NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBINGUNGAN SEMUA ORANG

"Yang Mulia, biarkan hamba bantu," ujar Meiden dengan lembut. Ia segera menumpu punggung Alaric yang masih lemah, membantunya untuk duduk bersandar di tepian ranjang besar yang megah itu.

​Vion menoleh ke kiri dan ke kanan dengan tatapan linglung. Ia menatap dinding batu kastel, lampu-lampu gantung berbahan besi tempa, dan jendela kaca patri yang tinggi. Segalanya terasa asing dan sangat aneh baginya.

​"Ini... gue di mana?" tanyanya lirih, namun suaranya tetap terdengar jelas oleh Meiden di kesunyian kamar itu.

​"Hah? Apa, Yang Mulia? Maaf... hamba tidak mengerti maksud Anda," Meiden terdiam sejenak dan menunduk. Ia tampak bingung dengan gaya bicara sang pangeran yang terdengar sangat aneh dan tidak menggunakan bahasa bangsawan yang formal seperti biasanya.

​Vion menunduk, memperhatikan kemeja linen putih longgar yang melekat di tubuhnya, lalu celana beludru hitam yang kainnya terasa sangat mahal dan lembut di kulit, namun modelnya terlihat sangat kuno di matanya.

​"Heh, lo siapa? Kenapa gue bisa ada di sini? Ini acara syuting atau apa?" tanya Vion lagi dengan nada yang lebih menuntut, matanya menatap tajam ke arah Meiden.

​"Yang Mulia..." seru Meiden dengan suara bergetar. Ia merasa ada yang salah. Pangeran Alaric tidak hanya bersikap aneh, tapi sorot matanya seolah-olah menunjukkan bahwa ia adalah orang yang berbeda sama sekali.

"Hamba Meiden, pelayan setia Anda. Anda berada di dalam kamar Anda di Kastel Eisenhold."

"Hape..." Alaric meraba-raba kedua pahanya dengan panik. Ia masih ingat betul, saat terakhir kali ia melangkah keluar dari rumahnya, ia sempat memasukkan ponselnya ke saku celana.

"Hape gue mana?" tanyanya dengan nada mendesak pada Meiden.

​"Yang Mulia... hamba tidak mengerti. Benda apa yang Anda maksud?" Meiden menatap pangerannya dengan wajah pucat pasi, mengira sang pangeran sedang mengigau akibat sisa racun.

​"Baginda Raja tiba!"

​Pekikan lantang dari koridor itu terdengar sangat asing dan dramatis di telinga vion. Ia menoleh cepat ke arah pintu besar yang terbuka lebar.

Keningnya berkerut dalam, merasa aneh melihat Madeline dan pelayan lainnya tiba-tiba bersujud di lantai saat seorang pria tua dengan jubah bulu yang mewah dan mahkota di kepalanya melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini ia tempati.

​"Alaric!" seru Raja Valerius dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan luar biasa.

​Tanpa membuang waktu, sang Raja langsung menghambur ke arah ranjang dan memeluk tubuh Vion dengan sangat erat. Ia mengelus punggung vion, napasnya tersengal karena haru.

"Alaric, putraku... akhirnya kau bangun. Demi Tuhan, jangan pernah tinggalkan ayah lagi. Takhta ini takkan berarti apa-apa tanpamu."

​vion mematung dalam dekapan pria asing itu. Tubuhnya kaku, matanya melotot menatap dinding batu kastel yang dingin.

Ini beneran bukan mimpi? batinnya.

Bau parfum mawar dan kulit tua dari pria yang memeluknya ini terasa sangat nyata, terlalu nyata untuk sebuah halusinasi.

​"Eh, sebentar... Om siapa ya?" tanya vion pelan sambil mencoba melepaskan pelukan sang Raja.

​Raja Valerius tersentak. Ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah putranya dengan tatapan nanar.

"Om? Alaric, apa yang kau katakan? Aku ayahmu! Apakah racun itu telah merusak ingatanmu?"

Raja Valerius menatap wajah putranya dengan kecemasan yang mendalam, tangannya masih memegang bahu sang pangeran.

"Alaric, apa yang terjadi? Mengapa tatapanmu seolah-olah aku adalah orang asing?"

​Vion—atau pria yang kini mendiami tubuh itu—menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia menatap ke sekeliling ruangan, pada para pelayan yang bersujud dan ksatria yang berjaga, semuanya tampak seperti figuran film kolosal.

​"Gue Vion Reynald," ucapnya dengan suara gemetar namun tegas. "Gue bukan... siapa tadi? Alaric?"

​"Kau adalah Alaric Valerius!" suara Raja meninggi, berusaha meyakinkan. "Putra tunggalku, satu-satunya pewaris takhta Kerajaan Valerius di benteng Eisenhold ini. Kau anak kandungku!"

​"Hah?!" Wajah vion kini benar-benar terlihat cengo dan bingung luar biasa. Ia menggarap kepalanya yang tidak gatal.

