Jeevan Aleser, sosok karismatik yang terkenal baik hati dan dermawan sebenarnya adalah seorang pencuri berlian dan barang antik. Dalam dunia kejahatan, Jeevan dikenal dengan sebutan Mr. A.
Mr. A yang tidak pernah gagal menjalankan aksinya, suatu hari terdesak hingga menawan seorang gadis untuk menyelamatkan diri. Aleena, gadis tawanan Mr. A adalah seorang gelandangan yang dibuang keluarganya.
Sebuah kisah romantis komedi yang terbalut dalam aksi pencurian dan pembalasan dendam. Akankah Aleena dan Jeevan dapat hidup bahagia dengan tenang? Ataukah pada akhirnya mereka menjalani hidup sebagai buronan bahkan menjadi tahana? Ikuti kisah cinta penuh aksi dalam kisah ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cara Cepat
~Ketulusan seseorang dapat dilihat dari perbuatannya, bukan sekedar kata-kata yang terucap di mulut~ Yoemi
Selamat Membaca ...
Semoga terhibur dan jangan lupa tekan 👍 (like) dan komentar kalian usai membaca. Terima kasih.
⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳
Aleena mematung melihat gadis kecil dengan baki di tangannya. Hatinya tiba-tiba terasa perih. Serpihan-serpihan ingatan tentang masa lalunya membayang. Masa dimana dia harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Diperlakukan sebagai budak di rumah sendiri. Bekerja serabutan agar bisa memenuhi kebutuhan dan terus bersekolah.
Sebuah fase berat yang harus Aleena jalani selama puluhan tahun. Hingga saat ini, masih menyisa pahit dan perih dalam hatinya setiap kali teringat akan kenangan masa lalunya. Jika bisa memilih, Aleena ingin sekali melupakannya.
"Aku sudah memperingatkanmu tadi. Jangan gunakan perasaanmu saat beraksi. Jika seperti ini terus, sepertinya kau memang tidak cocok menjadi pengikutku." Suara Jeevan mamasuki pendengaran Aleena.
Aleena buru-buru menyeka embun di matanya. "Tidak, Tuan Jee. Ini yang terakhir kali aku bersikap lemah."
"Aku tidak butuh janji, aku hanya ingin melihat pembuktian."
"Aku mengerti."
Aleena melangkah pelan menuju targetnya. Otaknya kembali berpacu, beradu cepat dengan langkahnya. Memikirkan cara yang paling tepat.
"Dapat berapa?" Aleena menyodorkan selembar uang pada gadis kecil di depannya.
Gadis itu tak menjawab pertanyaan Aleena. Dia terbengong memandang Aleena. Sebuah tatapan menyelidik. Membuat Aleena mengerutkan dahi. Alisnya hampir menyambung.
"Aku ingin membeli daganganmu," ucap Aleena lagi.
"Saya tidak punya uang kembalian," ujar sang gadis kecil.
Aleena tersenyum. "Ini dapat berapa? Uang ini aku belanjakan semua."
Gadis kecil itu kembali memandang Aleena. Kali ini gantian kening gadis kecil itu yang dipenuhi kerutan. Ada semburat ketidakpercayaan yang tergambar jelas di wajah mungil yang tampak lelah itu.
"Mengapa diam lagi? Berapa kue yang bisa aku dapatkan dengan uang ini?"
"Semua yang aku miliki, dan masih ada kembalian lagi."
Tatapan Aleena beradu pandang dengan gadis kecil di depannya. Dia bisa melihat dengan jelas, ada embun di mata gadis itu. Entah apa yang terjadi, Aleena seakan menyaksikan banyaknya beban yang terselip di dalam mata sayu yang dia tatap. Beban hidup yang berat. Sebuah kesedihan dan harapan yang membaur. Membentuk formula baru dalam alur hidup. Sesuatu yang sulit dideskripsikan atau diungkapkan dengan deretan kata.
Aleena semakin tidak tega. Ingin sekali dia memeluk gadis di depannya. Membagi beban hidup yang bergelayut di pundak kecil itu. Dirinya hampir lepas kendali, tetapi suara Jeevan di dalam headset membuatnya kembali tersadar dengan misi yang harus dia selesaikan.
