NovelToon NovelToon
ANAK MAMA

ANAK MAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / One Night Stand / Nikah Kontrak / Cinta Paksa / Kehidupan di Kantor
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kata Kunci

Malam "panas" antara Danar dan Luna, menjadi awal kisah mereka. Banyak rintangan serta tragedi yang harus mereka lalui. Masa lalu mereka yang kelam akankah menjadi batu sandungan terbesar? atau malah ada hamparan bukit berbatu lainnya yang terbentang sangat panjang hingga membuat mereka harus membuat sebuah keputusan besar dalam hubungan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kata Kunci, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 03.

Dua mata saling beradu dengan jarak yang hampir tidak ada. Satu tangan agak kurus terlihat agak bergetar. Senyum licik terlihat dengan satu alis yang terangkat. Suasana hangat berubah menjadi sangat dingin, melebihi dinginnya daerah Fairbanks, Amerika. Perlahan sepasang mata mendekati sepasang mata lainnya yang berdiri tepat dihadapannya.

"Hello, Luna - Saphira...," ucap Danar tatkala mereka benar - benar sudah berada dijarak yang sangat dekat.

Dari alam bawah sadarnya Luna seketika menjulurkan tangannya dan menyentuh dada Danar, memberikan sedikit dorongan untuk menahan tubuh lelaki lumayan tampan itu. Tawa renyah kecil terdengar dari Danar walau hanya sesaat.

Beberapa jam sebelumnya...

Di kamar kontrakkan yang tidak begitu luas, Luna terlihat sedang bersiap dengan wajah lesu dan kantung mata cukup besar tidak lupa rona kehitaman alami menghiasinya. Sesekali bibir mungilnya terbuka cukup lebar, rasa kantuk menyerangnya tiada henti pagi itu. Bahkan untuk memegang sebuah sisir pun dirasa tidak sanggup, perlahan diletakkan sisir itu dengan pandangan masih lurus kearah pantulan dirinya di cermin. Ditepuk cukup keras kedua pipi dengan kedua tangannya, hembusan napas sangat dalam Luna terdengar jelas. Dirubah posisi duduknya menjadi lebih tegak dengan dada yang dibusungkan, ditepuk bergantian kedua lengannya dengan mengeluarkan suara penuh semangat. Perempuan muda itu berusaha mengeluarkan semangat berapi - apinya kembali.

"Luna Saphira, dengar. Semua kejadian semalam hanyalah mimpi. Iya, hanya mimpi. Hari ini adalah hari pertamaku kerja di perusahaan besar juga mentereng. So, semangat. Semangat...," ucapan motivasinya pagi itu dikeluarkan dengan suara tegas dan jelas hingga tenaga 0% nya, kini telah terisi kembali dan menjadi 100%.

Setelah itu dilanjutkan menata kembali wajah, rambut serta merapikan pakaiannya. Luna lalu berdiri dengan wajah yang sudah terbalut riasan natural serta rambut yang dikepang rapi. Diambil tas selempang agak besarnya, lalu dia berbalik untuk menuju ke arah pintu kamar, namun langkahnya sempat dihentikan dan dia berputar sekali lagi untuk memeriksa keadaan kamarnya sebelum benar - benar pergi.

Kini senyum hangat serta ramahnya kembali muncul, langkah kakinya pun dirasa sangat ringan. Hari itu perempuan berambut lurus kaku itu memutuskan memakai alat transportasi kereta, walaupun memakan waktu lebih lama namun bebas dari kemacetan jalanan. Setelah memindai kartu untuk memasuki peron, pandangan nya agak terkejut ketika kereta yang hendak ia tumpangi sudah mulai dikerubungi oleh para penumpang lain yang kebanyakan adalah pekerja seperti dirinya. Agak berlari kecil, Luna mencoba masuk menyusup diantara gerombolan orang di salah satu pintu kereta hingga akhirnya dia berhasil masuk ditambah mendapat tempat duduk dekat dengan pintu keluar. Baru saja duduk dan menghela napasnya sesaat, kedua mata Luna sudah kembali terusik oleh seorang wanita yang terlihat sedang menggendong bayinya serta membawa beberapa barang yang cukup berat. Kebetulan wanita itu berdiri tidak jauh darinya hingga Luna meraih dan membuat Si Wanita menoleh kearahnya.

