NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Gorengan Laku Keras

#

Sudah dua minggu Naura jualan gorengan. Dan hasilnya luar biasa. Setiap hari gorengannya laku habis sebelum jam dua belas siang. Pelanggan makin banyak. Nggak cuma dari gang mereka. Tapi dari gang sebelah juga. Bahkan ada yang rela jalan jauh cuma buat beli gorengan Naura.

"Mbak Naura! Aku pesan sepuluh bungkus ya buat kantor!" teriak Mas Andi, tukang ojek langganan yang selalu beli banyak.

"Siap Mas! Tunggu sebentar ya!"

Naura sibuk bungkusin gorengan dengan cekatan sambil senyum senyum. Perutnya yang sekarang udah agak besar nggak bikin dia berhenti kerja. Malah makin semangat. Dia seneng bisa bantu Zidan. Seneng bisa cari uang sendiri.

Hari itu dia untung enam puluh ribu. Rekor baru! Biasanya cuma lima puluh ribu. Tapi hari ini banyak yang pesen buat kantor sama acara arisan.

Malamnya, waktu Zidan pulang, Naura langsung sambut di pintu dengan senyum lebar.

"Mas! Hari ini aku untung enam puluh ribu! Enam puluh ribu Mas!"

Zidan yang capek banget langsung senyum lebar juga. Dia angkat Naura pelan terus putar putar. "Alhamdulillah! Istri aku emang hebat!"

"Mas turunin! Aku pusing! Hahaha!"

Zidan turunin Naura terus peluk erat. "Terima kasih ya sayang. Terima kasih udah mau kerja keras. Terima kasih udah nggak pernah ngeluh."

"Sama sama Mas. Kita kan satu tim."

Malam itu mereka ngitung uang hasil jualan dua minggu terakhir. Total delapan ratus ribu! Ditambah gaji Zidan yang terkumpul sejuta dua ratus ribu. Total dua juta rupiah!

"Naura, kita bisa bayar sebagian hutang ke Pak Burhan! Kita bisa bayar biaya rumah sakit Ibu! Kita bisa nabung buat persalinan nanti!" Zidan megang uang itu sambil nangis.

Naura ikut nangis. "Ini rezeki dari Allah Mas. Allah udah kasih kita jalan. Kita harus bersyukur. Kita harus sholat tahajud malam ini. Kita harus syukuran."

"Iya. Kita harus."

Malam itu mereka sholat tahajud berdua sambil nangis bahagia. Doa syukur yang panjang. Terima kasih yang tulus.

"Ya Allah, terima kasih udah bukain jalan buat kami. Terima kasih udah kasih rezeki yang berkah. Ya Allah, tambah terus rezeki kami. Biar kami bisa bayar hutang. Biar kami bisa hidup lebih layak. Aamiin ya Rabbal alamin."

Besoknya pagi, Naura bangun jam empat subuh seperti biasa. Dia sholat subuh dulu, terus langsung masak gorengan. Pisang goreng seratus bungkus. Tahu isi seratus bungkus. Tempe mendoan lima puluh bungkus. Bakwan jagung lima puluh bungkus.

Tangannya udah lincah banget. Nggak kayak awal awal yang masih canggung. Sekarang dia bisa nggoreng sambil ngobrol, sambil senyum, sambil dengerin musik dari radio tua Bu Mariam yang dipinjamkan.

Jam tujuh pagi, dia udah selesai. Dia susun semua gorengan di meja depan kontrakan. Bau harum gorengan menguar kemana mana. Bikin orang yang lewat pada noleh.

"Mbak Naura udah buka! Ayo beli!"

Pelanggan mulai berdatangan. Antri malah. Naura melayani dengan ramah sambil senyum terus.

"Terima kasih ya Bu!"

"Besok dateng lagi ya Mas!"

"Siang ini ada lagi kok Mbak!"

Tapi di sudut gang, ada yang ngeliatin Naura dengan tatapan tajam penuh iri.