"Untuk kali terakhir aku memperhatikanmu, jangan gunakan perasaanmu. Kau terlalu banyak membuang waktu!" suara Jeevan terdengar jelas dan tegas.
Dengan cepat, Aleena kembali menimpali. Bukan ucapan Jeevan, tapi kata-kata gadis di depannya.
"Kalau begitu tidak usah memberiku kembalian," ujar Aleena.
"Tidak, itu tidak boleh," jawabnya dengan tegas. Membuat Aleena diam-diam menyimpan kekaguman pada kejujuran yang dimiliki gadis belia itu.
"Baiklah, tolong bungkus dulu semuanya. Setelah itu, tukarkan uang ini dan berikan aku kembalian." Aleena memberi solusi.
Setelah melihat Aleena sejenak, gadis penjual itu langsung mengambil kantong plastik untuk makanan. Dikemasnya semua dagangan yang dia miliki. Membuat bakinya kosong dengan cepat.
Ada 3 kantong plastik ukuran sedang yang diterima Aleena. Aleena tersenyum, lalu memberikan selembar uang yang tadi dia sodorkan di awal. Masih dengan keraguan, gadis kecil itu menerimanya.
"Apa ini uang asli?" tanya si gadis.
Pertanyaan itu membuat Aleena tertawa ringan. "Tentu saja, kau bisa memeriksa itu."
Gadis itu memandang uang di tangannya. Membolak-balik, berusaha memastikan jika uang itu bukan uang palsu. Setelah yakin, dia menengok ke kanan. Melihat ke lapak seorang pedagang buah yang cukup ramai.
"Akan saya tukar uang ini ke bibi penjual buah di sana, Anda tunggu sebentar."
Gadis itu bicara pada Aleena tanpa menoleh. Pandangannya fokus pada pedagang buah yang ingin dia tuju. Aleena pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan cepat, Aleena memasukkan uang yang diberikan Jeevan ke kantong baju bagian bawah si gadis.
"Silahkan, aku akan menunggu," ujar Aleena.
Dengan langkah tergesa, gadis itu menuju lapak yang dia maksud. Dia menunjukan selembar uang yang dia bawa kepada penjual buah. Lalu dia menoleh ke tempat Aleena berdiri. Seakan mengenalkan Aleena pada penjual yang dia temui. Atau mungkin meyakinkan bahwa itu bukan uang hasil mencuri.
Aleena tersenyum melihat dua orang yang sedang bertransaksi tukar-menukar tersebut. Sesaat kemudian, terlihat penjual buah itu mengambilkan lembaran-lembaran uang. Mereka tak lagi memperhatikan Aleena yang telah beranjak pergi.
"Tuan Jee, siap lagi selanjutnya? Misi kedua sudah aku selesaikan," ujar Aleena dengan bangga.
"Kau membuang banyak waktu. Harusnya semua uang di tanganmu sudah habis!"
"Tuan Jee, aku masih pemula. Aku juga berhasil menjalankan tugasku. Harusnya kau mengapresiasi kecerdikanku ini ..." Aleena protes.
"Arah jam 11."
Aleena menoleh ke arah yang disebut Jeevan. Tadinya, Aleena berpikir bahwa disitu ada target baru untuknya. Ternyata yang dia lihat adalah sosok Jeevan. Aleena pun segera menghampirinya.
"Dasar dekil lamban," sambut Jeevan dengan ejekan.
"Tuan Jee, berikanlah aku pujian sedikit saja. Jangan membuatku tak bersemangat ..." Aleena memelas.
"Atas dasar apa aku harus memberimu pujian? Untuk kelambananmu?"
Aleena memanyunkan bibirnya. Membuat Jeevan merasa gemas dengan tingkah gadis tawanannya.
"Kalau begitu, yang cepat itu seperti apa?" Aleena bertambah sewot.
Jeevan mendekatkan diri pada Aleena. Membuat Aleena salah tingkah. Wajahnya berubah kemerahan.
