Alana Adhisty dan Darel Arya adalah dua siswa terpintar di SMA Angkasa yang selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik. Alana, gadis ambisius yang tak pernah kalah, merasa dunianya jungkir balik ketika Darel akhirnya merebut posisi peringkat satu darinya. Persaingan mereka semakin memanas ketika keduanya dipaksa bekerja sama dalam sebuah proyek sekolah.
Di balik gengsi dan sikap saling menantang, Alana mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam hubungannya dengan Darel. Apakah ini masih tentang persaingan, atau ada perasaan lain yang diam-diam tumbuh di antara mereka?
Saat gengsi bertarung dengan cinta, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my pinkys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan
Pagi di vila keluarga Atharrazka terasa lebih sunyi dari biasanya. Semua orang masih terpengaruh oleh insiden penembakan kemarin yang menargetkan Oma tapi malah Alana yang terkena tembakan. Alana terbangun dengan rasa sedikit nyeri di lengan kirinya, tapi selain itu, ia baik-baik saja.
Saat ia keluar dari kamarnya, aroma kopi dan roti panggang langsung menyambutnya. Di ruang makan, Darel, Kavin, Shasa, serta Nenek Darel sudah duduk di sana.
Kavin dan Shasa setelah kejadian penembakan kemarin mau tidak mau kemarin ikut ke vila keluarga Atharrazka dan menginap karna, di takutkan mereka bisa jadi target karna berada di cepat Oma nya Darel.
Alana turun dan menyapa“Pagi,” sapa Alana dengan senyum tipis.
Darel menatapnya tajam penuh kekhawatiran. “Bagaimana luka kamu?”
“Eum...sudah lebih baik,” jawab Alana sambil duduk di sebelah Darel.
Shasa menatapnya khawatir. “Kamu yakin Lana? Kalau masih sakit,bilang aja,"
“Aku udah nggak papa Sha,beneran deh,” kata Alana meyakinkan.
Sementara itu,Oma Darel menatap Alana dengan penuh rasa terima kasih. “Kamu benar-benar gadis yang baik,Alana.Oma tak tahu harus bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu.”
Alana tersenyum lembut. “Alana hanya ingin menolong,Oma.”
Darel meletakkan secangkir teh di depan Alana. “Minumlah ini dulu. Setelah sarapan, aku akan bertemu seseorang yang mungkin bisa memberi informasi tentang insiden kemarin.”
Alana menatap Darel dengan penasaran. “Seseorang?siapa Darel? ”
Darel mengangguk. “Seorang informan yang sering bekerja untuk keluargaku. Aku ingin memastikan siapa yang benar-benar berada di balik serangan ini.”
Kavin yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. “Aku akan ikut. Aku ingin tahu siapa yang cukup gila untuk menyerang keluargamu di tempat umum.”
Darel menatap Kavin sejenak, lalu mengangguk. “Baiklah.”
Setelah sarapan, Darel dan Kavin berangkat menemui informan di sebuah lokasi rahasia di pusat kota Seoul.
>>DI LOKASI PERTEMUAN<<
Sebuah kafe kecil di pinggir jalan menjadi tempat pertemuan mereka. Darel dan Kavin duduk di sudut ruangan, menunggu.
Tak lama kemudian, seorang pria dengan hoodie hitam masuk dan langsung duduk di depan mereka.
“Informasi yang kalian minta sudah kudapatkan,” ujar pria itu dengan suara pelan.
Darel menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Katakan.”
Pria itu menatap mereka bergantian sebelum berkata, “Serangan kemarin bukan kebetulan. Target utama memang bukan Omamu, Darel, tapi seseorang yang kebetulan berada di dekatnya.”
Kavin mengernyit. “Siapa?”
Pria itu menghela napas. “Aku belum tahu pasti, tapi sepertinya berkaitan dengan bisnis hotel keluarga Vesper.”
Darel membeku. Keluarga Vesper? Itu berarti…
“Bunda Eleanor?” gumam Darel pelan.
Pria itu mengangguk. “Kemungkinan besar. Ada seseorang yang ingin menyingkirkan keluarga Vesper dari industri perhotelan, dan serangan itu bisa jadi peringatan.”
Darel mengepalkan tangannya. “Jadi, bukan hanya keluargaku yang dalam bahaya, tapi juga keluarga Alana?”
Pria itu menatapnya serius. “Bisa jadi. Aku akan mencari informasi lebih lanjut.”
Darel mengangguk. “Lakukan. Aku ingin tahu siapa dalang di balik ini.”
Setelah pertemuan itu, Darel dan Kavin kembali ke vila dengan ekspresi serius.
Di sana, Alana, Shasa, dan Oma Darel sudah menunggu.
“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Alana cemas.
Darel menatap Alana dalam-dalam sebelum berkata, “Bukan hal yang harus kamu pikirkan Alana.Tapi ini bukan hanya tentang keluargaku, Alana. Ini juga berkaitan dengan keluargamu.”
