Kasih harus menerima kenyataan pahit setelah mengalami hal tak terduga oleh orang tak dikenalnya. Sang suami Felix menceraikannya dan mengusir Kasih tanpa uang sepeserpun.
Tak ada tempat tinggal dan akhirnya Kasih mencoba untuk kembali ke rumah orang tua angkatnya. Bukannya diterima malah Kasih diusir dan tak diakui sebagai anaknya lagi.
Kasih yang malang hanya bisa meratapi nasibnya. Namun datang seorang pria bernama Arga yang akan mengubah hidupnya. Meski Arga adalah pria beristri yang rumah tangganya sedang mengalami konflik pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Dewi Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22 Tak sanggup lagi
Untuk pertama kalinya Kasih bercerita tentang masalah pribadinya kepada orang lain.
Dia menceritakan semua kisah hidupnya kepada Arga. Mulai dari dirinya yang diasuh oleh orang tua angkatnya hingga menikah dan bercerai.
Awalanya dia ragu namun Arga adalah pendengar yang baik sehingga dia merasa nyaman mencurahkan segala keluh kesahnya.
Tak terasa hampir satu jam Kasih bercerita. Namun baik Arga sama sekali tak bosan. Entah kenapa setiap ucapan gadis itu terasa berarti di telinganya.
Setelah selesai menceritakan semua Kasih merasa sangat lega. Apalagi ketika Arga menarik tubuhnya dan memeluk Kasih dengan penuh kehangatan.
Arga berharap dengan pelukan itu Kasih bisa lebih tenang. Karena apa yang telah dia alami selama ini cukup berat.
"Apa yang sudah kamu alami benar-benar berat Kasih. Kamu benar-benar wanita yang kuat. Tetaplah seperti ini ya, jangan pernah menyerah" kata-kata itu sangat meneduhkan hati Kasih.
"Mas Arga juga, harus kuat. Pasti semua masalah ada jalan keluarnya." balas Kasih.
Arga mengelus dan mencium puncak kepala Kasih. Hal itu membuat Kasih semakin salah tingkah. Jika begini Kasih benar-benar takut akan menaruh perasaan terhadap Arga.
Keduanya terhanyut dalam suasana namun suara dering ponsel Arga membuyarkan semuanya.
"Halo, ada apa Vin?" ucap Arga mengangkat teleponnya. Yang tak lain pastilah Alvin.
"Pak, Pak Arga bisa bertemu Mr. Smith sore ini? Tidak enak membatalkan janji karena beliau sudah jauh-jauh dari Amerika" ujar Alvin.
"Astaga.. Baiklah, aku akan bersiap. Sorry Alvin"
Arga bergegas untuk siap-siap. Bagaimana mungkin ini hari kerja justru dia malah enak-enakan di rumah. Entah bagaimana repotnya Alvin jika Arga mendadak libur begini.
...****************...
Felicia terus mengumpati dirinya sendiri atas kecerobohannya. Niat hati ingin membuat Arga marah justru dia kena batunya.
Bagaimana kalau Arga benar-benar menunjukkan video itu kepada orang tuanya?
Sementara kini dia masih merasakan sakit di lehernya karena cekikan Arga kemarin. Saat itu Felicia memang sempat ketakutan. Melihat Arga yang dikuasai emosi membuat dirinya hampir meregang nyawa.
"Sepertinya Arga tidak main-main jika sudah marah." gumamnya sembari mendengus kesal.
.
Arga baru saja selesai melakukan pertemuan dengan salah satu koleganya yang berasal dari Amerika.
Kini tinggal Arga dan Alvin yang masih berada di restoran itu.
"Alvin, sorry for today. Kamu pasti kesusahan karena saya" ujar Arga sembari menatap Alvin yang membereskan barang-barangnya.
"Tidak apa-apa Pak, beberapa rapat yang sudah siap materinya telah saya handle." ujar Alvin santai.
"Saya ingin menceraikan Felicia" ujar Arga lagi.
Alvin menghentikan aktivitasnya kemudian duduk di kursi depan Arga.
"Pak Arga sudah yakin dengan keputusan ini?" tanya Alvin menatap bosnya.
Arga pun mengangguk. Dia menghela nafas kasar kemudian menceritakan apa yang dia alami kemarin.
"Aku bingung, sebenarnya aku sudah tidak kuat mengahadapi Felicia yang semakin hari semakin menyakitkan hatiku. Tapi aku khawatir jika papa tahu hal ini akan berpengaruh terhadap kesehatannya" Arga mengurut keningnya.
Alvin yang pada dasarnya cukup dekat dengan Arga bahkan menganggap bosnya itu seperti saudaranya sendiri.
