Aku mau kau lawan anakmu. Lawan Arjuna. Sampai salah satu dari kalian mati."
"TIDAK!" Sari berteriak dari luar ruangan.
"Oh iya," kata Adrian. "Dan kalau Hendrawan menang, kalau dia bunuh Arjuna, aku akan kasih dia kebebasan. Aku akan lepas semua kontrol. Biarkan dia jadi manusia lagi. Tapi kalau Arjuna menang..."
Dia tersenyum dingin.
"Kalau Arjuna menang, dia harus bunuh ayahnya sendiri dengan tangannya sendiri. Dan hidup dengan penyesalan itu selamanya."
"Kau gila," kata Pixel. "Kau bener bener udah gila."
"Mungkin," Adrian mengangguk. "Tapi setidaknya aku gila yang menang. Sekarang..."
Dia dorong Hendrawan ke tengah ruangan. Kasih dia pistol.
"Lawan anakmu," perintahnya. "Bunuh dia."
Hendrawan pegang pistol itu. Tangan nya gemetar. Matanya yang bercahaya biru menatap Arjuna yang berdiri beberapa meter dari dia.
"Maafkan aku," bisiknya. "Maafkan ayah."
Lalu dia angkat pistolnya. Arahkan ke Arjuna.
"AYAH JANGAN!" Arjuna gak angkat pistolnya sendiri. Gak bisa. Gak sanggup ngarahin senjata ke ayahnya sendiri.
"Aku harus," kata Hendrawan. "Aku... aku gak bisa lawan program. Gak bisa lawan perintah. Aku..."
Jarinya di pelatuk.
"Tapi aku bisa lawan cukup lama untuk bilang satu hal," lanjutnya. Suaranya makin gak stabil sekarang. Kayak ada dua suara yang berjuang di dalamnya. "Rompi. Aku pakai rompi anti peluru. Di bawah baju. Adrian gak tau. Dia pikir aku mati sepenuhnya tapi aku... aku sempet sadar sebentar sebelum dia suntik air kehidupan itu. Sempet pasang rompi yang aku sembunyiin di gudang."
"Apa maksud..." Arjuna mulai paham. "Ayah gak bener bener mati?"
"Aku mati tapi gak sepenuhnya," jawab Hendrawan. "Jantungku berhenti tapi otakku masih aktif beberapa menit. Cukup lama untuk air kehidupan masuk dan restart sistem. Jadi aku... aku setengah hidup. Setengah mati. Setengah manusia. Setengah mesin."
"Cukup ngobrol," potong Adrian. "Tembak dia sekarang atau aku yang tembak kalian berdua."
Hendrawan natap Arjuna. Dan untuk sekilas, cahaya biru di matanya redup. Digantikan dengan warna coklat. Warna mata asli Hendrawan.
"Maafkan ayah untuk semua nya," bisiknya. "Dan... dan ingat. Selalu ingat. Ayah mencintai mu lebih dari apapun di dunia ini."
Dia tembak.
BANG.
Peluru mengenai dada Arjuna. Arjuna jatuh ke belakang, napas terhenti.
"ARJUNA!" Sari berteriak. Dia coba lari masuk tapi bodyguard tahan dia.
Pixel juga berteriak. Chaos dimana mana.
Tapi Adrian tersenyum puas. "Bagus Hendrawan. Kau lakukan dengan sempurna."
Hendrawan berdiri di sana. Pistol masih di tangannya. Asap masih keluar dari larasnya. Tapi sekarang dia gemetar. Gemetar keras.
"Aku... aku bunuh dia," bisiknya. "Aku bunuh anakku sendiri. Aku... aku..."
"Kau ikuti perintah," kata Adrian. "Seperti mesin yang baik."
Tapi Hendrawan tiba tiba jatuh berlutut. Tangannya pegang kepalanya yang seperti mau meledak.
"AAAAAHHH!" dia berteriak. Jeritan yang penuh kesakitan.
"Apa yang terjadi?" Adrian mundur. "Kenapa dia..."
"Sistem nya reject," kata Pixel sambil lihat dengan mata melebar. "AI nya gak bisa handle rasa bersalah yang terlalu besar. Dia... dia lagi reboot."
Hendrawan jatuh ke lantai. Tubuhnya kejang kejang. Cahaya biru di matanya berkedip kedip cepat.
Dan di lantai, Arjuna perlahan duduk. Buka jaketnya. Di bawahnya juga ada rompi anti peluru.
Rompi yang Pixel kasih sebelum mereka berangkat.
Rompi yang sekarang punya peluru tertanam di tengahnya.
"Aku gak mati," kata Arjuna sambil napas tersengal. Dadanya sakit tapi dia hidup. "Dan ayah gak bunuh aku."
Adrian menatap dengan gak percaya. "Tidak mungkin. Aku lihat kau jatuh. Aku lihat..."
"Kau lihat apa yang aku mau kau lihat," potong Arjuna sambil berdiri pelan. "Acting. Sesuatu yang ayah ajarin aku dulu. Cara pura pura mati supaya musuh lengah."
Hendrawan berhenti kejang. Perlahan dia berdiri. Tapi sekarang gerakannya beda. Lebih... lebih manusiawi.
