Jessie seorang single mother yang sangat menyayangi anaknya. Di asingkan oleh keluarga saat mereka mengetahui bahwa dirinya hamil. Lalu terpaksa harus diam dan tidak memberi tahu pria yang sudah membuatnya hamil, lantaran pria itu adalah suami orang, yang juga akan memiliki anak dari istri sah nya.
Menceritakan kehidupan Jessie bersama anaknya, Lauryn. Umurnya masih 5 tahun, sedang sibuk-sibuknya bermain sambil sekolah. Pekerjaan Jessie yang hanya seorang seorang pembuat kue di sebuah kedai, tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melangkah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon auzuzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 21
...Author point of view....
Troy menangkup rahang Jessie agar menatapnya. Mata Jessie berusaha menatap arah lain, namun Troy memaksanya untuk menatap pria itu lurus. Jessie menggeleng cepat. Ia menjauhkan tubuhnya dari Troy.
“Itu tidak mungkin, Troy. Tidak mungkin.” ujar Jessie sambil menggelengkan kepalanya enggan. Troy menarik sudut bibirnya ke atas.
“Aku tidak bertanya, Sayang. Aku tidak memberikan mu sebuah pilihan. Cepat atau lambat kita akan menikah.” balas Troy dengan sorot matanya yang tajam. Air wajahnya yang gelap, semakin mempertegas keinginannya.
“Kamu egois, Troy. Ka- kamu juga menyimpan video tak senonoh ku. Seharusnya kamu tidak melakukan hal itu.” ujar Jessie mengalihkan pandangannya ke samping.
Troy terkekeh, ia berdiri lalu kembali berlutut di hadapan Jessie. Tangannya kini menarik pipi Jessie agar wajah wanita di hadapannya menunduk.
“Kamu pikir aku pria macam apa? Aku tidak akan membiarkan seorang pun melihat tubuh indahmu. Tidak akan pernah. Hanya aku, yang boleh melihatnya.” ujar Troy tegas. Ia tekankan kalimat di akhir, guna menekankan pada Jessie. Bahwa tubuhnya hanya milik Troy seorang.
“Kamu gila, Troy.” ucap Jessie mendelik tajam. Wajahnya berubah judes menyadari pandangan Troy jatuh pada dadanya.
“Aku memang sudah gila karena mu.” jawab Troy terkekeh sumbang. Tentu ia hanya bercanda, jika Troy gila. Maka ia sudah lahap tubuh Jessie yang membuatnya lapar.
“Sekarang apa lagi yang perlu kamu tanyakan, Sayang?” tanya Troy menggoda Jessie dengan alis yang ia naik turunkan.
Jessie memutar bola matanya malas. Membuat Troy langsung melotot di buatnya. “Hey, jangan lakukan itu.” tekan Troy dengan nada tak suka.
“Apa?” tanya Jessie bingung dengan ucapan Troy barusan. Memangnya apa yang ia perbuat? Bukan kah pria itu yang dari tadi bertingkah.
“Jangan putar matamu, atau kamu akan mendapatkan akibatnya.” ancam Troy tidak main-main. “Itu tidak sopan.” lanjut Troy menggeram kesal.
Jessie mengedikan bahunya acuh. Namun ia tetap menurut karena tahu bahwa Troy tidak pernah main-main dengan ancamannya.
“Jessie, ada yang ingin kamu tanyakan lagi?” tanya Troy benar-benar bertanya. Karena ia tidak ingin setengah-setengah dalam memberikan informasi.
“Siapa Beckham sebenarnya? Kamu bilang dia atasanmu. Tapi tadi kamu bilang dia yang memberikan informasi mengenai diriku.” ujar Jessie membalas pertanyaan Troy dengan sebuah pertanyaan kembali.
Troy mengurut pangkal hidungnya pusing. Ia melupakan satu fakta bawa ia telah membohongi Jessie dengan mengatakan bahwa Beckham adalah atasannya saat itu.
“Aku berbohong,”
“Lagi?”
Belum melanjutkan ucapannya, Jessie telah memotong penjelasan Troy terlebih dahulu. Membuat Troy mengangguk dengan tampang bodohnya. Jessie menggeram kesal, refleks tangannya memukul cukup keras pundak Troy.
“Kamu saja berbohong terus padaku, Troy! Bagaimana aku bisa menikah denganmu sialan.” umpat Jessie di akhir kalimat tanpa sadar.
Menyadari suasana yang tiba-tiba saja menjadi hening. Jessie menutup mulutnya shock. Ia tak sengaja mengumpat Troy. Mungkin jika sebelum ia tahu kebenaran yang terjadi, Jessie tidak akan merasa bersalah dengan mengumpat Troy. Tapi kini situasi berbanding terbalik.
“Apa kau bilang? Sialan? Coba ucapkan lagi. Aku mau dengar.” ujar Troy dengan raut wajahnya yang datar. Jessie sulit menebak raut wajah Troy. Karena pria itu susah sekali untuk di tebak.
“S-sialan.”
Troy menggeram lirih. Ia berdiri dari berlututnya. Lalu tangannya mendorong pundak Jessie kasar. Hingga wanita itu berbaring di atas kasur. Tanpa memberikan kesempatan Jessie untuk bergerak, Troy segera menjatuhkan dirinya ke atas tubuh Jessie. Tidak sepenuhnya menjatuhkan, ia menyanggah tubuhnya dengan kedua tangan yang berada di masing-masing kepala Jessie.