"Pak, pikirkanlah kebahagiaanmu dulu. Pak Arga bisa pelan-pelan bicara kepada Pak Wijaya pasti beliau akan mengerti. Mana mungkin ada orang tua yang tak ingin anaknya hidup bahagia" ujar Alvin.
"Kau benar Alvin. Dan untuk Felicia, aku akan memberitahu orang tuanya. Enak saja dia harus menerima konsekuensinya. Toh dulu yang ngotot menikahkan aku adalah orang tua Felicia" ungkap Arga.
"Baiklah Pak, jika anda butuh sesuatu saya akan langsung bantu. Emm.. Ngomong-ngomong soal Kasih pak?" tanya alvin sedikit menyunggingkan senyum.
"Kasih? Kenapa memangnya? Kamu suka dia?" suara Arga langsung berubah sinis.
"Eng-Enggak Pak.. Suwer. Kan cuma tanya aja pak, lagian Kasih sudah seperti adikku sendiri." ujar Alvin.
"hmmm.. Kalaupun suka jangan sekarang. Tunggu masa kontrakku selesai" mengatakan hal itu entah kenapa dalam hati Arga ada rasa yang aneh.
Kontrak berakhir itu artinya Arga tak akan ada ikatan lagi dengan Kasih. Tanpa dia sadari perhatian yang diberikan Kasih telah membuatnya begitu nyaman.
Sementara Alvin justru berharap sebaliknya. Dia ingin Arga bahagia bersama seorang wanita seperti Kasih. Bagi Alvin Kasih adalah sosok wanita yang begitu tepat untuk bosnya itu mengingat sifat Arga yang cenderung dominan dan berapi-api. Kadang egonya yang tinggi membuatnya dijuluki kepala batu.
Sementara Kasih adalah sosok wanita yang meneduhkan. Kehadirannya seperti air mengalir yang perlahan mampu menembus kerasnya batu. Perpaduan yang sempurna.
"Baiklah Alvin, tolong segera urus perceraianku dengan Felicia" ujar Arga penuh keteguhan.
Alvin langsung melaksanakan tugasnya dengan semangat.
Hal ini sudah ditunggu oleh Alvin selama ini mengingat Arga yang begitu tersiksa dengan pernikahan itu.
Namun lagi-lagi Arga yang egonya tinggi masih kekeuh menganggap Felicia akan berubah.
Kabar itu pula menjadi kehebohan terutama pada orang tua Felicia maupun Papa Arga.
Arga berusaha berbicara jujur kepada Papanya. Meski awalnya itu sulit namun lama-lama Pak Wijaya mulai mengerti.
"Maafkan Papa nak, selama ini Papa tidak peka dan sama sekali tidak tahu bahwa kamu menanggung beban seberat ini. Sekarang keputusan ada di tanganmu " padahal Arga hanya menceritakan tentang badai rumah tangganya selama ini tanpa menceritakan kejadian di malam itu.
Sementara kedua orang tua Felicia tak kalah terkejutnya atas keputusan Arga ini. Mereka pun langsung menemui Arga.
"Nak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mendadak ingin menceraikan Felicia? Ayah lihat kalian baik-baik saja selama tiga tahun ini?" Ayah Felicia tampak bingung.
Arga menghela nafas kasar. Dia tahu mertuanya itu baik kepadanya. Apakah etis jika mempertontonkan video panas putrinya sendiri yang sedang menunggangi pria lain?
"Ayah.. Sebenarnya sejak awal pernikahan ini aku dan Feli.. Kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri" ujar Arga mencoba jujur.
"Apa? Yang benar kamu?"
Arga mengangguk. "Dia juga memiliki hubungan dengan pria lain"
"Arga, kamu jangan asal bicara ya, dia itu istri kamu. Mana mungkin dia.." kini mama Felicia tampak tak terima.
Akhirnya mau tak mau Arga langsung menyalakan ponselnya fan menunjukkan video itu di hadapan orang tua Felicia.
Keduanya terperangah. Bahkan Mama Felicia tak kuasa menutup mukanya karena kaget bercampur malu.
"Mama tahu bahwa pria ini adalah temanku sendiri. Dan parahnya mereka bermain di ranjangku" ujar Arga sarkas.
"Aku sudah coba menahannya tapi aku sekarang tidak sanggup lagi. Hubungan ini terasa sangat menyiksa" Arga mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tapi nak, jangan buru-buru bercerai. Ayah akan bicara dengan Felicia. Tolong beri kami waktu" ujar Pria itu terus memohon.
"Iya Arga.. Kami mohon beri kesempatan Felicia lagi" entah kenapa tiba-tiba ayah dan mama Felicia bangkit dari duduknya dan langsung bersimpuh di kaki Arga.