Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding Yang Berbicara
Suasana di dalam rumah yang baru saja kami tempati beberapa tahun ini mulai terasa seperti sebuah labirin yang penuh dengan sekat transparan. Sejak serangan panik yang kualami di hadapan Aris, aku semakin menarik diri ke dalam cangkangku sendiri. Aku berangkat kerja lebih pagi sebelum Sari sempat menyapa di dapur, dan aku pulang selarut mungkin agar tidak perlu bergabung dalam obrolan hangat mereka di ruang tengah. Bagiku, kebahagiaan domestik mereka adalah cermin yang memantulkan segala kekurangan dan luka yang kupendam.
Namun, menarik diri bukan berarti masalah selesai. Kehadiran Sari sebagai orang baru di rumah ini membuat setiap gerak-gerikku diamati dengan cara yang berbeda. Jika Ibu dan Ayah sudah terbiasa dengan sifatku yang "pendiam dan mandiri", Sari melihatnya sebagai sikap dingin yang mengintimidasi.
"May, kamu ada masalah sama aku?" tanya Sari suatu sore ketika aku baru saja mengunci pintu pagar. Ia sedang menyiram tanaman di halaman yang kami bangun bersama.
Aku tertegun, tanganku masih memegang kunci. "Nggak ada, Sar. Kenapa tanya begitu?"
"Soalnya kamu kayak menghindari aku. Kalau aku masak, kamu jarang makan di rumah. Kalau ada aku di ruang tamu, kamu langsung masuk kamar. Mas Bayu juga merasa kamu sekarang beda," ucapnya dengan nada hati-hati, namun ada gurat ketersinggungan di matanya.
Aku menghela napas panjang. Bagaimana aku harus menjelaskan bahwa aku tidak membencinya? Aku hanya merasa "terancam" oleh normalitasnya. Aku hanya merasa bahwa kehadirannya mengganggu kesunyian yang selama ini menjadi obat bagi traumaku. "Aku cuma capek, Sar. Pekerjaan di kantor lagi banyak. Jangan dimasukkan ke hati."
Aku berlalu masuk ke dalam tanpa menoleh lagi. Namun di dalam rumah, Bayu sudah menungguku di depan pintu kamar.
"May, kita perlu bicara," ujar Bayu. Suaranya tidak keras, tapi tegas nada yang biasanya ia gunakan saat kami sedang membicarakan cicilan bank yang serius.
Kami duduk di teras samping, tempat yang agak jauh dari pendengaran Ibu dan Ayah. Bayu menatapku lama sebelum akhirnya bicara. "Kamu pemilik rumah ini, May. Aku tahu. Kamu yang paling banyak berkorban buat bayar utang di bank. Tapi ini juga rumah keluarga. Sari itu istriku sekarang, dia juga bagian dari kita. Kamu jangan bikin dia merasa seperti orang asing di sini."
Kalimat itu seperti tamparan bagiku. "Aku nggak pernah menganggap dia orang asing, Bang. Aku cuma butuh ruang."
"Ruang atau benteng, May?" tanya Bayu tajam. "Sejak kejadian di rumah Nenek dulu, aku tahu kamu berubah. Aku tahu kamu bawa luka yang berat. Tapi kamu nggak bisa terus-terusan menghukum diri sendiri dan orang di sekitarmu. Aris cerita sama Abang, katanya kamu... sempat pingsan atau sesak napas waktu makan malam?"
Aku tersentak. Jadi Aris menghubungi Bayu? Rasa malu dan marah bercampur menjadi satu. "Dia nggak seharusnya bilang begitu ke Abang!"
"Dia khawatir, May! Dia peduli! Dan aku juga khawatir," Bayu memegang pundakku. "Kamu sukses kerja, kamu hebat bisa bangun rumah ini, tapi jiwamu masih tertinggal di rumah panggung itu. Kamu harus cari bantuan. Kamu nggak bisa sembuh cuma dengan cara bayar cicilan tepat waktu."
