Sifa tidak pernah menyangka dengan nasib nya, ia harus menjadi Pengantin Pengganti, Kakak kandung nya sendiri yang tiba-tiba kabur di hari pernikahan nya sendiri.
Bagaimana Kisah nya.. hanya di Novel Pengantin Pengganti
Follow Me :
Ig : author.ayuni
Tiktok : author.ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
" Selamat Hari Raya idul Fitri 1446 H bagi teman-teman pembaca yang merayakan nya..
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan & keberkahan oleh Allah swt. Aamiin.. "
Terima kasih author ucapkan kepada pembaca semua, yang sudah setia menunggu kelanjutan novel ini. Sudah 20 bab author mau cek ombak nih.. Semoga semakin ramai ya.. agar author semakin semangat untuk up kelanjutan kisah Sifa dan Revan..
Selamat membaca kembali.... ♥️
🌺🌺🌺
Semakin hari hubungan Sifa dan Revan semakin membaik, sikap Revan pun semakin lembut kepada Sifa, tidak seperti sebelum-sebelumnya.
Sifa pun menyambut itu, karena bagaimanapun mereka adalah sepasang suami istri, hanya saja perlu waktu bagi Sifa dan Revan untuk sampai di titik ini.
Sifa sedang menonton televisi di ruang tengah, tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi, ia beranjak dari duduknya berjalan menuju pintu utama.
Sebelum membuka pintu ia memastikan dulu siapa yang ada di luar, namun sekilas ia melihat mobil suaminya terparkir tepat di halaman depan yang mengarah ke teras rumah.
" Sepertinya teman Mas Revan " guman Sifa dalam hati.
Ia perlahan membuka pintu rumah, terlihat seorang pria sudah berdiri di hadapannya.
" Revan nya ada ? " ucap pria itu.
" Oh ya ada, silakan masuk " ucap Sifa mempersilakan.
" Silakan duduk " susul Sifa lagi.
" Terima kasih "
" Saya panggilkan dulu Mas Revan " ucap Sifa berjalan masuk kedalam rumah.
" Ya Terima kasih " balas pria itu lagi.
Sifa berjalan menaiki anak tangga, karena tadi Revan pamit untuk ke kamarnya.
Tok tok tok
" Mas " Sifa memanggil Revan.
Tidak lama pintu kamar terbuka.
" Ada apa ? " tanya Revan.
" Ada tamu " jawab Sifa.
" Yang anterin mobil ? " tanya Revan lagi.
" Sepertinya "
" Oke "
Revan berjalan menuruni anak tangga di susul oleh Sifa. Revan tersadar jika Sifa mengekorinya.
" Mau kemana ? " tanya Revan.
" Ke bawah " jawab Sifa.
" Tunggu aja disini, kalau perlu di kamar " ucap Revan.
" Ponselku dibawah Mas "
" Nanti saya bawakan, tunggu disini aja "
Sifa hanya mengangguk, lagi-lagi ia menjadi heran sendiri dengan sikap Revan akhir-akhir ini.
Sifa memperhatikan Revan menuruni anak tangga lalu berjalan menuju ruang tamu, ia pun akhirnya kembali masuk kedalam kamar, sesuai perintah Revan.
" Emang nya pria itu siapa sih ? Kenapa Mas Revan ngelarang Gue buat turun ke bawah "
" Ck "
Entah mengapa malam ini ia merasa gerah, ia lalu melihat jam dinding yang terpajang baru menunjukan pukul 7.15 malam.
" Belum malem-malem banget, mandi ah " gumam Sifa.
Ia lalu menyambar handuk yang ia gantung di dekat lemari pakainnya.
Sifa mandi malam, untungnya di rumah ini menggunakan mesin pemanas air otomatis sehingga jika Sifa ingin mandi malam atau cuaca sedang dingin ia bisa mandi menggunakan air hangat.
