NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Trauma masa lalu / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:40.2k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.

Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.

Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semakin dekat

Mobil melaju pelan di bawah terik matahari. Di Kursi belakang, Kanara meringkuk memeluk lutut dengan kepala bersandar pada pintu. Meski pegangannya pada Nura sudah terlepas, tapi wajahnya masih pucat.

Nura tetap siaga, menjaga jarak tanpa menyentuh. Ia hanya ingin Kanara tahu kalau dia tidak sendirian, karena setelah breakdown, perasaan runtuh itu tidak langsung menghilang.

Elang mengemudi tanpa banyak bicara. Tangannya erat menggenggam kemudi. Sesekali ia melirik ke arah spion, memeriksa Kanara.

“Kanara,” panggilnya dengan suara berat, pelan nyaris berbisik. “Kita langsung pulang.”

Kanara hanya merespon dengan sedikit menggerakkan bahunya.

Saat mobil berhenti di lampu merah, pantulan cahaya yang menyentuh kaca samping membuat tubuh Kanara kembali menegang.

Tanpa banyak berpikir, Nura menggeser posisi tubuhnya, memiringkan bahu untuk menutupi sudut pandang Kanara dari kaca.

“Aku di sini,” bisiknya. “Nggak apa-apa.”

Jari Kanara bergerak ragu, lalu perlahan meremas ujung kemeja Nura.

Nura hanya membiarkannya, tidak memberikan reaksi.

Elang melihat pemandangan itu dari spion dengan rahang mengeras. “Maaf,” ucapnya tiba-tiba. “Aku seharusnya lebih hati-hati.”

Nura terdiam sebentar sebelum menjawab. “Bapak sudah berusaha maksimal. Kita tidak mungkin memprediksi segalanya.”

Elang mengangguk pelan.

Lampu hijau menyala. Mobil kembali bergerak.

Saat mobil memasuki halaman rumah besar itu, Nura merasakan sesuatu yang janggal. Rumah itu megah dan tenang, tapi terlalu sunyi untuk anak sekecil Kanara.

Elang mematikan mesin. “Aku akan menggendong Kanara masuk,” ucapnya sambil melepas sabuk pengaman.

“Jangan dulu, Pak,” cegah Nura.

Ia menatap Kanara lembut “Kanara bisa masuk sendiri ‘kan? “

Pintu mobil dibuka.

Kanara keluar dari mobil dengan hati-hati, lututnya masih terlihat goyah. Nura segera mendekat, menjaga jarak yang cukup tapi tetap dekat.

Seorang wanita paruh baya dengan seragam pengasuh keluar dengan tergopoh-gopoh. “Non Kanara…,” panggilnya dengan khawatir.

Kanara melihatnya, tapi ia malah semakin merapat ke arah Nura.

“Kanara…,” ucap Elang yang sudah mendekat. “Masuk dulu sama Bu Yati,” perintahnya lembut tapi tegas.

Kanara kembali menunduk. Tangannya kembali memegang ujung jari Nura.

“Kanara…,” panggil Elang lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas.

Nura menarik napas dalam, kemudian berlutut di depan Kanara. “Kanara, kak Nura harus pulang. Kak Nura gak bisa ikut Kanara ke dalam.”

Seketika, bahu Kanara kembali menegang. Ia melepaskan tangan Nura, dan melangkah mundur dengan wajah memucat.

Sebelum Nura sempat menenangkannya, Kanara sudah menutup kedua telinganya.

“Kanara…,” panggil Nura.

Tiba-tiba, Kanara kembali menjerit histeris. Ia jatuh terduduk di atas jalan berbatu halaman rumahnya.

Elang dan Nura spontan berjongkok bersamaan di depan anak itu. Mereka menjaga jarak aman agar tidak memperburuk keadaan.

“Kanara… tenang dulu ya,” kata Elang. Ia berusaha sabar menghadapi putrinya. “Kak Nura harus pulang. Be–,”

Kalimat Elang terpotong oleh jeritan yang semakin memekakkan telinga

Nura sadar penolakan ini terlalu mendadak. “Kanara…, Kak Nura di sini,” ucapnya dengan emosi yang terkendali. “Kak Nura nggak akan ke mana-mana.”

Jeritan itu perlahan mereda.

Nura memberanikan diri menyentuh ujung jari Kanara. Ia menahan napas, tidak tahu bagaimana Kanara akan merespon.

Detik berikutnya, jeritan itu mulai digantikan oleh isakan pelan.

“Kak Nura akan masuk sama Kanara, tapi hanya sebentar saja, ya,” ucapnya lembut. “Hingga sampai Kanara tenang, oke?”