Ibu Lastri. Pedagang gorengan yang udah jualan di gang sebelah sejak lima tahun lalu. Dia punya lapak tetap di pinggir jalan besar. Dulu dagangannya laku keras. Tapi sejak Naura mulai jualan, pelanggannya banyak yang pindah.

"Sialan. Dasar pendatang baru. Ngerebut pelanggan orang," gerutu Ibu Lastri sambil nyapu lapaknya yang sepi.

Dia jalan mendekati lapak Naura sambil pura pura mau beli.

"Eh Mbak, rame banget ya dagangannya?"

Naura noleh sambil senyum. "Alhamdulillah Bu. Lagi rejeki."

"Kamu pake minyak apa? Kok bisa laku keras gini?"

"Minyak goreng biasa kok Bu. Yang satu literan."

Ibu Lastri melirik ke arah dapur yang pintunya kebuka dikit. Dia lihat jerigen minyak goreng di sudut ruangan. Matanya menyipit.

"Oh gitu. Okelah kalau gitu."

Ibu Lastri pergi dengan wajah yang nggak suka. Di kepalanya udah mulai muncul ide jahat.

Sore harinya, Ibu Lastri dateng ke warung Bu Siti, tempat ibu ibu ibu komplek suka kumpul ngegosip sambil belanja.

"Bu Siti, tau nggak si Naura yang jualan gorengan itu?"

"Tau dong Bu. Gorengannya enak. Murah lagi. Aku sering beli buat anak anak."

Ibu Lastri bisik bisik pelan. "Eh tapi tau nggak sih, aku lihat dia pake minyak jelantah bekas berkali kali. Minyaknya udah item. Aku lihat sendiri tadi pagi pas lewat."

"Hah? Serius Bu?"

"Serius! Aku nggak bohong! Makanya harganya murah. Kan modalnya murah juga. Bahaya lho Bu makan gorengan yang minyaknya udah bekas bekas gitu. Bisa kanker."

Bu Siti melotot. "Astghfirullah! Pantesan murah. Ternyata pake minyak jelek!"

"Iya! Makanya aku kasih tau. Biar ibu ibu yang lain nggak kena tipu. Kasian kan kalau sampe keluarga kita sakit gara gara makan gorengan yang nggak sehat."

Berita itu nyebar cepet banget. Dari mulut ke mulut. Dari ibu ibu ke ibu ibu yang lain. Malamnya aja udah setengah komplek yang tau.

Besoknya pagi, waktu Naura buka lapak, pelanggan yang dateng cuma sedikit. Nggak kayak biasanya yang antri panjang.

"Kok sepi ya hari ini?" gumam Naura sambil nunggu pelanggan.

Jam sepuluh lewat, baru ada lima orang yang beli. Padahal biasanya jam segini gorengannya udah habis setengah.

Naura mulai khawatir. "Ada apa ya? Kenapa pada nggak beli?"

Jam sebelas, Bu Siti lewat depan lapak Naura. Naura langsung sapa.

"Bu Siti! Mau beli gorengan Bu? Hari ini ada pisang goreng coklat lho. Baru coba resep baru."

Bu Siti cuma ngelirik sekilas terus geleng. "Nggak ah Mbak. Aku lagi diet."

"Lho kemarin kemarin Bu Siti sering beli. Kok tiba tiba diet?"

"Ya lagi pengen diet aja. Udah ya Mbak aku buru buru."

Bu Siti langsung pergi dengan cepet. Naura bengong. Aneh banget.

Siang itu, Naura cuma laku dua puluh ribu. Jauh banget dari biasanya yang enam puluh ribu. Dia bingung setengah mati.

"Kenapa ya? Kok pada nggak beli? Gorenganku nggak enak lagi ya? Tapi aku masak sama persis kayak biasanya."

Sore harinya, waktu Zidan pulang, Naura cerita dengan wajah sedih.

"Mas, hari ini cuma laku dua puluh ribu. Nggak kayak biasanya. Aku nggak ngerti kenapa."

Zidan ikut bingung. "Mungkin lagi sepi aja kali. Besok pasti rame lagi."

