Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Suasana kembali menegang. Elsa terlihat semakin tidak nyaman.
Seyra melangkah satu langkah lagi, membuat Ozil refleks mundur setengah langkah. Senyum tipis terukir di wajahnya, tapi matanya sama sekali tidak tersenyum.
"Denger ya, Ozil," katanya pelan namun tegas. "Lo bukan pusat dunia. Jangan karen Kakak gue masih ngejar lo, lo jadi merasa besar kepala."
Ozil mengepalkan tangan. "Bangsat."
Saat Ozil hendak menampar Seyra, namun gerakan tangannya terhenti karena Seyra langsung menahan gerakan tersebut.
Detik berikutnya, tamparan keras menggema di kelas itu. Kali ini bukan Ozil yang melakukannya melainkan Seyra, tak hanya sekali melainkan dua kali yang membuat sudut bibir Ozil berdarah.
"Jangan mentang-mentang gue cewek gue nggak bisa main kasar," Seyra menyeringai. "Gue bisa aja masukin lo ke rumah sakit, kalo lo berani mengusik orang terdekat gue."
Valeri terdiam. Kata-kata Seyra seperti tamparan kedua, kali ini bukan fisik melainkan telak menghantam harga diri.
Elsa menatap Ozil, ragu. "Ozil…?"
Seyra melanjutkan, suaranya kini lebih rendah namun menusuk. "Dan satu lagi. Jangan pernah angkat tangan lagi di depan gue. Mau itu ke kakak gue, atau ke siapa pun. Lo ngerti?"
Tatapan mereka bertabrakan. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Ozil akhirnya mendecih pelan, lalu menarik tangan Elsa. "Kita pergi."
Sebelum benar-benar keluar, ia berhenti di ambang pintu dan menoleh. "Jaga suara lo baik-baik. Karena gue bisa aja bikin lo kehilangan pita suara selamanya."
Seyra menyeringai tipis. "Ancaman lo basi."
Valeri menatap lantai, darah di bibirnya mulai mengering. "Lo nggak usah ikut campur, Sey," gumamnya pelan.
Seyra menoleh, ekspresinya berubah datar. "Gue nggak lagi bela lo."
Valeri terdiam.
"Gue cuma nggak suka liat orang yang sok kuat padahal nggak konsisten," lanjut Seyra. "Lo mau ngejar dia? Silakan. Tapi jangan sampai lo keliatan kayak orang yang kehilangan harga diri cuma demi cowok nggak bego kayak dia."
Sudut bibir Valeri terangkat sedikit, dia mengamati Seyra yang kembali duduk di kursinya dan membenamkan wajah pada lipatan tangan di atas meja.
Valeri berbalik dia pergi meninggalkan kelas Seyra, ada setitik rasa hangat di dalam hatinya. Meski sikap adiknya dingin dan acuh, seakan dia tak peduli pada orang sekitarnya namun kejadian barusan membuat Valeri yakin jika adiknya hanya tidak bisa mengekspresikan perasaannya.
Menit demi menit berlalu, kelas masih hening sebab hari itu jam pelajaran pertama kosong. Di tengah keheningan, Arthur berjalan masuk ke dalam kelas tanpa menimbulkan suara.
Pemuda itu tersenyum tipis melihat pacarnya terlelap, dengan hati-hati Arthur duduk di depan meja Seyra. Pemuda itu menyingkirkan anak rambut yang ada di wajah gadis itu.
"Cantik banget pacar gue." Arthur terkekeh geli.
Dia menatap intens wajah Seyra yang tampak damai saat terlelap. Wajahnya yang halus dan lembut membuat Arthur merasa beruntung bisa memiliki gadis seperti Seyra di sampingnya.
Tiba-tiba, suara pintu kelas terbuka dan beberapa teman sekelas masuk. Mereka saling berbisik, menyadari keberadaan Arthur dan gadis yang sedang tidur di depannya. Beberapa dari mereka tersenyum dan melirik ke arah Seyra.
Mereka tidak berani bersuara, terlebih dua remaja itu merupakan pentolan sekolah tersebut. Gerakan tangan Arthur yang memainkan rambut Seyra, membuat pemiliknya terbangun.
"Eugh..." Seyra mengerjapkan kedua matanya.
"Masih ngantuk hm?" tanya Arthur lembut.
Seyra mendongak, netranya bertatapan langsung dengan netra Arthur. "Ngapain lo di kelas gue?"
"Ketemu lo," jawabnya enteng.
Seyra menegakan kembali tubuhnya, dia merentangkan kedua tangannya ke atas. "Udah ketemu, kan? sana balik, gue mau ke kantin."
"Ikut," ujar Arthur sambil mendorong kursi ke belakang.
Seyra menghela napas lelah, tak ingin membuat keributan dia membiarkan Arthur mengekorinya menuju kantin. Layaknya anak ayam yang mengikuti induknya, Arthur menggandeng tangan Seyra.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Agha dan juga Samuel. Seketika raut wajah Arthur berubah jengkel.
"Seyra!" teriakan melengking dari mulut Samuel, begitu menggelegar.
Seyra menghentikan langkah, dia menatap Samuel kesal. "Bisa nggak sih, lo jangan teriak sehari aja, Sam."
"Nggak bisa, hidup gue hampa kalo nggak teriak."
"Terserah, Sam! terserah." Jawab Seyra kesal bukan kepalang.
Seyra mengusap kedua telinganya kasar, dia heran mengapa dirinya bisa bersahabat dengan cowok yang mirip toa begini. Meski terkadang dia jengkel dan kesal, tapi adanya mereka berdua membuat Seyra bersyukur karena dia tidak perlu repot-repot mencari teman lagi.
"Sey, nanti malam jadi, kan?" tanya Agha yang sedari tadi diam.
Seyra mengangguk, "Jadi, nanti gue ke tempat lo."
"Mau kemana kalian bertiga?" Arthur yang sejak tadi diam merasa penasaran, sekaligus cemburu karena Seyra lebih dekat dengan para sahabatnya dari pada dirinya.