Kanara masih menangis pelan, tapi ia mulai menurunkan tangannya dari telinga.

Di samping mereka, Elang berdiri dengan rahang mengeras, tapi antara lega dan rasa bersalah. “Terima kasih,” ucapnya pelan. “Maaf terus merepotkan.”

Didampingi Bu Yati, mereka melintasi lantai marmer yang dingin. Rumah itu begitu luas, tapi terasa hampa. Kanara berjalan di depan, memimpin langkah Nura.

“Kamar Non Kanara di atas, Bu,” ucap Bu Yati sambil menunjuk tangga.

Perlahan keduanya naik ke atas.

Kamar Kanara yang dipenuhi Boneka dan mainan warna-warni, sedikit menghangatkan suasana. Kanara berdiri mematung di tengah kamar, memandang ranjang kecil yang berselimut kuning.

“Kanara mau ganti baju dulu?” tanya Nura lembut.

Tanpa suara, Kanara berjalan menuju lemari, dan berganti pakaian sendiri.

Nura tersenyum tipis melihat kemandirian kecil itu setelah kerapuhan yang baru saja terjadi.

“Sekarang, Kanara mau istirahat?” ajak Nura sambil mendekati ranjang.

Kanara sempat ragu sebelum akhirnya naik ke atas ranjang.

Bu Yati masuk membawa segelas air jeruk. “Saya taruh di sini ya, Bu,” katanya sebelum keluar. Ia membiarkan pintu kamar sedikit terbuka.

Kanara membaringkan tubuhnya, kepalanya menyelinap di bawah bantal. Napasnya mulai sedikit tenang. Matanya masih menatap Nura, seolah mencari kepastian.

Nura menutupinya dengan selimut lembut.

“Kak Nura akan di sini sampai Kanara tidur,” janjinya. Ia mengambil buku dari rak. “Kanara mau dibacain buku?”

Kanara hanya memberikan kedipan sebagai jawaban. Nura mulai membaca dengan suara rendah yang menenangkan, menceritakan tentang seekor kelinci yang menemukan rumah baru.

Perlahan, kelopak mata Kanara mulai memberat, hingga akhirnya tertutup sempurna.

Nura merapikan selimut, dan mengembalikan buku ke rak. Sebelum keluar, Kanara sempat melihat kembali wajah Kanara yang terlihat damai saat tidur.

“Mimpi indah, Kanara,” bisiknya pelan dan menutup pintu dengan hari-hati.

Di bawah tangga, Elang sudah menunggu dengan wajah lelah. “Dia sudah tidur?” tanyanya dengan suara rendah.

Nura mengangguk. “Iya, dia terlelap setelah aku membacakan cerita.”

Elang menghela napas panjang, seolah sedang membuang beban berat yang menghimpit dadanya. “Terima kasih, Nura. Tanpamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini.”

“Tidak apa-apa, Pak!” balasnya dengan senyum tulus. “Saya senang bisa membantu.”

Canggung sesaat.

“Saya antar pulang, ya?” ujar Elang memecah kesunyian.

“T-tidak usah, Pak,” jawab Nura cepat, sedikit gugup. “Saya pesan ojek online saja.”

“Saya memaksa. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih,” tukas Elang dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Mereka masuk ke dalam mobil. Mesin dinyalakan, memecah sepi di halaman rumah. “Kamu tinggal di mana?”

“Di kawasan Kemang, Pak. Tidak jauh dari sini.”

Elang mengangguk singkat, lalu mulai melajukan mobilnya.

Untuk beberapa saat, mereka terdiam. Elang fokus menatap jalanan, sedangkan Nura sesekali menatap keluar jendela atau sekadar memeriksa ponsel untuk mengusir rasa canggung.

“Tadi itu…,” Elang melirik Nura dari sudut matanya. Ia memperhatikan jemari Nura yang tenang. “Cara kamu menangani Kanara… itu bukan cuma sekadar teknik terapi, kan?”

Nura menoleh, tampak sedikit terkejut. “Maksud Bapak?”

Elang berdehem, mencari nada bicara yang tepat. “Kamu terlihat benar-benar… peduli,”

“Kanara tidak butuh teknik rumit, Pak,” ucap Nura pelan. “Dia hanya butuh seseorang yang tidak menuntut apapun saat dia ketakutan.”

Elang tertegun. Perkataan Nura membuat sesuatu berubah. Di matanya kini, Nura bukan lagi seorang terapis yang ia bayar, tapi wanita dengan ketulusan menenangkan. Ada rasa hangat menjalar di hatinya, sebuah kekaguman yang jauh lebih personal.