"Silahkan Bu...," ucap Luna sambil berdiri dan memberi ruang untuk Si Wanita berjalan kearah tempat duduk yang ditawarkan olehnya.

"Terimakasih banyak, Mbak...," jawab Si Wanita dengan senyum lebar nan hangatnya.

Luna membalas ucapannya dan tersenyum, sepanjang perjalanan Luna bermain bersama bayi Si Wanita hingga tidak menyadari ada sepasang mata yang sedaritadi memperhatikannya dari jarak yang tidak begitu jauh. Seorang lelaki berkacamata hitam dan memakai masker duduk dengan menyilangkan satu kakinya juga bersidekap, memperhatikan semua perbuatan Luna pagi itu. Senyum lebar terkembang dibalik masker mulut yang dikenakannya.

30 menit, kereta itu membawa semua penumpangnya menuju ke stasiun tujuan. Setelah berpamitan kilat dengan Si Wanita dan bayinya, Luna turun dan melanjutkan perjalanan dengan kedua kakinya. Sekitar 10 menit kemudian sampailah dia disebuah jalan setapak cukup besar dengan pedistrian yang tertata apik hingga sangat nyaman untuk dilalui. PT. Anugerah Bintang Sukses ( ABS ), terpampang jelas nama perusahaan tempatnya bekerja, sekali lagi dirapikan rambut dan juga pakaiannya. Langkah kaki Luna semakin bersemangat menuju ke lobi utama dan berniat naik ke area divisinya berada. Saat sudah memasuki lift dan baru akan menekan tombol tutup, tiba - tiba dirinya dikejutkan oleh suara teriakan seseorang,

"Tunggu...,"

Bukan hanya berteriak, orang itu juga berlari kearah lift yang akan dinaiki oleh Luna, secara refleksi Luna menekan tombol "tahan pintu" untuk menunggu orang itu. Suara tarikan napas tersengalnya terdengar jelas setelah dia berhasil masuk dan menabrak sedikit dinding lift.

"Huft, maaf ya mbak dan - terimakasih...," ucapnya sambil mengatur napas serta membuka masker wajah juga kacamata yang dikenakannya.

Luna hanya tersenyum dan mengangguk, disaat yang sama orang itu lalu merubah posisi berdirinya, kini sudah sejajar dengan Luna serta menjulurkan satu tangannya guna berkenalan dengan perempuan manis itu.

"Dimas, mbak...," ucap orang itu yang ternyata adalah seorang lelaki muda tampan berkulit sawo matang dan cukup tinggi, berambut ikal.

Luna melihat sesaat kearah wajah Dimas lalu uluran tangannya. Senyum ramah dan hangat perempuan itu kembali muncul dan disambut juluran tangan Dimas dengan juga memperkenalkan dirinya. Perbincangan singkat pun terjadi hingga keduanya tahu bahwa mereka teman satu divisi. Luna dan Dimas akhirnya sampai di lantai yang mereka tuju, mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke ruangan tempat semua karyawan baru yang lolos tes serta wawancara. Cukup banyak peserta yang lolos dan menjalani masa training, juga sudah berkumpul sesuai dengan divisi mereka. Sekitar 5 menit dari kehadiran Luna dan Dimas, seorang pria agak muda berpakaian semi formal masuk dengan membawa sebuah berkas tebal. Kedatangan pria itu membuat seisi ruangan yang awalnya terdengar agak riuh, seketika hening.

"Selamat Pagi dan selamat datang di PT. Anugerah Bintang Sukses atau sering kami sebut PT. ABS...," ucap pria itu menggunakan mikrofon dan berdiri di sebuah mimbar kecil dihadapan semua peserta training hari itu.

