seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAYLA LARI BERSAMA BAYINYA
Tangisan bayi itu merobek kesunyian malam pegunungan, sebuah suara kehidupan yang terdengar ganjil di tengah aura kematian yang selalu menyelimuti Aris. Kayla terbaring lemas di atas tanah yang dingin, napasnya tersengal-sengal, sementara pandangannya kabur karena kelelahan yang luar biasa. Ia bisa melihat siluet Aris yang berlutut, memegang gundukan kecil yang bergerak-gerak di dalam bungkusan kain kemeja yang robek.
Aris tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap bayi itu dengan intensitas yang menakutkan. Matanya yang sebelah kanan berkaca-kaca, sementara sisi wajahnya yang cacat tampak semakin mengerikan di bawah cahaya bulan. Baginya, bayi ini bukan sekadar anak; ini adalah trofi, bukti bahwa ia telah berhasil "menanamkan" dirinya secara permanen dalam hidup Kayla.
"Dia sempurna..." bisik Aris. Suaranya terdengar seperti desisan ular. "Dia memiliki mataku, Kayla. Lihatlah, dia memiliki tatapan yang sama denganku."
Kayla mencoba bangkit dengan sisa tenaganya. "Berikan dia padaku, Aris... kumohon... dia kedinginan."
Aris tidak segera memberikannya. Ia seolah ingin menikmati momen kepemilikan mutlak itu sendirian. Namun, melihat tubuh Kayla yang mulai menggigil hebat karena kehilangan banyak darah dan suhu udara yang ekstrem, naluri posesifnya kembali bekerja. Ia tidak boleh membiarkan "wadah" anak ini mati sekarang.
Aris mendekat, lalu meletakkan bayi itu di pelukan Kayla. Sentuhan kulit bayi yang hangat dan basah seketika membangkitkan sesuatu yang murni di dalam diri Kayla. Di saat itu, ia lupa pada Aris. Ia lupa pada penculikan itu. Ia hanya melihat seorang manusia mungil yang tidak berdosa, yang lahir dari rahimnya di tengah neraka.
Bab: Perjalanan Menuju Persembunyian Baru
"Kita tidak bisa tinggal di sini," Aris berdiri, mencoba melawan pusing yang terus menyerang kepalanya. "Bau darah akan mengundang predator, dan aku yakin suara tangisannya bisa terdengar sampai ke jalan setapak."
Aris menggendong Kayla—yang masih mendekap bayinya—dengan kekuatan yang mengejutkan bagi pria yang sedang sakit. Ia berjalan dengan langkah sempoyongan menuju mobil yang disembunyikan di balik semak belukar sekitar satu kilometer dari sana. Setiap langkah Aris adalah perjuangan melawan rasa sakit di kepalanya yang semakin berdenyut hebat.
Di dalam mobil, Aris segera menyalakan pemanas ruangan. Ia mengemudikan kendaraan itu menembus kabut pagi menuju sebuah kabin yang lebih terpencil di pedalaman hutan, jauh dari Lembah Sunyi. Kabin itu sudah ia siapkan sebagai pos pelarian kedua.
Selama perjalanan, Kayla hanya terdiam. Ia menimang bayinya dalam keheningan yang menyesakkan. Ia melihat Aris yang sesekali memukul kemudi karena penglihatannya yang mulai kabur. Kayla menyadari bahwa meski bayi ini telah lahir, mereka tidak benar-benar bebas. Mereka hanya berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya.
Bab: Sindrom yang Mengakar
Sesampainya di kabin baru, Aris langsung mengunci semua pintu. Ia menjadi sangat protektif—lebih dari sebelumnya. Ia bahkan tidak membiarkan Kayla berdiri di dekat jendela saat sedang menyusui bayi itu.
"Siapa namanya, Aris?" tanya Kayla suatu sore, mencoba mencairkan suasana yang kaku.
Aris menatap bayinya yang sedang tertidur. "Ariel. Artinya singa Tuhan. Dia akan menjadi kuat, dan dia akan menjaga apa yang menjadi miliknya, sama sepertiku."