Tapi besoknya juga sama. Sepi. Malah lebih sepi. Cuma laku lima belas ribu.

Naura mulai panik. "Mas, ada yang nggak beres. Pasti ada yang nggak beres."

Malamnya, Bu Mariam dateng ke kontrakan dengan wajah serius.

"Naura Nak, Ibu mau ngomong sesuatu. Duduk dulu."

Naura duduk dengan deg degan. "Ada apa Bu?"

"Ibu denger denger dari ibu ibu di warung tadi sore. Ada yang nyebarin gosip kalau kamu jualan gorengan pake minyak jelantah bekas yang udah item. Katanya nggak sehat. Bahaya."

Naura melotot. "HAH? Siapa yang nyebarin gosip itu? Aku nggak pernah pake minyak bekas! Aku selalu pake minyak baru! Setiap hari aku ganti minyak!"

"Ibu tau Nak. Ibu percaya kamu. Tapi ibu ibu yang lain nggak tau. Mereka percaya gosip itu. Makanya mereka pada nggak beli lagi."

Naura langsung nangis. "Kenapa Bu? Kenapa ada orang yang jahat kayak gitu? Aku kan cuma mau cari nafkah halal. Kenapa harus difitnah?"

Zidan yang dengerin langsung marah. "Siapa yang nyebarin gosip itu? Siapa?"

"Kata ibu ibu, yang pertama nyebarin itu Ibu Lastri. Pedagang gorengan di gang sebelah."

Zidan langsung berdiri. "Aku akan dateng ke sana sekarang! Aku akan klarifikasi!"

"Mas jangan! Nanti malah ribut!"

"Aku nggak peduli! Dia udah ngerusak nama baik kita! Aku nggak terima!"

Bu Mariam berdiri terus pegang lengan Zidan. "Zidan, tenang dulu. Kalau kamu dateng ke sana dengan marah marah, nanti malah jadi masalah. Mending kita pikirin cara lain buat buktiin kalau gosip itu salah."

Zidan napas berat berat. Tangannya mengepal kuat. "Tapi gimana caranya?"

Bu Mariam mikir sebentar. "Gini. Besok kita bikin acara kecil kecilan. Kita undang ibu ibu komplek buat liat langsung cara Naura masak gorengan. Biar mereka tau kalau Naura pake minyak baru yang bersih. Gimana?"

Naura ngangguk sambil masih nangis. "Iya Bu. Itu ide bagus. Aku mau buktiin kalau aku nggak pake minyak jelek."

Besoknya pagi, Bu Mariam keliling komplek ngasih tau ibu ibu kalau ada acara demo masak gorengan gratis di depan kontrakan Naura. Siapa aja boleh dateng. Gratis. Bahkan nanti dikasih gorengan gratis juga.

Jam sepuluh pagi, sekitar dua puluh ibu ibu udah berkumpul di depan kontrakan Naura. Termasuk Bu Siti yang kemarin nolak beli. Dan Ibu Lastri yang dateng dengan wajah nggak suka.

Naura berdiri di depan kompor dengan gugup. Tangan gemetar. Tapi dia harus kuat. Dia harus buktiin dia nggak salah.

"Assalamualaikum ibu ibu. Terima kasih udah mau dateng. Aku tau ada gosip yang nyebar kalau aku pake minyak jelantah buat jualan. Hari ini aku mau buktiin kalau itu nggak bener."

Naura buka jerigen minyak goreng yang baru. Masih segel. Dia buka di depan semua orang. "Ini minyak yang aku pake. Baru. Segel. Aku beli di toko sembako Bu Amir di ujung gang. Ibu ibu bisa cek sendiri."

Dia tuang minyak ke wajan. Bening. Jernih. Nggak ada yang item item.

"Setiap hari aku ganti minyak. Aku nggak pernah pake minyak bekas. Karena aku jualan buat cari rezeki halal. Aku nggak mau nipu pelanggan."

Dia mulai nggoreng pisang di depan ibu ibu itu. Satu persatu. Dengan hati hati. Matengnya sempurna. Warnanya kuning keemasan. Nggak gosong. Nggak item.

