Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan Dimas
Salah seorang pria itu melangkah mendekat, mengitari Tasya perlahan. Tatapannya menelusuri dari ujung rambut hingga ujung sepatu, seolah ia sedang menilai barang di etalase.
“Gue berani bayar mahal buat dia,” katanya santai.
“Kurang ajar!” Tasya membentak, refleks semakin merapat ke punggung Dimas.
Pria itu tertawa pendek. “Gue suka perempuan yang begini.”
Dimas tetap diam. Rahangnya mengeras, matanya tak lepas dari gerak Tasya—bukan karena takut, tapi menghitung.
“Dua puluh juta,” lanjut pria itu. “Gue bayar sekarang.”
Udara di sekitar mereka menegang. Dari kejauhan, beberapa orang mulai bergerak mendekat, langkah mereka pelan tapi pasti. Tasya merasakan dadanya mengencang. Untuk pertama kalinya malam ini, ia benar-benar merasa sendirian.
Lalu—tawa pun pecah.
Bukan hanya satu. Tetapi Dimas dan para pria itu tertawa bersamaan, lebar, keras, membuat Tasya terpaku.
“Selamat datang di Kampung Blok R-17, Tasya,” ucap pria tadi sambil mengulurkan tangannya. “Panggil gue Raka.”
Tasya menoleh cepat ke Dimas. Ada jeda sepersekian detik sebelum Dimas mengangguk kecil—nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk menurunkan beban di pundaknya.
Dengan ragu, Tasya menjabat tangan Raka.
Mereka kemudian diajak ke sebuah warung kopi sederhana di sudut taman. Meja kayu panjang, bangku-bangku reyot, dan aroma kopi hitam yang pahit. Tempat yang jelas-jelas bukan untuk orang seperti Tasya—setidaknya, sebelum malam ini.
“Mereka temen-temen gue, Sya,” kata Dimas sambil terkekeh kecil. “Lo nggak perlu takut gue jual.”
“Awas aja,” bisik Tasya sambil mencubit pinggang Dimas. “Kalau sampe lo jual gue, hidup lo nggak bakal tenang sampe mati.”
Dimas meringis, sementara Raka tertawa lagi.
Obrolan berlanjut. Raka menjelaskan singkat—orang-orang yang menyerang Albert adalah anak buahnya. Ia memperlihatkan layar ponsel: pesan dari Dimas, dikirim sejak sore, isinya singkat tapi jelas—permintaan bantuan.
“Gue udah tau Albert ngintai dari lama,” kata Raka. “Tinggal nunggu waktu.”
Raka lalu menatap Tasya lebih lama. “Gue tau betul siapa bokap lo.”
Dimas langsung meliriknya.
“Dari mana lo tau?” Tasya bertanya, suaranya lebih tenang dari yang ia rasakan.
Raka tersenyum tipis. “Ada hal-hal yang lebih baik nggak diomongin di tempat kayak gini.”
Ia melirik dua anak buahnya. Mereka paham, lalu sedikit menjauh.
“Kenapa lo ke sini?” Raka kembali menatap Tasya, kini tanpa senyum. Wilayah ini jelas bukan tempat untuk singgah.
“Gue yang bawa dia,” potong Dimas, lalu menyodorkan camilan ke tengah meja. “Malam ini gue mau dia lihat semuanya.”
Raka mengangkat alis.
“Dunia kita lebih perih dari yang dia kira,” lanjut Dimas pelan, lalu menceritakan kejadian sore itu—kampus, polisi, orang tua Tasya, dan keputusan yang ia ambil.
Raka mendengarkan sambil tertawa kecil, seperti sedang mendengar cerita lama.
“Lo pikir di luar sana lebih enak, Sya?” tanyanya sambil mengangkat botol anggur merah.
Ia lalu menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Seorang pria berjas rapi berdiri di samping Raka—tersenyum tipis, penuh kuasa.
“Adibrata,” ucap Raka sambil mengangkat gelas.
Beberapa kepala menoleh. Nama itu menggantung di udara, berat, seperti mantra.
“Siapa yang nggak kenal dia di kota ini.”
Raka meneguk anggurnya sekali habis. “Lo liat sendiri, kan? Cuma nama aja udah bikin orang diam.”
Gelas kosong itu ia geser ke arah Dimas, lalu menuangkan anggur merah ke dalamnya.
“Terus lo pikir,” Raka menatap Tasya tajam, “orang di sebelah lo itu siapa?”
Ia tertawa. “Dimas Ramadhan. Sang Algojo kreditur. Orang yang disuruh oleh penjahat kelas kakap buat ngelakuin hal yang mereka sendiri takut untuk menyentuhnya.”
Tasya menatap Dimas.
Untuk pertama kalinya, bayangan masa lalunya bukan sekadar rumor.
Dan ia sadar—ia baru saja masuk lebih dalam dari yang ia rencanakan.
“Hidup dia jauh lebih buruk dari yang lo bayangin, Sya,” ucap Raka akhirnya. Suaranya turun, tak lagi bercanda.
