NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Labirin di Tengah Laut

Angin laut di perairan utara Jawa terasa jauh lebih menusuk daripada kabut di lereng Merapi. Di atas kapal yacht cepat milik Pramudya Corps yang melaju membelah ombak malam, Alana berdiri di dek, memeluk jaket tebalnya erat-erat. Di sampingnya, Arkan menatap lurus ke cakrawala yang gelap, rahangnya mengeras. Kehilangan Bi Inah—atau Zainab—untuk kedua kalinya dalam hidupnya telah menyulut api dingin di mata sang CEO.

"Mas Arkan, jangan bengong terus. Nanti kalau ada hiu lompat, Mas nggak sempet menghindar," celetuk Alana, mencoba memecah kesunyian yang mencekam.

Arkan menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Aku hanya sedang berpikir, Lana. Zainab bilang 'The Heart of Zainab' ada di koordinat ini. Tapi sejauh mata memandang, hanya ada air. Radar kita juga tidak menangkap objek apa pun yang lebih besar dari kapal nelayan."

Ariel muncul dari ruang kemudi, membawa tablet miliknya yang penuh dengan grafik sonar. "Itu karena 'The Heart' tidak berada di atas air, Ipar. Zainab menggunakan teknologi stealth yang biasa dipakai kapal selam militer. Objek ini baru akan terlihat kalau kita berada dalam radius kurang dari satu mil dan menggunakan frekuensi khusus."

Mochi, yang sejak tadi duduk di atas meja peta, tiba-tiba berdiri. Mata emasnya berpendar redup, dan suara transmisi radio yang tadi terdengar di mobil kembali muncul dari kalung "The Blue Phoenix" yang melingkar di lehernya. Kali ini, suaranya bukan lagi rekaman, melainkan sebuah sinyal detak yang selaras dengan denyut jantung.

Deg... Deg... Deg...

"Itu dia," bisik Alana. "Jantungnya mulai bunyi."

Tiba-tiba, permukaan laut di depan mereka bergejolak. Air laut terbelah, menciptakan buih-buih putih raksasa saat sebuah struktur logam raksasa perlahan muncul ke permukaan. Bukan kapal selam biasa, melainkan sebuah platform terapung yang menyerupai benteng futuristik dengan dinding baja hitam yang kokoh.

"Gila... Bi Inah punya mainan sekeren ini?" Alana melongo. "Ini mah bukan warung barokah lagi, ini markas Avengers versi Semarang!"

Kapal mereka mendekati platform tersebut. Sebuah pintu hidrolik terbuka di bagian samping, memberikan akses masuk. Begitu mereka melangkah ke dalam, suasana berubah menjadi sangat steril dan berteknologi tinggi. Lorong-lorongnya diterangi lampu LED biru, dan aroma udara di dalamnya terasa segar, hasil dari sistem penyaringan yang canggih.

"Selamat datang, Pewaris Arkananta."

Suara itu bergema dari pengeras suara di langit-langit. Bukan suara Zainab, melainkan suara pria yang berat dan penuh wibawa.

"Itu bukan suara Julian," bisik Arkan, tangannya langsung meraba senjata di balik jaketnya.

Mereka berjalan menuju pusat platform, sebuah ruangan berbentuk kubah dengan pemandangan bawah laut melalui kaca-kaca raksasa. Di tengah ruangan, duduk seorang pria dengan pakaian formal putih, membelakangi mereka. Ia sedang asyik bermain biola, memainkan melodi sedih yang menyayat hati.

"Musik yang bagus, Om. Tapi kalau boleh jujur, suasananya jadi agak horor ya," Alana angkat bicara, suaranya menggema di ruangan itu.

Pria itu berhenti bermain biola, perlahan ia memutar kursinya. Wajahnya terlihat sangat tua namun tetap gagah, dengan luka parut melintang di pelipis kirinya.

"Adiwangsa?" Arkan tersentak. "Papa? Kenapa Papa ada di sini? Bukannya Papa harusnya ke Zurich?"

Adiwangsa Arkananta tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung seribu rahasia. "Zurich hanyalah pengalihan, Arkan. Aku butuh kalian di sini untuk melihat kenyataan yang selama ini disembunyikan oleh Zainab dan kakekmu."

"Maksud Papa apa?" Arkan melangkah maju.