"Secepat aku mengambil uang dari dalam tasmu!" bisik Jeevan sambil menunjukkan semua uang yang dia ambil.
Aleena terperangah. Dilihatnya tas kecil yang dia serempangkan di bahunya telah kosong.
"Kapan mengambilnya?"
Jeevan tak menjawab. Dia justru sibuk memperhatikan orang yang lalu lalang di dekat mereka.
"Kau terlalu menggunakan emosimu dan membuang banyak waktu." Jeevan melepas headset di telinga Aleena.
"Tunjukkan padaku cara yang cepat!" pinta Aleena dengan serius.
Sekali lagi, Jeevan menunjukkan segenggam uang di depan mata Aleena. Senyum simpul Jeevan mengembang tipis.
"Lihatlah! Jangan sampai matamu berkedip atau kau akan kehilangan contoh berharga."
Dengan langkah pasti, Jeevan bergerak maju. Aleena mengikuti Jeevan dari jarak tertentu. Matanya terus menguntit dengan jeli ke arah Jeevan. Hingga akhirnya Jeevan menabrak seorang kakek tua yang berjalan dengan tongkat. Ada seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun yang berada di sampingnya. Mungkin itu cucunya. Keadaan mereka terlihat menyedihkan.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Jeevan pada sang kakek sembari tersenyum hangat.
Tangan kanan Jeevan menepuk bahu sang kakek. Sementara itu, tangan kirinya sudah bergerak memasukan uang ke saku baju milik kakek yang lusuh.
Sudah berhasil semudah dan secepat itu? Hati Aleena berkomentar. Perasaan kagum Aleena pada Jeevan semakin membuncah di dadanya.
"Tidak apa-apa, anak muda ..." jawab kakek. Suaranya terdengar serak dan berat.
"Jaga kakekmu baik-baik."
Pesan Jeevan pada anak laki-laki yang mendampingi kakeknya. Jeevan meraih tangan anak itu dan memberikan beberapa lembar uang.
"Terima kasih, Tuan," ucap anak itu dengan mata berbinar. Ada aroma kebahagiaan yang menyelimuti wajahnya.
Jeevan hanya tersenyum lalu beranjak pergi. Aleena segera menyusulnya. Dia setengah berlari agar dapat mengejar langkah Jeevan dan berjalan berdampingan.
"Apa kau sudah mengerti?"
"Aku perlu banyak belajar," Aleena menunduk. Mengerti akan kemampuannya.
"Yakin bisa melanjutkannya? Tanpa disertai emosi yang berlebihan seperti yang kau lakukan tadi?"
Aleena berpikir sejenak. "Itu sulit, tapi aku akan berusaha melakukannya."
"Kebenarannya, kau tidak akan bisa."
"Mari mencoba lagi, aku akan membuktikan, Tuan Jee."
Jeevan memandang Aleena yang menenteng tiga kantong plastik berisi makanan. Jeevan menggelengkan kepala dan menghela nafas dengan kasar.
"Satu kesempatan lagi," pinta Aleena.
Jeevan tak menggubris. Dia berjalan cepat menuju pintu keluar pasar.
"Tuan Jee ... aku mohon ...." ucap Aleena. Dia berlari mengejar Jeevan yang sudah berada di depan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai, readers tercinta yang Yoemi sayangi. Terimakasih untuk kesetiananya membaca semua novel yang Yoemi tulis. Jangan lupa untuk selalu dukung Yoemi, ya ....
✓ like
✓ komentar
✓ favorit
✓ rate 5
✓ dan jangan sungkan untuk memberi vote juga ya .... 🤗🤗🤗
Oke, kakak-kakak ... see you di episode selanjutnya. Klik profil Yoemi untuk membaca cerita menarik lainnya (bagi yang belum membaca). Terima kasih 🌸🌸🌸
Selama manis dari dunia kata Yoemi ... Miss you all ❤️
mampir di ceritaku judulnya "impian surga" cerita bergenre spiritual romance.
yg datang ke lapak ku InsyaAllah akan ada kunjungan balasan. terima kasih..
mari saling mendukung .. ☺️