NovelToon NovelToon
Patah Tumbuh

Patah Tumbuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Sistem / Berbaikan / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Matri

Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang perempuan setelah berpisah dari orang yang dicintainya. Namun, takdir berkata lain karena ada kisah lain yang muncul setelah mereka berpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Suasana sekolah sedikit menegang hari itu. Isu pembullyan tersebut sudah merebak ke mana-mana.

Elena sudah berada bersama para guru dan juga beberapa orangtua di ruang rapat. Keputusan sekolah melakukan rapat darurat diakibatkan karena situasi yang sedang kacau tersebut.

"Selamat pagi para guru dan orangtua yang hadir. Saya selaku ketua yayasan terpaksa melakukan rapat darurat. Seperti yang kita semua ketahui bahwa telah beredar sebuah video pembullyan terhadap salah satu anak dari sekolah kita. Dia adalah siswa yang menerima beasiswa full dari yayasan kita." Jelas Elena.

Ruangan sedikit riuh. Mulai terdengar bisik-bisik di antara mereka.

"Dari video yang beredar, kita bisa melihat bahwa video tersebut hanya menunjukan wajah dari korban. Sedangkan para pelaku tidak terekam. Dan lebih parahnya video tersebut sudah dimute, sehingga kita tidak bisa mendengar suara. Namun, berita baiknya adalah saya sudah mengetahui siapa saja pelaku pembullyan tersebut. Dan para tersangka adalah siswa dari sekolah kita sendiri. Hal ini tentunya sangat disayangkan karena telah mencoreng nama baik sekolah dan yayasan ini. Oleh sebab itu, tujuan dari rapat darurat ini adalah untuk memutuskan hukuman apa yang pantas kita berikan pada para pelaku." Penjelasan Elena membuat seluruh ruangan rapat menjadi semakin heboh. Mereka bertanya-tanya.

"Eeh maaf Ibu, saya ingin bertanya siapa pelakunya?" Tanya Kepala Sekolah.

"Saya akan memberitahu siapa pelakunya, setelah kita bersama-sama memutuskan hukuman apa yang pantas kita berikan. Saya tidak ingin mengambil keputusan sepihak. Dan saya perlu membahas ini bersama para petinggi yayasan dan para guru yang saat ini hadir di sini. Sebelum berita semakin tersebar luas, kita perlu cepat mengambil keputusan sesegera mungkin." Elena kembali ambigu.

"Pak Kristian, anda selaku wakil pimpinan yayasan, saya ingin bertanya pada anda. Hukuman apa yang pantas kita berikan pada pelaku pembullyan?" Elena bertanya pada Ayah dari Virgin.

"Hal tersebut sungguh sangat disayangkan Bu Elena. Menurut saya, hukuman yang pantas mereka dapatkan adalah para pelaku harus dikeluarkan dari sekolah ini dengan segera. Tanpa peduli seberapa pengaruhnya orangtua dari pelaku, dia harus tetap dikeluarkan."

"Lalu, bagaimana menurut Anda Bapak Leo. Anda selaku Bendahara yayasan dan juga sebagai salah satu orangtua murid yang juga bersekolah di sini, menurut Anda, hukuman seperti apa yang pantas diberikan pada pelaku?"

"Saya setuju dengan pendapat Pak Kristian. Pelaku wajib dikeluarkan dan kita harus melakukan Konfrensi Pers, agar nama sekolah kita tidak tercoreng. Tentunya berita ini pasti sudah menyebarluas di kalangan masyarakat." Ucap Pak Leo yang adalah Ayah dari Bobby.

"Terimakasih atas masukan Anda Pak Leo. Saya akan mengajukan pertanyaan yang sama pada Anda, Pak Budi. Anda selaku Pengacara sekolah ini dan juga salah satu orangtua murid. Saya ingin mendengar pendapat Anda." Elena mengajukan pertanyaan serupa pada Ayah Cindy.

