Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
"Kenapa Mama diam? Mama tidak perlu lagi sembunyikan semua ini dari Silva, sebab kali ini Silva percaya bahwa Silva anak angkat Mama dan Papa," cetus Silva sembari menangis.
Mama Verli berdiri lalu menghampiri Silva dan mengusap bahu anak gadis yang sudah ia besarkan selama kurang lebih 17 tahun.
"Kalau iya kenapa, tidak ada bedanya anak angkat dengan anak kandung? Mama dan Papa menyayangi kamu seperti anak kandung, bahkan mama tidak mau kehilangan kamu dari samping mama. Sudah, sekarang tidak perlu dibahas masalah anak kandung atau anak angkat. Toh mama dan papa tidak akan berubah untuk menyayangi kamu," bujuk Mama Verli berusaha meredam kesedihan Silva.
"Mama tidak akan kehilangan Silva, karena Davis yang akan menjaganya. Davis mencintai Silva. Mama kemarin sudah tahu tentang perasaan Davis terhadap Silva, tapi Mama teguh dengan pendirian Mama, bahwa Mama hanya ingin status Silva tetap jadi anak Mama. Tapi, kalau Silva menikah dengan pria lain, otomatis Silva akan dibawa dan keluar dari rumah ini, lalu Mama akan kehilangan Silva," tutur Davis terang-terangan.
Mama Verli dan Papa Vero serta Silva dan Danis terhenyak mendengar pengakuan Davis yang mencintai Silva.
"Davis, diam kamu. Mama tidak pernah mengijinkan anak mama jatuh cinta dengan adikmu, dia tetap akan jadi adikmu. Jangan pernah merubah status Silva, biarkan dia jadi adik kalian," tegas Mama Verli membuat Davis kecewa.
"Buat apa Mama melarang kami untuk punya hubungan lebih dari kakak adik, toh kami tidak ada ikatan darah? Davis sungguh mencintai Silva. Ayo, Dek. Kamu katakan kalau kamu juga mencintai kakak, bukan?" Davis mengalihkan wajahnya pada Silva.
Dari raut wajahnya, Silva merasa enggan untuk mengatakan iya. Karena di dalam hatinya memang tidak mencintai Davis. Ia hanya nyaman dengan Davis yang menyayanginya sebagai adik, tidak lebih.
Melihat Silva menggelengkan kepalanya, Davis sangat kecewa. Tapi ia tidak peduli, yang penting ungkapan hatinya sudah ia katakan di depan kedua orang tua dan kakaknya Danis.
"Sudah, tidak perlu memaksa yang tidak ingin. Kamu lihat sendiri Silva saja menggeleng. Itu artinya dia tidak mau hubungan kalian dicemari dengan perasaan cinta. Sudah, kamu masuk kamar Silva, sekarang sudah malam. Tidak ada yang perlu dibahas lagi," pungkas Mama Verli seraya menggiring Silva dan menjauh dai ruang keluarga.
"Silva menolak Davis, itu karena sikap Mama. Davis tidak peduli Mama melarang Davis memiliki perasaan lebih terhadap Silva, yang jelas Davis akan berusaha memperjuangkan perasaan ini," teriaknya kekeuh.
"Tidak akan mama biarkan kamu memiliki perasaan itu. Kamu harus tetap menyayangi Silva seperti adik kandung kamu sendiri. Buang perasaan itu jauh-jauh. Dari dulu kalian sudah bersama-sama, tapi heran saja kenapa sekarang bisa mencintainya. Cari perempuan lain, jangan Silva adikmu," tegas Mama Verli seraya menaiki tangga mengantar Silva ke kamarnya.
"Silva, kunci pintunya. Jangan sampai kamu buka kalau Davis ingin masuk. Ingat peringatan mama, jangan bantah," ucap Mama Verli seraya mendorong tubuh Silva ke dalam.
"Ma." Silva bersuara dengan lemah, raut wajahnya terlihat masih sangat sedih.
"Kalau Silva anak angkat Mama, lantas siapa orang tua kandung Silva? Bisakah Mama tunjukkan di mana mereka?" ujar Silva terisak.
Mama Verli terhenyak mendengar permintaan Silva, jangankan menunjukkan melihat siapa orang tua Silva saja Mama Verli tidak tahu siapa, sebab saat ditemukan, Silva berada di atas tumpukan sampah.