Semua peserta pun menjawab salam sapa pria agak muda itu begitu juga dengan senyum ramah serta lebarnya dibalas bersamaan. Kemudian pria yang bernama Steven itu membacakan serangkaian kalimat pembukaan acara dari berkas yang dibawanya. Upacara penerimaan karyawan baru dilanjutkan dengan sesi training awal setelah pembagian karyawan sesuai dengan divisi mereka masing - masing.

Luna sendiri sudah berada di kelompok divisinya dan mulai berkenalan dengan semua temannya kecuali Dimas, kemudian dilanjutkan dengan berkenalan dengan sejumlah atasan mereka.

Para atasan Luna dan kawan - kawan langsung menggiring mereka ke ruangan Divisi Penanggung Jawab Kebersihan gedung perkantoran PT. ABS, juga sedikit menjelaskan dan memberitahu anak perusahaan ABS, dimana anak perusahaan itu berada di gedung yang sama.

Kemudian dilanjutkan dengan sesi pembekalan materi sebelum sesi praktek.

"Fiuh..," suara pelan disertai hembusan napas sedikit kelelahan terdengar dari Luna.

Perempuan muda itu bersandar sambil duduk di salah satu sudut ruangan istirahat divisinya ketika mereka diberi waktu istirahat 1 jam, tidak lupa dia memijat dan memukul pelan bagian kaki terutama betisnya yang terasa tegang dengan kedua mata yang terpejam, ketika dibuka matanya, Luna dikejutkan dengan sebuah minuman kaleng yang tiba - tiba muncul di depan matanya.

"Hehehe, minum Luna...," tawar seorang perempuan muda seumuran dengannya. Perawakan perempuan muda itu lebih pendek namun lebih ramping dengan rambut lurus tipis yang dicepol sederhana.

Luna tersenyum lalu mengambil kaleng minuman itu dan mempersilahkan teman satu divisinya itu untuk duduk. Ningning nama perempuan muda itu, dia tidak kalah ramah dari Luna namun sedikit lebih ceriwis saat berbicara. Mereka pun bersenda - gurau sambil berusaha saling mengenal pribadi masing - masing. Selepas waktu istirahat usai, sesi training pembekalan materi pun dilanjutkan, mulai dari pengenalan ruangan secara gambar, produk pembersih yang digunakan serta Standar Operasional Perusahaan ( SOP ) pun tidak luput dari materi hari itu.

"Baik, terimakasih atas kerjasama kalian pada hari ini. Sekali lagi saya sampaikan selamat datang juga selamat bergabung dengan PT. ABS, untuk schedule besok akan ada Ibu rahma yang membagi langsung tugas serta tim kalian dan juga ruangan tempat kalian bekerja." jelas Pak Steven selaku tutor juga pembicara pembuka acara training hari itu, dengan sesekali melihat kearah Ibu Rahma serta memperkenalkan secara tidak langsung kehadapan bawahannya. Ibu Rahma pun tersenyum lebar dan mengangguk pelan kearah peserta didiknya.

Setelah itu, Luna dan semu temannya bersiap untuk pulang. Perempuan berkepang itu melihat kearah jam tangan yang dikenakannya dan menaikkan kedua alis sambil mengambil tali tas, dia bermaksud untuk melangkah pergi. Namun, langkah terhenti ketika satu lengannya digenggam cukup erat oleh seseorang hingga membuat tubuhnya sedikit berputar kearah samping belakang.

"Na, Na, kamu mau pulang bareng aku nggak? Kebetulan kita searah...," tanya Ningning.

"Boleh. Ayo...," jawab Luna tanpa pikir panjang.

Mereka pun melangkah menuju pintu keluar, namun lagi - lagi langkah Luna terhenti oleh Ningning. Kini kedua alis Luna kembali naik saat melihat kearah Ningning.

"Tapi, aku ke toilet dulu ya. Kebelet...," ucap Ningning lagi dengan senyum menyengirnya.