Mata Alana membesar. “Apa maksud kmau?”
Darel menghela napas. “Seseorang ingin menyingkirkan bisnis keluarga Vesper. Dan kemungkinan besar, serangan itu adalah peringatan.”
Alana menggigit bibirnya. Jika benar keluarganya dalam bahaya, maka ia harus bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Darel menggenggam tangannya erat. “Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh keluargamu.”
Alana menatap Darel dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk. Ia tahu, selama Darel ada di sisinya, ia tidak akan sendirian dalam menghadapi ini semua.
___
Malam ini terasa begitu sunyi, tapi di balik keheningan itu, pergerakan keluarga Atharrazka telah dimulai sedari matahari tenggelam.
Di sebuah gudang kosong di pinggiran kota Seoul, seorang pria bertubuh kekar diikat di kursi besi dengan tangan terikat erat di belakangnya. Wajahnya penuh lebam, menunjukkan bahwa ia telah mengalami ‘sambutan’ kasar dari bodyguard keluarga Atharrazka.
Di hadapannya, Darel berdiri dengan tatapan dingin, ditemani oleh beberapa orang kepercayaannya. Kavin juga ada di sana, bersandar di dinding dengan ekspresi serius.
Pria itu meludahkan darah dari mulutnya dan menatap Darel dengan mata penuh kebencian. “Kalian pikir bisa menyentuhku begitu saja? Aku bekerja untuk orang besar!”
Darel menyeringai dingin. “Orang besar? Kau pikir mereka akan datang menyelamatkanmu?”
Pria itu menggertakkan giginya, tapi tetap diam.
Darel berjalan mendekatinya, lalu berjongkok agar sejajar dengannya. “Aku hanya akan bertanya sekali. Siapa yang menyuruhmu menembak?”
Pria itu mendengus. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.”
Tanpa peringatan, Darel mengambil pisau kecil dari sakunya dan menggoreskan ujungnya ke pipi pria itu. Hanya sedikit goresan, tapi cukup untuk membuat pria itu meringis kesakitan.
"Sialan! Stssss" ringis pria itu.
"Kau berani mengumpat" desis Darel.
“Aku tidak suka diabaikan,” kata Darel dengan nada dingin.
Kavin, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. “Kalau kau tetap diam, maka kau tidak akan keluar dari tempat ini hidup-hidup.”
Pria itu mulai berkeringat. Ia menatap sekeliling, menyadari bahwa tidak ada jalan keluar baginya.
“Aku… aku hanya menerima perintah,” katanya akhirnya. “Aku tidak tahu siapa orangnya, tapi mereka membayarku untuk memastikan seseorang dari keluarga Vesper menghilang.”
Darel menyipitkan mata. “Keluarga Vesper?”
Pria itu mengangguk cepat. “Ya… awalnya targetnya bukan Oma. Tapi aku melihatnya berada di dekat target, jadi—”
Sebuah pukulan keras dari salah satu bodyguard Darel membuat pria itu tersentak ke belakang.
Darel berdiri tegak, ekspresinya semakin gelap. “Jadi, kau menembak secara asal dan hampir membunuh Omaku?”
Pria itu terdiam, ketakutan mulai merayap di wajahnya.
Darel menarik napas dalam, mencoba mengendalikan emosinya. “Siapa kontak yang memberimu perintah?”
Pria itu menelan ludah. “Aku… aku tidak tahu namanya. Aku hanya mendapat pesan dan uang di rekeningku.”
Darel menoleh ke salah satu anak buahnya. “Lacak transaksinya.”
Anak buahnya mengangguk dan langsung mengambil laptop untuk melacak transaksi terbaru dari rekening pria itu.
Sementara itu, Darel menatap pria di depannya dengan penuh kebencian.
“Aku tidak peduli siapa yang mempekerjakanmu,” katanya dingin. “Tapi kau sudah berani menyentuh keluargaku. Dan itu artinya kau sudah menandatangani hukuman matimu.”
Pria itu terbelalak. “T-tunggu! Aku hanya menjalankan perintah! Aku bisa memberi lebih banyak informasi jika—”
Sebuah suara tembakan terdengar.
Pria itu terdiam, matanya melebar dalam keterkejutan sebelum tubuhnya terkulai di kursi.
Darel menurunkan pistolnya, ekspresinya tetap dingin. “Aku tidak butuh pengkhianat.”
Kavin menghela napas pelan. “Jadi… apa langkah kita selanjutnya?”
Darel menyimpan pistolnya dan berbalik. “Kita cari tahu siapa yang membayar orang ini. Jika mereka berani menyentuh keluargaku, maka mereka harus bersiap menerima balasannya.”
Malam itu, keluarga Atharrazka memulai perburuan mereka. Dan mereka tidak akan berhenti sampai dalang di balik serangan ini ditemukan.
padahal bagus loh karyanya