"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: TOPENG KEPATUHAN
Cahaya matahari pagi menyelinap di sela-sela tirai beludru yang sengaja dibuka sedikit oleh Sandra. Arunika terbangun dengan kepala yang terasa seperti dihantam palu godam—efek sisa dari obat penenang semalam. Namun, kali ini ada yang berbeda. Ia tidak bangun dengan isak tangis. Ia bangun dengan kesunyian yang dingin dan tajam.
Ia menoleh ke samping. Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong, namun kehangatan bekas tubuh Adrian masih terasa di seprai sutra yang baru. Adrian selalu bangun lebih awal, seolah pria itu tidak butuh tidur untuk menjaga kewarasannya yang bengkok.
Arunika duduk di tepi ranjang, menatap pergelangan tangan kanannya. Ada bekas merah melingkar di sana akibat gesekan beludru borgol semalam. Ia mengusap bekas itu perlahan, lalu menatap kamera tersembunyi di sudut plafon. Ia tidak lagi memalingkan wajah atau menatapnya dengan benci.
Kali ini, Arunika memberikan sebuah senyum tipis. Senyum yang kosong, namun tampak manis.
Kau ingin aku menjadi istrimu yang sempurna, Adrian? Baiklah. Aku akan menjadi mahakarya yang paling patuh yang pernah kau miliki, batinnya.
Pintu kamar terbuka. Sandra masuk dengan nampan sarapan dan pakaian baru—sebuah gaun floral berwarna pastel yang tampak sangat polos dan feminin. Sangat kontras dengan jiwa Arunika yang kini menghitam.
"Tuan besar meminta Anda bersiap. Siang ini ada pertemuan dengan perancang busana untuk acara amal bulan depan," kata Sandra. Ia meletakkan nampan itu dan memperhatikan Arunika yang kini sudah berdiri dan mulai merapikan tempat tidur sendiri.
"Terima kasih, Sandra. Apakah Adrian sudah berangkat ke kantor?" tanya Arunika. Suaranya terdengar lembut, tanpa nada sinis yang biasanya ia gunakan.
Sandra sedikit mengernyit. Perubahan drastis ini biasanya merupakan pertanda buruk bagi kesehatan mental seorang subjek, atau justru awal dari sebuah rencana. "Beliau sedang di ruang kerja bawah. Beliau akan menjemput Anda pukul sebelas."
"Baiklah. Oh, Sandra..." Arunika mendekat, gerakannya sangat anggun. "Bisa kau bantu aku memasangkan kancing di bagian belakang gaun ini nanti? Tanganku sedikit kaku karena... kejadian semalam."
Sandra menatap mata Arunika selama beberapa detik, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang menakutkan. "Tentu, Nyonya."
Dua jam kemudian, Arunika sudah tampil sempurna. Ia mengenakan gaun pastel itu, rambutnya dikuncir kuda rendah dengan pita sutra, memberikan kesan wanita rumahan yang rapuh namun berkelas. Ia turun ke ruang tengah di mana Adrian sudah menunggunya sambil menyesap kopi hitam.
Adrian berdiri saat melihat Arunika. Matanya menyipit, memindai setiap inci perubahan pada istrinya. Ia berjalan mendekat dan mengangkat dagu Arunika.
"Kau terlihat berbeda hari ini," gumam Adrian. "Obat semalam tampaknya bekerja lebih baik dari yang kubayangkan."
"Aku hanya sadar, Adrian," ucap Arunika sambil menyandarkan kepalanya di dada Adrian—sebuah tindakan yang biasanya ia hindari dengan jijik. "Melawanmu hanya membuatku kehilangan segalanya. Aku kehilangan barang-barang ibuku, aku kehilangan akses pada Ayahku... aku tidak ingin kehilanganmu juga."
Adrian terdiam sejenak, lalu ia tertawa rendah. Suara tawa yang penuh kemenangan. Ia memeluk pinggang Arunika dengan sangat kuat, seolah ingin meremukkan tulang rusuknya. "Pilihan yang sangat cerdas, Arunika. Kepatuhan adalah bentuk tertinggi dari rasa syukur."
"Bolehkah aku meminta satu hal?" tanya Arunika, menatap mata Adrian dengan binar yang tampak tulus.
"Apa pun, Sayang."
"Biarkan aku membantu Sandra mengatur beberapa urusan rumah tangga. Aku bosan hanya diam di kamar. Aku ingin menjadi berguna bagi suamiku."
Adrian mengusap rambut Arunika. Baginya, ini adalah tanda bahwa Arunika sudah mulai terkena Stockholm Syndrome—tujuan utama dari isolasi psikologisnya. "Aku akan memikirkannya. Tapi untuk sekarang, mari kita selesaikan urusan gaun acaramu."