Luna hanya mengangguk dengan senyum manisnya, diikuti langkah Ningning keluar ruangan dan menuju ke toilet terdekat. Saat Ningning ada di dalam toilet, Luna yang sendirian di sebuah koridor sangat luas serta cukup panjang itu kemudian melihat kearah sebuah dinding yang berhiaskan sebuah pajangan. Layaknya perusahaan besar, PT. ABS pun memanjang sejarah, visi dan misi, serta para pendiri dan jajarannya. Semua pajangan itu dilindungi sebuah kaca, saat sedang asik membaca perlahan tulisan dipajangan itu, pandangan mata Luna tiba - tiba berubah membulat ketika dilihat pantulan seseorang dibelakangnya. Segurat wajah yang dikenalnya, lalu dengan cepat dia berbalik untuk memastikan. Mata keduanya sudah beradu pandang dari jarak yang tidak begitu jauh, sosok itu berjalan mendekat sedangkan Luna berjalan mundur hingga menabrak dinding pajangan dan baru hendak menghindar, dengan gerakan cepat sosok itu menahan tubuh dan gerakan Luna dengan gebrakan satu tangannya pada kaca pajangan hingga terdengar sesaat suara gebrakan agak keras dan juga bergema.

"Hehehe, mau kabur lagi? Hem...," tanya sosok itu.

Masih dengan ekspresi licik mengarah ke bengis, sosok itu semakin mendekatkan tubuhnya kearah Luna hingga membuat perempuan itu menjulurkan tangannya secara tiba - tiba hingga mengenai dada sosok dihadapannya. Luna tidak berani melihat sosok itu, dia terus agak merunduk dengan tangan yang sedikit mendorong tubuh sosok yang ternyata adalah seorang lelaki. Senyum licik lelaki itu berganti senyum lebar disertai tawa kecil, tanpa aba - aba ditariknya satu tangan Luna hingga mata keduanya beradu. Napas Luna tidak karuan sama dengan detak jantungnya, ketika dia bisa melihat jelas warna retina lelaki dihadapannya juga mencium aroma napas dan wangi tubuh lelaki itu, karena tubuh mereka hanya berjarak beberapa milimeter saja.

"Danar. Ingat namaku dengan baik, Danar - Perkasa. Aku tidak perlu kan, menjelaskan seberapa perkasa diriku?" ucap Danar berbisik ke telinga Luna dengan kalimat menggodanya.

Pupil mata Luna membesar, kedua tangan yang awalnya digunakan untuk tameng kini lemas tak berdaya. Kedua kakinya diatur sekuat mungkin untuk bisa berdiri, walaupun sendi juga ototnya tiba - tiba menjadi lemas ketika mendengar ucapan Danar.

"See you very soon, my love...," ucap Danar lagi sambil melepas perlahan tangan Luna dan berlalu dari hadapan perempuan yang masih tertegun kaku sambil menahan rasa lemas di sekujur tubuhnya.

Telinga Luna berdengung, pikirannya ketika kosong hingga dia tidak mendengar suara panggilan dari Ningning.

"Na...," panggil Ningning agak keras sambil menepuk lalu digoyang ujung pundak Luna.

Sangat terkejut dan juga reflek, Luna langsung mengambil satu pergelangan tangan Ningning dan agak menyeret temannya itu, buru - buru menuju ke lift terdekat. Di dalam pikiran Luna hanya harus pergi secepat mungkin dari area itu dan jangan sampai bertemu dengan Danar lagi.

Disisi lain, Danar terlihat berjalan menuju ke ruangannya dengan hati sangat riang - gembira. Satu tangannya masuk ke saku celana, dia bersandar ke dinding lift ketika sudah di dalamnya. Tawa kecil terus terdengar dengan sesekali kepalanya tertunduk mengingat kejadian barusan.

Ting...

Suara lift yang tiba dilantai tujuan lelaki muda itu. Pintunya pun terbuka, ekspresi wajah Danar juga masih sama saat keluar namun baru melangkah beberapa meter, ekspresi senang itu langsung sirna ketika dilihat seseorang sudah menunggunya tepat di depan pintu ruangan lelaki lumayan tampan itu.

********

1
Mak e Tongblung
beberapa kali "mengangguk" kok "menganggur" , tolong diperhatikan thor
Kata Kunci: 🙇‍♀️🙇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!