15 menit berlalu, rekan kerja Revan sudah pulang, ia pun setelah menutup dan mengunci pintu, memeriksa kembali keadaan rumah lalu ia berjalan untuk kembali ke kamarnya, namun ia teringat setelah melewati ruang televisi, ia melihat ponsel Sifa tergeletak di atas meja. Revan pun mengambil ponsel itu, untuk diberikan ke Sifa.
Tok tok tok
Klek
" Dek " panggil Revan membuka pintu kamar Sifa yang tidak dikunci.
Tidak ada Sifa disana, ia berjalan masuk ke kamar, lalu mengedarkan pandangannya, sayup-sayup terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.
" Sedang mandi rupanya " batin Revan.
Ia menyimpan ponsel Sifa diatas nakas, ia duduk di pinggiran kasur kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, semenjak beberapa bulan terakhir ia sangat jarang masuk ke kamar ini, kamar ini pun sudah sangat berubah dengan berbagai ornamen berwarna pink sangat identik dengan Sifa.
Sebelumnya kamar ini dijadikan kamar tamu oleh Revan, jika ada kerabat atau keluarga yang akan menginap ia mempersiapkan kamar ini, walaupun sebenarnya itu sangat jarang.
Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia berniat menunggu Sifa selesai mandi, entah mengapa ia merasa nyaman di kamar yang Sifa tinggali.
Sambil menunggu Sifa, tidak terasa matanya tidak dapat di kompromi, kantuk pun melanda, ia perlahan memejamkan matanya, Revan pun tertidur.
Disaat yang bersamaan Sifa sudah selesai dengan aktifitasnya di kamar mandi, ia lupa jika ia tidak membawa baju ganti ke dalam kamar mandi, ia hanya menggunakan handuk lalu membuka pintu kamar mandi, baru saja kaki nya melangkah keluar kamar mandi ia di kagetkan oleh seseorang yang terbaring di kasurnya.
Sifa membelalakan matanya.
" Mas Revan "
Sifa buru-buru kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Brakkkkk
Pintu kamar mandi ditutup cukup kencang membuat Revan pun kembali terbangun.
" Apaan sih " guman Revan bangun dari tidurnya.
" Sifa mandi atau tidur, lama banget " gumam Revan lagi sambil melirik arloji di pergelangan tangannya.
Tidak lama Sifa keluar kamar mandi dengan menggunakan pakainnya yang tadi.
" Mas ada apa disini ? " tanya Sifa lalu berjalan menuju lemari pakaiannya.
" Itu ponselmu " ucap Revan singkat.
" Ya makasih " balas Sifa, ia lalu berjalan kembali ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
" Ma..s " baru saja Sifa akan berbicara ia melihat Revan sudah kembali tertidur di kasur nya.
" Bukannya pindah ke kamar nya sendiri sih " ucap Sifa seraya masuk kedalam kamar mandi.
Tidak lama ia kembali keluar kamar, ia menghampiri Revan yang tertidur di kasurnya.
" Mas.. " Sifa memberanikan diri menggoyangkan tubuh Revan untuk membangunkannya.
" Hmm.. " Revan tanpa membuka kedua matanya.
" Kenapa tidur disini ? " tanya Sifa.
Revan membuka perlahan matanya. Ia bangun lalu duduk di pinggiran kasur.
" Memangnya gak boleh ? " tanya Revan.
Sifa hanya tersenyum kikuk, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Ya sudah kamu istirahat " ucap Revan beranjak dari duduk nya berjalan keluar kamar Sifa.
Sifa memperhatikan punggung Revan hingga tak terlihat dari pandangannya.
Ia hanya tersenyum kecil, giliran dirinya yang merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit, pikirannya menerawang jauh.
" Jangan berpikir yang macam-macam Sifa " gumannya sendiri.
Kira-kira apa ya yang sedang Sifa pikirkan ??
🌺🌺🌺
Jangan lupa untuk dukung author dengan vote, like dn komennya ya ❤️