"Mama tidak tahu siapa orang tua kamu, mama juga bukan adopsi kamu dari panti asuhan, jadi mama tidak bisa tunjukkan di mana orang tua kandung kamu."
"Jadi benar, apa kata Tante Rania kalau Silva dapat mungut dari tempat sampah? Benar, kan, Ma?" Silva menatap sang mama angkat dengan derai air mata.
"Silva dengar mama, dari manapun kamu mama dapatkan, kasih sayang mama dan papa tulus padamu. Saat itu mama menemukanmu dari pembuangan sampah, tapi lihat apakah kamu kekurangan kasih sayang dari mama, atau mama membeda-bedakan kasih sayang dengan kedua kakakmu? Tidak, kan, Sayang. Jadi, tidak usah peduli dari mana mama menemukanmu, yang jelas mama dan papa menyayangi kamu setulus hati," bujuk Mama Verli seraya merangkul bahu sang anak.
Dibiarkannya Silva menangis di dadanya, karena sejatinya Mama Verli memang menyayangi Silva tulus melebihi anak kandung.
"Tapi, Ma, kenapa orang tua kandung Silva tega membuang Silva, apa salah Silva pada mereka?" raung Silva sedih.
"Mama tidak tahu apa sebabnya kamu dibuang. Tapi mama tidak mau menyimpulkan kamu telah dibuang atau tidak, yang tahu hanyalah kedua orang tua kamu. Sudah sekarang kamu tidur, ya. Jangan sedih lagi, masih ada mama dan papa yang akan mencintai dan menyayangi kamu tulus," bujuk Mama Verli lagi seraya melepas rangkulannya.
"Kamu harus tidur, ini sudah malam. Mama keluar dulu, ya. Jangan lupa pintunya kunci." Lagi-lagi Mama Verli mengingatkan Silva untuk mengunci pintu, ia tidak mau Davis tiba-tiba masuk kamar Silva seperti sebelumnya.
Setelah yakin Silva sudah mengunci pintu, Mama Verli segera bergegas menuju kamarnya. Di pertengahan jalan menuju kamarnya, Mama Verli bertemu Davis.
"Dav, ingat jangan sampai kamu teruskan perasaanmu itu. Mama tidak mau hubungan adik kakak kamu rusak dengan rasa cinta," ucap Mama Verli.
"Mama tega, Davis tidak peduli dengan larangan Mama. Yang jelas Davis mencintai Silva. Kalau Mama masih melarang Davis untuk mencintai Silva, tunggu saja Davis pergi dari rumah ini," ucap Davis balik mengancam dan berlalu dari hadapan sang mama.
"Davis, dikasih tahu malah mengancam mama. Kamu tidak akan pergi dari rumah mama kecuali kamu sudah menikah," dengus Mama Verli seraya melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Setelah Mama Verli keluar, Silva menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia masih sedih dengan kenyataan dirinya yang dipungut dari pembuangan sampah. Bukan statusnya sebagai anak angkat yang kini ditangisinya. Akan tetapi bayangan dirinya diletakkan di atas tumpukan sampah, diibaratkan dirinya sama seperti sampah yang dibuang.
"Kenapa yang menjadi orang tua kandungku tega membuangku? Apakah aku terlalu menjijikkan dan membebankan mereka? Mereka sangat keterlaluan," umpatnya sedih dan kecewa.
Sementara di dalam kamar Davis. Davis masih belum membaringkan tubuhnya di atas ranjang.Gelengan kepala Silva saat menolaknya, kini terbayang kembali.
Davis sangat kecewa dengan sikap sang mama yang terlalu menguasai Silva. Padahal, Davis mencintai Silva dengan tulus.
"Aku tidak peduli sekeras apa mama melarangku mencintai Silva. Aku harus terus berjuang merebut hati Silva, agar ia bisa mencintaiku juga.
Davis meraih Hp nya, lalu mengirimkan pesan WA untuk Silva. Sayang sekali Silva tidak membalasnya.
gak suka banget aku liatnya...
klo menurut ku ini gak cinta sih,nafsu namanya...agak lain gaya pacaran nya...klo cinta itu pasti dijaga,orang pacaran sehat aja gak mau tiap sebentar cap cip cup...
Bika Ambon dan lapis legit 👍👍👍👍
kk adek kandung mana ada begituan klo udah besar...aku aja dilarang masuk kamar Abg ku 😅😅😅