Adiwangsa berdiri, ia menunjuk ke arah layar-layar besar yang tiba-tiba menyala di sekeliling ruangan. Layar itu menampilkan ribuan data, foto-foto proyek rahasia, dan sebuah silsilah keluarga yang sangat rumit.

"Zainab bukan hanya donatur, Arkan. Dia adalah arsitek dari seluruh sistem Arkananta. Dan alasan dia melindungimu bukan hanya karena kasih sayang pengasuh terhadap anak asuhnya," Adiwangsa berjalan mendekati Alana. "Zainab melindungimu karena dia tahu, kamu dan Alana adalah kunci untuk membuka proyek terakhir yang disebut 'Genesis'."

"Genesis? Mas Ariel, proyek apa lagi itu?!" Alana menatap Ariel yang juga tampak bingung.

"Genesis adalah program restrukturisasi populasi melalui kendali finansial," sahut Adiwangsa. "Kakek Waluyo ingin menggunakannya untuk menghancurkan ekonomi negara-negara kecil agar Arkananta bisa membeli mereka dengan harga murah. Tapi Zainab mengkhianatinya. Dia menyembunyikan kunci Genesis di dalam biometrik kucing itu dan memori Alana."

Tiba-tiba, suara alarm kembali melengking. Seluruh platform bergetar hebat.

"Ada serangan!" Ariel memeriksa tabletnya. "Kapal-kapal tempur tanpa logo! Mereka menembakkan torpedo!"

"Itu 'The Remnant'," ucap Adiwangsa dengan tenang, seolah sudah memprediksi ini. "Mereka tidak akan membiarkan 'The Heart of Zainab' jatuh ke tangan kalian."

"Papa, kita harus pergi!" Arkan menarik tangan ayahnya.

"Tidak, Arkan. Platform ini harus dihancurkan bersama seluruh data Genesis di dalamnya agar dunia aman," Adiwangsa memberikan sebuah kartu akses berwarna emas kepada Arkan. "Bawa Alana dan Ariel ke kapal selam darurat di bawah. Aku akan mengaktifkan protokol penghancuran diri."

"Nggak! Papa baru aja balik, masa mau mati lagi?!" Alana protes keras. "Ini keluarga hobi banget sih jadi pahlawan kesiangan yang mau meledakkan diri!"

Adiwangsa menatap Alana dengan pandangan yang lembut, sesuatu yang jarang ia tunjukkan. "Alana, kamu adalah keberuntungan terbesar dalam hidup anakku. Jaga dia. Dan Arkan... jadilah Raja yang berbeda dari aku dan kakekmu."

"Papa!"

"PERGI!" teriak Adiwangsa.

Di bawah tekanan serangan torpedo yang semakin gencar, Arkan terpaksa menarik Alana dan Ariel menuju pintu lift darurat. Saat pintu lift tertutup, Alana melihat Adiwangsa kembali memegang biolanya, melanjutkan melodi yang tadi terputus di tengah gempuran ledakan.

Mereka sampai di dermaga bawah tanah tepat saat air mulai masuk ke dalam lorong. Sebuah kapal selam kecil berwarna hitam sudah menunggu.

"Cepat masuk!" Ariel mendorong Alana.

Baru saja mereka hendak menutup pintu kapal selam, sesosok bayangan melompat masuk dari kegelapan lorong. Itu adalah Zainab! Ia tampak babak belur, pakaian kebayanya sobek, tapi matanya masih bersinar tajam.

"Bi Inah!" Alana memeluk wanita tua itu.

"Nyonya... maaf saya telat," Zainab terengah-engah. "Adiwangsa keras kepala. Dia tidak mau pergi. Tapi dia memberikan ini pada saya."

Zainab menyerahkan sebuah flashdisk kecil berbentuk mawar hitam. "Ini adalah penawar untuk virus Genesis. Gunakan ini jika suatu saat sistem itu bangkit kembali."

BOOM!

Ledakan besar dari bagian atas platform membuat struktur baja itu mulai miring. Kapal selam darurat itu meluncur ke luar, masuk ke kedalaman Laut Jawa tepat saat 'The Heart of Zainab' meledak hebat di permukaan, menciptakan gelombang raksasa yang menelan segala bukti tentang kejahatan Arkananta masa lalu.

