NovelToon NovelToon
My Secret Husband

My Secret Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Aliansi Pernikahan
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: lestari sipayung

Kelanjutan dari Kurebut Suami Kakak Tiriku, kisah ini mengikuti Rei Alexander, anak angkat Adara dan Zayn, yang ternyata adalah keturunan bangsawan. Saat berusia 17 tahun, ia harus menikah dengan Hana Evangeline, gadis cantik dan ceria yang sudah ditentukan sejak kecil.

Di sekolah, mereka bertingkah seperti orang asing, tetapi di rumah, mereka harus hidup sebagai suami istri muda. Rei yang dingin dan Hana yang cerewet terus berselisih, hingga rahasia keluarga dan masa lalu mulai mengancam pernikahan mereka.

Bisakah mereka bertahan dalam pernikahan yang dimulai tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari sipayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AURORA DAN HANA

Bel sekolah berbunyi, menandakan waktu bagi para siswa untuk pulang dan kembali ke rumah masing-masing. Hana melangkah dengan santai menuju tempat biasanya, di mana Rei akan datang menjemputnya seperti biasa. Udara bebas menyapu wajahnya, sementara suara langkah kaki para siswa lain yang bergegas pulang terdengar di sekelilingnya.

Namun, di tengah ketenangannya, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat.

"Ayo!"

Hana tersentak dan dengan cepat menoleh. Matanya membesar saat melihat siapa yang kini berjalan di sampingnya dengan ekspresi yang tak terbaca. Itu Aurora—seseorang yang dikenalnya cukup baik, namun tak pernah menyangka akan menariknya begitu saja tanpa peringatan.

"Eh?! Apa—" Hana terkejut, tapi Aurora terus melangkah, seakan tak memberi ruang bagi pertanyaan.

"Aku ingin makan siang denganmu!" ujar Aurora dengan nada tegas, seolah tak peduli dengan keterkejutan yang jelas tergambar di wajah Hana. Gadis itu hanya bisa terdiam, masih mencoba memahami situasi yang terjadi begitu tiba-tiba. Meski bingung, langkah kakinya tetap mengikuti irama Aurora, berjalan beriringan tanpa mengajukan pertanyaan lebih lanjut.

Setelah beberapa menit berjalan, mereka akhirnya tiba di sebuah kafe kecil yang tak terlalu jauh dari sekolah. Suasananya cukup tenang, dengan aroma kopi yang samar-samar tercium di udara. Beberapa pelanggan tampak menikmati waktu istirahat mereka di sudut-sudut ruangan.

Begitu memasuki kafe, mereka memilih meja di dekat jendela, tempat sinar matahari menerobos masuk dengan lembut. Setelah memesan makanan, keduanya pun duduk berhadapan. Hana menatap Aurora dengan tatapan penuh tanda tanya, sementara Aurora hanya membalasnya dengan ekspresi santai seolah tak ada yang aneh.

Keheningan menyelimuti mereka sesaat sebelum Aurora akhirnya membuka suara.

"Kau sudah mengabarinya?" tanyanya, mengangkat alis sedikit. Tatapannya tajam, seakan menuntut jawaban segera.

Hana berkedip, butuh waktu beberapa detik untuk memahami maksud dari pertanyaan itu. "Kau maksud... Rei?" tanyanya ragu.

Aurora mengangguk pelan, menunggu jawaban lebih lanjut dari Hana.

Hana mengangguk, meski merasa sedikit aneh dengan situasi ini. "Emm, mengapa kau tiba-tiba seperti ini? Kita bahkan tidak sedekat itu. Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanyanya langsung ke inti permasalahan. Tatapannya penuh selidik, mencoba memahami maksud di balik sikap Aurora yang mendadak berubah.

Hana tahu pasti ada alasan mengapa Aurora tiba-tiba menariknya begitu saja dan membawanya ke kafe ini. Mereka bukan teman dekat—bahkan nyaris tak pernah berbicara. Hubungan mereka sebatas mengetahui nama masing-masing, tidak lebih. Jika ditanya seberapa kenal mereka, jawabannya hanya sebatas "satu keluarga asing." Itu saja.

Aurora tidak segera menjawab. Ia hanya tersenyum tipis lalu menundukkan kepala sejenak, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. "Kau benar, kita tidak sedekat itu," ucapnya pelan, namun nada bicaranya tetap terasa dingin, seakan ada sesuatu yang disembunyikan.

Hana tetap menunggu, tak ingin menyimpulkan sendiri. "Lalu? Kau ingin mengatakan apa?" tanyanya lagi, memastikan maksud sebenarnya.

Alih-alih menjawab secara langsung, Aurora justru mengajukan pertanyaan lain. "Kau tidak lihat Rei datang ke kelas dan memanggil Nathan?" Tatapannya tajam, seolah sedang menguji reaksi Hana.

Hana mengerjap, sedikit terkejut. Ia benar-benar tidak tahu. "Sejak kapan? Aku tidak melihatnya," jawabnya jujur, matanya sedikit melebar.

Aurora mengangguk pelan, lalu berkata dengan nada yang lebih datar, "Kau sedang keluar. Itu saat jam istirahat."

Mendengar penjelasan itu, Hana tiba-tiba terdiam. Ingatannya mulai menghubungkan kejadian yang sempat terlewat, dan hatinya merasa ada sesuatu yang janggal.

