Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Gaun untuk Maggie
Maggie berguling menghadap sandaran kursi supaya bisa memindahkan Biann ke sisi lain. Dia sedang fokus memasang bibir Biann kembali saat menyadari panggilan telepon Kael sudah berakhir.
Maggie menoleh ke belakang. Kael bersandar di bangku, satu lengan terentang menutupi dahinya.
“Ada masalah?” tanya Maggie.
“Bukan klien favorit aku,” kata Kael.
“Siapa favorit kamu?”
Kael tidak langsung menjawab, jadi Maggie kembali fokus ke bayi. Biann belum terpasang dengan benar. Dia juga tidak suka sisi ini. Sambil berjuang, Maggie tetap melanjutkan obrolan.
“Aku lagi mikir, antara siapa yang aku suka, dan perusahaan mana yang jadi investasi terbaik.”
“Enggak pernah sama?”
“Jarang. Tapi ada satu perusahaan mainan di Zurich yang aku suka banget. Umurnya hampir seabad. Orang-orangnya hebat.”
“Kenapa mereka butuh kamu?”
“Lebih ke aku yang butuh mereka, sih. Aku lagi coba masuk pasar, dan punya perusahaan mainan itu kasih aku akses ke tempat lain.”
“Jadi kamu beli cuma buat manfaatin mereka?”
“Itu situasi menang-menang. Mereka butuh aliran dana buat meluncurkan produk yang lebih inovatif. Tanpa ada campur tangan penguasa, jadi aku bisa berpengaruh di situ."
“Toko Sweety Spring enggak butuh pengaruh,” kata Maggie.
“Kayaknya dulu kamu sempat punya masalah waktu Davis pertama kali muncul dengan Toko-tokonya.”
Itu benar. Persaingan itulah yang memicu seluruh kekacauan antara Davis dan Jennie.
“Tapi akhirnya baik-baik aja,” kata Maggie. “Mereka malah mau menikah.”
“Hmm."
“Kamu enggak capek?” goda Maggie.
“Enggak juga.”
Kulit jok berderit, jadi Maggie menoleh. Kael duduk tegak lalu bergeser sampai berada tepat di depannya, di seberang bangku.
“Apa yang menurut kamu seru?” tanya Maggie. “Belanja gaun enggak mungkin jadi ide seru buat kamu, kan?”
Senyum Kael membuat Maggie rileks. “Bisa jadi seru, kalau kamu yang pakai gaunnya.”
Biann kembali terlepas dari payudara. Maggie mendorongnya lagi. Bibirnya mulai longgar. Bayi itu sudah kenyang.
Maggie merapikan bra nya dan bergeser untuk duduk. Kain sendawa dilemparkan ke bahu, lalu Biann diangkat untuk ditepuk punggungnya. Saat tidak keluar sendawa, Maggie menggoyangnya sedikit, menepuknya lebih keras.
“Enggak sakit?” tanya Kael.
“Enggak. Dia suka. Untungnya dia bukan tipe bayi yang gampang muntah Ada bayi yang kayak gunung berapi.”
Saat Kael meringis, Maggie menyesal sudah memberikan gambaran itu. Mengurus bayi memang sama sekali tidak seksi.
Biann meledak dengan sendawanya yang mirip kakek-kakek enam puluh tahun.
Dan tentu saja, karena tadi Maggie bilang dia tidak akan muntah, seutas lendir putih panjang keluar dari mulut Biann. Cairan itu nyangkut di helai rambut yang terlepas dari sanggulnya.
Bagus sekali.
“Oh, oh,” kata Kael. “Aku bisa bantu apa?”
Maggie membersihkan Biann dengan hati-hati pakai kain sendawa, merasa malu. “Kayaknya kamu bisa pegang dia sebentar, biar aku bisa beresin ini dari kepala aku, sebelum kita lanjut belanja?”
Kael menerima bayi itu. “Perlukah aku siap-siap kalau dia muntah?”
Maggie cepat-cepat mengambil kain sendawa bersih dan meletakkannya di bawah dagu Biann. “Iya. Bisa jadi karena gerakan mobil.”
Maggie mencari tisu basah dan memakainya untuk membersihkan liur dari helai rambut yang terlepas. Dengan lembap tisu itu, ia merapikan rambut yang salah tempat kembali ke sanggul.
“Okay,” kata Kael. “Kita lanjut belanja? Tetap di mobil? Atau balik ke hotel sebentar?”
Maggie mengangkat Biann untuk menatap matanya. “Sudah selesai, jagoan kecil?” Dia bahkan tidak sanggup menatap Kael. Dia sungguh berantakan. “Biar aku ganti popoknya dulu, terus kayaknya aman. Dia bakal tenang cukup lama.”
Kael tidak mengomentari kejadian barusan, hanya menyerahkan tas popok padanya. “Aku minta asisten aku buat saranin toko-toko terbaik. Aku mau pastiin kita enggak kelamaan, mengingat kita enggak tahu Biann bisa bertahan berapa lama.”
Maggie membuka alas ganti dan membaringkan Biann. “Sekarang kamu malah mikir jadi seorang ayah.”