Di dalam kapal selam yang sempit, suasana menjadi hening. Arkan duduk di pojok, menatap kegelapan di balik jendela kaca tebal. Alana duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat.

"Mas... Papa Arkan itu orang hebat," bisik Alana.

Arkan tidak menjawab, tapi ia mengeratkan pegangannya pada tangan Alana.

"Den Arkan," Zainab bicara memecah keheningan. "Adiwangsa tidak mati. Dia punya jalur pelarian sendiri yang tidak ia beritahukan pada kalian agar 'The Remnant' percaya bahwa dia sudah hancur. Dia akan bertemu kalian lagi, saat waktunya tepat."

Alana mendesah lega. "Tuh kan! Kebiasaan! Hobinya prank kematian! Besok-besok kalau Om Papa mati beneran, aku nggak bakal percaya, aku kira lagi main petak umpet!"

Ariel terkekeh, meski matanya tetap fokus pada kemudi kapal selam. "Keluarga kita ini beneran butuh terapis kelompok, Lana."

Satu bulan kemudian, di Jakarta.

Kehidupan mulai kembali tenang. Arkananta Group secara resmi dibubarkan dan aset-asetnya dialihkan sepenuhnya ke Yayasan Phoenix yang dikelola Alana. Dana Perwalian Global mulai mengalir, membangun ribuan sekolah dan rumah sakit tanpa ada campur tangan "The Board".

Alana berdiri di taman panti asuhan, melihat anak-anak sedang bermain bola. Arkan menghampirinya, kali ini ia benar-benar hanya memakai kaos oblong dan celana pendek—penampilan yang dulunya sangat ia benci.

"Gimana, Nyonya Besar? Sudah siap buat pensiun dari dunia mafia?" goda Arkan.

Alana tertawa, ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Siap banget, Mas. Aku cuma mau jadi Nyonya Zainab yang hobi belanja di pasar tradisional dan ngurus kucing oren kesayangan."

Mochi, yang sedang menjilati kakinya di bawah pohon, tiba-tiba berhenti. Mata emasnya bersinar sesaat saat ia menatap sebuah bayangan pria yang berdiri di kejauhan, di balik gerbang panti. Pria itu memakai jas putih, memegang sebuah biola, dan tersenyum tipis ke arah mereka sebelum menghilang di balik kerumunan orang.

"Mas... tadi itu..."

"Iya, Lana. Aku tahu," Arkan tersenyum. "Biarkan dia menjadi bayangan yang menjaga kita."

Alana menatap ke arah gerbang yang kosong itu, lalu tersenyum lebar. Ia mengambil ponselnya dan mulai membuka sebuah aplikasi penulisan novel.

"Mas, aku dapet ide buat judul novel baru aku."

"Apa?"

"Nyonya Zainab dan Kucing Bermata Emas."

1
Afsa
Sepertinya ada penghianat atau penyusup di kediaman Arkan
Afsa
Keren Kak.. seperti nya seru
Siti Naimah
serem banget yang dihadapi Alana..
semoga Alana bisa melewati ini semua
Siti Hodijah Enjen
haha pembawaannya lucu aku suka😄
Sefna Wati: 😄😄🤭
lanjut baca terus ya kak kalau suka,terimakasih sudah mampir dan baca ceritaku...
mampir juga di novel lainnya ya siapa tau suka 🙏🙏🙏🥰
total 1 replies
deepey
kadang mulut arkan juga setajam silet
Sefna Wati: iya bener
tolong dong Arkan... mulutmu dijaga😁😁😁
total 1 replies
deepey
jadi alana pasti bingung...
Sefna Wati: bener banget,pasti bingung banget ya kak jadi Alana ini🤣
total 1 replies
deepey
saling support ya kk
Sefna Wati: oke kk💪💪💪💪
total 1 replies
deepey
alana beruntung banget ketemu arkhan
Sefna Wati: iya bener kak...
makasih ya sudah mampir dan jangan lupa tinggalkan like jika kakak menyukai ceritanya😁😁🤫
total 1 replies
deepey
semangat Alana. 💪
Sefna Wati: 💪💪💪💪semangat💪💪💪💪💪


jangan lupa mampir di cerita yang lain ya kak
mana tau kkk juga suka ceritanya🙏🙏🙏
total 1 replies
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
deepey: semangat berkarya ya ka. salam kenal
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!