Kayla merasakan getaran ketakutan saat mendengar penjelasan itu. Aris ingin membentuk Ariel menjadi replika dirinya. Namun, di sisi lain, perasaan "luluh" yang dialami Kayla di gubuk dulu belum sepenuhnya hilang. Ia melihat bagaimana Aris mencoba mengganti popok dengan tangan yang gemetar, atau bagaimana Aris terjaga sepanjang malam di depan pintu kamar dengan pistol di pangkuannya, bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh keluarga kecilnya.
"Terima kasih sudah menjaga kami, Aris," ucap Kayla pelan suatu malam.
Aris menoleh, menatap Kayla dengan tatapan yang dalam. "Kau adalah duniaku, Kayla. Kau dan Ariel. Aku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba memisahkan kita, bahkan jika orang itu adalah diriku sendiri."
Namun, kedamaian semu itu mulai retak. Cedera otak Aris semakin parah. Ia mulai mengalami delusi parah. Kadang ia menganggap bayi itu sebagai mata-mata yang dikirim Adrian. Ia akan menatap Ariel selama berjam-jam dengan curiga, membuat Kayla harus terus-menerus berada di antara Aris dan bayinya.
"Kenapa dia menangis terus?!" teriak Aris suatu malam, suaranya menggelegar di kabin sempit itu. "Dia sedang memberi kode pada mereka, kan?! Dia memberi tahu lokasi kita!"
"Aris, tidak! Dia hanya lapar!" Kayla mencoba menenangkan Aris, memeluk pria itu dengan erat meskipun ia sendiri ketakutan. "Tenanglah, Aris. Tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya ada kita."
Melihat Aris yang menangis di pelukannya setelah ledakan amarah itu, Kayla menyadari sebuah kenyataan pahit. Aris tidak akan pernah bisa membawanya ke luar negeri. Aris tidak akan pernah bisa menjadi ayah yang normal. Pria ini sedang menuju kehancuran total secara mental, dan jika Kayla tetap bersamanya, ia dan Ariel akan ikut hancur dalam ledakan kegilaan itu.
Bab: Keputusan di Ujung Jalan
Satu minggu setelah kelahiran Ariel, Aris jatuh pingsan di lantai dapur. Darah keluar dari telinganya—tanda bahwa perdarahan internal di kepalanya akibat ledakan rumah mewah dulu telah mencapai puncaknya.
Kayla berdiri di depan tubuh Aris yang tak berdaya. Di tangannya, ia memegang kunci mobil yang terjatuh dari saku Aris. Inilah kesempatannya. Pintu depan tidak terkunci karena Aris baru saja akan keluar untuk memeriksa kamera keamanan.
Kayla menatap Ariel yang tertidur di keranjang, lalu menatap Aris. Jika ia pergi sekarang, Aris mungkin akan mati sendirian di lantai ini tanpa bantuan medis. Jika ia tinggal, ia mungkin akan dibunuh oleh Aris saat pria itu bangun dengan delusi baru.
Cinta traumatis yang ia rasakan berperang dengan insting keselamatan anaknya.
Kayla melangkah mendekati Aris, berlutut di sampingnya, dan mencium dahi pria itu untuk terakhir kalinya. "Maafkan aku, Aris. Tapi aku tidak bisa membiarkan Ariel tumbuh di dalam kegelapanmu."
Dengan tangan gemetar, Kayla menggendong Ariel, mengambil tas berisi uang tunai, dan berlari menuju mobil. Ia menyalakan mesin, memacu kendaraan itu keluar dari hutan, meninggalkan pria yang pernah menjadi tuhan di dunianya tergeletak tak berdaya.
Kayla menangis sejadi-jadinya saat ia melihat kabin itu menghilang dari kaca spion. Ia merasa seperti telah mencabut sebagian dari jiwanya, namun ia tahu bahwa untuk memberi Ariel masa depan, ia harus membunuh masa lalunya.
Kayla akhirnya benar-benar melarikan diri dengan membawa bayi Ariel, meninggalkan Aris yang sedang sekarat.