Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
"Bagaimana mungkin?!"
Sean Harley terhuyung mundur saat monitor di sudut ruangan menunjukkan api yang membubung dari halaman barat.
Salah satu ranjau darat yang ia tanam secara rahasia meledak, menghancurkan barikade baja yang baru saja ia pasang.
Dan yang membuat darahnya mendidih adalah kenyataan bahwa sistem pemicunya tidak ditekan oleh musuh dari luar, melainkan diretas melalui frekuensi internal.
Ia menoleh ke arah Queen yang duduk tenang di tepi tempat tidur, menggenggam ponsel pintar milik Hyera.
"Kau benar-benar keturunan kakakku yang terkutuk itu! Kecerdasan ini tidak masuk akal untuk bocah seusiamu!" Sean menggeram, matanya membelalak tak percaya. "Pantas saja mereka menyembunyikanmu selama ini. Tapi tetap saja, rasanya mustahil."
Sean terdiam sejenak, pikirannya melayang ke sebuah ingatan yang selama ini ia kunci rapat di sudut tergelap otaknya.
Cara pengetikan, kecepatan eksekusi algoritma itu, ia pernah melihatnya sebelumnya.
"Gaya meretasnya mengingatkanku pada wanita itu. Si hantu malam. Peretas sialan yang selalu membuatku terlihat seperti amatir dan selalu menghilang saat matahari terbit. Sayangnya, wanita itu sudah tewas di tangan anak buahku. Padahal dia adalah satu-satunya wanita yang pernah membuatku memiliki perasaan yang seharusnya kubuang jauh-jauh. Dan sekarang, keponakanku ini memberikan aura yang sama," gumam Sean pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.
Queen menatap paman jahatnya dengan sorot mata menantang.
"Kenapa Paman diam saja? Apa Paman mulai ketakutan karena hantu itu kembali untuk menagih nyawanya?"
Sean menepis udara dengan kasar. Lamunannya pecah karena pertanuaan Queen.
"Cih! Aku takut?! Bahkan jika aku harus mencabik-cabik Luca Frederick dengan tanganku sendiri, aku siap! Jangan pikir remaja ingusan itu bisa menyelamatkanmu!"
Sean merasakan kemarahan yang luar biasa setiap kali nama Luca ia sebut.
Ada rasa cemburu yang tidak logis menyelinap di dadanya. Ia tidak sudi Queen, aset paling berharga miliknya lebih memilih berlindung di bawah ketiak seorang bocah remaja yang tak ada apa-apanya daripada bersamanya.
Dengan langkah lebar, Sean mendekat dan menyambar ponsel pintar di tangan Queen.
"Paman, berikan! Itu milik Queen!" teriak Queen sambil berusaha meraih kembali alat komunikasinya.
"Milikmu? Sayangnya, mulai sekarang ini milikku!" Sean dengan mudah mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi. Ia mengutak-atik layarnya sejenak. "Kunci pola yang sederhana. Ini pasti perbuatan Hyera, bukan? Adikku itu benar-benar butuh diberi pelajaran karena sudah berkhianat."
Sean melangkah keluar kamar tanpa memedulikan teriakan Queen. "Tetaplah di sini dan saksikan bagaimana pahlawanmu itu akan mati di gerbang depan!"
BRAK!
Pintu dibanting dan dikunci dari luar.
Queen mendengus kesal, ia memukul kasur dengan tinju mungilnya. "Lagi-lagi ketahuan dengan begitu cepat! Tubuh kecil ini benar-benar menghambat pergerakanku!"
Bocah itu bangkit, berjalan menuju jendela yang berjeruji besi.
Di luar, suasana semakin kacau. Ia bisa melihat lampu-lampu sorot mulai menyapu halaman, dan puluhan anak buah Sean bersenjata lengkap mengambil posisi.
"Aku harus mencari cara agar Luca tidak datang ke mari... mansion ini benar-benar penuh dengan jebakan yang aku sendiri belum sempat matikan semua," gumamnya cemas.
Queen tahu Sean bukan hanya gila harta, tapi dia juga seorang yang paranoid yang menanam bom di mana-mana.
Sementara itu, di sebuah jip lapis baja yang melaju membelah malam menuju koordinat mansion Harley, suasana terasa sangat dingin.
"Luc, kau yakin ingin masuk lewat jalur depan? Intelijen bilang Sean menanam ranjau di sepanjang jalan masuk. Pikirkan lagi, ini bisa jadi bunuh diri," ucap Bobby sambil memeriksa senapan serbunya dengan tangan yang sedikit berkeringat.
Luca, yang sedang memasang silencer pada pistol kaliber 45 miliknya, tidak menoleh sedikit pun. Matanya menatap lurus ke depan, sedingin es kutub yang mampu membekukan apa saja.
"Apa kau sedang mengajariku cara berperang?" tanya Luca tajam, membuat Bobby seketika meneguk ludahnya.
"Bukan begitu, maksudku kita bisa pakai jalur udara atau—"
"Tidak ada waktu!" potong Luca. Ia menarik pelatuk pistolnya perlahan. "Sean sudah menyentuh apa yang seharusnya tidak dia sentuh."
Bobby menghela napas pasrah. Ia tahu jika Luca sudah dalam mode seperti ini, tidak ada satu pun orang di dunia ini termasuk Edgar Frederick yang bisa menghentikannya.
"Dia milikku. Jadi dia harus kembali padaku. Utuh," ucap Luca dingin, kata-katanya terdengar seperti sebuah vonis mati bagi siapa pun yang menghalangi jalannya.
"Milikmu sebagai aset, atau milikmu sebagai, ya kau tahu, teman?" tanya Bobby hati-hati, berusaha mencairkan suasana.
Luca melirik Bobby sekilas. "Milikku adalah milikku. Tidak perlu ada definisi lain."
ternyata Sean juga manusia biasa😌