"Emm, apa yang terjadi pada mereka?" tanya Hana lagi, suaranya terdengar ragu. Ada kekhawatiran yang perlahan muncul di hatinya, takut jika sesuatu yang tidak diinginkan benar-benar terjadi antara mereka.

Aurora menatapnya sekilas sebelum akhirnya menjawab dengan santai, "Mereka bertengkar."

Jawaban itu keluar begitu saja, seakan bukan hal besar. Namun, meskipun nada bicara Aurora terdengar ringan, ada sesuatu di balik matanya—seperti ada maksud tertentu yang ingin ia sampaikan.

Hana terbelalak, terkejut mendengar kata-kata itu. "Bertengkar?" ulangnya tanpa sadar, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

Aurora hanya mengangguk pelan tanpa menambahkan penjelasan lebih lanjut.

Hana menunduk, pikirannya langsung tertuju pada Rei dan Nathan. Jadi, Rei benar-benar menemui Nathan? Tapi... kenapa sampai bertengkar? Nathan tidak melakukan kesalahan apa pun, bukan? Dia hanya mengatakan kebenaran. Apa salahnya memberi tahu sesuatu yang memang seharusnya dikatakan?

Hana mendesah dalam hati. Kenapa Rei harus marah? Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Perasaan gelisah mulai menguasai dirinya, membuatnya semakin ingin tahu alasan di balik pertengkaran itu.

"Pasti Rei membicarakan itu lagi," gumam Hana dengan nada kesal. Meski ia tidak bermaksud mengatakannya terlalu keras, kata-katanya tetap cukup jelas untuk terdengar oleh Aurora yang duduk di hadapannya.

Aurora yang sejak tadi memperhatikannya langsung memanggil namanya dengan nada serius. "Hana!"

Hana tersentak dari lamunannya dan menatap Aurora dengan dahi mengerut. Ada sesuatu dalam sorot mata gadis itu yang membuatnya merasa seolah sedang diinterogasi.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Aurora, kali ini lebih tegas, tak ingin Hana menghindari pertanyaan.

Hana terdiam sejenak, merasa ragu apakah ia harus menceritakan semuanya. Ada bagian dalam dirinya yang ingin tetap menyimpan cerita ini untuk dirinya sendiri, tetapi di sisi lain, ia juga merasa tidak ada alasan untuk menyembunyikannya.

Setelah menarik napas dalam-dalam, Hana akhirnya memilih untuk berkata jujur. "Semuanya berawal ketika aku mulai mencurigai Rei dan sebangkuku, Livy." Ia berhenti sejenak, mengamati ekspresi Aurora sebelum melanjutkan. "Aku sering melihat mereka saling menatap, seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Awalnya aku mencoba mengabaikannya, tapi semakin lama semakin sulit untuk tidak memperhatikan."

Aurora masih diam, mendengarkan dengan seksama.

"Pada hari itu," lanjut Hana, "aku melihat mereka berbicara berdua di belakang sekolah. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi perasaanku tidak enak. Aku ingin mendekat, tapi sebelum sempat melangkah lebih jauh, Nathan menghentikanku. Dia menarikku menjauh dan berkata bahwa dia ingin membicarakan sesuatu denganku nanti malam."

Aurora mengangkat alis sedikit, tapi tidak menyela.

"Kami pun bertemu malamnya, dan di situlah Nathan mengatakan semuanya. Dia memberitahuku tentang Rei dan Livy, sesuatu yang selama ini hanya aku curigai tapi tidak pernah benar-benar aku ketahui. Tapi ternyata... Rei mengetahui bahwa aku dan Nathan bertemu. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia tahu, tapi mungkin itu yang membuatnya marah." Hana menghela napas pelan, lalu menambahkan dengan suara yang lebih datar, "Padahal aku sudah mengatakan bahwa dia bebas melakukan apa yang dia mau. Hubungan kami hanya di atas kertas."

Ekspresinya saat berbicara tidak menunjukkan kesedihan yang mendalam. Wajahnya tetap tenang, seperti seseorang yang sudah lama menerima keadaan. Tidak ada kemarahan yang meluap-luap atau kekecewaan yang terlihat jelas. Ia hanya menjelaskan semuanya dengan nada yang biasa saja.

Aurora menatap Hana lekat-lekat, memperhatikan setiap perubahan dalam ekspresinya. Lalu, setelah beberapa detik, ia bertanya, "Apa kau benar-benar tidak keberatan?"

Hana terdiam. Pertanyaan itu membuatnya sedikit tersentak. Ia menatap Aurora dengan pandangan menyipit, seolah baru menyadari sesuatu.

"Sebentar..." katanya pelan, mencoba menyusun pikirannya. "Kau... sudah tahu tentang hal ini?" tanyanya, kini lebih waspada. Ada sesuatu yang terasa janggal, dan Hana ingin tahu apa yang sebenarnya ada di balik sikap Aurora ini.

1
na Nina
lanjut kak
Na Noona
lanjut dong, dri kemarin ga up up
Ayu Sipayung: Sedang proses kk, sabar ya.....

jangan lupa baca karya terbaru author sembari menunggu up selanjutnya ya...
total 1 replies
Na Noona
belum up tor
na Nina
lanjut
na Nina
lanjut tor
Na Noona
up tor
Na Noona
up tor, aku sukaaa ceritanya
Chachap
kurang panjang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!