Malam itu, kata-kata Bayu terus terngiang di kepalaku. Jiwamu masih tertinggal di rumah panggung itu. Aku menatap tanganku yang gemetar. Aku menyadari bahwa kesuksesan finansial tidak otomatis memberikan kesembuhan mental. Aku bisa membeli kasur paling mahal di dunia, tapi aku tetap tidak bisa tidur tenang. Aku bisa membangun dinding rumah paling kokoh, tapi bayangan pria tetangga itu tetap bisa menembusnya.
Dengan tangan yang masih ragu, aku membuka laptop. Aku mulai mencari informasi tentang konseling atau terapis trauma. Selama ini, aku menganggap pergi ke psikolog adalah tanda kelemahan sesuatu yang hanya dilakukan oleh orang yang "kalah". Namun, melihat kehancuranku di depan Aris dan kerengganganku dengan Bayu, aku sadar bahwa aku sedang kalah dalam peperangan melawan diriku sendiri.
Aku menemukan sebuah klinik kecil yang letaknya agak jauh dari kantorku, agar tidak ada rekan kerja yang melihat. Aku mendaftar melalui pesan singkat, jantungku berdegup kencang seolah-olah aku sedang melakukan kejahatan besar.
Hari kunjungan pertama itu tiba. Aku duduk di ruang tunggu yang beraroma lavender, memilin ujung kemeja kerjaku. Saat namaku dipanggil, aku masuk ke dalam ruangan yang tenang. Di sana duduk seorang wanita paruh baya dengan tatapan yang sangat menenangkan.
"Apa yang membawa Maya ke sini hari ini?" tanyanya lembut.
Aku terdiam cukup lama. Lidahku terasa kelu. Rahasia yang kusimpan selama belasan tahun ini terasa seperti bongkahan batu besar di tenggorokanku. Aku melihat ke arah jendela, lalu kembali menatapnya.
"Saya... saya punya rumah baru," mulaku dengan suara yang hampir tak terdengar. "Saya punya pekerjaan bagus. Saya punya keluarga yang utuh kembali. Tapi saya merasa kotor. Saya merasa tidak pantas dicintai karena sesuatu yang terjadi saat saya masih kecil."
Dan di sana, di ruangan asing itu, air mataku tumpah. Bukan air mata kemarahan seperti saat menghadapi paman-pamanku, tapi air mata duka untuk gadis kecil berusia sembilan tahun yang dulu tak punya siapa-siapa untuk mengadu. Aku mulai bercerita tentang siang sunyi itu, tentang bau keringat pria itu, tentang kunci yang diputar, dan tentang bagaimana aku mengubur semuanya di bawah tumpukan kulit bawang dan kerja keras.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membiarkan dinding pertahananku runtuh total. Aku tidak perlu menjadi "Maya yang pengertian", aku tidak perlu menjadi "Maya yang mandiri". Aku hanya menjadi Maya seorang manusia yang terluka dan sangat ingin sembuh.
Pulang dari sana, langit sore tampak sedikit lebih cerah. Aku tahu jalan menuju kesembuhan ini akan jauh lebih lama daripada tenor cicilan bankku. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa beban di pundakku bukan lagi sebuah hukuman, melainkan sesuatu yang akhirnya mulai kubongkar satu per satu.
Sesampainya di rumah, aku melihat Sari sedang menyiapkan makan malam. Aku mendekat, mengambil pisau dapur, dan membantunya mengupas bawang kali ini bukan karena terpaksa atau untuk mencari uang, tapi karena aku ingin mencoba kembali menjadi bagian dari keluarga ini.
"Maaf soal kemarin ya, Sar. Aku lagi banyak pikiran," ucapku tulus.
Sari tersenyum lebar, tampak sangat lega. "Nggak apa-apa, May. Yang penting kamu baik-baik saja."
Malam itu, cicilan rumah masih ada di daftar pengeluaranku, tapi di daftar jiwaku, aku mulai mencicil sebuah kedamaian yang baru.
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..