Ibu ibu yang ngeliat pada berbisik bisik.

"Bener ya minyaknya bersih."

"Iya. Bening gitu."

"Berarti gosipnya bohong dong."

Setelah selesai, Naura bagi bagi gorengan gratis ke semua ibu ibu yang dateng. Mereka pada cobain. Matanya melotot.

"Enak banget!"

"Kriuk!"

"Nggak berminyak!"

Bu Siti langsung datengin Naura sambil megang tangan Naura. "Naura, maafin Ibu ya. Ibu udah percaya gosip yang nggak bener. Ibu nggak akan percaya lagi. Ibu janji."

Naura senyum sambil nangis. "Nggak apa apa Bu. Yang penting sekarang Ibu udah tau yang bener."

Tapi Ibu Lastri yang berdiri di pojok cuma diem aja. Wajahnya masam. Dia langsung pergi tanpa bilang apa apa.

Sejak hari itu, pelanggan Naura balik lagi. Malah lebih banyak dari sebelumnya. Karena ibu ibu yang kemarin dateng pada nyebarin kabar kalau gorengan Naura beneran enak dan pake minyak bersih.

Seminggu kemudian, Naura balik lagi untung enam puluh ribu per hari. Bahkan kadang tujuh puluh ribu kalau ada yang pesen banyak.

Suatu sore, Ibu Lastri dateng ke lapak Naura dengan wajah rendah. Dia berdiri di depan meja sambil nunduk.

"Naura... Ibu minta maaf. Ibu yang nyebarin gosip itu. Ibu iri liat daganganmu laku keras. Maafin Ibu ya."

Naura kaget. Nggak nyangka Ibu Lastri mau minta maaf.

"Ibu kenapa ngaku sekarang?"

"Karena Ibu ngerasa bersalah. Ibu nggak bisa tidur nyenyak gara gara inget udah ngefitnah kamu. Ibu mohon maafin Ibu. Ibu janji nggak akan ulangin lagi."

Naura diem sebentar. Hatinya masih sakit. Tapi dia inget ajaran agama. Maafkan orang yang minta maaf.

"Aku maafin Ibu. Tapi Ibu jangan ulangin lagi ya. Fitnah itu dosa besar."

Ibu Lastri ngangguk sambil nangis. "Iya Nak. Ibu janji. Terima kasih udah maafin Ibu."

Setelah Ibu Lastri pergi, Naura duduk di kursi sambil tarik napas panjang. Dadanya lega. Masalahnya selesai.

Malam harinya, waktu ngitung uang hasil jualan seminggu terakhir, mereka dapet lima ratus ribu.

"Naura, kita udah kumpulin tiga juta lebih! Kita bisa bayar hutang ke Pak Burhan bulan ini! Kita juga bisa bayar biaya rumah sakit Ibu!" Zidan megang uang itu sambil senyum lebar.

"Alhamdulillah Mas. Ini semua berkat doa kita. Berkat kerja keras kita berdua."

Mereka berpelukan sambil nangis bahagia.

"Naura, terima kasih ya. Terima kasih udah kuat ngadepin fitnah kemarin. Terima kasih udah nggak menyerah."

"Sama sama Mas. Kita kan satu tim. Apapun yang terjadi, kita hadapin bareng."

Malam itu mereka sholat tahajud lagi. Doa syukur yang panjang.

"Ya Allah, terima kasih udah selesaikan masalah kami. Terima kasih udah buka mata orang orang yang percaya fitnah. Ya Allah, terus berikan kami rezeki yang berkah. Terus kuatkan kami. Aamiin ya Rabbal alamin."

Besoknya pagi, Naura bangun dengan semangat baru. Dia masak gorengan dengan senyum di wajah. Perutnya yang makin membesar nggak bikin dia berhenti. Malah makin semangat.

"Dedek, Ibu lagi kerja nih. Ibu kerja buat kamu. Biar kamu lahir nanti kita udah punya uang lebih. Biar kamu nggak kekurangan. Ibu sayang kamu Nak."