"Tindakan ini sudah merupakan tindakan kriminal. Kita harus mencaritahu alasan kenapa anak tersebut dibully dan diperlakukan seperti itu. Saya selaku pengacara, tentunya memiliki tanggungjawab untuk menjaga agar citra sekolah ini tetap terjaga. Saya setuju dengan pendapat Pak Kristian dan Pak Leo. Para pelaku wajib dikeluarkan dari sekolah ini." Jawab Pak Budi bangga.

Elena tersenyum puas dengan jawaban yang didengarnya.

"Kebetulan Pak Jul dan Ibu Serly hadir. Kalian selaku salah satu donatur terbesar di sekolah ini dan anak kalian Ryan juga bersekolah di sini. Apa tanggapan kalian?" Tanya Elena pada kedua orangtua Ryan yang hadir bersama.

"Menurut saya. Kasus pembullyan ini sangat tidak layak untuk dilakukan. Mengingat semua anak yang bersekolah di sini adalah anak-anak dari kalangan atas, maka selayaknya kejadian ini sangat diharapkan untuk tidak terjadi. Oleh sebab itu, hukuman yang pantas diberikan pada para pelaku adalah dikeluarkan dari sekolah dan juga mereka wajib meminta maaf terhadap korban di depan seluruh siswa dan guru. Hal tersebut dapat menjadi efek jera dan juga peringatan terhadap murid-murid lain di sekolah ini. Saya berpendapat demikian." Ibu Serly memberikan suara dengan bijak.

"Baiklah. Setelah mendengarkan penjelasan dan juga pendapat dari orang-orang penting di sekolah ini, maka saya kembali melemparkan pertanyaan yang sama untuk Kepala Sekolah dan para guru."

"Saya sebagai Kepala Sekolah dan tentunya guru-guru di sini sangat setuju dengan setiap pendapat yang telah diutarakan oleh Bapak Ibu sekalian. Bagaimana para Bapak Ibu Guru? Apakah ada yang ingin memberikan masukan? " Kepala Sekolah memberi pertanyaan pada para guru.

Para guru mengangguk setuju dengan pendapat yang diberikan.

"Baik Bapak Ibu dan para guru, saya rasa keputusan sudah diambil. Dengan ini hukuman untuk para pelaku adalah dikeluarkan dari sekolah ini dan mereka diwajibkan untuk meminta maaf pada korban serta mengganti rugi untuk kerugian fisik dan mental dari korban." Elena menyampaikan kesimpulan rapat darurat.

"Ee... Lalu Ibu, se.. Sebenarnya siapa pelaku pembullyan itu?" Tanya Ibu Serly penasaran.

"Sebentar lagi kita akan mengetahuinya bersama." Elena menjawab dengan tenang.

Suasana menegang. Semua yang hadir benar-benar penasaran. Siapa pelaku pembullyan tersebut.

.

.

Elena baru saja tiba di rumah dan hendak masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Dia hendak memeriksa ponselnya dan ternyata mati. Dia mengambil charger kemudian mengisi daya ponselnya, kemudian menyalakannya. Betapa terkejutnya karena ternyata ada banyak pesan di grup kelas mereka.

"589 pesan? Banyak banget ya." Senja penasaran.

Dia membuka room chat tersebut dan betapa terkejutnya dia melihat isi pesan tersebut yang ternyata banyak menyebut namanya. Dia mengklik sebuah video. Betapa terkejutnya dia ketika melihat video tersebut. Tubuhnya lemas. Seluruh tubuhnya seketika membatu.

Di saat yang bersamaan, Hazel tiba di rumah Senja.

"Senja. Senja. Senja.." Hazel memanggil.

"Hikks.. Hikks.. Hikks." Suara tangisan dari dalam rumah terdengar.

Tanpa menunggu lagi, Hazel segera masuk ke dalam rumah. Dia mendapati Senja sedang menangis terisak-isak di ruangan tamu.

"Ah sial. Gue terlambat. Senja pasti sudah menonton video itu." Geram Hazel dalam hati.