"Arjuna," katanya. Suaranya juga beda. Lebih hangat. "Anakku. Kau... kau hidup."
"Aku hidup Yah," jawab Arjuna sambil jalan ke ayahnya. "Dan kau juga. Kita berdua hidup."
"Tapi bagaimana..." Adrian masih shock. "Sistemnya seharusnya... seharusnya kontrol total..."
"Sistemmu punya kelemahan," kata Hendrawan sambil berbalik natap Adrian. Mata nya sekarang coklat lagi. Gak ada cahaya biru. "Kelemahan yang aku sendiri yang pasang waktu aku masih sadar di gudang itu. Waktu aku tau kau akan coba hidupkan aku lagi dengan teknologi gilamu."
"Apa yang kau lakukan?" Adrian mundur lagi.
"Aku suntik diriku sendiri dengan virus," jawab Hendrawan. "Virus digital yang Pixel bikin. Virus yang akan dormant sampai aku 'membunuh' Arjuna. Begitu aku lakukan itu, begitu emosiku mencapai puncak, virus aktif. Hancurkan kontrol AI mu. Kembalikan kehendak bebasku."
Dia angkat pistol lagi. Tapi kali ini ke Adrian.
"Dan sekarang," katanya dengan suara yang penuh kebencian yang ditahan bertahun tahun. "Sekarang kita selesaikan ini. Ayah vs ayah. Monster vs manusia. Kau vs aku."
Adrian juga angkat pistolnya. "Kau pikir kau bisa bunuh aku? Kau yang setengah mayat hidup? Kau yang gak sepenuhnya manusia lagi?"
"Mungkin aku gak sepenuhnya manusia," jawab Hendrawan. "Tapi setidaknya aku masih punya hati. Masih punya jiwa. Sementara kau... kau udah kehilangan itu sejak lama."
Mereka saling natap. Dua pria yang dulunya sahabat. Yang dulunya partner. Yang sekarang jadi musuh bebuyutan.
"Kau tau kenapa aku jadi kayak ini?" tanya Adrian tiba tiba. "Kau tau kenapa aku berubah jadi monster?"
"Karena kau lemah," jawab Hendrawan. "Karena kau gak cukup kuat untuk handle rasa sakit tanpa jadi seperti orang yang sakitin kau."
"SALAH!" Adrian berteriak. "Karena orang orang sepertimu! Orang orang yang bilang mereka peduli tapi gak pernah bener bener membantu! Kau bilang kau sahabatku tapi waktu ibuku dibunuh, waktu aku butuh kau, dimana kau?!"
"Aku di sana," kata Hendrawan pelan. "Aku di pemakaman ibumu. Aku nangis bersamamu. Aku peluk kau waktu kau roboh."
"Tapi kau gak bunuh orang orang yang bunuh dia!" Adrian berteriak dengan air mata di matanya sekarang. "Kau bilang 'biar polisi yang handle'. Tapi polisi gak peduli! Gak ada yang peduli! Dan aku... aku harus ambil keadilan dengan tanganku sendiri."
"Dan lihat dimana itu bawa kau," kata Hendrawan sedih. "Lihat jadi apa kau sekarang. Kau jadi lebih buruk dari orang orang yang bunuh ibumu. Kau bunuh ratusan ibu lain. Ratusan anak lain. Kau jadi setan yang kau bilang mau kau lawan."
"DIAM!" Adrian tembak. Pelurunya meleset, mengenai dinding di belakang Hendrawan.
Hendrawan tembak balik. Pelurunya mengenai bahu Adrian. Adrian jatuh tapi langsung bangun lagi, tembak lagi.
Chaos. Tembak menembak. Bodyguard bingung gak tau harus lindungin siapa.
Arjuna ambil kesempatan itu. Dia lari ke pintu, kasih sinyal ke Pixel dan Sari.
"Sekarang! Lari!"
Mereka lari. Keluar dari koridor. Bodyguard mau kejar tapi Adrian teriak "BIARKAN MEREKA! FOKUS KE HENDRAWAN!"
Arjuna berhenti. Noleh ke belakang. Lihat ayahnya yang masih berdiri berhadapan dengan Adrian.
"Ayah!" teriaknya. "Ayah ayo ikut!"
"Tidak!" jawab Hendrawan tanpa noleh. "Pergi! Selamatkan dirimu! Ini... ini pertarungan aku!"
"Tapi..."
"PERGI!" Hendrawan berteriak. "Ini terakhir kalinya ayah bisa kasih sesuatu padamu! Jangan sia siakan!"
Arjuna mau balik tapi Sari dan Pixel tarik dia. Tarik paksa.
"Kita harus pergi!" Sari nangis. "Kita harus hormati keputusannya!"
Mereka lari. Lari meninggalkan Hendrawan sendirian berhadapan dengan Adrian dan bodyguard bodyguardnya.
Dan di ruangan itu, Hendrawan tersenyum.
"Akhirnya," bisiknya. "Akhirnya aku bisa tebus dosaku."
Dia tembak. Adrian tembak balik.
Dan pertempuran terakhir antara dua sahabat yang jadi musuh dimulai.