“Bokapnya, nyokapnya, bahkan darah yang dia punya—semuanya meninggalkan bekas.”
Raka berhenti sejenak, lalu melirik Dimas. “Dan kalau dia udah turun tangan, dia nggak pernah kasih ruang buat ampun.”
Tasya menatap Dimas lebih lama dari yang ia sadari.
Wajah yang sama. Senyum menyebalkan yang sama. Sulit dipercaya bahwa pria yang sering ia benci di kampus adalah orang yang dibicarakan Raka barusan.
“Hidup lo dan hidup dia beda, Sya,” lanjut Raka, kini menatap Tasya langsung. “Gue nggak mau Dimas jadi korban.”
“Cukup, Bang.” Dimas menghela napas pendek. “Biar dia lihat sendiri. Biar dia ngerasain semuanya sendiri.”
Raka mendengus. “Lo belum kapok?”
Dimas hanya menaikkan sudut bibirnya, lalu menepuk bahu Raka sebelum berdiri.
“Lo percaya sama gue, kan?”
Raka tak menjawab. Ia hanya memandangi punggung Dimas yang sudah berjalan menjauh bersama Tasya.
“Inget, Dim,” teriak Raka sambil tertawa kasar,
“jangan sampe lo hamilin dia—kalau nggak mau burung lo dikoleksi Adibrata!”
Dimas mengacungkan jari tengah tanpa menoleh.
Malam itu, Dimas mengantar Tasya pulang. Motor berhenti tepat di depan pintu apartemen lalu mengantarnya hingga ke depan kamarnya.
Tak ada kata berlebihan.
“Jangan pernah nurutin ego yang lo sendiri nggak siap nanggung akibatnya,” ucap Dimas pelan.
Ia mengetuk pintu.
Begitu pintu terbuka, Nina sudah berdiri di dalam—dan dua pria asing berdiri tepat di belakang Dimas.
“Kenapa lo ada di sini?” Tasya terpaku.
“Jangan tanya gue,” jawab Nina lirih. Tatapannya mengarah ke dua pria itu.
Dimas mengangguk singkat. Tak ada pembelaan. Tak ada penjelasan.
Ia berbalik dan pergi bersama mereka.
“Na,” Tasya menutup pintu perlahan, “jelasin sekarang.”
Nina menunduk. Lalu mengulurkan ponselnya.
Di layar: foto Tasya duduk di warung kopi—bersama Dimas dan Raka.
“Anak buah bokap lo dateng waktu lo pergi,” ucap Nina. “Dan bokap lo nelpon gue.”
Tasya tertawa pendek. Hampa.
“Jadi gitu caranya,” gumamnya. “Pinter juga dia.”
Tasya melempar tasnya ke lantai, lalu menjatuhkan tubuh ke kasur.
“Gue kira dia berani berdiri di samping gue,” pikirnya pahit.
“Ternyata sama aja. Cuma jago bikin gue percaya.”
Nina duduk di tepi kasur.
“Gue tau apa yang lo rasain, Sya. Tapi gue nggak mau lo kecewa lebih jauh.”
Tasya tak menjawab. Matanya menatap langit-langit, kosong.
Pagi hari, bel apartemen berbunyi.
Seorang wanita rapi berusia sekitar tiga puluh lima berdiri di depan pintu, diapit dua pria yang Tasya kenal tanpa perlu bertanya.
“Selamat pagi, Non Tasya,” ucap wanita itu profesional.
“Saya Gaudy, asisten pribadi Anda.”
Sebuah map disodorkan. Tapi Tasya langsung menepisnya. Kertas-kertas langsung jatuh berserakan.
“Gue nggak butuh.”
“Saya hanya menjalankan perintah Pak Andreas,” kata Gaudy tenang sambil memungut kertas.
“Supir sudah menunggu. Non Tasya harus berangkat jam delapan.”
Tasya berbalik, mengetuk pintu kamar mandi.
“Na?”
Tak ada jawaban.
Ia membuka pintu. Kosong.
Tak ada Nina.
Tak ada pesan.
Tak ada jejak—seolah sahabatnya lenyap begitu saja.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Tasya merasa benar-benar sendirian.
“Gue nggak bisa terus diem kayak gini,” gumam Tasya. Ada gelisah yang menekan dadanya, membuat napasnya terasa sempit. Ia lalu beranjak ke kamar mandi, membersihkan diri sekadarnya sebelum bersiap pergi ke kampus bersama sopir yang sengaja disiapkan Andreas.
Sesampainya di kampus, dua orang sudah menunggunya. Keduanya berdiri sigap, siap mengawal setiap langkah dan aktivitas Tasya sepanjang hari. Namun, ada yang terasa janggal. Pandangannya menyapu sekitar, mencari sosok-sosok yang biasanya selalu ada. Nina—beserta teman-teman lain yang selama ini kerap bersamanya—tak tampak di mana pun. Kekosongan itu meninggalkan rasa asing yang perlahan mengendap di benaknya.