“Katakan itu sekali lagi.” bisik Troy pelan. Sangat pelan, hingga berhasil membuat bulu kuduk Jessie meremang.
Merasa tertantang, Jessie kembali mengucapkan kalimat kasar itu lagi.
“Kamu sialan Troy!!”
Tepat saat itu juga Troy membungkam bibir Jessie dengan bibirnya. Menelusupkan lidahnya menjelajahi rongga mulut Jessie. Jessie yang tidak diberikan kesempatan untuk bernafas, otomatis langsung membuka mulutnya. Semakin memudahkan Troy dalam mencicipi bibir manis Jessie.
“Mmpps.”
Jessie berusaha mendorong dada Troy. Ia menepuk dada Troy kasar, namun tak berpengaruh sama sekali oleh tubuh kekar Troy. Troy melepaskan ciuman itu, nafas Jessie terengah-engah dibuatnya. Tidak dengan Troy yang dengan tenang tersenyum lebar.
“Aku ingin menunjukkan mu sesuatu.” ujar Troy tepat di atas bibir Jessie yang lembap dan membengkak.
Troy menarik tubuhnya untuk berdiri. Baru setelah itu ia bawa tangan Jessie ke dalam genggamannya. Troy menarik tubuh Jessie untuk bangun dari posisi baringnya. Dan lagi-lagi Jessie menurut. Jessie pun berdiri di samping tubuh Troy.
Mereka berjalan keluar beriringan. Rumah ini isinya tidak sepenuhnya dengan penjaga. Hanya beberapa penjaga, dan itu tidak banyak. Troy membawa Jessie ke salah satu ruangan. Yaitu ruang kerjanya.
Troy memasuki ruang kerjanya, ia kembali mengunci pintu rapat-rapat. Tidak membiarkan seorang pun untuk mengganggunya. Jessie melirik penuh minat ke seluruh sudut ruangan. Ruangan ini tidak terlalu besar. Namun sangat bagus.
Troy mendudukkan dirinya di atas kursi kebesarannya. Lalu ia tarik tubuh Jessie hingga duduk di atas pangkuannya.
“Aku tidak pernah berniat membeli bangku di ruang kerjaku. Karena tidak akan ada tamu yang berkunjung, lalu duduk di sini. Karena tamu ku adalah kamu sekarang, maka aku hanya akan membuat mu duduk di atas pangkuanku.” ujar Troy pelan. Suaranya serak-serak basah. Sangat maskulin dan juga laki.
Jessie menahan nafasnya yang tercekat. Area bawahnya berdenyut. Padahal laki-laki di hadapannya tidak melakukan hal mesum.
“Terserah padamu.” ucap Jessie singkat. Enggan memperpanjang topik yang mulai dewasa.
Jessie tidak sadar jika ucapannya barusan, malah justru membuat Troy merasa senang. Ia senang karena Jessie tidak menolak sentuhannya.
Tangan Troy bergerak membuka salah satu laci di meja kerjanya. Ia sedikit menunduk karena mencari keberadaan map tipis. Dan berhasil, Troy memegang map kecil itu.
Kening Jessie menyeringit, “Apa ini?” tanya Jessie saat Troy memberikan map tipis nan kecil itu padanya.
“Bukalah.” jawab Troy singkat. Troy menatap fokus wajah Jessie yang berada di setinggi dadanya. Bahkan saat ia memangku Jessie pun. Tinggi Jessie masih di bawahnya.
Posisi duduk Jessie kini sedikit menyerong. Kedua pahanya berada di atas paha keras Troy. Kedua tangan Jessie bergerak membuka map kecil itu. Lalu perlahan jarinya menarik secarcik benda dari dalam.
Hasil USG?
“Ini...”
Jessie menutup mulutnya yang terbuka dengan satu tangan. Terlihat hasil USG dua janin yang saling berdempetan. Mereka sangat lah cantik. Troy tersenyum melihat reaksi Jessie yang terkejut.
“Ini adalah Nessie dan Lauryn.” bisik Jessie hampir tak terdengar. Air matanya tanpa sadar terjatuh.
Jessie tidak pernah melihat hasil USG selama masa kehamilannya. Itu memang salah satu kesalahan fatal. Namun entah semasa ia hamil, ia tak ingin melihat hasil USG dari janinnya secara jelas. Tapi Troy, lelaki di sampingnya, justru menyimpan hasil USG itu.
“Iya, Sayang. Ini adalah anak kita. Anakku dan kamu. Hasil dari kerja kerasku. Tidak sia-sia bukan? Mereka tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik. Seperti dirimu.” ujar Troy datar, tanpa ekspresi apapun. Troy memang sulit untuk menunjukan ekspresinya dalam hal apapun.
Ucapan Troy barusan berhasil membuat Jessie tersenyum lebar. Senyuman yang sudah lama ia tidak tunjukkan pada siapa pun. Jessie menoleh ke arah Troy. Ia tatap wajah Troy dalam.
“Terimakasih, Troy.”
Jessie langsung memeluk leher pria itu. Troy menegang di tempatnya. Ini bukan mimpi 'kan? Jessie memeluknya. Penantiannya selama bertahun-tahun telah membuahkan hasil.
...Author point of view off....