Acara pengukuran baju itu berlangsung melelahkan. Perancang busana yang dibawa Adrian terus mengoceh tentang tren terbaru, sementara Adrian duduk di sofa, mengawasi setiap jengkal tubuh Arunika yang diukur. Namun, bagi Arunika, ini adalah kesempatan untuk mengamati.
Ia memperhatikan bagaimana Sandra memberikan instruksi kepada para pelayan. Ia memperhatikan pola pergantian penjaga di pintu utama. Dan yang paling penting, ia memperhatikan letak kunci-kunci fisik yang masih digunakan untuk beberapa pintu ruangan tua di mansion itu.
Saat Adrian sibuk menerima telepon penting di balkon, Arunika mendekati Sandra yang sedang mencatat jadwal.
"Sandra," bisik Arunika sambil berpura-pura melihat katalog kain. "Di mana Adrian menyimpan koleksi buku harian Elena?"
Sandra tersentak. Tangannya yang memegang pena sedikit gemetar. "Saya tidak tahu apa yang Anda maksud, Nyonya."
"Jangan berbohong padaku. Semalam kau bilang jangan menyerah pada kegelapan. Kau tahu sesuatu, kan?" Arunika menatap Sandra dengan intensitas yang membuat sekretaris itu tidak bisa memalingkan wajah. "Aku butuh tahu apa yang terjadi pada Elena agar aku tidak melakukan kesalahan yang sama. Bantulah aku, atau kita berdua akan berakhir menjadi abu di gudang belakang."
Sandra melirik ke arah balkon, memastikan Adrian masih sibuk berbicara. Suaranya turun menjadi bisikan yang sangat tipis. "Gudang bawah tanah di sektor timur. Di balik rak botol anggur tahun 1945. Tapi kau butuh sidik jari Adrian untuk membuka panelnya."
"Sidik jari?" Arunika tersenyum tipis. "Aku punya cara yang lebih halus dari itu."
Tiba-tiba, Adrian masuk kembali ke ruangan. "Apa yang kalian bicarakan?"
Arunika segera menoleh dengan wajah ceria. "Oh, aku hanya sedang bertanya pada Sandra apakah aku boleh menambahkan aksen mawar merah pada gaun ini. Merah seperti... kenangan kita."
Adrian tampak puas. Ia merangkul bahu Arunika. "Tentu saja, Sayang. Apa pun untukmu."
Malam harinya, di dalam kamar, Arunika mulai menjalankan rencananya. Ia tahu bahwa setiap Selasa malam (seperti yang ada di outline), Adrian selalu melakukan ritual makan malam khusus—biasanya daging yang disiapkan secara spesifik.
Saat Adrian sedang mandi, Arunika mengambil sebuah lilin aromaterapi yang ada di nakas. Ia menyalakannya, membiarkan lilin itu sedikit meleleh. Saat Adrian keluar hanya dengan jubah mandi, Arunika menawarkan diri untuk memberikan pijatan.
"Kau tampak lelah, Adrian. Biarkan aku membantumu rileks," ucapnya lembut.
Adrian duduk di kursi besar, membiarkan tangan lembut Arunika memijat bahunya. Dalam satu momen yang sangat cepat, saat Adrian memejamkan mata menikmati pijatan itu, Arunika mengarahkan jempol kanan Adrian untuk menekan permukaan lilin yang masih lunak dan hangat yang sudah ia siapkan di telapak tangannya sendiri secara sembunyi-sembunyi.
Hanya butuh satu detik. Lilin itu mengeras secara instan, membawa cetakan sidik jari Adrian yang sempurna. Arunika segera menyembunyikannya di dalam saku gaun tidurnya.
"Kenapa tanganmu terasa lengket, Sayang?" tanya Adrian tanpa membuka mata.
"Oh, ini minyak pijat lavender. Sangat bagus untuk sarafmu," jawab Arunika tenang, meski jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
Adrian menarik tangan Arunika dan mencium telapak tangannya. "Kau benar-benar sudah berubah, Arunika. Aku hampir tidak mengenalimu. Tapi aku suka versi dirimu yang ini. Patuh, melayani, dan... berbahaya."
Arunika tersenyum di balik kegelapan ruangan. "Aku belajar dari yang terbaik, Adrian."
Malam itu, di bawah pengawasan kamera yang tak pernah mati, Arunika membiarkan Adrian memeluknya. Namun di dalam pikirannya, ia sudah berada di gudang bawah tanah sektor timur, bersiap untuk membuka rahasia tentang Elena—wanita yang bayangannya mulai terasa nyata di setiap sudut rumah ini.
Ia menyadari satu hal: untuk mengalahkan seorang monster, ia tidak bisa hanya menjadi korban. Ia harus menjadi pemain sandiwara yang paling ulung di panggung yang dibangun oleh monster itu sendiri.