“Dunia ini terlalu bising untuk Kanara,” tambah Nura lirih, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.

Elang memelankan laju mobilnya saat memasuki kawasan Kemang. Ia tidak ingin perjalanan ini cepat berakhir. “Mungkin bukan hanya buat Kanara,” sahut Elang tanpa sadar, suaranya lebih lembut dari biasanya. “Kadang saya juga merasa dunia ini terlalu bising.”

Nura menatap Elang, dan untuk sesaat, mata mereka bertemu dalam sebuah pemahaman yang sama.

Mobil berhenti di depan rumah kontrakan sederhana tempat Nura tinggal.

“Sudah sampai, Pak,” ucap Nura sambil melepaskan sabuk pengaman.

Elang menoleh sepenuhnya, menatap Nura dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Terima kasih untuk hari ini, Nura. Bukan hanya untuk Kanara, tapi juga untuk… membuat saya paham banyak hal.”

Nura tersenyum, kali ini lebih lepas. “Sama-sama, Pak Elang. Kanara anak yang hebat, dia hanya butuh waktu.”

Saat Nura hendak membuka pintu, Elang reflek memanggil. “Nura?”

Wanita itu menoleh kembali. Untuk sejenak, Elang terdiam, hanya memandangi wajah tenang di hadapannya sebelum akhirnya berkata, “Hati-hati. Sampai bertemu di sesi berikutnya.

Nura mengangguk kecil, lalu turun dari mobil.

Elang tetap diam di tempatnya, matanya terus mengikuti langkah Nura hingga akhirnya wanita itu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

Di dalam mobil yang kini terasa sunyi, Elang menyandarkan punggungnya ke kursi, menyadari bahwa ketenangan Nura telah tertinggal di sana, mengisi ruang kosong yang selama ini ia rasakan.

1
yrputri
kanara kayaknya punya feeling gak enak ya /Cry/
Yani Sri
aku nangis di bab ini...... /Sob//Sob/
Ririn Nursisminingsih
nura kmu masuk jebakan aditya cintamu wah aditya bahagia liat kaluan hancur
Ririn Nursisminingsih
lebih baik. jujur aja sebelum aditya mnghancurkan semuanya
Ririn Nursisminingsih
nura benar2 bidari yg menolong kanara sama sama ayahnya
Ririn Nursisminingsih
dendam masa lalu ayolah lang selidiki aditya
Ririn Nursisminingsih
kok nikah siri seh langsung yg sah aja dong lang
Ririn Nursisminingsih
elang👍👍👍
Ririn Nursisminingsih
kok gregeten juga sama nura udahlah ndak usah denger ancaman dermawan kanara sakitt nura egois kmu..
Ririn Nursisminingsih
langsung nikahin aja lang biar nura ndak pergi
Ririn Nursisminingsih
visualnya kereennn👍👍
Ririn Nursisminingsih
thor nura ini dokter yaa
Nuri_cha: terapis kakak
total 1 replies
Yati Susilawati
akhirnya...
selamat atas kebahagiaan kalian.
Terima kasih ceritanya.
ditunggu cerita yang lainnya.
selamat berkarya...
Nuri_cha: Sama-sama kak Yati... terima kasih juga sudah suka sama kisah mereka bertiga 🙏
total 1 replies
Yuningsih Nining
adududuhh thooorr bikin degdegan lagi aja ini dgn segala kelakuan jg niat jijik si aditya semoga pwean utama elang nura kanara selamat dari si aditya Gila
Yati Susilawati
ada lagi badai?
baru aja. bernafas... jangan bikin deg degan lagi... ya thor ya🤣
Nuri_cha: biar seru terus kak 😅
total 1 replies
Aisyah Nabila
uwAaaww
Aku aja
Lanjut Ya Thorrr... jan nunggu Besok. Udah Lama Hiatus ini.. tkut keburu Lupaaa Alurnya🤭🤭🤭
Dini Anggraini
Sonia sebesar apa ya kemarahan elang nanti sama kamu apalagi gara2 video kamu nura keguguran bisa marah besar ortunya saja dia masukkan ke penjara gara2 nura apalagi cuma kamu.
Dini Anggraini: 👍👍👍👍 ya kak
total 2 replies
Yati Susilawati
ya Alloh apalagi ini..

kadang takut baca.. takut mereka berpisah.. 🤣
Nuri_cha: Wkwkwkwk, kakak lebih pilih sad ending atau happy ending? 🤭
total 1 replies
Yati Susilawati
kalau masih cinta.. jangan gengsi, nura!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!