Dengan segera, dia merampas ponsel Senja.

"Balikin ponsel aku." Senja memohon. Air matanya terus mengalir dengan wajah yang teramat shock.

"Ngga. Lo ngga boleh lihat video ini." Hazel menyembunyikan ponsel Senja.

"Aku bilang balikiiiiinnnnn." Senja berteriak. Dia merasa marah dan malu.

Hazel menolak mengembalikan ponsel Senja.

"Aku mohon. Sekarang semua orang pasti udah lihat video itu. Aku.. Aku.." Senja tidak bisa lagi melanjutkan perkataannya.

Hazel tidak tahan lagi dan segera memeluk erat tubuh Senja yang sedang bergetar hebat.

"Sssshhhhh. Tenang ya. Lo harus tenang." Hazel menguatkan sambil mendekap erat tubuh kecil Senja.

Seketika Senja pingsan.

"Senja.. Senja.." Hazel memanggil, namun Senja sudah tidak sadarkan diri.

Dia segera menggendong Senja dan menidurkannya di sofa ruang tamu. Dengan panik dia menelpon Arjun.

"Arjun, datang ke lokasi yang gue kirim sekarang. Bawa juga beberapa pengurus rumah tangga dan juga dokter." Ucap Hazel memberi perintah melalui panggilan dan segera memutuskan panggilan.

"Please Senja sadar. " Ucap Hazel memohon.

Tidak menunggu waktu lama, Arjun tiba bersama 2 orang pembantu dan dokter. Mereka segera bertindak menolong Senja yang sedang pingsan.

.

.

Setelah menunggu beberapa lama, orang suruhan Elena yang memeriksa kejadian itu tiba di sekolah.

"Nah Bapak Ibu, maaf membuat kalian menunggu. Orang yang memeriksa kejadian ini baru saja tiba. Dia membawa rekaman CCTV dan bukti yang bisa menunjukan siapa pelakunya. Silahkan diputar." Elena memerintah orang suruhannya untuk memutar beberapa temuan CCTV yang menunjukan pelaku yang sebenarnya.

Semua yang ada di ruang rapat terlihat serius dan antusias menonton video itu. Dan yang mereka lihat...

.

.

Haiii para pembaca setia. Jangan lupa ya dilike, komen dan bagikan. Sehat selalu orang baik. Terimakasih❤

.

.

BERSAMBUNG....

1
FDIAMV_
done saya mampir
Dante's: maksih ya kak udah mampir
total 1 replies
YunHuaJing
semangat yaa
Dante's: makasih ya
total 1 replies
Dante's
semoga suka ya kak 🤗
Yg ptg manusia
baru baca 2 eps aja dh nagih lohh, serius ga boong...
𓆩🇸🇦ولاJis𓆪
terus yang masih berteduh menunggu hujan reda itu siapa orang nya🧐
Dante's: itu Senja
total 1 replies
𓆩🇸🇦ولاJis𓆪
awas jangan tarik-tarikan orang sebentar orang nya pusing
Dante's: hahhaha. hampir pusing kak 🤣
total 1 replies
authorpisces
hai kak aku mampir yaa
Dante's: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Allamanda Cathartica
Niceee 👌
Semangat berkarya yaa... 💕
Dante's: terimakasih
total 1 replies
Manik🌼
2 kuntum🌹🌹bunga mawar untuk kamu😍
Manik🌼: sama sama
Dante's: thanks ya
total 2 replies
Manik🌼
aku mampir ya
Manik🌼: sama sama
Dante's: maksih kak
total 2 replies
𓆩🇸🇦ولاJis𓆪
novel nya bagus kak/Smile/ tapi di kasih space ya tulisan nya/Ok/ semangat update untuk episode berikutnya😉
Dante's: makasih sudah mampir ya
total 1 replies
SECRET AUTHOR
sematawayang=semata wayang
dikasih space kak
SECRET AUTHOR: sama-sama kak
Dante's: thanks kak masukannya🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!