"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Pusaran Langit di Kolam Qi
Uap yang menggantung di langit-langit gua kristal itu terasa berat, membawa aroma mineral purba dan energi yang belum terjamah. Di hadapan Guiren, Kolam Qi Sekte Mo-Yun terbentang sebagai permukaan air berwarna biru pucat yang memancarkan cahaya redup. Ini adalah jantung energi sekte, tempat yang biasanya hanya didiami oleh para jenius terpilih.
Guiren berdiri sendirian di pinggiran kolam. Untuk pertama kalinya sejak mereka sampai di tempat ini, tidak ada Xiaolian di sisinya. Kesunyian di tempat ini terasa berbeda, bukan kesunyian hutan yang mengancam, melainkan kesunyian ruang hampa yang menuntut untuk diisi.
Ia menanggalkan jubah luar murid luarnya, menyisakan pakaian dalam tipis. Dengan langkah hati-hati, ia membiarkan kakinya tenggelam ke dalam air. Sensasi dingin yang menusuk segera merayap ke meridiannya, namun Guiren tidak gemetar. Baginya, suhu ini adalah kanvas yang bersih.
Ia duduk bersila di bagian kolam yang dangkal dengan air setinggi dada. Guiren memejamkan mata di balik kain penutupnya, namun pandangan batinnya atau Visi Qi terbuka lebar. Ia melihat energi di sekelilingnya sebagai kabut yang tak beraturan, mengalir tanpa arah yang pasti.
Guiren mengangkat tangan kanannya. Ia tidak membawa kuas fisik, namun melalui ujung jarinya, ia memanggil Niat Tinta. Ia mulai melukis di permukaan air kolam.
Setiap gerakan jarinya meninggalkan jejak hitam transparan yang tidak larut oleh air. Ia sedang menorehkan karakter kuno, sebuah inovasi yang ia kembangkan dari pemahaman dasarnya tentang aliran sungai dan pernapasan gunung.
Pusaran Langit.
Ia tidak memaksa energi kolam untuk masuk ke tubuhnya. Sebaliknya, ia melukis struktur yang memandu energi tersebut untuk berputar. Perlahan, permukaan air di sekeliling Guiren mulai bergerak melingkar. Awalnya hanya riak kecil, namun dalam hitungan menit, sebuah pusaran yang halus dan presisi terbentuk, menjadikan tubuh Guiren sebagai porosnya.
Energi kolam yang tadinya liar kini memiliki jalur. Guiren merasakan tekanan yang besar menghantam meridiannya. Ini bukan lonjakan yang meledak-ledak, melainkan seperti aliran logam cair yang dipaksakan masuk ke dalam wadah sempit. Keringat dingin yang jatuh bercampur dengan air kolam.
Fokusnya adalah kontrol. Satu kesalahan dalam tarikan garis, maka pusaran ini akan runtuh dan menghancurkan organ dalamnya.
Di dalam dantiannya, wadah tinta yang selama ini berada di tingkat kelima mulai bergejolak. Cairan energi di dalamnya yang semula encer kini mulai memadat, menjadi lebih hitam, lebih pekat, dan lebih berat. Setiap putaran dari Pusaran Langit memeras esensi dari air kolam, menyaringnya, dan menyuntikkannya ke dalam jiwa Guiren.
Waktu seolah kehilangan maknanya. Guiren merasakan kelelahan mental yang luar biasa, setiap detiknya adalah pertempuran untuk menjaga stabilitas. Ia tidak mencari kemenangan yang cepat. Ia mencari fondasi yang tidak bisa digoyahkan. Ia membayangkan senyuman adiknya yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia harus bertahan di bawah tekanan yang nyaris meremukkan tulang ini.
Satu putaran lagi. Satu kompresi lagi.
Tiba-tiba, sebuah sensasi familiar bergema di dalam kesadarannya.
Wadah tintanya berhenti bergejolak. Energi yang masuk tidak lagi terasa seperti ancaman, melainkan seperti bagian dari dirinya yang telah lama hilang. Cairan hitam di dalam dantiannya kini telah mencapai kejernihan yang baru, mengisi setiap sudut meridian dengan kepadatan yang jauh melampaui sebelumnya.
Pengumpulan Qi Tingkat 7.
Guiren tidak bersorak. Ia menarik napas panjang, menstabilkan detak jantungnya yang liar. Perlahan, ia menghentikan gerakan energinya, membiarkan karakter Pusaran Langit di atas air memudar dan menghilang. Pusaran itu berhenti, meninggalkan permukaan kolam yang kembali tenang, meski kini warna biru airnya tampak sedikit lebih redup, kehilangan sedikit esensinya karena telah diperas oleh Guiren.
Ia bangkit dari air dengan tubuh yang terasa sangat berat namun solid. Setiap langkah keluar dari kolam menuntut kekuatan otot yang nyata. Ia merasa lelah hingga ke sumsum tulangnya, namun di balik kelelahan itu, ada kepuasan yang sunyi.
Guiren mengenakan kembali jubahnya. Saat ia berjalan menuju pintu keluar gua, ia menyentuh dinding batu. Melalui sentuhan itu, ia bisa merasakan getaran energi gunung dengan jauh lebih detail daripada sebelumnya. Ia kini lebih peka, lebih tajam, dan lebih berbahaya.
Namun, saat ia menatap kegelapan di luar gua, ia tahu bahwa pencapaian ini tidak akan bisa disembunyikan selamanya. Energi kolam yang sedikit berkurang akan memicu pertanyaan, dan kemajuan pesatnya akan menjadi umpan bagi iri hati yang lebih besar.
Guiren melangkah keluar ke udara malam Puncak Terasing, membawa beban kekuatan baru yang ia tahu akan segera diuji oleh badai yang sedang menuju ke arahnya.