Dia usap perutnya sambil terus nggoreng.

Dan hari itu, gorengannya laku habis sebelum jam sebelas. Untungnya tujuh puluh ribu.

Rekor baru lagi.

Naura senyum sambil ngantongin uang itu.

"Alhamdulillah. Ya Allah, terima kasih. Terima kasih banyak."

Hidupnya mulai membaik.

Pelan tapi pasti.

Sedikit demi sedikit.

Dan dia bersyukur banget.

Bersyukur punya suami yang supportif.

Bersyukur punya Bu Mariam yang baik hati.

Bersyukur Allah masih kasih dia kesempatan buat bangkit.

Tapi dia nggak tau.

Ujian yang lebih berat masih menanti di depan.

Ujian yang akan datang dalam bentuk yang nggak terduga.

Ujian yang akan mengubah segalanya.

Tapi untuk hari ini, dia bahagia.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

1
checangel_
Jangan heran, Zidan. Hidup di perkampungan memang seperti itu, jadi harus sabar seluas samudera 🤝
checangel_
Andai saja saat itu mereka terdaftar dalam KIS 🤧
checangel_
lebih tepatnya melawan ego diri sendiri dari setiap orang yang datang dan juga pergi🤧
checangel_
Lagi dan lagi-lagi ku mendengar janji 🤣, sudahi janji-janji itu bisa nggak🤧, biasanya yang berbau janji, hanya bergeming di perbatasan antara luka dan bahagia
Ema Susanti
cerita ini real bget, terjadi di kehidupanku. sampe aku di ceraikan karena wanita lain yang berstatus janda dan berkedok pula teman kerja.
aa ge _ Andri Author Geje: iya kak.. ini juga kayak gini cerita nya semua karna harta orang bisa lupa
total 1 replies
ceuceu
Bayar bunga doang 2 juta tapi hutang tetep blm kebayar,itulah makanya jgn pinjem rentenir selain dosa besar tap nyekek.
ceuceu
Naura suami pulang kerja jgn ngadu yg bikin hati suami sakit,ademin suami klo pulang kerja,nanti ceritanya klw udah santai.
ceuceu
Naura knp ga jagain ibunya dirumah sakit?
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
ceuceu
kok malam abis penyatuan subuh langsung wudhu?
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja
aa ge _ Andri Author Geje: makasih dah ingetin revisi
total 2 replies
checangel_
Bentar, nggak ada KIS kah?
aa ge _ Andri Author Geje: bisa di bilang kan belum semua nya dapat
total 2 replies
checangel_
No, jangan lebih dari apa pun! Ingat, karena yang lebih hanya milik Allah 😇
checangel_
Gimana tuh nangis dalam diam? 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: pura pura kelilipan lahhh🤣
total 3 replies
checangel_
الله اكبر
checangel_
Begitulah perasaan wanita, jika sudah terluka, walaupun hanya sebatas omongan tetangga/Facepalm/, tapi .... kembali lagi pada pribadi yang kuat dan tentunya cuek aja🤭
checangel_
Komitmenmu harus abadi ya, Mas Zidan 🤝
aa ge _ Andri Author Geje: semoga aja...tapi ya namanya manusia

Indosat (ingat doa saat gelap)
lupa akan prosesnya
total 1 replies
checangel_
Anggap saja kehadiran mereka seperti angin lewat yang tak pernah ada (abaikan jangan diambil pusing perkataan mereka yang tak penting)/Facepalm/
checangel_
Wah, pernikahan islami yang indah 😇, berbeda dengan realita zaman sekarang ...... tahulah seperti apa keadaan latar panggungnya /Facepalm/
checangel_
Biasalah, anggap saja riuh mereka seperti iklan drama lewat (cuek aja, dengarkan lalu hempaskan)/Hey//Facepalm/
checangel_
Yang bener Mas Zidan?/Chuckle/
aa ge _ Andri Author Geje: begitu lah relalita kehidupan nya
total 1 replies
checangel_
Kata hati memang selalu tepat sih, tapi tak semua 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: benar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!