"Bapak sama Ibuk gue namanya Lestari sama ahmad, Pak. Mereka tinggal di pinggiran Jakarta, bukan di istana begini. Dan elo... siapa tadi? Raja? Jangan ngaco deh!"

​Suasana kamar yang tadinya penuh haru mendadak berubah menjadi mencekam. Para pelayan saling berpandangan dengan wajah pucat. Mereka mengira pangeran mereka telah kehilangan akal sehatnya atau mungkin kerasukan roh jahat dari pegunungan es.

​Raja Valerius tertegun. Ia melepaskan pegangannya, matanya menatap tajam namun otaknya bekerja keras memproses keganjilan ini. Ia teringat akan kata-kata pria tua dari Timur itu tentang "jiwa yang terperangkap di dimensi lain".

​"Lord Chamberlain!" seru Raja tanpa mengalihkan pandangan dari vion. "Cepat bawa Shen kemari! Jangan sampai dia dieksekusi sebelum sampai di hadapanku!"

"Bagaimana perasaan Anda saat ini, Yang Mulia?" tanya Shen dengan suara yang sangat tenang, tubuhnya membungkuk sedikit memberikan penghormatan di samping ranjang besar tersebut.

​Kening vion berkerut semakin dalam. Ia menatap pria tua di depannya dengan sejuta rasa heran. Kalimat yang diucapkan pria itu terdengar sangat asing di telinganya—seperti dialek kuno yang campur aduk—namun entah mengapa, otaknya secara otomatis menerjemahkan arti ucapan tersebut.

Beruntung saat sekolah dulu vion pernah mengambil kelas bahasa asing dan sering menonton film sejarah, sehingga ia sedikit paham struktur kata-kata yang mereka gunakan.

​"Alaric," Raja Valerius kembali menyentuh bahu vion, seolah ingin memastikan putranya masih ada di sana secara fisik.

Ia menoleh ke arah Shen dengan tatapan menuntut. "Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padanya? Mengapa dia menyebut nama yang asing dan tidak mengenaliku?"

​Shen tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepalanya, kedua tangannya bertumpu dalam posisi mengepal di depan dada—gestur khas orang Timur yang terlihat sangat kontras dengan zirah besi para penjaga di sana.

​"Hamba tidak bisa memastikannya sekarang, Your Majesty," jawab Shen pelan.

​Ia mengangkat wajahnya, menatap tepat ke dalam manik mata Sang Raja dengan pandangan yang sangat dalam, seolah sedang berkomunikasi secara batin.

Sesaat kemudian, pandangan Shen beralih ke arah para pelayan, ksatria penjaga, dan menteri yang masih berkerumun di dalam kamar, mendengarkan dengan penuh rasa ingin tahu.

Shen memberi isyarat dengan matanya bahwa pembicaraan ini terlalu berbahaya untuk didengar oleh telinga-telinga yang tidak berkepentingan.

Raja Valerius mengembuskan napas dengan kasar, suaranya terdengar seperti geraman yang tertahan. "Tinggalkan kami sendiri!" perintahnya dengan nada mutlak.

​Semua orang di dalam ruangan, termasuk Lord Chamberlain dan para pelayan senior, segera membungkukkan badan sedalam-dalamnya. Mereka melangkah mundur dengan teratur, lalu berbalik dan keluar dari kamar pribadi sang pangeran.

Begitu pintu kayu ek yang tebal itu tertutup rapat dan suara denting zirah para penjaga di luar menjauh, suasana menjadi sunyi senyap yang mencekam.

​Wang Shen kembali menghadap ke arah Sang Raja dengan ekspresi yang sangat serius, jauh lebih tajam dari sebelumnya.

​"Ada dua kemungkinan yang terjadi saat ini, Your Majesty," ujar Shen dengan suara rendah.

"Kemungkinan pertama, Pangeran Alaric saat ini sedang terjebak dalam delusi atau ilusi yang sangat kuat akibat sisa racun yang menyerang syaraf kesadarannya."

Shen menjeda sejenak, melirik ke arah vion yang masih tampak kebingungan di atas ranjang, sebelum melanjutkan dengan suara yang nyaris seperti bisikan.

​"Sedangkan kemungkinan kedua, yang jauh lebih berbahaya... jiwa yang sekarang bersemayam di dalam tubuh sang pangeran bukanlah jiwa Pangeran Alaric yang asli. Melainkan jiwa orang lain, dari tempat atau waktu yang sangat jauh, yang telah menempati raga yang kosong ini saat nadinya sempat terhenti tadi."

​"Hah? Apaan sih? Lo bilang gue arwah penasaran gitu?" sela vion dengan nada tidak terima, meskipun ia sendiri mulai merasa ngeri dengan situasi ini.

​Raja Valerius mematung. Matanya menatap tubuh putranya, namun hatinya mulai meragukan sosok yang ada di depannya. "Jiwa lain? Kau ingin mengatakan bahwa putraku telah lenyap dan digantikan oleh... makhluk ini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!