Setelah Biann bersih dan kering, Maggie memasangnya kembali ke sling, sementara Kael membawa tas popok baru.
Matahari sudah muncul sepenuhnya selama mereka di limusin. Maggie menurunkan kacamata hitam dan mengecek rambutnya di pantulan jendela yang mengilap.
Aman.
Bencana muntah berhasil dihindari.
Kael menggenggam lengannya dan membimbingnya menyusuri jalanan Jogjakarta yang mulai ramai.
Maggie mengamati sekitar. Banyak perempuan tua dengan rambut luar biasa, disanggul atau dibiarkan terurai, sebagian dicat, sebagian dibiarkan memutih. Tapi semuanya berpakaian seperti orang kerajaan, lengkap dengan kebaya molek.
Mereka terlihat jauh lebih keren darinya. Maggie baru dua puluh tujuh tahun dan hampir tidak sanggup memaksakan kaki masuk ke sepatu hak, setelah punya bayi.
Perempuan-perempuan muda melintas dengan ringan dan percaya diri. Para pria mengenakan celana ketat dan kemeja yang pas mengikuti bahu dan pinggang mereka.
Tidak ada yang berpakaian santai. Bahkan di kawasan pejalan kaki tercantik di jantung Jakarta, setengah dari perempuannya memakai celana yoga dan sepatu lari. Ini jelas bukan Jakarta.
Maggie mendekat ke Kael. “Ada lomba cosplay di dekat sini hari ini?”
Kael tersenyum. “Jauh beda, ya?”
“Kayak pindah dunia.”
“Ya begitu lah.”
Maggie sempat mengira sudah berpakaian dengan sesuai, tapi tetap saja, tatapan-tatapan itu menilai seolah dia sebuah kejanggalan.
Tapi Maggie tidak akan gentar.
Kael menghentikan mereka di depan sepasang pintu emas.
Pintu emas.
Apa artinya ini?
“Tempat apa ini?”
“Margaria. Asisten aku berhasil dapetin jadwal.” Kael membuka pintunya.
Maggie membayangkan rak penuh gaun dan suasana sok elit. Tapi itu tidak ada.
Sebagai gantinya, sebuah meja resepsionis bundar berwarna emas ditempati perempuan muda usia dua puluhan, berpakaian indah dengan senyum anggun. “Selamat pagi. Selamat datang.”
Maggie menoleh ke sekeliling. Meja itu menghadap ke area bergorden yang dipenuhi patung, lukisan, dan rangkaian bunga.bLebih mirip galeri seni daripada toko pakaian.
Maggie hampir bertanya pada Kael apakah mereka tersesat, sampai si perempuan berkata, “Tuan Brawangsa, Nona Barros, izinkan saya memanggil personal shopper Anda hari ini. Namanya Sekar.”
Dia menekan sebuah tombol di meja emasnya. “Bolehkah saya tawarkan segelas minuman atau camilan ringan?”
Kael menoleh ke Maggie. “Kamu minum?”
“Soda. Dan mungkin sedikit snack?”
Perempuan itu mengangguk. “Tentu.”
Dari tirai beludru merah tebal berada di sisi kiri meja emas, muncul lah seorang perempuan menawan usia tiga puluhan, mengenakan gaun Swiss elegan bermotif titik dan sepatu hak yang tampak berbahaya.
“Tuan Brawangsa, Nona Barros. Kami senang bisa membantu hari ini. Silakan lewat sini.”
Mereka mengikutinya melewati celah tirai. Di baliknya ada ruangan panjang. Sebuah sofa brokat emas dan dua kursi mengelilingi meja di sisi kiri.
Di depan mereka ada panggung kecil setinggi meja kopi, menghadap tiga cermin yang tersambung.
Penataannya mengingatkan Maggie pada butik gaun pengantin kelas atas tempat seorang teman kuliahnya mencoba gaun, sebelum sadar, satu gaun di sana harganya setara biaya katering.
Sekar menoleh. “Silakan duduk. Kami akan mulai menampilkan koleksi akhir season ini. Dari yang saya pahami, ini untuk pernikahan di pedesaan, ya?”
“Di keraron,” tegas Maggie. Dia tidak mau disangka mau ke peternakan.
Sekar tersenyum sambil mengangguk. “Tentu. Keluarga Raja. Adiputra, ya?”
Maggie merasa diremehkan oleh nada Sekar.
“Betul,” kata Maggie.
“Model kita akan memeragakan design pertama. Tinggi dan bentuk tubuhnya mirip dengan Anda. Kalau ada yang ingin Anda coba, beri tahu kami.”
Kael dan Maggie duduk di sofa. Maggie membenarkan posisi Biann di dadanya. Bayi itu terjaga. Maggie menduga dia akan ribut, tapi Kael mengambil empeng dari tas popok dan menyerahkannya.
Dia cepat belajar.
...𓂃✍︎...
...Jika dendam ini bisa kutulis, namamu akan jadi judulnya, dan tintanya dari darah yang lukanya berasal darimu....
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .