Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Royal Spoon
Tiga bulan.
Itulah batas waktu dari "kejayaan semu" yang dinikmati Sisca Angela.
Seperti kembang api, Royal Spoon menyala terang, memukau semua orang dengan ledakan warna-warni, lalu padam menyisakan asap dan kegelapan.
Siang itu, suasana di dalam restoran mewah itu sunyi senyap. Tidak ada lagi antrean mobil Alphard di depan. Tidak ada lagi tawa renyah sosialita yang check-in di media sosial.
Meja-meja marmer yang mahal itu kosong. Debu tipis mulai terlihat di sela-sela ukiran kursi beludru karena tenaga kebersihan sudah dikurangi separuh.
Di dalam kantor manajer, Sisca menatap layar laptop dengan mata nanar. Angka-angka di kolom neraca keuangan berwarna merah menyala. Merah darah.
"Kenapa bisa begini, Ren?" desis Sisca, suaranya bergetar menahan tangis. "Tiga bulan lalu kita untung satu miliar! Kenapa bulan ini kita minus dua ratus juta?!"
Rendy duduk di sudut ruangan, kepalanya tertunduk lesu di antara tumpukan surat tagihan.
"Karena pengunjung sepi, Sis," jawab Rendy lelah. "Teman-temanmu cuma datang sekali buat foto-foto pas grand opening. Setelah itu? Mereka nggak balik lagi. Mereka bilang makanannya biasa aja, nggak sebanding sama harganya yang selangit."
"Terus kenapa pengeluaran kita bengkak?!"
"Listrik, Sis. AC sentral dan lampu kristal itu makan biaya puluhan juta sebulan. Gaji koki import yang kamu banggakan itu juga mahal banget. Sewa ruko di sini naik terus. Sementara pemasukan kita..." Rendy menunjuk grafik yang menukik tajam ke bawah. "...nol besar."
Rendy menarik napas panjang, menyiapkan mental untuk menyampaikan kabar terburuk.
"Dan pagi ini... supplier daging wagyu berhenti kirim barang. Kita nunggak bayar tagihan dua bulan. Koki utama juga mengancam mau mogok kerja kalau gajinya telat lagi hari ini."
"Nggak mungkin..." Sisca menggeleng histeris. "Kita masih punya uang sisa pinjaman Tante Vina kan?!"
"Habis, Sis. Uangnya habis buat renovasi, buat pesta grand opening, buat bayar influencer, dan buat gaya hidup kamu belanja tas kemarin."
Sisca terdiam. Wajahnya pucat pasi. Ia merasa lantai di bawah kakinya runtuh.
Ia bangkrut. Lagi.
Dan kali ini, ia tidak bisa lari ke Papanya karena bisnis Papanya juga mati suri. Ia tidak bisa lari ke Tante Vina karena ia baru saja pamer kesuksesan palsu.
Sementara itu, di seberang jalan.
Pemandangan di Dapur Rumah sangat kontras. Antrean ojek online dan pelanggan makan siang mengular sampai ke trotoar. Aroma masakan rumahan yang sedap menyerbak ke udara, menjadi iklan gratis yang paling efektif.
Alina berdiri di balik jendela kaca besar di lantai dua rukonya. Ia memegang secangkir teh hangat, menatap lurus ke arah bangunan megah di seberang yang kini tampak suram.
Wisnu Abraham duduk di sofa di belakangnya, membaca laporan mingguan yang diserahkan Alina.
"Prediksimu akurat sekali, Alina," puji Wisnu tanpa mengalihkan pandangan dari kertas. "Royal Spoon mengalami cash flow freeze (kebekuan arus kas). Grafik pengunjung mereka turun 80% sejak bulan kedua."
Alina tersenyum tipis, matanya tidak lepas dari pintu masuk restoran Sisca yang sepi.
"Itu hukum alam bisnis F&B, Pak," jelas Alina tenang. "Sisca membangun bisnis di atas gengsi (prestige). Dia membakar uang untuk dekorasi dan marketing, tapi lupa pada produk inti: rasa makanan."
Alina menyesap tehnya.
"Orang kaya mungkin bodoh soal harga, tapi mereka tidak bodoh soal rasa. Sekali mereka tahu makanannya tidak enak, mereka tidak akan kembali. Apalagi..." Alina menunjuk antrean di bawah restorannya sendiri. "...ketika ada alternatif yang lebih enak dan murah tepat di depan mata mereka."
"Jadi, apa langkah selanjutnya?" tanya Wisnu. "Kamu mau membeli aset mereka saat mereka jual rugi nanti?"
"Tidak," jawab Alina cepat. "Saya tidak mau menyentuh barang bekas Sisca. Biarkan dia tenggelam dengan barang-barang mewahnya."
Tiba-tiba, terjadi keributan di seberang jalan.
Alina melihat beberapa orang berseragam koki keluar dari pintu samping Royal Spoon. Mereka tampak marah, melemparkan topi koki mereka ke tanah, lalu pergi dengan motor.
Mogok kerja.
Detik berikutnya, lampu neon besar bertuliskan ROYAL SPOON di depan ruko berkedip dua kali, lalu mati total.
Listrik diputus. Atau sengaja dimatikan untuk hemat biaya.
Pemandangan itu begitu menyedihkan. Istana emas itu kini hanyalah gedung gelap yang menyedihkan.
"Lihat itu, Pak," tunjuk Alina. "Lampu sudah padam. Pertunjukan selesai."
Di seberang sana, Alina bisa membayangkan kepanikan Sisca. Ia bisa membayangkan Sisca yang menjerit, Rendy yang putus asa, dan ketakutan akan tagihan yang mencekik leher.
Dulu, Sisca pernah berkata pada Alina: "Orang miskin dilarang mimpi ketinggian."
Sekarang, Alina membalikkan kata-kata itu.
"Orang sombong dilarang terbang, Sisca," bisik Alina pada kaca jendela. "Karena kalau jatuh, tidak ada yang menangkap."
Alina berbalik badan, kembali duduk di hadapan Wisnu dengan wajah puas.
"Satu lagi pilar mereka runtuh, Pak. Sekarang mereka tidak punya penghasilan, tapi punya gaya hidup dan gengsi yang harus dibiayai. Sebentar lagi... mereka akan mulai memakan sesama."
Wisnu menutup map laporannya. Ia menatap Alina dengan sorot mata bangga.
"Kamu mengerikan, Alina."
"Saya belajar dari guru terbaik, Pak."
Alina kembali bekerja. Ia tidak perlu melakukan apa-apa lagi pada restoran itu. Kebodohan Sisca dan waktu telah menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna.