Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terror terakhir
Evan sempat ingin mengejar, kakinya sudah melangkah satu tindak, namun ia mendadak terpaku. Ia melihat punggung Kamila yang menjauh dengan bahu yang bergetar. Ia tahu, memaksakan penjelasan di tengah keramaian Mall saat emosi Kamila sedang meledak hanya akan memperkeruh suasana.
"Biarkan dia tenang dulu," gumam Evan lirih pada dirinya sendiri. Matanya menyendu, melihat istrinya masuk ke dalam mobil dengan pengawalan ketat.
Eva mendekat, merapikan blazer mahalnya dengan raut wajah tidak enak hati. "Tuan Evan, saya minta maaf. Kehadiran saya sepertinya menjadi bencana bagi rumah tangga Anda."
Evan menarik napas panjang, mencoba menguasai diri. "Bukan salahmu, Eva. Ini konsekuensi dari rahasia yang aku simpan. Sekarang, pergilah. Waktu kita tidak banyak. Riko akan mendampingi mu untuk mengeksekusi rencana terhadap Siska. Pastikan semua bukti terkumpul malam ini juga."
"Baik, Tuan. Saya mengerti," jawab Eva tegas.
Riko membukukan badan. "Saya akan pastikan Nona Eva aman dan tugas selesai, Tuan." Keduanya pun bergegas meninggalkan restoran melalui pintu samping, memulai misi yang telah dirancang matang untuk menghancurkan musuh dalam selimut mereka.
Evan kini duduk sendirian di kursi belakang mobilnya. Suasana hening di dalam kabin mobil justru membuat ingatannya memutar ulang kejadian tadi seperti kaset rusak. Ia teringat tatapan tajam Kamila, suaranya yang melengking karena marah, dan bagaimana istrinya itu menepis tangannya dengan kasar.
Namun, di tengah rasa bersalahnya, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di benak Evan.
"Tunggu dulu..." Evan bergumam pelan. Matanya melebar. "Tadi itu... Kamila sangat marah. Dia membentak ku, dia menatap Eva dengan penuh kebencian."
Jantung Evan mendadak berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena sebuah kesadaran yang melegakan. Selama ini Kamila cenderung bersikap tenang dan pasif, seolah tidak peduli dengan siapa Evan bergaul. Tapi hari ini?
"Apakah tadi Kamila cemburu? Dia cemburu melihatku dekat dengan Eva?" Evan menutup mulutnya dengan telapak tangan, tak percaya dengan kesimpulannya sendiri. "Itu artinya... dia punya perasaan padaku! Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan!"
Seketika, rasa pucat di wajahnya berganti dengan rona bahagia. Di tengah kekacauan rencana balas dendam dan ancaman Siska, Evan justru tersenyum lebar layaknya pria yang sedang mabuk asmara. Ia tertawa kecil seorang diri di kursi belakang, mengabaikan supirnya yang melirik bingung dari kaca spion.
Di mobil lain, suasana berbanding terbalik. Kamila duduk dengan napas yang masih memburu. Tangannya mengepal kuat di atas pangkuan, mencoba menahan air mata yang terus mendesak keluar. Amarah dan rasa dikhianati masih memenuhi dadanya.
"Berani-beraninya dia..." bisik Kamila ketus.
Baby Zevan, yang seolah memiliki ikatan batin yang kuat, berhenti menangis. Ia mendongak, menatap wajah ibunya yang memerah. Bayi mungil itu mulai mengeluarkan suara-suara ocehan khas bayi, seolah sedang berusaha menasihati ibunya agar tidak bersedih.
"Abbuu... mama mama... yaa?" Zevan mengoceh sambil menggerakkan tangan kecilnya.
Tiba-tiba, jemari mungil Zevan menggenggam kuat ujung jari telunjuk Kamila. Tarikan kecil itu terasa seperti sengatan listrik yang menghangatkan hati Kamila. Ia menunduk dan menatap mata bulat putranya yang murni tanpa dosa.
Melihat binar di mata Zevan, seketika bongkahan es kemarahan di hati Kamila mencair. Ia mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum tipis, senyum tulus pertama setelah drama di restoran tadi.
"Sayangnya Bunda..." Kamila membawa tangan Zevan ke bibirnya, mencium pipi bulat bayi itu berkali-kali. "Kalau tidak ada kamu, mungkin Bunda sudah pergi dari sini. Terima kasih jagoanku, Baby Zevan. Bunda sangat menyayangimu."
Kamila mendekap Zevan erat ke dadanya. Meski hatinya masih bergejolak tentang siapa Eva sebenarnya, ia tahu satu hal: demi Zevan, ia harus kuat.
.
.
Siang itu, aroma rumah sakit akhirnya berganti dengan aroma pengharum ruangan mawar di kediaman keluarga Rahadian. Siska melangkah gontai memasuki kamarnya, sementara Nyonya Imelda tampak menghela napas lega.
"Istirahatlah, Siska. Mama juga perlu memejamkan mata sebentar. Rasanya tulang-tulang Mama mau rontok menjaga kamu beberapa hari," ujar Nyonya Imelda sambil berlalu menuju kamarnya sendiri.
Begitu pintu tertutup dan suasana menjadi sunyi, ketakutan Siska justru memuncak. Bayangan wajah Jaka yang bersimbah darah, pria yang ia pikir sudah habis di tangannya terus berkelebat. Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, mencoba memejamkan mata, namun getaran ponsel di atas nakas membuatnya tersentak.
Drrtt... Drrtt...
Siska meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Jantungnya serasa mau copot. Ia sudah mengganti kartu SIM, bagaimana mungkin orang ini masih bisa melacaknya?
Pesan dari Nomor tidak di kenal
"Selamat datang di rumah, Siska. Kamar yang mewah, bukan? Nikmatilah setiap detiknya, karena sebentar lagi dinding kamarmu akan berubah menjadi jeruji besi yang dingin. Aku punya semua rekaman saat kau merencanakan kecelakaan untuk mendiang Jingga, sehingga ia harus meregang nyawa saat melahirkan. Hitung mundur dimulai sekarang."
"Tidak... tidak mungkin! Siapa orang ini?!... bukankah Marni sudah aku lenyapkan?" teriak Siska tertahan. Ia melempar ponselnya ke lantai. Napasnya tersengal, matanya liar menatap sekeliling kamar yang tiba-tiba terasa sempit seperti sel penjara.
Di sebuah kafe tersembunyi tak jauh dari kantor polisi, Riko dan Eva duduk berhadapan dengan laptop yang masih menyala. Riko tersenyum puas setelah melihat notifikasi 'terkirim' pada layar ponselnya.
"Dia pasti sedang gemetar sekarang," ujar Riko dingin.
Eva mengangguk, sorot matanya yang semula licik kini berubah menjadi pasrah namun tenang. "Tugas saya selesai, Riko. Semua bukti transfer dan rekaman percakapan saya dengan Siska sudah ada di flashdisk ini. Saya siap menebus dosa saya."
"Tuan Evan menghargai kejujuranmu, Eva. Meskipun kamu tetap harus menjalani prosedur hukum, kesediaan mu menjadi saksi kunci akan sangat meringankan hukumanmu," balas Riko.
Eva berdiri, merapikan pakaiannya. "Mari. Sebelum saya berubah pikiran, bawa saya ke kantor polisi sekarang."
Sementara itu, kepanikan telah menguasai logika Siska. Ia tidak bisa diam saja menunggu polisi datang menjemputnya. Hanya ada satu orang yang bisa menghentikan semua ini yakni Evan.
"Aku harus menemui Evan," gumamnya dengan mata memerah. "Aku akan bersimpuh di kakinya. Aku akan mengaku khilaf. Dia dulu pernah menganggap aku sebagai adiknya sendiri, dia pasti punya sedikit rasa iba. Dia tidak mungkin setega itu melihatku membusuk di penjara."
Dengan gerakan cepat dan waspada, Siska membuka jendela kamarnya yang menghadap ke arah taman samping. Ia tahu ibunya sudah terlelap dan ayahnya masih di kantor. Dengan sisa tenaganya, ia memanjat keluar dan mengendap-endap menuju gerbang samping.
Sepuluh menit kemudian, Siska sudah duduk di jok belakang sebuah taksi online. Ia terus menunduk, menutupi wajahnya dengan syal, takut ada yang mengenalinya.
"Ke Gedung Perusahaan Chendana Pak. Tolong cepat ya," desaknya pada sang supir.
Sepanjang perjalanan, Siska meremas tangannya sendiri hingga memutih. Di dalam benaknya, ia menyusun kata-kata manis untuk memohon pengampunan Evan. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, Evan sedang dalam perjalanan kembali ke kantor dengan hati yang berbunga-bunga karena menyadari kecemburuan Kamila, tanpa tahu bahwa "badai" lain sedang menuju ke arahnya.
Bersambung...
rani kevin jadian wah seru kynya